
Flashback on
Stev tidak bisa lagi menghindari serangan Zino selanjutnya.
Masih ada Belati di tangannya maka Stev mengunakan belati itu untuk mempertahankan diri.
Sayangnya belati itu menggores dada Zino saja. Saat ini luka seperti itu tidak ada rasanya bagi Zino lebih sakit rasa saat di selamatkan Karen dan Karen meninggalkannya selamanya.
"Masih bisa melawan ya...?" Zino malah tersenyum.
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Hantaman hantaman dari tangan Zino me arah Stev. Entah terkena di mana saj zin tak peduli yang penting mengenai Stev.
Stev yang kurang lihai dengan tangan Kanannya pun tak bisa berbuat apa apa. Ia hanya bisa menangkis serangan Zino dengan tangan kosong.
Belati masih di tangannya tapi dengan keahlian tangan kirinya yang berhasil di lukai kemarin belati itu bukan apa apa. Apalagi dengan tangan kanan Stev yang tak memiliki keahlian, maka tak bergunalah belati itu.
"Kamu melukai Karen.. Kamu membunuh Karen.. Aku... Akan melakukan yang sama padamu.." Zino mengambil pistol di sakunya.
Stev bisa membaca gerakan yang di lakukan Zino. Stev berhasil menjatuhkan pistol Zino itu.
"Cih.." Zino mengeluarkan pistol yang satunya lagi.
"Mati kau..." Zino mengarahkan pistolnya.
Dor...
Dor..
Dengan perasaan yang tak terkendali sulit untuk menembak seseorang yang masih bisa berlari.
Stev melarikan diri dari Zino. Ia yakin, ia akan kalah melawan Zino jika kondisinya seperti ini.
Tanpa di duga Stev. Lorent sudah berjaga di depannya. Stev pun tertangkap oleh Lorent.
"Mau kemana kamu...?" Ledek Zino.
"Aku... Hehehe aku mau Cessa ku.. Aku mau wanita itu.. Dia milikku.." Stev ingin mengecoh Zino lagi dengan menggunakan nama Cessa.
"Benarkah..?" Zino semakin mendekati Stev yang di kekang Lorent.
"Aku dan Cessa punya malam yang indah. Bahkan malam itu Cessa mengakuinya. Dia bahkan tidur dalam pelukku.. Aku sangat berharap anak kami kembar.."
Bugh....
Satu tamparan keras di wajah Stev dari Zino.
"Haha.. Lalu aku menikmati tubuhnya yang indah itu.."
Bugh...
"Aku yakin aku menghamilinya.."
Bugh..
Tidak ada lagi kata kata dari mulut Stev. Ia menahan rasa sakit yang di berikan Zino di wajahnya, dadanya dan perutnya.
__ADS_1
"Walaupun Cessa hamil... Itu pasti anak Karen.. Bukan anak kamu baj***ngan"
Stev di tendang dan di beguki Zino sesuka hatinya melampiaskan rasa sakit hatinya akan kehilangan Karen.
Lorent hanya menontonnya begitu pula dengan anak buahnya yang lain. Zino bagaikan binatang yang sedang mengoyak mangsa.
Stev sudah tak berdaya. Tapi sepertinya aksi Zino tidak sampai di situ. Ia meminta anak buahnya memutikkan pistolnya tadi yang sempat terjatuh.
Pistol itu betuliskan namanya. Maka ia siap menggunakannya seperti Stev kemarin. Ia mengarahkan pistolnya.
Dor.
Dor.
Dor.
Dor.
Dor.
Dor.
Dan entah berapa tembakan lagi yang di lesatkan Zino hingga isi dari pistolnya itu habis sendirinya.
"Kamu menghabisi Karen dengan pistol yang sama.. Karen... Ini untuk Karen.." Zini menatap Stev yang sudah tak bernyawa di lantai. Terkulai lemah dan tak bernafas lagi.
"Oohhh ya.. Satu lagi.. Ambilkan Jake..!!" Zino menoleh pada Jake yang juga berada di sana.
"Baik tuan.." Jake pergi entah ke mana.
Beberapa menit kemudian Jake kembali dengan pedang yang masih lengkap dengan sarunganya.
"Aku gak percaya aku akan pakai pedang ini... Tapi untuk Karen kenapa tidak.."
"Jadi pedang itu.." Lorent sepertinya sudah mengerti kemana selama ini pedang itu pergi.
Zino mencuri pedang yang menghabisi kakaknya. Di simpannya untuk suatu saat membalaskan dendamnya.
Tapi rupanya pedang itu di gunakan untuk membalaskan dendam anak pemilik pedang itu sendiri. Yaitu untuk Karen.
Zino mengangkat pedangnya tinggi tinggi. Arah pandangnya hanya satu. Matanya sudah memerah. Semua anak buahnya akan melihatnya dengan mata terbuka.
Ini mungkin kejam tapi dengan satu ayunan pedangnya, Zino menebas. Darah bercucuran kemana mana. Mengaliri lantai, bahkan ke arah Zino juga.
Baju yang Zino kenakan berlumuran darah. Wajahnya juga terkena percikan.
"Aku sudah berjanji pada Karsa.. Akan membawa oleh oleh untuk Daddynya..." Pedang itu di buang begitu saja di lantai.
