Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 45


__ADS_3

Laki laki itu mendekati Cessa dan menyapa Cessa "Nyonya.." Ucapnya dengan sopan.


"Kamu siapa lagi?" Tanya Cessa was was. Mengingat bagaimana Ia berada di sini dengan cara di culik tiba tiba oleh Karen dan anak buahnya.


"Saya Lorent, Asisten setai tuan Karen Stone. Anda pasti Nyonya Cessa." Tebaknya.


"Iya kenapa kamu bisa tahu namaku dan aku, selama ini aku hanya di kurung di kamar saja." Ucap Cessa entah itu Curhatannya atau apakah.


"Tentu saja nyonya, tuan Karen tidak memiliki anak buah wanita, semua anak buahnya laki laki. Dan dalam Misi tuan Karen kali ini, Ada nama Cessa Allexsandra, dan saya sudah tahu di sini hanya ada anda saja yang perempuan yang lainnya laki laki oleh karna itu saya tahu anda pastilah Nyonya Cessa Allexsandra."Jelasnya lugas.


"Oohh begitu..." Cessa hanya bisa mengangguk angguk.


Sementara itu Karen masih tampak memarah marahi anak buahnya itu. Cessa mendengarkan semua yang di ucapkan Karen tapi Cessa tak tahu apa yabg sedang mereka bahas dan Cessa benar benar tak mengerti hanya ucapannya saja yang Cessa mengerti.


Tampaknya Karen semakin mengamuk, semua anak buahnya menjauh, Lorent pun membantu Karen untuk lebih tenang. Tapi usaha Lorent itu tak ada hasilnya, Karen malah memarahinya juga.


Lorent memilih mundur dulu dan tak ingin membuat tuanya samakin kesal. Lorent kembali berdiri di samping Cessa yang masih mematung.


"Dia tidak apa apakan?" Tanya Cessa ketika Lorent sudah di sampingnya.


"Tuan sedang mengalami stresnya karna banyak pikirannya saat ini. Ini sering terjadi pada tuan bila banyak pikiran, Tuan akan sering mengamuk dan marah marah.." Jelas Lorent lagi dan di simak Cessa baik baik.


"Tapi tidak parahkan?" Tanya Cessa lebih dalam lagi.


"Eemm ya kadang tuan akan menyakiti dirinya sendiri nyonya.." Baru saja Lorent mengatakan itu Karen langsung membenturkan kepalanya ke tembok di dekatnya.


"Astaga Karen.." Cessa berlari hendak menghampiri Karen yang membenturkan kepalanya dengan kuat, hingga terdengar dengan jelas suaranya.


Tapi Lorent malah menahan Cessa "Jangan Nyonya saat seperti itu tuan tidak bisa di ganggu atau di minta sekedar berhenti, takutnya malah nyonya yang akan tuan sakiti." Lorent sangat paham tuannya itu.


"Tuan Lorent... Itu tuanmu sedang kesakitan bukannya tolong malah diam aja..." Cessa berusaha melepaskan dirinya dari cekalan tangan Lorent.


"Maaf nyonya... Saat ini tuan sama sekali tidak merasa sakit, yang ia rasa hanyalah kepuasan tersendiri. Kami pernah mencoba menanganinya nyonya tapi tidak ada obatnya, tuan tidak ingin di obati secara psikis. Ini termasuk penyakit psikologi, tapi tuan menolak untuk melakukan pengobatanya. Jadi untuk saat ini tidak ada obat yang bisa mengobati tuan." Cessa tercengang mendengar penjelasan Lorent itu.


Kepala Karen mulai berdarah dan darah itu sudah mengalir di wajahnya. Cessa menoleh ke arah Karen saat ini. Betapa tak teganya Cessa melihat hal itu. Pria yang sejak kemarin menawarkan keramahan dan kasih sayang padanya tiba tiba berubah seperti ini.


Tak tahan hanya menjadi penonton Cessa menghempas tangan Lorent ketika ia lengah dan Cessa berlari ke arah Karen. Banyak anak buah Karen yang melihat amukan dari tuannya itu tidak ada yang berani mendekat. Karna takut mereka yang akan menjadi korbanya.


Tapi Cessa, hanya dengan rasa kasihannya ia memberanikan diri untuk menghampiri Karen yang semakin banyak darahnya.


Saat sampai di depan Karen Cessa tak langsung mendekat dengan Karen tak sadar diri itu.

__ADS_1


"Karen..." Panggil lembut Cessa dengan suara sendunya.


Karen menghentikan benturanya dan terdiam. "Karen... Ini aku..." Cessa terus mendekat kini.


"Karen... Boleh aku mendekat?" Tanya Cessa bingung harus merayu Karen seperti apa.


Masih tak ada tanggapan lain dari Karen, tapi baiknnya Karen tidak membenturkan kepalanya. Cessa meneruskan langkahnya.


"Karen... Kita sarapan yuk... Tadi kamu ajak aku sarapan.." Seolah sudah akrab dengan Karen Cessa berusaha terus.


Karen menoleh pada Cessa yang berjalan mendekat. Wajahnya oh Tuhan.. Darahnya.. Jika bisa di donor mungkin akan lebih berguna.


Bukannya takut melihat wajah Karen yang berlumuran darah Cessa terus maju. "Karen... Suapi aku..." Ucap Cessa perlahan berhenti dan menatap Karen juga. Cessa tersenyum manis ke hadapan Karen.


