Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 47


__ADS_3

Rindu menggangguk dengan lemas karna memang ia sangat haus dj tambah lagi mulutnya yang di lakban Rindu sangat kesulitan, kaki dan tanganmya juga sakit semua karna dari tadi Rindu tak bergerak sedikit pun. Bahkan sudah beberapa kali kakinya kram tanpa ada yang tahu hanya dirinya saja.


Laki laki berkacama itu berjalan dan mengambil air mineral yang ada di dalam ruangan itu.


Krakkk..


Lakban di mulut Rindu di buka. "Ha... ha.. hahhh.." Nafas Rindu terengah engah. Laki laki itu hanya memperhatikan perempuan di depannya.


"Ini..." Laki laki itu menyodorkan botol air mineralnya.


Dengan cepat Rindu meneguknya. Laki laki itu hanya terus memperhatikan.


"Kamu anak buahnya Zino ya...?" Setelah Rindu selesai menimun airnya laki laki itu bertanya.


"Aku hanya teman Cessa.. Eh Cessa mana?" Rindu tiba tiba teringat temanya yang tadi di bius dan di masukan ke dalam mobil dan membawanya pergi bahkan mobil yang membawa Cessa berlainan arah dengan mobil Rindu.


Laki laki itu bangkit dan meninggalkan Rindu dengan kebingungannya sendiri dan laki laki itu melanjutkan pekerjaannya. Tanpa memperdulikan Rindu.


Hampir satu hari ini Rindu terikat dan Rindu sudah tidak dapat merasakan kakinya sendiri. Wajahnya memucat keringat dingin mejalar di wajahnya. Siapa yang bisa tahan seperti Rindu saat ini. Posisinya dari tadi tidak berubah ubah. Pasti kram dan sangat menyakitkan.


Laki laki itu menoleh pada Rindu yang sudah hampir tak sadarkan diri itu. Barulah Laki laki itu sadar akan sakit yang Rindu tahan. Dengan cepat ia membukakan tali ikatan Rindu. Dan saat itu juga Rindu langsung tak sadarkan diri.


Rindu mengerjap matanya. Rupanya ia pingsan untuk beberapa menit. Rindu melihat tubuhnya sudah tak terikat lagi. Tangan dan kakinya sudah terlepas dari ikatan. Bingung harus melakukan apa. Satu satunya yang Rindu pikirkan adalah lari dari tempat ini secepatnya.


Saat ini pria berkacamata tadi tidak ada di ruangan, ini adalah peluangnya kabur. Baru juga Rindu berjalan ke pintu ruangan itu, laki laki itu masuk lagi dengan memegang laptopnya. Sepertinya laki laki ini tidak bisa berjauhan dari laptopnya.


"Mau kemana kamu...?" Tanyanya dengan wajah yang tak bersahabat.


"Maaf aku tadi ingin mencari minum lagi. Aku haus." Ucap Rindu sembari berpura pura serak suaranya agar terlihat real.


"Aku melepaskan ikatanmu bukan untuk kamu lari atau kabur. Aku melepasnya karna kasihan." Ucap laki laki itu penuh tekanan.


"Masuk..!" Titahnya lagi.


"Mark... Ambilkan air minum lagi.."Teriaknya lagi pada orang orang yang ada di luar ruangan itu.


Tak lama kemudian masuklah seorang pria membawa 4 botol air mineral dan memberikannya pada Laki laki itu.


"Minumlah.." Ucap Laki laki itu yang tak lain adalah Lorent.


Rindu meminum air itu dan duduk dengan tenang di tempat Rindu terbaring tadi. Lorent tetap fokus dengan pekerjaannya yang tak lain adalah menjalankan binis Karen atau bisnis ibunya Karen. Karna Karen sedang sibuk mengurus masalahnya, Karen memerintahkan Lorent untuk sementara waktu mengurus perusahaan yang bergerak di bidang tekstil itu.

__ADS_1


"Hei minta air minum itu..." pinta Lorent pada Rindu. Kebetulan semua air mineral itu di letakan di samping Rindu.


Rindu pun bangkit dan menyerahkan botol itu pada Lorent. Tak ada kata kata sedikit pun karna Rindu paham kondisinya bukanlah kondisi yang bagus untuk banyak bicara. Rindu kembali lagi dan mendudukkan dirinya di tempat yang sama.


