Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Mempersiapkan Diri


__ADS_3

Nyatanya yang menjadikan seseorang lebih dewasa bukan lah usia, melainkan bagaimana caranya menemukan solusi di setiap masalah. Hal inilah yang terjadi pada Hasbi,bungsu lelaki di keluarga Dena.


Semenjak Dena di nyatakan Gagal Ginjal, perubahan sifat Hasbi banyak sekali. Hasbi yang tadi nya terlihat ke kanak kanakan dan sedikit nyeleneh ternyata bisa lebih bijak dalam menyikapi masalah yang ada di keluarga nya. Keputusan nya semalam membawa Kakak nya ke Rumah sakit adalah sebuah tindakan heroik yang patut di hargai. Sedikit saja Dena terlambat mendapatkan penanganan medis,bisa berakibat fatal.. kata dokter jaga yang malam itu menangani Dena di Ruangan IGD.


Pagi hari, Dena baru tersadar dan membuka mata mendapati diri nya sudah berada di Ruangan Rawat Inap rumah sakit.


Ini kali kedua Dena berada disini,ia melihat sekeliling... tak mendapati ada siapa pun yang menemani nya. Sementara pergelangan tangan kiri nya sudah terpasang jarum infus.


Tak lama Kak Anjani muncul dari balik pintu membawa bungkusan makanan.


"Dena sudah bangun?" lembut suara Kak Anjani menyapa adik nya yang sudah terlihat tenang jika di bandingkan dengan semalam saat dia berteriak histeris.


"Ibu mana Kak?".. hal pertama yang di tanyakan Dena kepada kakak nya


"Ibu baru saja pulang Den,semalam ibu yang menemani mu disini jadi pagi ini kakak yang menyuruh ibu pulang untuk istirahat di rumah saja" , ujar Kak Anjani.


"Apa yang terjadi semalam Kak?" tanya Dena,mencoba mengaduk aduk fikiran nya mengingat apa yang terjadi hingga ia harus berada di Ruangan ini lagi.


"Kamu pingsan semalam Den", Kak Anjani lebih memilih menjawab dengan jawaban seperti itu tanpa harus mengatakan pada adik nya kalau semalam dia sungguh di luar kendali, mengamuk meronta tanpa bisa di kendalikan.


" Hhhhmmm.... benarkah?", tanya Dena dalam hati. Dia terlihat sedikit bertenaga di bandingkan kemarin kemarin, cairan infus yang masuk ke tubuh nya membantu diri nya terhidrasi karena cairan yang terus keluar saat dia muntah. Dari semalam sampai pagi ini entah berapa kali suntikan yang ia dapat kan untuk menghilangkan mual di perut nya.


Dena melempar pandangan ke pintu kaca di sebelah kanan nya,menatap pemandangan Gedung pusat perbelanjaan di sebelah bangunan Rumah sakit ini,dari Lantai 3 Rumah sakit ini lalu lalang kendaraan yang ramai melintas terlihat sangat jelas jika kita berdiri di pintu kaca yang tersambung dengan balkon kecil di hadapan nya.

__ADS_1


" Kak,boleh aku turun dari tempat tidur?" tangan nya sembari menunjuk ke arah balkon


"Aku ingin berjemur di bawah sinar matahari pagi" ucap Dena,memang ruangan Rawat inap terletak di sebelah bagian timur sehingga di pagi hari pasien pasien bisa merasakan hangat nya matahari pagi yang baik untuk kesehatan


Kak Anjani mengangguk dengan senyum,dengan cekatan ia membantu adik nya berjalan,mendorong tiang infus di sebelah Dena.


Dena berdiri di sisi balkon,mempersilahkan kakak nya untuk kembali ke ruangan.


" Aku bisa sendiri disini" pinta dena


Anjani menuruti perintah adik nya yang tampak merasa nyaman kalau berdiri sendiri disitu,Anjani hanya mengawasi adik nya dari balik pintu kaca ruangan.


Dena menatap kosong,pemandangan di luar sana.


