Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 99


__ADS_3

Cessa dan Zino tidak habis pikir apa yang sebenarnya Karen lakukan tadi.


"Kenapa ini harus menimpa Karen..." Zino kembali luruh dalam tangisnya


"Zi..." Cessa mengelus elus punggung Zino.


"Apa apaan dia... Kenapa gak pake baju anti pelurunya...???!!" Zino kesal.


"Baju anti peluru Karen dia berikan padamu Zino..." Lorent selesai memberi kabar pada ibu Karen.


"Hah...?" Zino baru teringat beberapa waktu lalu saat mereka mengatur strategi, Karen ada menyerahkan baju anti peluru dan juga pistol kesukaannya yang adalah milik Zino.


Sedangkan pistolnya yang asli itu yang di temukan anak buah Stev di gudang Karen di Canada.


"Kenapa dia kasih ke aku kalau di gak punya...?" Zino melemah.


"Pertanyaan yang sama yang aku lontarkan padanya. Dia jawab, dia hanya ingin lindungi kamu.. Kamu adiknya.." Lorent mengatakan pembicaraanya dengan Karen masa itu.


"Tapi..." Zino terhenti.


"Kamu belum sah menjadi kakakku, bukankah seorang kakak harus melindungi adik adiknya...??"


Ucapannya mengema lagi di telinga Zino. Itu ucapanya dan Karen saat mereka masih berdebat tentang masalah kakak beradik.


Mata Zino membasah lagi. Ia hampir terpuruk hancur.


"Karen.... Karenn... Karennnn.... Karennnnnnnnnnn!!!" Zino mengedor godor ruang permandian mayat.


"Karen bangun... Karen bangun.... Kamu mau jadi kakak aku kan... Yaaaahhh kamu jadi kakak aku... Aku gak akan rebut Cessa dari kamu Karennnn... Ayo kita sudahi perkelahian kita ini.. Aku kalah Karen... Aku adikmu.... Aku yang beri perintah kamu untuk bangun... Jadi sekarang kamu bangun Karen....!!!!!"


Meski dengan air mata berlinang Zino terus berucap tidak ada yang bisa menahannya karna semuanya juga ikut larut dalam kesedihan dengan ucapan ucapan yang Zino lontarkan.


"Karen aku mohon... Kita baru saja bermain... Kamu bilang mau temani aku bermain petak umpet... Aku suka main itu sama kamu Karen.... Ayo kita main lagiiii...!!!" Begitu dalam penyesalam Zino hari ini.


Hari ini Zino kehilangan lagi sosok kakak untuknya. Karen kakaknya juga yang melindunginya tanpa suara. Rela mati untuknya dan melindunginya dari depan dan belakang.


"Kak... Bangun kaaaakkkkk.." Teriak Zino lagi.


Cessa mengelengkan kepalanya tak sanggup. Masa masa romantis yang pernah di berikan Karen untuknya sangat membekas. Merdunya suara Karen saat membawakannya lagu, perhatian Karen untuknya, hangatnya tubuh Karen saat memeluknya untuk tidur. Meskipun tidur bersama Karen tidak menyentuh Cessa berebihan. Karen menyentuhnya hanya Karna Zino duluan yang mengirimkan video tak senonohnya dengan Lilen sang adik.


"Tas itu..?" Cessa sepertinya mengenali tas yang berada di samping Lorent.


"Lorent apa itu tas aku...?" Cessa baru menyadarinya.


"Ya. Aku di perintahkan Karen untul menjaga tas ini... Ini tas mu.. Aku juga gak tahu apa maksudnya untuk jaga tas ini..." Lorent menyerahkan tas itu pada Cessa.


"Ini..." Cessaa membuka tasnya.

__ADS_1


Tiba tiba Cessa menangis histeris melihat isi tas itu.


"Ce.. Cessa...?" Zino menghampiri Cessa.


Tas yang tadi di pangkuan Cessa pun jatuh, Zino memungutnya dan melihat isi tas tersebut.


Ada dress putih polos, dengan cap yang sepertinya hanya di tempel di depan dress itu.


"Dress favoritku... Cessa kamu yang buatkah...?" Zino masih tak mengerti.


Cessa hanya mampu mengelengkan kepalanya.


So as long as live I'll love you


Will have and hold you


You look so beautiful


In White


....


Cessa mengingat lirik lagu dan kisah dress putih ini.


Pasti semuanya mengingat, kalau Karen pernah menyanyikan Cessa lagu Beauty in White. Dan sepertinya dilihat dari dress itu, dan pesan yang di tulis di sana, itu adalah baju Cessa yang paling Karen suka.


"Itu adalah doa ku.. Cita citaku..." Jawab Karen saat Cessa menanyakan arti lagu itu untuknya. Yaitulah jawaban Karen masa itu.


