
" Adrian, apa kau yakin bisa bahagia denganku?"
" Kenapa bertanya seperti itu?"
" Aku tak pernah main main dengan perasaanku, meskipun kau bukan perempuan pertama yang membuatku jatuh cinta namun aku harap kau jadi yang terakhir untukku Dena".
" Menikahlah denganku Dena, aku akan membahagiakanmu".
" Tapi Adrian......"
" Jika kau menikah denganku aku tidak akan bisa memberikan mu keturunan"
" Kau pasti menginginkan anak dalam pernikahan kan?"
" Dengan keadaan ku yang sakit seperti ini akan sulit dan tidak mungkin rasanya aku bisa memberikan mu anak"
Adrian terdiam kemudian meraih tangan Dena.
" Aku akan tetap bahagia meski tanpa kehadiran seorang anak".
" Kita bisa mendapatkan nya dengan cara yang lain".
Dena mematung, ia tau ini hanya lah sebuah alasan baginya untuk mengurungkan niat Adrian yang ingin segera menikahi nya .
Tapi laki laki itu nampak nya tidak mempermasalahkan hal itu.
Dena sendiri masih menggantungkan harapan kepada Adam yang saat ini bahkan sudah mengetahui perasaan nya.
Ia masih berharap skenario Tuhan bisa berubah entah esok atau lusa. Ia masih ingin memberi waktu untuk datang nya kesempatan bagi dirinya dan Mas Adam.
" Dena, sekarang aku yang ingin bertanya padamu".
" Apa kau sungguh sungguh dengan perasaanmu?"
" Kenapa sepertinya aku masih menangkap ragu dalam matamu".
Jantung Dena berdegup tak menentu mendengar ucapan Adrian, laki laki itu ternyata bisa menangkap bahwa ia masih setengah hati menjalani hubungan ini.
" Aku tak ingin kau menjalani hubungan denganku karena terpaksa Dena".
" Tapi percayalah, aku tak pernah sedikit pun bermain dengan rasaku"
" Aku merasa sempurna jika kau menjadi milikku".
Dena kehilangan kata kata untuk membalas ucapan Adrian, karena ia tak ingin semakin membohongi laki laki baik di hadapan nya saat itu hanya dengan mengeluarkan kata kata manis.
*** Adrian bersandar di kursi kerjanya, ia mengingat percakapan itu.. pembicaraan tadi malam dengan Dena saat makan malam berdua.
Awal nya ia hanya menyatakan sudah siap untuk menikahi kekasih nya itu, tetapi kenapa malah ia bertanya apa aku bahagia dengan nya .
Adrian melamun, melayangkan angan nya kepada perempuan itu.
Dena...
Dan, sekali lagi kau bertanya padaku
Bahagia kah aku bersamamu?
Sudah berapa kali aku katakan
Kau lebih dari sekedar sebuah kebahagiaan
Kau adalah keajaiban dari segala doa yang selama ini aku panjatkan
Lebih dari sekedar harapan yang memabukkan
Kau adalah kenyataan yang saat ini sedang diam diam aku perjuangkan
Mati matian aku upayakan di hadapan Tuhan
__ADS_1
Bukankah seperti itu seharusnya?
Sebab aku tidak hanya sekedar jatuh cinta
Aku ingin kita bisa menua bersama.
*** Makan siang di Kantin
" Dena, aku heran dengan hubungan mu dan Adrian".
" Kalian kan pacaran, tapi kok nggak pernah terlihat mesra sih?"
" Makan siang juga kau berduaan dengan ku bukan nya dengan Adrian", Puji terus berceloteh meski mulut nya penuh dengan makanan.
" Memang nya kalau aku mesra mesraan dengan Adrian harus aku tunjukkan di depan mu?"
" Dena, apa Adrian lelaki romantis?"
" Apa ia punya nafsu yang tinggi?", Puji bertanya penuh rasa ingin tau.
" Dasar otak mesum......"
" Kau pasti berimajinasi yang tidak tidak kan tentang lelaki itu", tangan Dena menjentik kening Puji.
Benar saja, Puji sedang membayangkan bagaimana kalau Adrian melepas bajunya.
" Liur mu sudah menetes tuh", ucap Dena
Puji refleks mengelap sudut bibir nya.
" Hahaha", kedua sahabat itu tertawa.
Dari meja di sudut kantin Adrian memandang Dena , semakin memantapkan hati untuk melanjutkan hubungan dengan perempuan itu ke jenjang yang lebih serius.
*** Sepulang dari kantor Adrian langsung pulang menuju rumah nya.
Meski Adrian selalu menawarkan untuk mengantar jemput kekasih nya itu setiap hari, namun Dena selalu menolak nya. Ia lebih memilih membawa kendaraan sendiri.
Adrian sempat mengecup kening kekasih nya tadi sebelum pulang .
" Ahhh..ia masih saja canggung setiap aku mencium nya".
