
Zino juga tak bisa berbuat apa apa. Ia malah melempar tatapan pada Cessa.
"Eeeemmm.. Rindu tenanglah.. Kamu.."
"Rindu..!!" Lorent masuk seperti Zino tanpa meminta izin.
"Issshh kalian ini.. Bisa gak sih masuk itu ketuk dulu pintunya. Jangan bikin Baby Karsa kaget.." Cessa sangat jengkel.
Lorent langsung canggung karna nyonyanya memarahinya. Tapi ia harus menemui Rindu secepatnya.
"Maaf Nyonya tapi aku mau bertemu dengan Rindu sebentar aja. Rindu sayang.." Panggil Lorent pada Rindu sangat lembut.
"Eemm permisi Tuan..." Lorent melewati Zino dan Cessa.
"Sayang.. Aku minta maaf.. Sudah ya ayo kita kembali ke kamar.." ajak Lorent lagi dengan lembut dan mengelus puncak kepala Rindu.
"Gak Lorent.. Kamu dan Lilen.." Rindu menangis lagi
"Sayang.. Lilen cuma masa lalu aku.. Ini cincinnya sudah gak ada kok.. Lilen juga mau minta maaf sama kamu.. Aku mohon Rindu.." Lorent sangat tulus pada Rindu tapi sepertinya Rindu tidak bisa menerima cinta yang Lorent berikan.
"Maaf Lorent.. Aku masuk dalam hubungan kamu sama Lilen. Aku akan pergi kok." Rindu sudah habis harapan.
"Ck.. Kenapa kamu bilang gitu sayang.. Aku cinta kamu.. Apa kamu gak sayang sama Baby twins..?" Lorent memeluk Erat Rindu.
"Aku sayang mereka dan aku akan jaga mereka sendiri.." Rindu dengan mantap menjawab.
"Siapa bilang kamu besarkan sendiri. Ada aku kok.." Jake masuk juga Ke dalam kamar itu.
Cessa berdecak kesal karna ia sedang menenangkan baby Karsa. "Mereka ini.. Mau aku cubit satu persatu kayaknya." Cessa menjauh dari mereka bahkan akhirnya keluar dari kamarnya.
"Apa maksud kamu.. Rindu istri aku.." Lorent membusungkan dadanya untuk tetap melindungi Rindu dari Jake.
"Halaahh kalau sudah punya tunangan ya udah.. Kenapa masih cari sama wanita lain. Udah kasih aja Rindu sama aku, aku janji aku jaga dia dan baby twins dengan baik." Jake makin mengeruhkan keadaan.
"Diam kamu atau.." Lorent sudah bersiap meninju Jake.
"Eeehh.. Jake kamu gak ingat Lilen. Kalau Lilen hamil anakmu bagiamana...?" Zino juga tak ingin Jake membuat Rindu jadi tempat pelariannya dari tanggung jawab yang harusnya Jake lakukan pada Lilen nanti. Tentu Zini tak ingin di salahkan seorang diri jika Lilen hamil. Setidaknya ada Jake yang juga akan menjadi tersangka Ayah dari anak yang akan di kandung Lilen.
"Kamu jangan sok tau.. Kan belum tentu Lilen mengandung.. Biasan aja kali.." Jake tak setuju dengan yang di katakan Zino.
__ADS_1
"Eheeemmm..." Seseorang berdehem membuat semua yang ada di sana diam seketika.
"Lilen..?" Semuanya berkata bersamaan.
"Maaf sebelumnya.. Aku cuma mau bilang.. Maaf.. Rindu.. Aku dan Lorent gak ada hubungan apa apa. Mungkin dulu karna aku gak paham apa apa, jadi aku minta perlindungan sama Lorent dengan jadi tunangan dia. Tapi setelah aku pergi dari Cananda ke Amerika, hubungan kami gak ada kelanjutannya dan aku yakin Lorent juga merasakan hal yang sama. Hubungan yang terjalin tanpa cinta atau apa pun. Jadi aku rasa kamu gak salah kok kalau sama Lorent.. Aku juga senang liat Lorent begitu cinta sama kamu.. Jadi aku mohon Rindu.. Terima cinta Lorent.. Dia laki laki yang baik." Lilen memegang tangan Rindu.
Lilen menoleh lagi, yang ia lihat adalah Tuan dan anak buahnya. "Aku juga mau pamit sama kalian. Aku bukanya gak suka tinggal sama kalian tapi aku mau cari tempat yang lebih nyaman untuk diriku sendiri. Aku gak nyaman tinggal di sini.." Lilen mengelus lengannya malu.
