Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Tawaran kedua untuk menikah


__ADS_3

Jam makan siang di kantin


" Dena, kau sedang tidak nafsu makan?", tanya Puji menyelidik.


Dena tak menjawab, ia hanya memainkan ujung sendok nya dan mengaduk aduk makanan yang ada di piring.


Semalaman ia tak bisa tidur memikirkan kejadian dua hari yang lalu bersama Mas Adam.


Ia merasa menjadi perempuan murahan yang hanya mengikuti nafsu demi kenikmatan yang sesaat.


Sekarang ia bukanlah seorang perempuan yang utuh lagi, bahkan ia menyerahkan nya pada lelaki yang masih berstatus suami orang meskipun kenyataannya mereka sudah pisah ranjang hampir satu bulan.


" Dena, kau melamun?"


" Kenapa lagi denganmu?", Puji terus bertanya dengan sahabatnya yang menurutnya aneh.


" Tidak kenapa kenapa aku hanya teringat Adrian", Dena menjawab asal, supaya Puji menutup mulut nya untuk terus bertanya.


" Ehhh iya... kemana ya idolaku itu?"


" Dari tadi aku lihat tidak ada dia kantin siang ini".


" Adrian tidak ke kantor hari ini, ia menemani kakak nya yang sedang di rawat di rumah sakit", ujar Dena.


" Hhmm.. pantas saja kau kusut hari ini, ternyata karena pujaan hatimu tidak datang ke kantor ya", Puji manggut manggut seolah dia baru mengerti alasan Dena tak semangat untuk makan.


Padahal sungguh bukan itu yang mengganggu pikiran Dena.


Sabtu sore saat matahari mulai terbenam, mereka baru saja mengakhiri kegilaan di atas ranjang. Sprei dan bantal berantakan tak jelas lagi letak nya.


Dena yang begitu polos dan tak mengerti sebelum nya cara melakukan hal itu hanya diam dan pasrah ketika lelaki yang sudah tujuh tahun berpengalaman menaklukkan istrinya di ranjang, hari itu melampiaskan nya kepada dirinya.


Dena merinding kala itu, mendengar bisikan lelaki yang membuat nya haus untuk disentuh.


" Aku sudah lebih dari satu bulan tidak menyalurkan hasrat kelakianku".


" Bersiap lah kau untuk menyatukan tubuhmu denganku".


Ia masih mengingat rintihannya yang kesakitan bercampur nikmat ketika jemarinya hanya bisa menarik ujung sprei.


Dena berhenti dengan lamunan nya karena Puji kembali seperti burung beo, terus bertanya.


Ingin sekali rasanya ia menyumpal mulut sahabatnya itu dengan perkedel bulat yang ada di piring nya.


" Kakak nya Adrian laki laki atau perempuan ya Den?", Puji menanyakan hal yang tidak penting menurut Dena .


" Laki laki, jangan bilang kau juga akan menanyakan apa dia tampan!", hardik Dena yang bisa membaca isi otak nya Puji.


" Hehehe.. kalau dia masih jomblo tentu saja aku akan bertanya dia tampan atau tidak?"


" Siapa tau aku bisa jadi kakak ipar dari idolaku", Puji terkekeh dengan ide gila yang keluar dari mulut nya.


" Mana aku tau dia tampan atau tidak, bertemu saja belum pernah".


" Yang pasti dia tidak akan tertarik padamu, hahaha", Dena menggoda sahabatnya yang mulai manyun.


Bukan Puji namanya kalau ia tidak berimajinasi , ia sepertinya punya bakat menggambar karakter kartun di komik.


" Pasti wajahnya sama seperti Adrian", gumam Puji.


Timbul perasaan bersalah di benak Dena ketika membahas tentang Adrian.

__ADS_1


Betapa kemarin laki laki itu mencemaskan Dena karena tidak bisa di hubungi sama sekali.


Rentetan pesan ia kirimkan menanyakan keberadaan kekasihnya, ia takut sekali Dena kenapa kenapa karena ponsel nya tidak aktif.


Dena baru mengaktifkan ponsel nya ketika sudah sampai di rumah malam hari.


Ia berbohong dengan mengatakan ponsel nya mati dan lupa di cas sedangkan ia tertidur sejak pulang dari rumah sakit.


Tidur?? benar sekali ia tertidur, tapi dengan laki laki lain.


Malam itu ia pulang ke rumah dengan wajah berantakan, untung saja Hasbi tidak ada di rumah kala itu karena sedang pergi bersama Laras.


Ibu dan Ayah juga tidak di Rumah, sudah sedari pagi mereka ke luar kota menghadiri acara pernikahan kerabat jauh.


Mas Adam hanya mengantarkan Dena sampai di halaman rumah, Dena tak mengizinkan nya untuk masuk.


Hasbi tak sama sekali menghubungi kakak nya yang belum pulang juga dari rumah sakit, yang ia tau kakak nya sedang bersama Adrian.


" Adrian maafkan aku yang telah berbuat dosa di belakangmu".


" Bahkan aku tak ada bedanya dengan mantan kekasih mu yang kau ceritakan telah berselingkuh dan mengkhianatimu".


" Dena, aku sudah selesai dengan makan siang ku", suara Puji membuat nya kembali melihat isi di piring nya yang tidak berkurang sedikitpun.


" Aku tidak selera untuk makan"


" Ayo kita kembali ke ruangan".


