
Semburat jingga terlihat semakin landai memenuhi langit sore itu. Senja telah hadir bersiap menjemput malam di penghujung bulan Juli. Cuaca sangat bersahabat di pertengahan tahun seperti ini, malam malam terasa hangat membelai setiap insan yang menghabiskan waktu untuk beristirahat di kamar nya masing masing.
Seorang gadis tampak murung di sudut kamar nya, cahaya remang remang menemani nya di kesunyian yang semakin terasa. Di sela lamunan nya,gadis itu nampak terisak.
Bagaimana tidak ?
Laki laki yang sebentar lagi akan menjadi imam nya, memutuskan untuk menunda pernikahan yang telah mereka rencanakan dan persiapkan jauh jauh hari.
Bahkan mereka telah menentukan tanggal Akad nikah dan resepsi di pertengahan bulan Agustus, itu berarti apa yang mereka rencana kan sudah hampir di depan mata. Ya,gadis itu bernama Amira. Ia tak habis fikir, bagaimana bisa Hasbi secara sepihak mengambil keputusan untuk menunda dulu pernikahan mereka. Masih teringat jelas perbincangan mereka tadi sore.
**** Di sebuah cafe yang terletak di pinggir Kota, sore itu Hasbi sengaja menjemput tunangan nya itu sepulang bekerja untuk membicarakan suatu hal yang penting, ia mengajak Amira ke cafe yang biasa mereka kunjungi di akhir pekan hanya untuk sekedar menikmati secangkir cappucino hangat dan makanan kecil.
Pembicaraan serius tampak terlihat di antara mereka. Hasbi mengumpulkan keberanian untuk menyatakan keputusan nya itu kepada Amira. Gadis itu pasti akan sangat terluka,fikir Hasbi. Tetapi,untuk saat ini mungkin ini pilihan yang terbaik. Kak Dena yang menjadi prioritas utama ku saat ini,gumam Hasbi.
"Amira, aku sebelum nya meminta maaf karena harus menyampaikan ini", ucap Hasbi dengan hati hati memulai pembicaraan.
Amira terlihat bingung, mencoba menebak arah pembicaraan kekasih nya itu.
" Apa yang membuat mu perlu meminta maaf?", tanya Amira.
" Ini perihal Kak Dena".. lanjut Hasbi
Amira bernafas lega mendengar kekasih nya menyebutkan Kak Dena, itu berarti hal yang akan ia sampaikan bukan tentang rencana pernikahan mereka. Amira takut Hasbi akan berubah fikiran,begitu fikir nya setelah mendengar permintaan maaf kekasih nya.
"Kau tau kan sekarang kak Dena sedang dalam masa masa sulit nya?", Hasbi menggenggam erat tangan kekasih nya.
Gadis hitam manis bertubuh semampai itu menganggukkan kepala nya.
Ya,tentu saja ia tau bagaimana kondisi calon kakak ipar nya itu. Hasbi bahkan hampir di setiap pertemuan mereka selalu membahas tentang kakak nya itu.
" Kak Dena sudah menjalani cuci darah 4 kali, kondisi nya mulai sedikit membaik. tapi nampaknya masalah kesehatan nya masih belum bisa di bilang stabil" ucap Hasbi melanjutkan pembicaraan nya.
" Lantas? Kau ingin meminta maaf untuk apa?", ucap Amira mulai khawatir dengan topik pembicaraan kekasih nya akan melebar kemana mana.
Hasbi masih diam mematung,semakin erat menggenggam tangan kekasih nya itu. Tangan kiri nya membelai lembut rambut Amira,kemudian menyelipkan nya ke kuping. Dia nampak ragu ragu untuk meneruskan ucapan nya,bagaimana bisa ia melihat perempuan yang sudah 5 tahun menjadi kekasih nya itu menangis dan terluka dengan ucapan nya.
Amira yang sudah lama mengenal Hasbi seolah tau dan bisa membaca fikiran laki laki di sebelah nya itu.
" Katakan... katakan lah meski menyakitkan" ucap gadis itu dengan nada sedikit bergetar.
Hasbi menarik nafas panjang,mencoba mencari kata yang tepat untuk menyampaikan nya, padahal sudah dari semalam ia merangkai kata kata itu, tapi sekarang semuanya buyar demi melihat ada kesedihan di netra kekasih nya itu. Tapi bagaimanapun,Hasbi akan tetap menyampaikan nya.
