
Karen dan Zino saling pandang.
Apa sebenarnya yang ingin di katakan oleh Stev kepada mereka.
"Aku gak peduli, aku ke sini untuk jemput Cessa. Aku gak peduli apa yang sudah kamu perbuat sama dia." Karen bersungguh sungguh.
"Ooowwwww.. Oke tapi kalau dia yang gak mau iktu kalian berdua gimana..?" Stev membuatnya semakin berbelit belit.
"Maksud kamu apa.. Mana mungkin Cessa mau tinggal sama laki laki kayak kamu.." Zino juga ikut menolak.
"Ya.. Mau bagaimana lagi, itu yang Cessa mau.. Dia mau sama aku.. Kami dua sudah tabur benih looooo.." Blak blakan.
"Iiisss laki laki macam ini.." Karen mengepal kuat.
Zino tidak ada kata kata lagi langsung saja mengarahkan senjata laras panjang.
"Stooooooooppppp..." Cessa datang daro atas tangga dengan nafasnya yang memburu.
"Stev..???!!" Cessa segera turun menghampiri Stev.
"Ya sayang Rindukah..?" Stev percaya diri.
"Aku sudah bilang.. Gak usah... Aku..."
"Cessa kami di sini.. Kamu pulang sama kami.." Zino menurunkan senjatanya.
"Gak Zi... Aku gak akan pulang tapi aku mohon.. Kalian pergi dari sini.. Aku baik baik aja.." Cessa menundukkan kepalanya.
"Cessa aku tahu kamu, ini cuma ancaman Stev, gak usah dengar dia.. Dengarkan kami.. Aku dan Zino pasti bawa kamu pulang dari sini." Karen membujuk
"Heh.. Harusnya kalian berdua berterima kasih sama Cessa karna dia sudah bebaskan kalian berdua dari aku.. Dengan bayaran yang setimpal tentunya." Stev menarik tubuh Cessa dalam pelukannya hingga menyentuh dadanya.
"Cessa aku tahu ini sulit tapi.."
"Tapi dia sudah kasih segalanya untuk aku dan bayarannya kalian harus selamat dari tempat aku ini.. Jadi karna mood aku dari tadi malam sampai pagi ini bagus, aku persilahkan kalian pergi dengan aman dan tentram" Stev beberapa kali mengecup Cessa setelah mengatakan itu.
"Aku gak peduli.." Dooorr.. Satu tembakan melesat dari pistol Zino mengarah ke Stev.
Dengan cepat Stev dengan membawa Cessa menghindar.
"Kamu diam di sini.. Aku akan hadapi mereka dulu.." Stev mengelus rambut Cessa lembut.
"Aku mohon jangan sakiti mereka.." Pinta Cessa berulang kali.
"Akh gak yakin sayang.. Karna aku sudah berusaha perlahan memberi kompensasi, tapi mereka yang menolak.. Aku gak bisa apa apa lagi kan.." Stev suka keadaan ini.
"Stev...!!" Tanpa menunggu permintaan Cessa lagi, Stev bangkit terjadilah baku tembak di antara mereka.
Beberapa kali Zino terkena tembakan Stev tapi karna ia mengenakan baju nati peluru maka tak terasa apa pun di tubuhnya.
__ADS_1
Begitu pula denga Stev di berluka di are lengan dan bahu. Tembakan Karen begitu jitu.
"Aku harus apa..?" Cessa tidak bisa melakukan apa apa selain bersembunyi.
"Nyonya..?" Lorent tiba tiba datang dari samping Cessa.
"Lorent..?" Cessa sangat terkejut dan tak percaya.
"Ayo.." Lorent langsung membawa Cessa pergi dengan mengendap endap.
"Recana kita berhasil..." gumam Karen dan Zino bersamaan dalam hati setelah melihat ada sinyal khusus dari Lorent dan anak buah mereka di luar.
"Mundur." Perintah Karen dan Zino mengangguk.
"Ada yang salah.." Stev meneliti.
"Cessa.?" Stev baru sadar.
"S***.. Aku kecurian.." Stev menyusul Karen dan Zino yang sudah berlalu keluar.
"Mau kemana kalian...?" Stev mengarahkan pistol barunya dan membak ke arah Zino dan Karen yang sedang berlari ke arah mobil.
Doooorrr.. Satu tembakan melesat dengan cepat dan tak ada yang bisa melihat pergerakan peluru itu.