Dan pada akhirnya sebuah rasa sakit hanya akan terobati dengan cara mengikhlaskan.Meski tidak semudah membolak balik kan telapak tangan,setidaknya itu bisa di lakukan,semua hanya butuh waktu dan keinginan. Hampir 15 menit Dena hanya berdiam diri sesekali memejamkan matanya menikmati siraman mentari pagi mengenai tubuh nya. Wajahnya masih terlihat cantik,hanya gurat kesedihan yang tersisa di sudut sudut mata dan bibir nya membuat orang yang melihat nya akan merasa iba. Mendapati wajah yang dulu terlihat segar,lincah,gadis mungil energik yang selalu menampilkan senyum manis nya kini terlihat pucat,pias seperti tanpa nyawa.


Kak Anjani menghampiri Dena,mengajak nya untuk kembali ke tempat tidur Ruangan karena melihat adik nya mulai kelelahan dengan posisi berdiri..


" Makan ini Den", ucap kak Anjani mengeluarkan bungkusan yang tadi ia bawa yang berisi nasi uduk dengan perkedel kesukaan Dena .


"Kamu pasti tidak mau menelan bubur putih dan telur rebus itu kan,makanya kakak sengaja membeli ini untuk mu" ucap Kak Anjani seraya menunjuk Sarapan berupa bubur yang di dapat dati Rumah sakit.


Dena mulai mengisi perut nya yang dari kemarin memang kosong karena apapun yang ia makan akan di muntahkan lagi oleh nya. Kali ini makanan itu terasa nyaman masuk ke kerongkongan dan lambung nya karena sebelum nya ia sudah mendapat beberapa suntikan dari perawat ruangan.

__ADS_1


"Dena.. kami sudah memutuskan apa yang terbaik untuk kesehatanmu" ucap Kak Anjani,tentu saja kami yang di maksud nya adalah Ayah,Ibu dan Hasbi juga


"Tadi pagi kamu sudah diambil darah untuk screening prosedur hemodialisa atau cuci darah. Nanti akan di cek anti HIV,anti Hbs Ag dan Anti HCV. Jika semua hasil nya bagus,besok kamu akan menjalani cuci darah pertamamu"... " Jadi kakak harap kamu bisa ikhlas dan menerima nya" ucap Kak Anjani dengan nada meyakinkan adik nya kalau semua akan baik baik saja


Dena tidak menjawab apapun,dia hanya bisa bertanya di dalam hatinya " Apa aku sudah siap menjalani semuanya?".. " Apa ini sebuah akhir dari segala jalan keluar yang telah aku coba?"..


"Percayalah Den,semua akan berjalan lancar.. Kakak,Hasbi, Ayah, Ibu akan selalu mendampingi dan menemani mu".. Kak Anjani mencoba memberi pengertian kepada adik nya itu setelah melihat adik nya yang tampak merasa cemas mendengar itu.


"Tadi pagi,Kakak sudah melihat bagaimana proses cuci darah itu. Kakak sengaja minta di antar kan perawat ke Ruangan Hemodialisa untuk melihat seperti apa tindakan nya".. ucap Anjani mencoba memberikan keyakinan yang lebih kepada Dena


"Apa mereka ( pasien pasien itu ) merasa kesakitan kak?" tanya Dena penasaran, karena yang ada di benak nya selama ini cuci darah itu hal yang menakutkan,menyeramkan dan tentu saja menyakitkan.


Kak anjani menggeleng tersenyum..


Kak Anjani bahkan sempat berbincang dengan pasien cuci darah tadi pagi,mereka semua tampak terlihat nyaman dan tidak merasakan kesakitan. Mereka bisa makan,minum dan berbincang layak nya orang yang sedang tidak sakit. Kak Anjani mengatakan pada Dena semua yang ia lihat.


Dena sedikit lega mendengarkan cerita Kak Anjani.


"Baiklah...aku hanya perlu mempersiapkan diri untuk hari esok", ucap Dena


Meskipun rasa takut tetap saja menghantui fikiran nya...


Manusia memang makhluk yang lucu,bisa merasa takut pada hal yang belum benar benar akan terjadi...

__ADS_1


__ADS_2