"Mau ya..." Cessa masih terus merayu dengan seadanya.


Karen maju dan mendekati Cessa yang tak jauh darinya. Ingin Cessa ari tapi Karen membutuhkannya saat ini. "Karen.."


BUGH


Karen terjatuh tepat di depan Cessa dan Cessa dengan cepat juga ikut berjongkok.


"Karen.." Cessa memegangi wajah Karen yang sudah kotor dengan darahnya sendiri.


"Sudah tidak apa apa... Ini ada aku di sini.. Tenang ya.." Cessa mengusap usap punggung Karen dan terus menghiburnya.


Dari jauh Lorent memidiokan aksi Cessa yang menenangkan tuannya akan ia kirim kepada nyonya besarnya.


Karen menatapi wajah Cessa, kini wajah Karen sudah tak sekotor tadi karna sudah sedikit di bersihkan Cessa barusan. Setelah menatap Cessa Karen masuk lagi dalam pelukkan Cessa dan Cessa juga terus mengelus elus Karen dengan lembut di punggungnya.


"Nyonya besar pasti akan sangat senang menonton ini." Gumam Lorent bangga akan Cessa yang berhasil menenangkan Karen.


Karen kembali tenang di pelukan Cessa, Cessa meminta anak buah Karen untuk membantunya membawa Karen ke kamar mereka, Cessa ingin Karen istirahat total. Tapi di luar dugaan Karen malah kembali mengamuk karna lepas dari Cessa.


Cessa yang paham kembali memeluk Karen dengan halusnya.


"Lorent... Carikan Dokter yang dapat memberikannya obat penennang.." Bisik Cessa pada Lorent yang berada dekat dengannya dan juga Karen.


"Baiklah Nyonya.." Lorent bergegas dan tak lama kemudian ia kembali lagi dengan membawa dokter.


Karna Karen sedang nyaman di peluk Cessa membuat sang dokter mudah menyuntikan obat. Perlahan Karen pun terlelap. Setelah yakin Karen terlelap di peluknya barulah Cessa memberikan Karen pada anak buahnya untuk di bawa ke kamar.

__ADS_1


***


Cessa menatap Karen yang terbaring lemah dan luka di kepalanta masih saja mengeluarkan darah. Cessa berinisiatif untuk mengobatinya sendiri.


Dengan perlahan Cessa membersihkan luka Karen setelah yakin luka itu bersih barulah Cessa mennuangkan sedikit betadine, setelah betadine itu sedikit mengering barulah Cessa menempelkan plaster tepat di kening kiri Karen tempat luka itu.


Bukan hanya di keningnya saja, di pelipismya juga ada. Cessa pun melakukan hal yang sama. Membersihkannya dan mengobatinya. Pagi berlalu siang pun tiba. Cessa baru merasa perutnya sangat lapar. Baru Cessa ingat tadi pagi ia dan Karen tidak sempat sarapan karna amukan dari Kare yang tiba tiba saja.


Cessa hendak keluar dari kamarnya, sampai di depan pintu ada penjaga yang menjaga kamarnya.


"Maaf tuan, saya mau ambil makanan ke bawah, saya belum sarapan tadi pagi." ucap Cessa seperti orang yang meminta makan saja.


"Ooh baiklah nyonya. Silahkan tunggu." Pria bertubuh gagah dan tinggi itu menuruni anak tangga. Cessa memilih untuk masuk ke dalam kamarnya lagi.


Makanan Cessa sudah sampai, Cessa mulai menikmati makanannya sambil terus menatap Karen yang terbaring.


"Oohh Karen tadi juga belum makan. Apa dia tidak kelaparan ya?" Tanya Cessa sendiri. Ingin bangunkan tapi kata dokter tadi Karen tidak akan terbangun untuk saat ini.


Cessa hanya meneruskan makannya.


Waktu begitu cepat berlalu, tapi Karen masih belum sadarkan diri. Bingung harus melakukan apa akhirnya Cessa beres beres baju Karen yang tadi pagi ia tumpuk. Ingin Cessa keluar jalan jalan tapi Cessa tak memiliki keberanian untuk itu.


Tapi apa salahnya mencoba. Cessa pun keluar dari kamarnya dan benar saja ada penjaga di depan.


"Ehem.. Tuan saya bosan.." Ucap Cessa sedikit takut.


"Ini Nyonya." Laki laki itu memberikan Cessa ponsel, ponsel itu tidak memiliki SIM CARD.


"Untuk apa ini?" tanya Cessa tak paham gunanya apa, untuk minta tolong juga tidak bisa kalau begini.


"Untuk nyonya maikan.." singkat sekali jawabannya.


"Hah?" Cessa kagum dengan anak buah Karen ini. Mereka benar benar siap siaga.


Cessa pun kembali ke dalam kamarnya dan melihat Karen masih tak sadarkan diri. Cessa mulai memainkan ponsel dari anak buah Karen itu.


Tak terasa hari semakin sore dan hendak malam, Cessa menoleh pada Karen tapi masih tak sadarkan diri. Cessa memilih membersihkan tubunya terlebih dahulu.


Cessa melakukan semuanya sendiri. Makan minum, dan lainnya sendiri. Akhirnya Sangkin gabutnya Cessa memindahkan sofa single ke samping ranjang dan duduk disana sambil menunggu Karen sadar.


Cessa memilih untuk tidur di sofa tersebut.

__ADS_1


Saat tengah malam..


__ADS_2