
Kendaraan roda dua itu meluncur keluar dari parkiran rumah sakit, cuaca siang itu terlihat teduh namun tidak mendung. Matahari yang bersinar tertutup awan putih cerah, semakin membuat Dena ingin berlama lama duduk di belakang Mas Adam.
Andai saja jarak dari rumah sakit ke rumah Dena harus di tempuh dengan waktu tiga jam lama nya pun rasanya Dena akan senang hati duduk di atas motor dengan pinggang yang sakit. Tapi nyatanya jarak yang mereka tempuh hanya memerlukan waktu 15 menit.
Dena terasa kaku duduk dibelakang Mas Adam, ia tak berani menyentuh sedikitpun jaket Mas Adam. Ini kali pertama nya ia berboncengan dengan laki laki. Padahal sedari tadi ia sudah membayangkan bagaimana rasanya memeluk lelaki itu dari belakang. Mas Adam melajukan motornya dengan kecepatan minimal, baru sekitar 200 meter keluar dari parkiran rumah sakit ia membuka kaca helm nya menolehkan wajah nya sedikit ke samping agar Dena bisa mendengar ucapan nya,
" Aku lapar Den, kamu mau kan menemaniku makan siang?"
Dena menyondongkan tubuh nya ke depan, merapatkan wajah nya ke sisi kiri wajah Mas Adam,
" Boleh Mas, aku juga belum makan ", ujar Dena. Lagi lagi ia merasakan getaran getaran yang semakin nyata di hati nya saat harus berada dalam jarak dekat dengan wajah hangat itu.
Keadaan yang menyatakan pada diri yang dzahir sejatinya menyatakan keadaan yang terjadi pada diri yang bathin. Baik di dzahir,baik pula di bathin. Begitu juga sebaliknya,tidak ada tawar menawar dalam hal ini,Titik!!!! Ia tidak bisa menampik dirinya sendiri, tidak bisa menjadi manusia yang munafik untuk mengakui bahwa sesungguhnya ia haus akan kasih sayang dari laki laki ini. Entah justru akan lebih pedih,lebih pahit dan lebih sakit balasan yang ia terima.
" Kamu suka makan apa?", Mas Adam bertanya
" Terserah Mas Adam aja, saya ikut", jawaban Dena lebih mengartikan bawa aku kemana saja asalkan berdua denganmu aku nggak makan juga gak masalah hehehe.
Akhirnya Mas Adam memberhentikan kendaraan nya di sebuah Restoran kecil yang terlihat tidak terlalu ramai pengunjung nya. Mungkin karena jam makan siang para karyawan kantoran sudah lewat 1 jam yang lalu,menurut Mas Adam biasanya restoran ini sangat ramai bahkan tak jarang ia sering tidak mendapatkan tempat duduk yang kosong.
" Ayo masuk, kamu sudah pernah makan disini Den?" Mas Adam bertanya sambil mengisyaratkan Dena untuk mengikuti langkahnya menuju meja di ujung Restoran yang tampak kosong.
Dena menggelengkan kepala nya, ia belum pernah sama sekali makan disini karena memang sebelum nya ia tidak tinggal di kota ini selama empat tahun jadi ia tidak terlalu hafal tempat tempat makan favorit di kota ini.
" Duduk disini", Mas Adam seperti nampak hafal sekali setiap sudut ruangan ini .
Lihatlah ia memilih tempat di ujung seperti ini karena dari tempat ini mereka bisa menatap taman dengan kolam kecil buatan yang di penuhi ikan hias. Taman yang hanya berbatas kaca dari tempat duduk mereka saat ini sengaja di buat pemilik restoran untuk memanjakan mata pengunjung sambil menikmati hidangan. Rumput rumput hijau terbentang rapi, di hiasi dengan bunga bunga warna warni yang bermekaran. Ada 4 buah ayunan kecil melengkapi taman tersebut, tempat anak anak kecil bermain.