Lorent menyunggingkan senyumnya. Malam semakin larut, Lorent menutup Laptopmya dan menoleh pada Rindu yang masih terduduk di tempat tidur itu. Kali ini Rindu tak merasa kram lagi karna jika ia sudah merasa pegal maka Rindu dapat mengubah duduknya.


Lorent meregangkan tangannya yang juga penat menainkan Laptop terus sejak kemarin. Dan kini ia mendapat tugas lagi menjaga perempuan yang tengah duduk di tempat tidurnya itu. Di sinilah anak buah Karen beristirahat. Dan di pimpin oleh yang paling tinggi pangkatnya yaitu Lorent yang di kenal sebagai asisten dari Karen, Bos besar mereka.


Lorent bingung harus melakukan apa ingin tiduran tapi ada Rindu di tempat tidurnya. Lalu bila ia ketiduran nanti Rindu bisa bisa melarikan diri.


"Hei kamu.. Tidurlah.." Titah Lorent yang tiba tiba dan sangat mengagetkan Rindu.


"Iya.." Ucap Rindu dan mulai bingung. Dimana ia akan tidur.


"Tempat tidur ini pasti tempat tidurnya lalu aku tidur di mana?" Rindu menoleh pada lantai ruangan itu sepertinya layak untuk tempat tidur.


Rindu pun turun dari tempat tidur dan berbaring di lantai itu. Lorent yang memperhatikan itu cukup bingung. Ia kira Rindu akan naik ke tempat tidurnya dan tidur di sana, tapi Rindu malah memilih untuk tidur di lantai yang kotor dengan debu itu.


Lorent yakin Rindu belum tidur sepenuhnya dan Lorent memilih untuk menonton film dewasa saja. Beberapa film pun ia putar. Awalnya baik baik saja tapi sepertinya Lorent ingin mempraktekkannya.


Lorent menghubungi Karen dan menanyakan apa boleh ia melakukannya pada Rindu, tawanan mereka saat ini. Karen pun memperbolehkannya dan dengan senang hati Lorent melakukannya.


Rindu yang tidur dengan tidak tenang tiba tiba saja sangat terkejut dengan tangan yang meraba tubuhnya. Tapi Rindu pura pura tidak merasakannya. Sentuhan itu semakin ganas rasanya dan mulai semakin banyak yang ingin di gapai tangan nakal itu. Rindu membuka matanya dan melirik siapa yang melakukan itu padanya. Tentu saja Laki laki yang tadi bersamanya.


Paginya Rindu terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, sakit di sana dan sini. Belum lagi tubuh yang sedang memeluknya ini. Lorent masih nyaman dengan tidurnya. Apalagi belakangan ini Lorent jarang tidur karna tugas tugas yang bermacam macam dari Karen. Tapi malam ini ia tidur dengan nyaman karna ada yang baru saja memuaskannya dengan sangat teramat.


Lorent dan Rindu semalam melakukan malam yang panas, dan tertidur di atas tempat tidur Lorent. Rindu hanya bisa pasra dengan keadaannya dan tak ingin melawan.


Lorent mulai bergerak gerak dan membuka matanya Rindu langsung pura pura tidur lagi. Lorent melirik Rindu yang masih terpejam. Lorent memilih untuk bangkit dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Rindu yang masih terlelap pura pura itu.


Setelah yakin Lorent keluar Rindu membuka matanya dan menghembuskan nafas leganya. Ingin rasanya Rindu tidur saja satu hari ini dan tak bertemu dengan Lorent laki laki yang semalam merenggut mahkotanya dengan beringas.


Rindu melamun memikirkan hal semalam. Ia mengingat Cessa yang pernah mengalami kejadian serupa seperti ini dan berakhir hamil mengandung anak laki laki yang tak ia kenali.


Tanpa Rindu sadari Lorent sudah kembali ke ruangan mereka dan memperhatikan Rindu. "Apa yang ia pikirkan? Semalamkah?" Otak Lorent kini di cemari lagi dengan kenikmatan semalam. Ingin rasanya Lorent melakukannya lagi.


"Ini makan ini.." Ucap Lorent yang menyadarkan lamunan Rindu. Rindu sangat malu pada Laki laki di depannya ini karna sekarang ia masih tidak mengenakan baju dan hanya bertahan dengan selimut di tubuhnya.


Lorent tak memperdulikannya karna itu tontonan asik menurutnya. Maka Lorent biarkan saja Rindu tetap tak mengenakan pakaian.