"Kau masih bisa sabar menunggu kan? tanya Hasbi,dengan pertanyaan yang sedikit menggantung.
__ADS_1
"Menunggu untuk apa?", Amira balik bertanya,meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak apa maksud laki laki itu.
"Menunggu sampai aku benar benar siap untuk menikah" , Hasbi menjawab dengan gelisah berharap perempuan itu tidak terluka hebat.
Amira sudah menyiapkan reaksi terbaik untuk jawaban kekasih nya itu, ia menampakkan wajah tenang, mencoba menyembunyikan hati nya yang seolah di sayat sayat.
" Apa waktu 5 tahun belum cukup bagiku untuk menunggu, dan apa dalam waktu 5 tahun pula kau bahkan tidak merasa siap sedikitpun?", pertanyaan Amira sungguh di luar dugaan Hasbi, ia fikir wanita itu akan menangis terisak di hadapan nya setelah mendengar pertanyaan yang menyakitkan itu.
" Bukan begitu maksud ku Amira, ini tidak ada kaitan nya dengan waktu 5 tahun yang telah kita lalui bersama"
" Aku hanya belum bisa rasanya mengadakan pernikahan kita dalam waktu dekat sementara keadaan Kak Dena masih seperti ini", lanjut Hasbi mencoba menjelaskan pada Amira.
" Lantas, kenapa kau melamar ku?"
" Mendatangi orang tuaku dan menentukan tanggal untuk kau menghalalkan ku?" tanya Amira dengan nada sedikit meninggi
" Amira,itu semua karena aku memang sudah yakin kau adalah perempuan yang tepat bagi ku,yang akan mendampingi ku sebagai seorang istri"
" Tapi semua di luar kuasa ku, Kak Dena sakit di saat kita telah mempersiapkan semuanya", jawab Hasbi seraya memegang erat tangan Amira yang berusaha ditepis oleh gadis itu.
Amira yang sedari awal berusaha menahan bulir bulir air di pelupuk mata nya akhirnya tumpah tak terbendung lagi. Ia hanya bisa berteriak di dalam hatinya, ia yakin Kak Dena gadis yang kuat, tapi dia sendiri? dia tak yakin apa dia akan mampu menghadapi ujian ujian ini.
" Aku tidak membatalkan pernikahan kita, aku hanya ingin menunda sampai keadaan Kak Dena benar benar stabil", ucap Hasbi sambil mencoba menghapus air mata yang berlinang di pipi gadis itu.
" Tidak mungkin rasanya bagiku untuk berbahagia dan melaksanakan pesta sementara Kakak yang aku sayangi masih dalam keadaan terpuruk"
" Kau tau kan kalau Kak Dena tidak punya siapa siapa selain Ayah,Ibu,Kak Anjani dan Aku" ucap Hasbi pada Amira,berusaha menjelaskan kalau saat ini Kak Dena lebih butuh perhatian dari orang orang terdekat nya.
Gadis itu susah payah menahan rasa sesak di dada nya yang meledak ledak, ingin ia menumpahkan segala emosi nya dengan berteriak. Tapi masih bisa ia tahan karena berada di tempat umum seperti ini.
" Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan ku?"
" Bagaimana perasaan kedua orang tua ku?"
" Ayahku bahkan sudah mengumumkan perihal pernikahan kita kepada keluarga besar ku" , ucap Amira dengan bibir bergetar menahan amarah.
Amira memang anak tunggal di keluarga nya, kedua orang tuanya begitu bersemangat menyiapkan pernikahan putri satu satu nya itu. Dan bukan hal mudah bagi Hasbi untuk menaklukkan sikap orang tua Amira yang over protected kepada putri nya itu. Hasbi masih bisa mengingat jelas di tahun pertama hubungan mereka, Ayah Amira sempat tak merestui nya. Dan sekarang, saat kedua orang tuanya sudah merestui hubungan mereka ke jenjang pernikahan, Hasbi bahkan menunda nya. Jawaban apa yang akan ia berikan nanti??
Hasbi tertunduk, menatap dalam jari jari kekasih nya yang masih erat ia pegang. Menatap lama cincin tunangan di jari manis perempuan itu.
" Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak berniat melukai mu"
" Ayolah sayang,ini tidak lama.. Aku hanya meminta mu menunggu sampai Kak Dena benar benar stabil dan seutuh nya sudah bisa menerima keadaan"
__ADS_1
Hasbi masih berusaha membujuk kekasih nya itu.