Seorang pelayan perempuan menghampiri meja mereka,memberikan daftar menu kepada mereka berdua.
Dena mengamati menu makanan yang sedang ia pegang, membaca dari atas sampai bawah makanan apa yang bisa ia makan mengingat begitu banyak makanan yang harus ia hindari semenjak divonis gagal ginjal.
__ADS_1
" Kamu harus coba gurame bakar disini", ucap Mas Adam kepada Dena dan bercerita bahwa itu menu favorit nya di Restoran ini.
" Protein hewani baik untuk tubuh mu, agar kadar hemoglobin dalam darah mu meningkat"
Dena mengangguk, dalam benak nya berkata
" Saat ini rasa lapar ku hilang, duduk berdua dengan mu seperti sepasang kekasih rasanya sudah membuat ku merasa kenyang"... Memang benar cinta itu buta, membuat hati yang sedang terjerat perasaan itu menjadi tak bisa membedakan mana hal hal yang terkadang diluar nalar.
Akhirnya mereka berdua memesan dua porsi nasi, gurame bakar beserta sambal, cah kangkung yang menjadi favorit Dena meskipun sebenarnya harus membatasi sayuran hijau, tak ketinggalan tahu tempe dan sapo tahu kesukaan Mas Adam.
" Es jeruk sepertinya nikmat di siang hari seperti ini", ucap Mas Adam yang membuat Dena menelan ludah nya membayangkan es jeruk melewati tenggorokan nya.
" Hehehe tapi sepertinya kamu lebih baik minum air putih saja ya Den, lebih bagus untuk ginjal "
Dena cemberut, tapi demi kesehatan nya ia menuruti semua yang dikatakan Mas Adam.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Mas Adam banyak bercerita kepada Dena, sementara Dena selalu jadi pendengar setia. Ia selalu tertarik dengan hal sekecil apapun mengenai lelaki di hadapan nya itu. Apalagi ketika Mas Adam bercerita, Restoran ini adalah tempat pertama kali dia kencan dengan seorang perempuan. Dena tiba tiba menciut, merasa tiba tiba kehilangan banyak harapan atas angan angan nya selama ini. Namun ia memberanikan bertanya,
Mas Adam tersenyum menjawab dengan jawaban yang membuat hati Dena sedikit lega dan kembali menumbuhkan harapan yang tadi sempat sirna,
" Bukan pacar, tapi mantan pacar".. Hehehe
Dena bersorak penuh kemenangan dalam hati, Syukurlah ternyata Mas adam belum punya pacar. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana lagi ia melewati hari hari nya yang ia rasa sangat berat tanpa lelaki ini yang jadi penyemangat hidup nya. Laki laki ini alasan dia tidak pernah absen atau telat sekalipun ke rumah sakit untuk cuci darah. Padahal sebelum nya hal itu menjadi hal yang mengerikan baginya untuk dijalani,namun sekarang ia bahkan dengan tak sabar menunggu jadwal bertemu kupu kupu hijau.
" Apa tidak ada yang marah sama Mas kalau kita makan berdua seperti ini dan Mas mengantarku pulang?" ,Dena memberanikan diri bertanya untuk lebih meyakinkan kalau laki laki ini memang belum mempunyai kekasih.
" Marah?? Kenapa harus marah, kan ini hanya makan siang biasa Den. Lagian aku sudah menganggapmu seperti adik ku sendiri".
Jawaban Mas Adam seperti membuat Dena merasa tertampar oleh keadaan yang sebenarnya, " ternyata ia hanya menganggapku seperti seorang adik".. " Huuhh..bodoh sekali aku, lantas aku ingin dianggap sebagai apa?" Toh memang hubungan kami selama ini memang sebatas pasien dengan seorang perawat. Bodoh, bodoh, bodoh.. mengapa aku berharap lebih sih? Dena memaki dirinya dalam hati. " Wahai hati,bisakah kau letakkan rasa itu di tempatnya.. kemudian kau jaga agar rasa itu menetap dan tak pernah pergi walau kau tau saat ini dia tak membalas rasamu".
Pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan tadi, membuat Dena meninggalkan lamunannya. Rasa lapar menyeruak di perut Dena setelah mencium aroma masakan, benar saja Mas Adam bilang makanan disini enak, dari aromanya saja sudah tercium. Dalam beberapa menit makanan yang tersaji sudah tandas oleh mereka berdua.
__ADS_1
" Gitu dong Den,makan yang banyak biar berat badan mu kembali ke berat semula", Mas adam sambil tertawa melihat Dena yang kekenyangan.
Dena pun menyadari ia makan dengan porsi banyak lebih dari biasanya. Entah karena makanan disini benar benar enak atau karena ia makan bersama lelaki yang ia kagumi. Padahal di awal bahkan dia tidak merasa lapar sedikitpun saking senang nya bisa berduaan dengan Mas Adam.
" Sepertinya nanti kau harus sering makan disini Den untuk menambah nafsu makanmu, atau kapan kapan aku bisa mengatakan kepada Lukas untuk membawa mu kesini, hehehe" , Mas Adam masih saja menggoda Dena bersama Lukas.
" Iihhh Mas Adam, please deh jangan sebut sebut nama Lukas lagi, aku kan gak suka sama Lukas.. Aku suka nya sama Ma...." , Dena berhenti meneruskan kalimat nya. Hampir saja ia keceplosan menyebut nama Mas Adam.
" Ciiihhh.. hampir saja aku meyebut namanya". Bisa jatuh harga diriku kalau secepat ini aku menyatakan perasaan ku,lagian aku belum siap untuk mendengar penolakan darinya, batin Dena.
" Sukanya sama siapa Den?", Mas Adam menanyakan kalimat Dena yang tadi terhenti.
"Hhmmm.... ada deh.. nanti juga Mas Adam tau", Dena berkilah.
Mas Adam mengernyitkan dahi nya..
...****************...
Bagi Dena, makan siang sederhana siang itu adalah kencan spesial pertama nya dengan seorang laki laki. Sungguh betapa spesial nya kan laki laki itu, betapa tidak? Seorang perempuan cantik di usia nya yang sudah 27 tahun ia bahkan belum pernah jatuh cinta sebelumnya.
Di sepanjang perjalanan pulang, Dena menikmati angin membelai lembut rambutnya yang terurai. Menghirup dalam dalam wangi parfum lelaki di depan nya yang terbawa angin menuju penciuman nya. Ia bahkan bisa merasakan aroma segar tubuh laki laki ini, Dena merapatkan tubuhnya,membuat jarak mereka sangat dekat. Namun ia sama sekali tak berani untuk memegang laki laki itu.
Dan akhirnya,karena terlalu menikmati momen berboncengan dengan Mas Adam, Dena bahkan lupa kalau ia sudah melewati rumahnya sejauh berapa ratus meter.
Mas Adam menepuk kening nya, " Bagaimana bisa kau lupa rumah mu sendiri Dena?".
Wajah Dena merah padam, merasa malu kenapa ia bisa sampai lupa akan dunia nyata karena terlalu sibuk dengan khayalan semu nya.
Dena mempersilahkan Mas Adam masuk ke rumah nya, namun Mas adam mengatakan ia buru buru dan meminta maaf karena harus segera pulang.
Dena mengucapkan banyak terima kasih,berterima kasih telah mengantarnya pulang, berterima kasih untuk makan siang hari ini. Dan tak lupa berterima kasih atas kesempatan yang lelaki itu berikan untuk lebih dekat dengan nya,tentu saja ucapan terima kasih yang satu ini hanya bisa ia lantunkan di dalam hati.
__ADS_1
Dari dalam rumah, Ibu tampak tersenyum haru melihat bagaimana bahagianya putri yang ia sayangi seperti menemukan arah hidup nya kembali.