
Jake membuka mantelnya dan memberikan pada Lilen.
"Pakailah.. Aku masih punya mantel di kamar.." Mantel hitam sudah di tangan Lilen.
"Eemmm" Lilen mengangguk.
Jake keluar lagi dari kamar Lilen kembali ke kamarnya mengambil mantel baru.
"Ini mantel Jake.." Lilen mencium dengan jelas wangi parfum di mantel Jake. Wangi yang kalem tapi sangat menggoda untuk di ciumi terus.
Lilen sampai menggigit bibirnya malu sendiri. "Astaga Lilen kamu kenapa..?" Lilen menyadarkan dirinya sendiri.
Lilen mencoba memakainya, besar di tubuhnya wangi itu semakin menggelitik penciuman Lilen. Lilen sampai tak fokus menggunakan Mantelnya.
"Ayo.." Jake kembali lagi dengan mantel yang baru sudah ia kenakan. Wanginya juga sama seperti yang di kenakan Lilen.
"Eemm ya.." Lilen keluar dari kamarnya tapi mantelnya belum terkancing sempurna.
"Kenapa gak di kancing..?" Jake melihatnya.
"Eemm susah.." Lirih Lilen.
"Sini..." Jake mengancingkan mantel itu. Detak jantung Lilen makin kencang. Jake tepat di depannya dan sedang mengancing mantelnya. Gerakan kecil yang di rasa Lilen dari balik mantelnya seperti menyetrumnya sedikit demi sedikit.
"Waaahhh romantisnya.." Bella rupanya ada di dekat kamar Lilen juga dan melihat hal itu.
"Mommy..?" Lilen dan Jake saling pandang.
__ADS_1
"Ooohhh lanjutkan.." Bella segera meninggalkan keduanya mematung di tempat.
"Eeemmm. Ayo.." Ajak Jake lagi.
"Ya.."
***
"Hati di jalan.." Zino tiba tiba muncul juga di hadapan Jake dan Lilen.
"Cih.." Jake berdecih.
"Hehehehe.. Aaaaa.." Cessa langsung mencubit Zino.
"Cessa jangan cubit cubit.." Zino memegangi pinggangnya. Tak seperti Karen yang akan kegelian kalau di cubit tepat di pinggangnya.
"Kamu ini.. Bukannya senang Jake bantu kamu, kamu malah ejek ejek.." Tegur Cessa.
"Ya ya maaf.." Zino tahu itu salah juga. Jake dan Lilen tak memperdulikannya ocehan Zino dan sudah masuk ke dalam mobil.
***
Cessa kembali pada Karsa yang sedang bersama Pengasuhnya.
"Cesss.." Panggil Bella. Ia pun bergabung bersama Cessa duduk di sofa itu.
"Apa Mommy..?" Cessa memperbaiki rambutnya.
__ADS_1
"Sayang.. Kapan kamu dan Zino akan menikah..?" Saat itu juga Zino bergabung dengan ketiganya.
"Ma.. Maksud Mommy..?" Cessa mulai gugup jika di tanya tentang masalah menikah.
"Ya kan kamu dan Zini sangat cocok.. Dan Mommy lihat Zino sangat mencintai kamu.. Masa kamu mau sia sia kan laki laki setampan Zino..?" Cessa melirik Zino yang tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan Bella.
"Ada gunanya juga, mommy Bella ada di sini.." gumam Zino dalam hatinya senang.
"Eeemm belum bisa Mommy.." Cessa langsung saja menjawab pertanyaan Bella.
Mungkin hari ini ia akan mengakui apa yang ia rasakan. Bella melempar pandangan pada Zino. Dan Zino juga terlihat bingung.
"Kenapa..?" Zino dan Bella bersamaan.
"Aku.. Aku.. Belum bisa lupa Karen.." Cessa menundukan kepalanya.
"Cessa.." Lirih Zino. Zino sepertinya bisa mengerti perasaan Cessa.
"Cessa sayang.. Karen baik baik saja, dia sudah bahagia di tempatnya. Kamu juga perlu bahagia Cessa.." Bella mengusap kepala Cessa.
"Tapi.. Cessa sering rasa bersalah Mommy.. Sangat salah.. Karen harusnya masih sama Kita Mommy.. Cuma karna aku.. Zino dan Karen.." Cessa tak mampu mengingat kenangan paling menyakitkan bagi Cessa.
"Cessa.." Zino mendekati Cessa. Ia merangkul Cessa.
"Aku akan selalu ada untuk kamu... Aku siap tunggu kamu buka hati lagi buat aku. Aku tahu sekarang kamu gak bisa lupa Karen. Karen memang manis.. Tapi itu gak akan goyahkan aku untuk tetap cinta kamu.. Karna itu sudah janji aku juga sama Karen untuk tetap cintai kamu sampai kapan pun.."
Cessa ...
__ADS_1