Amira tampak tak bergeming, ia hanya meraih ponsel nya kemudian membuka aplikasi taksi online berlogo hijau itu. Ia meraih tas nya, meninggalkan Hasbi yang masih terdiam termangu menatap punggung Amira yang hilang di balik pintu cafe.
...****************...
Udara hangat malam itu tak mampu membuat sedikit kehangatan di hati gadis yang masih terus terisak di sudut kamar nya. Dia mengenang ucapan ucapan tunangan nya yang masih sangat membekas di ingatan, membuat luka menganga di hati nya.
Ia bingung harus bagaimana dia mengatakan kepada kedua orang tuanya perihal Hasbi yang berniat mengundurkan pernikahan mereka.
Ia rasanya tak punya keberanian sedikit pun untuk menghadapi kedua orang tua nya, kemungkinan terburuk pasti akan terjadi jika Ayah nya tau tunangan nya itu belum siap untuk menikah dalam waktu dekat.
Amira hanya bisa menangis, ingin sekali rasanya ia meluapkan amarah nya dengan menelpon Hasbi malam itu. Tapi niat nya dia urungkan, dia meraih ponsel di sebelahnya. Menatap layar ponsel dengan pemberitahuan 7 kali panggilan tak terjawab dan 15 pesan masuk, dari satu nama pengirim yang ia simpan di kontak handphone nya dengan tulisan " Calon Imam ku".
Gadis itu tampak kesal, membaca pesan dari laki laki itu yang lagi lagi hanya berisi kan permohonan maaf,padahal Amira sangat berharap Hasbi mengirim pesan bahwa ia mengurungkan niat untuk menunda pernikahan mereka. Tapi nyatanya, semua tak berubah.
Amira tak berniat sama sekali untuk membalas pesan laki laki itu, dia lebih memilih menekan tombol blokir. Bagi nya,saat ini dia hanya perlu waktu untuk sendiri dan kemudian berfikir dalam waktu secepat mungkin kedua orang tua nya harus tau hal ini,sebelum Ayah atau Ibu semakin menuntaskan persiapan pernikahan mereka yang sudah hampir 60 persen.
" Aku akan datang ke rumah mu, menemui Ayah dan Ibu mu untuk mengatakan hal ini secara langsung" ,begitu pesan terakhir dari Hasbi yang Amira baca .
Sejenak ia terdiam, meredam amarah nya dan lagi lagi berfikir kenapa Hasbi tega melakukan ini kepada nya. " Apa aku tak kalah penting dengan kakak nya itu?" tanya Dena dalam hati.
Yang ia rasa kan saat ini hanyalah rasa benci terhadap laki laki yang kemarin masih sangat ia cintai. Ia meraih kembali ponsel nya, membuka blokir di kontak kekasih nya kemudian menuliskan sebuah pesan singkat.
" Kita akan terbiasa, terbiasa tanpa kabar,terbiasa tanpa rindu dan perlahan kita akan terbiasa untuk saling melupakan"
Lalu dengan sangat yakin ia menekan tombol
" SEND".
...****************...
Sementara itu, di dalam sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang mulai sepi di malam hari, Hasbi meraih ponsel nya yang berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Ia melihat nama pengirim pesan " Bidadari tak bersayap ".
Kemudian membaca isi pesan dengan bertanya tanya dalam hati. Lalu membalas pesan dengan singkat,
" Apa maksud mu untuk saling melupakan?"
Hasbi memukul setir karena kesal, kesal karena Amira bahkan berani mengatakan untuk mereka saling melupakan,padahal selama ini Hasbi tau betapa gadis itu sepenuh nya mencintai nya. Hasbi memaki diri nya sendiri dan mengumpat , " Hei, lelaki bodoh kenapa kau marah atas keputusan nya bukankah kau sendiri yang dengan lancang memulai untuk menabuh genderang perang?"
Kini ia bahkan tak tau kalau hal ini begitu rumit untuk di sampaikan kepada keluarga nya, apalagi kepada kedua orang tua Amira.
__ADS_1
Ia menekan pedal gas lebih dalam, mempercepat laju kendaraan nya. Malam ini, ia hanya ingin merebahkan diri di atas kasur nya yang empuk. Tertidur untuk melupakan sejenak kerumitan yang ia ciptakan sendiri.