Zino menatap sekelilingnya. Di samping Salah satu anak buahnya Zino melihat ada karung goni.
"Hei kau.. Antrar karung itu.." Titah Zino.
Zino mendekati potongannya tadi dan mengambilnya dan memegangnya seperti memegang kepala boneka.
Mau tak mau anak buah itu membukakan karung dan masuklah potongan itu.
"Kita pulang..." Zino keluar dari tempat itu dan dari belakangnya para anak buah ysng kagum mengikutinya.
"Kami juga ikut tuan.."Seorang anak buah Karen yang baru bergabung dengan anak buah Zino. Ia memberi hormat terlebih dahulu pada Zino.
"Tuan ini. Zekus.. Dia adalah kepercayaan Karen dari Canada." Jelas Lorent.
__ADS_1
"Kami juga ingin memberi penghormatan terakhir pada tuan Karen." tambahnya lagi.
"Tapi sepertinya Karen sudah.." Zino bisa menduga kalau Karen pasti sudah menjadi abu.
"Tidak masalah tuan.. Kamu juga ingin memberi hormat pada Nyonya dan nona muda." Zino tersenyum mendengarnya.
"Baiklah.. Ayo kita pulang.."
Semua sudah berakhir untuk Stev dan anak buahnya. Beberapa meregang nyawa di tempat. Yang lainnya lagi di bawa untuk di jadikan pesuruh anggota Zino.
Sesampainya di rumah sakit Zino tak menemukan Cessa dan yang lainnya. Ia bertanya dan rupanya masih ada anak buah yang di tinggalkan Cessa untuk berjaga di sana. Karna ia yakin Zino pasti akan kembali ke rumah kremasi itu.
"Gunung Teh.. Bukan kah itu di Spanyol.. Jauh sekali.." Zino mengingat kalau kini mereka masih di Amerika.
"Pakai jet pribadi kita." Titah Zino.
"Juga pakai punya kami... Tuan Karen pernah menitipkan kamu satu unit Jet." Zino mengangguk dan mereka berangkat bersama ke Spanyol.
Dan disinilah mereka..
Flashback off.
Cessa menatap Zino dari atas sampai bawah. Bekas luka, darah di baju, luka di dada.
"Zino.." Cessa mengelus dada Zino.
Zino hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu sudah menabur abu Karen..?" Zino menghapus air mata Cessa yang serperti tidak ada habisnya.
Cessa hanya mampu menggeleng. "Ayo kita lakukan.." Zino menggandeng Cessa.
"Lakukanlah Nak.." Bella mengelus pipi Zino.
"Ayo.." Cessa dan Zino berdiri di tepi bukit.
Abu di keluarkan dari guci. Perlahan terbawa angin dan ada yang jatuh ke dasar bukit. Semua anak buah Karen dan Zino bersujud dan menunduk. Penghormatan terakhir untuk Karen dari anak buahnya.
Lorent pun tak lupa melakukannya juga karna sudah mejadi tradisi anggota elang untuk memberikan penghormatan terakhir pada tuannya dengan seperti itu.
Kaca mata Lorent tak bisa menghalangi airmatanya berjatuhan. Sudah sangat lama Lorent dan Karen bersama. Tiba tiba Lorent tersenyum.
"Lorent.. Selamat ya kamu akan menjadi seorang Daddy.. Kamu harus jadi Daddy yang hebat untuk anak anakmu nanti dan Rindu.." Karen memeluk Lorent dengan erat setelah melihat Lorent asik menelpon Rindu. Pelukkan terakhir yang Lorent rasa dari Karen.
"Seharusnya aku memelukmu lebih kencang Karen.." Lirih Lorent.
Rindu mengelus Lorent. Lorent pura pura tegar dan memeluk Rindu juga.
Abu dari guci sudah habis. Zino meletakan guci itu di dekat kakinya. Ia mengambil karung yang tadi ia tenteng tenteng.
"Karen..!!!! Aku bawa hadiah untuk kamu.. Hadiah dari aku dan Karsa anakmu.. Karen.. Aku senang bisa bertemu sama kamu.. Aku akan selalu senang menjadi adikmu.. Tolong ingat aku sebagai adikmu.. Adik tersayangmu.. Adikmu.. Aku akan sengat rindu berkelahi sama kamu.." Zino kembali menangis.
Sekuat apa pun Zino terarung dengan lawannya, jika itu tentang keluarganya maka Zino pun luluh.
"Ini ambil hadiahmu.." Zino melempar bebas karung berisikan kepala itu.
"Karsa sayang.. Aku sudah tepati janji kita.... Sekarang aku puny Permintaan kecil sayang.." Zino mendekati pengasuh Baby Karsa.
"Karsa.. Mau kan panggil aku Daddy..."
Aaaaw.. Off dulu guys... Huuuuaaa Karen ku yang manis.. Sebenarnya ini tokoh favorit author loooo, tapi demi keberhasilan novel kita ini Author rela deh.. Tetap ingat Karen ya Guys, laki laki dengan suara merdu dan punya lesung pipit lagi di pipi.. I love you Karen... Kamu akan selalu di kenang kami.
__ADS_1
Oohh ya guys.. Author ada buka tuhh tim interaksi.. Masuk donk.. Kita berkumpul di dalamnya..
"