" Tumben jam segini sudah di rumah", tanya seorang laki laki yang merupakan kakak kandung Adrian.
Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu semenjak kedua orang tua mereka meninggal.
Adrian hanya memiliki seorang kakak laki laki, selama ini hubungan mereka baik baik saja.
Namun karena kesibukan kakak nya sebagai seorang Pengusaha membuat mereka jarang bertemu meskipun tinggal satu rumah.
Bahkan kakak nya tak pernah tau Adrian kini sudah memiliki seorang kekasih yang sebentar lagi ia rencanakan untuk di perkenalkan sebagai calon istrinya.
" Iya kak, lagi nggak banyak kerjaan di kantor".
" Kakak juga kok tumben ada di rumah jam segini, biasanya pulang ke rumah saat aku audah tidur", Adrian mengulik kebiasaan sehari hari kakak nya itu.
" Aku sekarang sudah punya asisten , jadi pekerjaan ku sebagian aku percayakan padanya".
Adrian manggut manggut.
" Sejak kapan Kakak punya asisten?"
" Bukan nya selama ini kakak lebih suka menyelesaikan semuanya sendiri"
" Ehhh..emm..belum lama sih, baru satu mingguan ini", Kakak nya menggaruk garuk kepala seperti salah tingkah .
Sudah lah terserah dia, gumam Adrian.
" Kak...aku mau bicara sesuatu".
__ADS_1
" Katakan... Ada apa?"
Adrian ragu ragu menyampaikan nya, usia nya terpaut 6 tahun dengan kakak nya .
Namun kakak laki laki nya ini belum juga menikah, sepertinya pacar juga tidak punya.
" Aku .. aku.."
" Sebenarnya aku punya rencana untuk menikah".
" Hey..sejak kapan kau punya kekasih lagi Adrian?"
" Nampaknya kakak mu ini terlalu sibuk hingga tak tau perkembangan kehidupan pribadimu", kakak nya terkekeh.
Adrian memang sudah lama sendiri, sebelum menjatuhkan hatinya pada Dena ia pernah memiliki kekasih hampir empat tahun silam .
Namun kisah mereka kandas karena Adrian mendapati kekasih nya itu selingkuh.
Sejak saat itu Adrian begitu selektif dan hati hati dalam menjatuhkan pilihan . Meski tak bisa di tampik selama empat tahun itu entah berapa banyak perempuan yang mendekatinya dan ia tolak cintanya.
" Kami belum lama menjalin hubungan Kak, ia teman kantor ku".
" Tapi aku rasa tak perlu berlama lama kami berpacaran".
" Aku berniat menikahinya jika ia setuju".
Kakak Adrian mendekat, menepuk bahu Adrian.
" Pasti kekasihmu itu tak akan menolak lamaran mu, hanya perempuan bodoh yang tidak mau menikah dengan lelaki setampan kau Adrian".
" Hhhmm..kakak sendiri bagaimana?"
" Kakak keberatan nggak kalau aku menikah duluan?".
" Atau sekarang kakak sudah punya calon istri juga?"
" Hahaha, kenapa aku harus keberatan Adrian".
" Kau bisa menikah kapan pun kau mau, jangan pikirkan kakak mu ini".
Dalam hatinya ada keinginan besar untuk memiliki pendamping hidup, apalagi beberapa hari ini hatinya sedang kacau oleh kehadiran mantan kekasih nya lagi di dalam hidup nya .
" Kapan kapan kau harus membawa kekasih mu itu untuk berkenalan dengan kakak".
" Pasti ia perempuan yang cantik, aku tau selera mu hehehe".
" Tentu kak, aku akan mengenalkan nya pada kakak".
" Dia gadis yang cantik, amat cantik", Adrian tersenyum menggambarkan betapa sempurna kekasih nya itu.
Namun Adrian belum mengatakan kepada kakak nya kalau kekasih nya punya riwayat penyakit kronis.
Seperti yang dikatakan Dena, ia tak punya banyak peluang untuk bisa memberikan keturunan.
" Apa Kakak ku bisa menerima kekurangan Dena yang itu?", gumam Adrian dalam hati.
" Ahh.. sudahlah, aku saja bisa menerimanya apa penting nya keputusan orang lain untuk hal itu".
" Kak, aku mandi dulu ya", Adrian meninggalkan kakak nya sendirian di ruangan itu.
" Adrian, andai saja mantan kekasih ku itu sekarang jadi janda mungkin nanti kakak mu ini berencana untuk melakukan nikah massal bersama mu", laki laki itu kemudian tersenyum sendiri membayangkan nya.
...****************...
Doain Adrian bisa menikahi Dena ya, kasian kan kalau sampai Adrian patah hati lagi..
Ikutin terus ya episode berikutnya🥰🥰
Jangan lupa like dan follow akun Author ya🙏
__ADS_1