Puji terus menggoda Dena dengan lelucon lelucon nya yang mengocok perut, mampu membuat Dena tertawa setelah tadi hanya melamun saja.


Ternyata, salah satu dari banyak hadiah yang menyenangkan dari Tuhan adalah memiliki teman yang satu frekuensi,termasuk dalam menerima segala kekurangan nya.


*** Mereka kembali ke ruangan kantor dan meneruskan pekerjaan masing masing.


" Dena kau sedang apa, sudah makan dan minum obatmu?".


Perempuan itu menghela nafas, aku tidak lapar dan tidak bernafsu untuk makan sama sekali karena memikirkan tentang kita.


" Sudah", ia menjawab aman agar tak panjang lebar hanya membahas kenapa tidak makan dan sebagainya .


" Dena, aku minta maaf atas kejadian sabtu kemarin".


" Sudahlah , kau tak perlu minta maaf karena semua itu terjadi juga karena aku yang memintanya", balas Dena.


" Aku berjanji akan bertanggung jawab dengan perbuatan ku".


" Setelah aku resmi berpisah dengan Lisa aku akan menikahimu".


Dena frustasi rasanya mendengar kata menikah, segampang itu kah melakukan pernikahan.


Belum juga hilang sakit kepalanya karena Adrian mengatakan ingin segera menikahinya, sekarang kau yang masih berstatus suami orang pun berjanji menikahi ku.


' Kalau bisa, biarlah aku bersuami dua", Dena membayangkan hal gila itu kemudian terkekeh sendiri.


Gila rasanya kalau ia benar benar mempunyai dua suami.


" Bisa tidak panjang umur ku karena setiap malam harus bergantian melayani mereka".


Dena kembali membalas pesan dari Mas Adam.


" Aku tidak ingin terlalu ikut campur masalah rumah tanggamu'.

__ADS_1


" Selesaikan saja apa yang menurutmu terbaik".


" Dan untuk tanggung jawab, kau tak perlu melakukan nya".


" Lagian aku tidak hamil kan"


" Maksudku tidak akan pernah hamil dengan keadaan ku yang seperti ini".


Jauh di sebuah ruangan sana, sebuah ruangan Hemodialisa. Laki laki yang menerima pesan itu menghela nafas panjang.


" Kenapa masih saja kau ragu untuk melangkah bersamaku Dena".


" Padahal kau sudah memberikan segalanya untukku termasuk tubuhmu".


" Kau tau, sesingkat apapun ceritanya perihal melupakan adalah hal yang sulit".


Dena meneruskan tugas dan Laporan bulanan nya yang harus ia selesaikan hari ini juga.


Dengan cekatan tangan nya membereskan semua berkas yang perlu ditata untuk diserahkan pada atasan nya .


Ia tak ingin pulang terlambat hari ini karena ia sudah berjanji untuk bertemu Adrian di Rumah sakit tempat kakak nya di rawat.


Menurut cerita dari Adrian, kakak nya mengalami luka serius di bahu kanan nya karena tertimpa material saat ia sedang meninjau proyek bangunan yang ia garap.


Ia berniat menjenguk kakak nya Adrian sekalian berkenalan dengan nya sesuai apa yang diharap kan Adrian.


Sebenarnya ia belum siap untuk bertemu keluarga Adrian, semakin jauh ia mengenal seluk beluk lelaki itu, nanti akan semakin sulit ia mencari alasan untuk lepas.


Sebelum pulang dan meninggalkan kantor Puji sempat merengek seperti biasanya.


" Dena, ajaklah aku bersamamu menjenguk kakak nya Adrian".


" Aku janji nggak akan norak dan bertingkah aneh nanti disana , please".


Wajah Puji memelas dan memohon, Dena jadi tak tega menolak permintaan nya. Lagian kan ini bukan sebuah kencan, aku hanya datang menjenguk kakak nya Adrian jadi mungkin nggak ada salah nya kalau Puji mau ikut.


" Baiklah ikut aku, tak tega aku melihat wajahmu yang seperti orang paling nestapa di dunia ini".


" Mungkin kehadiran mu nanti bisa sedikit mencairkan sikap ku yang kaku setiap pertama kali bertemu dan berkenalan dengan orang asing".


Puji bersorak kegirangan karena di izinkan ikut oleh Dena.


" Terima kasih Dena, sudah memberi peluang untukku agar cepat bertemu jodohku hahaha", Puji tergelak dengan tawanya.


" Cihh... dasar kau, dulu Adrian yang kau incar, lalu Hasbi adik ku, sekarang kakak nya Adrian yang belum kau lihat wajah nya saja mau kau incar"


" Bagaimana kalau ia lelaki gemuk dengan perut buncit, apa kau tetap mau?", Dena menggoda Puji.


Seketika wajah Puji berubah tak semangat, seperti biasa ia berimajinasi membayangkan laki laki jelek, pendek, berkulit hitam, tubuh gempal dengan perut yang seperti wanita hamil tujuh bulan


Lalu Puji berteriak,


" Dena.........."


...****************...


Di episode sebelumnya author belum menggambarkan bagaimana wajah kakak nya Adrian .


Apa benar seperti yang dibayangkan Puji?


Baca episode berikutnya ya biar nggak penasaran.

__ADS_1


Jangan lupa pencet like n follow akun author, terima kasih🥰🥰🙏


__ADS_2