"Tapi.." Zino ragu.
"Aku gak apa Zino.. Aku juga gak akan... Hamil. Kayak yang kamu pikirkan.." Lilem sangat malu.
"Tapi..." Zino menoleh pada Jake.
"Apa..?" Jake tidak peka.
"Eeemm kamu sudah bilang sama Cessa?" Zino mencari keberadaan Cessa di jmar itu tapi ia tidak menemukan Cessa.
"Eeehh dia di mana..?" Zino baru menyadarinya.
"Dia di kamar sebelah sama Baby Karsa, tadi Karsa menangis, jadi harus di tenangi Cessa dengan caranya juga.." Lilen menceritakan karna sebelum ke kamar ini ia terlebih dahulu bertemu dengan Cessa.
Oleh karna itu ia berani pamit pada yang lainnya. Zino mendengar Cessa sedang menenangkan Baby Karsa satu yang Zino yakin, pasti dengan cara yang menyenangkan seperti di vila kemarin.
"Cessa..?" Zino masuk kamar yang Cessa tempati dengan baby Karsa.
"Zino.." Cessa melotot marah.
"Ya maaf aku.."
"Keluar...!!" Cessa menunjuk pintu.
"Oke aku keluar.. Aku cuma mau pastikan kamu dan Karsa baik baik aja.." Zino beralasan. Padahal ia sudah sangat tergoda dengan yang sedang Baby karsa lakukan di tubuh Cessa.
"Zi..." Cessa melotot pada Zino.
"Iya sayang aku keluar.. Aku sayang kamu dan Karsa.. Aku di luar ya.. Kalau ada perlu cari aku aja ya di luar.." Zino pamit.
"Zi.. Urus dulu Lilen yang ingin pindah. Aku kasian sama dia. Dia memang setuju untuk tunggu sampai satu bulan ke depan dan memastikan apa ia hamil atau tidak. Tapi dengan satu syarat ya itu dia mau tinggal sendiri." Cessa mengatakan yang Lilen katakan padanya tadi.
__ADS_1
"Oohhh oke sayang..." Zin terseyum sangat lebar lalu setelah itu ia benar benar keluar dari kamar Cessa sebelum ia semakin tergoda.
***
"Ini rumahnya..?" Zino mengantar Lilen sesuai permintaan Cessa.
"Ya kayaknya yang ini.. Fotonya sama kok" Zino dan Lilen menggunakan mobil untuk menuju rumah ini. Memakan waktu setengah jam dari kediaman Zino.
"Heeemm pilihan yang bagus.." Puji Zino.
Lilen segera keluar dan membawa barang barangnya. Zino membantunya membawa tas dan kopernya.
"Waaah warnanya juga cerah.. Aku suka" Ucap Zino lagi.
Zino membantu Lilen membawa koper ke kamarnya. Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Zino diam dan Lilen juga diam.
Lilen berputar dengan otaknya, ia mengingat saat saat bersama Zino di kamar seperti saat ini. Bahkan detak jantung Lilen berdetak dengan kecang.
Diam diam Lilen menatap Zino. Masih sama seperti saat pertama kali melihat Zino. Mata Lilen sangat terpesona dengan ketampanan Zino.
"Aku pergi dulu ya.." Zino pamit.
"Makasih Zi.. Hati hati.." Ucap Lilen sepenuh hati.
***
Sedangkan itu, Jake, Lorent, Rindu duduk di depan Cessa.
"Rindu pilihan ada di tangan kamu.. Kamu pilih yang mana. Jake atau Lorent...?" Cessa memberikan pilihan untuk Rindu.
"Aku gak mau pilih... Aku mau hidup sendiri aja Cessa.." Rindu sudah tidak percaya siapa pun.
"Haaaahh.. Rindu.." Cessa prihatin melihat Rindu.
"Cessa kamu bisa kasih Lilen rumah sendiri apa aku gak bisa juga.. Aku tinggal di rumah sewaan aja gak apa apa kok, dulu kita kerja di tempat Leo bisa aja.." Rindu sangat berharap Cessa mau memberi yang ia inginkan.
"Haaaaahhhh.. Rindu aku gak bisa tinggalin kamu.. Kamu lagi hamil.. Aku gak berani ambil resiko kamu sendiri. Kamu tenang aja, aku yang usir mereka nanti.." Cessa menoleh pada Lorent dan Jake di sampingnya.
Keduanya...
__ADS_1
Off dulu guys..