Rindu melirik roti yang di letakan Lorent di dekatnya dan perutnya merasa lapar saat ini. Rindu mengambil satu roti itu dan memakannya. Sedangkan Lorent sudah sibuk sendiri dengan laptopnya lagi.

__ADS_1


Rindu melirik lagi roti itu dan menginginkannya lagi. Lorent memperhatikan itu langsung tersenyum. Rindu pasti mengira itu juga untuk dirinya.


"Makanlah... Aku akan mengambilnya lagi." Lorent berlalu keluar lagi dari kamar itu dan Rindu mendengar Laki laki itu mengatakan itu maka dengan cepat Rindu memakan roti itu.


Tak lama kemudian Lorent kembali lagi membawa Roti dan juga air mineral untuk mereka berdua. Lorent menaruh roti dan air mineral itu di dekat Rindu dan mengambil satu bungkua roti untuknya dan membuaknya lalu kembali lagi ke laptopnya tapi matanya terus memperhatikan Rindu di sana.


Hari semakin siang tapi Rindu masih tidak mengenakan pakaian padahal gudang ini sangatlah panas apalagi berada di ruangan seperti ini bersama Lorent lagi. Membuat Rindu semakin gerah bodi dan gerah hati.


Lorent hanya bisa senang melihat Rindu yang kepanasan. Lorent ingin melihat sampai mana Rindu dapat menahan panas ini. Jangankan Rindu yang bergulung selimut, Lorent yang mengenakan kaos saja kepanasan.


"Apa kamu tidak kepanasan? Aku sangat kepanasan." Lorent mengibas ibaskan bajunya. "Aku akan ke dapur dulu cari es" ucap Lorent hendak berlalu.


"Hah.. Es.." Rindu menelan salivanya kebayang nikmatnya es di makan siang hari yang panas ini. "Aku mau juga.. Tapi..." Rindu ragu.


"Kamu maukah.." Tawa Lorent masuk lagi ke dalam ruangannya.


"Mau..." Kata Rindu sangar antuasias.


"Oke.." Lorent keluar lagi dan Rindu lega sekali laki laki itu menawarkan es itu pada Rindu.


Tak lama kemudian Lorent kembali dengan dua gelas es jeruk di tangannya. "Wah tempat ini benar benar ada es.. Tempat apa sih ini. Padahal ini kan gudang tua tapi kok ada esnya segala.." Rindu mulai kepikiran.


"Ini esnya.. huh..." Lorent mendudukkan dirinya di samping Rindu dan menyeruput es jeruknya.


Rindu juga begitu mulai menikmati esnya. Entah memang enak atau memang lagi kepengen yang segar segar, rasa Es jeruk itu benar benar enak.


Sementara Rindu menikmati esnya Lorent malah menikmati hal lain. Otaknya semakin nakal dan menganggu matanya yang mencari celah selimut Rindu yang terbuka.


Rindu menatap Lorent di sampingnya yang sejak tadi tak ada suara sama sekali. Rindu mendapati Lorent yang fokus pada tubunnya yang tak sengaja terlihat dari celah selimutnya. Rindu hendak menutupnya tapi Lorent menahannya. Rindu menatap Lorent yang menahan tangannya dan begitu pula dengan Lorent.


Lorent pun melakukan apa pun yang ia inginkan lagi lagi lagi dan lagi. Hingga membuat Rindu tak berdaya dan kucar kacir seakan tak teurus.


Saat mendapat kabar dari anak buahnya yang berjaga di pangkalan, Lorent dengan segera mengenakan lagi pakaian Rindu dan kembali mengikat Rindu.


"Aku akan menemukanmu lagi nanti. Kau lihat saja. Dan aku akan memilikimu lagi." Bisik Lorent di telinga Rindu dan menjilat daun telinga wanita yang menghangatkan tempat tidurnya beberapa jam ini.


Rindu hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah mendengar apa yang Lorent bisikkan di telinganya.


Setelah itu ucapan Lorent terngiang ngiang di telinga Rindu dan membuat Rindu stres dalam beberapa jam saja. Dan tak lama kemudian anak buah Zino sampai dan menyelamatkan Rindu.


Flashback off

__ADS_1


Part Rindu ya Readers... Like ya... jangan lupa koment juga kalau ada saran... jangan ragu koment author siap menjawab kok...


Maaf kalau ada typonya ya...


__ADS_2