Tembakan itu mengarah ke arah Zino. Sebisa mungkin Karen melindungi punggung Zino. Tembakan pertama gagal, tak mengenai kakak beradik itu.
"Dam.." Stev terus menembakkan pistolnya.
"Karen apa yang kamu lakukan di belakang aku bodoh. Nanti kamu yang kena tembak..." Zino menyadari unag di lakukan Karen berbahaya.
"Kamu bilang aku belum melakukan sath hal untuk menjadi Kakak kamu.. Aku sedang melakukannya." Karen tersenyum dari belakang.
"Bodoh..." Zino berbalik dan menembak Stev juga, sayangnya hanya kena di bagian dadanya. Dan tidak ada pengaruh untuk Stev karna persiapan ia juga terencana.
"Aku gak akan biarkan kalian lari.." Strv berhenti dan mencoba fokus ke punggung Karen.
Dorrrrrrrrr..
"Karen..?" Zino terpekik
Karen tertembak. Zino berhenti dan memopoh Karen.
"Ayo Karen kita bisa.." Zino tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Zino.. Pergi.. Bawa Cessa. Aku baik baik aja.. Cepat aku gak bisa banyak gerak.. Pergi. Aku hanya beban kalau di lanjut..." Karen mendorong dorong tubuh Zino.
"Aku gak akan tinggalin kamu.." Zino terus memopong Karen.
"Iissss.." Tiba tiba ada yang menyerang Stev dari belakang.
__ADS_1
Saat itu juga Zino menggunakan waktu untuk membawa Karen. Zino dan Karen tiba di mobil dengan Cessa dan Lorent di dalamnya.
"Karen!!!!" Cessa segera membantu Zino untuk membawa Karen masuk ke dalam mobil.
Karen berhasil masuk tapi Zino masih di luar mobil.
"Zino ayo masuk..." Panggil Cessa.
"Pistolku...?" Zino menyadari pistolnya tidak ada di saku.
"Itu.." Zino melihat pistolnya berada di tempat Karen terjatuh tadi.
Tanpa pikir panjang Zino berlari. "Zino..? Iiissss anak bodoh ini." Karen juga turun dari mobil dan mengejar Zino.
"Heiii... Kamu juga bodoh.." Cessa berteriak keras.
Zino sampai di tempat pistolnya jatuh dan mengambilnya.
"Zino..!!!!!!!" Karen berteriak sangat kencang.
DOOOOOORRRRR..
Waktu terasa terhenti. Cessa tak percaya apa yang ia lihat ini. Langkah kaki Zino juga terhenti.
Stev dengan satu tangannya berhasil menembakan satu lagi. Dan mengarah ke pada Zino yang sedang memutik pistol.
Perlahan Zino menoleh ke depannya. Karen berdiri tegak untuknya.
"Aku berhasilkan Jadi kakak kamu..." Lirihnya hampir tak terdengar.
Stev juga tak percaya apa yang telah ia lakukan. Ia melukai salah satu dari Zino dan Karen. Ia menatap Cessa yang berada di dalam mobil.
Mata Cessa tak bergerak dari Karen yang berdiri untuk Zino.
"Karen...??" Cessa lirih.
"Tuan...?" Dengan segera Lorent turun juga dari mobil dan menghampiri Karen.
"Kaauuuuuuuuuu...!"
Beberapa tembakan Zino kirim untuk Stev. Tembakan tanpa arah. Yang penting arah tujuannya Stev.
Stev juga tak akan diam di tempat ia juga menembak Zino dan beberapa kali mengenai Zino. Tapi untuk saat ini tidak ada rasa sama sekali di Zino.
Dooooorrr satu tembakan melesat kuat dan tepat di tangan Stev. Jake datang dengan Snaipernya dan berhasil mengenai lengan kiri Stev. Kelemahan Stev ada dj lengan kirinya karna Stev Kidal. Tangan kirinyalah yang ia gunakan untuk menembak, jika tangan itu tertembak maka tidak ada lagi tangan yang handal milik Stev.
"Dam...." Stev menahan rasa sakit.
"Cessa..!!!" Stev berteriak.
__ADS_1
Zino tiba di depan Stev yang sedang berusaha mengambil pistolnya yang terjatuh dari tangannya. Mata Zino memerah, setitik demi setitik air mata tumpah.
Zino..