"Gak... Gak... Kamu gak cantik dalam putih Karen... Gak..." Cessa langsung memeluk tubuh tak bernyawa itu.


"Karen... Ini aku Cessa... Kamu bilang aku ratu kamu... Ayo bangun... Huuuuuuuuuu.. Karen...." Cessa sangat mengharapkan ini hanya tipuan belaka dari Karen. Hingga ia mengguncang guncangkan tubuh itu.


"Cessa.. Sabar..." Lorent manarik Cessa.


Jenazah Karen akan di kremasikan. Tapi sebelum itu keluarga dan saudaranya boleh menemui Karen untuk terakhir kalinya.


Di rumah sakit ini ada ruangan untuk melayat jenazah yang akan di Kremasi di sini.


Rindi dan Lilen pun sampai di rumah sakit ini. Lebih lebih lagi Lilen. Ia menangis sepanjang perjalanan. Dia terus memanggil nama Karen. Dan sampai di rumah sakit ini tangisnya semakin pecah.


"Karennnnnnn.... Kak... Ini aku Lilen.. Kak... Kakak bilang mau marahin aku lagi.. Ayo marah...." Zino atau pun Cessa tak kuat melihat ini lagi.


Cessa menepi dan begitu juga Zino. Cessa masih ingin melihat isi tasnya, tapi takut itu hanya akan menyakitinya. Tapi ia ragu juga, bagaimana kalau itu adalah benda penting Karen.


Maka ia membukanya lagi. Mencari barang yang di tinggalkan di dalamnya.


"Apa ini..?" Zino menoleh pada Cessa yang sepertinya bingung sendiri.

__ADS_1


Zino melihat Cessa memegang plastik yang di dalamnya ada daun daun kering. Rasa penasaran siapa yang tak bangkit melihat ini.


"Itu apa Cessa....?" Zino menghampiri Cessa.


"Ini..." Ada lipatan kertas lagi di dalamnya.


Daun yang Cessa sayang lempar padaKu-Gunung Teh. Tulisan di kertas itu.


Saat Karen dan Cessa piknik ke bukit Teh yang tak jauh dari vila tempat menyekap Cessa. Rupanya Karen memunguti semua daun yang Cessa lemar padanya saat itu. Lalu setelah itu Karen membawa Cessa dalam nyanyiannya lagi. Lagu yang berjudul  You are reason kembali terkenang Cessa.


I'd climb every mountain


And swim every Ocean


Just to be with you


And fix what i've broken


.....


Lagu itu di nyanyikan Karen setelah mereka pulang dari bukit teh itu.


Cessa kembali melihat Karen yang terbarik dalam kotaknya. Dan sebentar lagi kotak itu dan berserta Karen akan hancur selamanya.


"Jadi ini yang kamu maksud hah...?" Cessa sangat ingin marah pada Karen saat ini tapi percuma, karen tidak akan mendengarnya.


I'd climb every mountain


And swim every Ocean


Just to be with you


And fix what i've broken


Cessa menyanyikan lirik lagu tersebut.


Semua orang terdiam. Zino juga terdiam tapi berusaha mencerna apa yang Cessa katakan dan nyanyikan ini.


"And fix what i've broken....??" Zino bergumam.


Sepertinya Zino mengerti apa yang Cessa bicarakan. Zino melirik Cessa sepertinya tidak mampu lagi dan akan ambruk di tempatnya.


Tapi dengan cepat Zino berdiri di belakang Cessa dan memeganginya.


"Kamu harus kuat Cessa. Ini kali terakhir kita melihat Karen... Kuat Cessa...!!" Zino tahu ini berat untuk Cessa yang melalui banyak cerita dengan Karen.


Tiba tiba satu orang datang juga.... Tangisnya juga lebih kencang dan lebih parahnya lagi membawa Bayi sertanya.

__ADS_1


part sedih maaf ya Readerss.. Author hilangkan satu tokoh yang amat berharga dan seromantis Karen. Dan jika kalian rindu atau sekedar mau tahu kisah manis Karen dan Cessa bisa kalian cari di bab bab sebelumnya ya.. kalau gak salah dari bab 38 dan seterusnya. Nah dari situ tu banyak banget kisah kisah manis Karen. Di jamin seru..


Makasih ya para pembaca setia yang sudah stay dan nugguin novel ini up. Tapi masa Author gak kasih hadia gitukan, nah hadianya itu ya itu salah satu novel author sebentar lagi tamat. Bukan yang ini ya.. ini masih panjang, tapi yang di sebelah itu, Judul Aku yang di simpan. Sebentar lagi tamat guys.. mampir ya.. seru loooo


__ADS_2