
Sudah tiga hari Laras tidak masuk bekerja, ia nampaknya akhir akhir ini gampang sekali lelah, selalu mual di pagi hari.
Bahkan ia malas sekali untuk mandi.
Tiga hari pula Lukas selalu lembur kerja untuk menutupi tugas rekan kerja nya itu .
" Kacau semuanya ", ucap Lukas
" Laras yang keseringan tidak masuk kerja, Mas Adam yang selalu melamun saat bekerja".
" Ciihh... lemah sekali ia jadi lelaki, hanya karena Dena sudah tidak di rumah sakit ini lagi ia seperti orang yang di tinggal mati pasangan.
Lukas menggerutu kesal sendiri.
Ini hari ke empat setelah kemarin tiga hari izin kerja karena sakit, pagi itu Laras menghubungi Lukas.
" Selamat pagi Lukas", suara Laras terdengar lemas.
" Iya, ada apa?".
" Kau sudah sehat kan?".
" Belum, sepertinya hari ini aku belum bisa masuk bekerja".
" Aku minta tolong lagi tutupi jadwal ku yang sedang shift siang".
" Hah? baru saja aku mau pulang siang hari ini, merencanakan tidur seharian", Lukas menepuk jidatnya .
" Kau sakit apa Laras?".
" Nggak enak badan aja, pusing, lemas, mual kalau pagi".
" Hahaha, kau seperti orang hamil saja Ras pagi pagi mual".
" Ya sudah semoga lekas sembuh, aku lembur lagi hari ini".
" Bye", Lukas menutup telepon.
" Degg", jantung Laras berdegup mendengar kata hamil.
Kenapa ia tak menyadarinya.
" Apa jangan jangan aku hamil?".
Dia mengingat lagi berapa kali ia berhubungan badan dengan kekasihnya.
Dan ia melihat kalender, menghitung kembali siklus menstruasi nya .
" Hah.. aku memang sudah telat 10 hari".
Laras cemas, takut kalau ia benar benar hamil.
Ia menghubungi Hasbi.
" Hallo..pagi sayang kau dimana?".
" Aku di kantor, kenapa Ras?"
" Apa kau masih sakit?", Hasbi tau kekasih nya itu sudah beberapa hari tidak enak badan.
" Masih, aku bahkan hari ini tidak masuk kerja lagi".
" Sayang, ada hal yang aku takutkan".
" Kenapa, apa sakitmu terasa tak biasa?", tanya Hasbi.
" Aku sudah telat datang bulan".
__ADS_1
" Dan aku merasakan sakit ku sekarang seperti gejala morning sick pada wanita hamil".
" Apa? Kau serius benar benar telat datang bulan?", suara Hasbi terdengar begitu panik.
" Iya, aku yakin harusnya sudah sepuluh hari yang lalu aku datang bulan".
" Bagaimana ini kalau kau benar benar hamil Ras?".
" Kau tunggu aku di kost an mu".
" Aku izin pulang sekarang, nanti aku belikan test pack".
Saat itu juga Hasbi meninggalkan kantor, izin dengan alasan ada keperluan mendadak.
Ia menuju apotik sebelum datang ke kost an Laras, membeli alat tes kehamilan.
Ia tiba di kost an Laras, melihat kekasih nya itu sedang terbaring lemas di tempat tidur.
" Aku mual, sejak tadi pagi muntah".
" Uweekk", Laras menutup mulutnya kemudian berlari ke kamar mandi.
" Ras, kau mual lagi?", Hasbi mengikuti Laras ke kamar mandi.
" Iya, aku mual mencium bau parfum mu".
" Uweekkk...", suara ingin muntah terus keluar dari mulut nya .
" Hah.. kau mual dengan parfumku?", Hasbi mengernyitkan dahi, padahal biasanya perempuan ini selalu bergelayutan dan mencium setiap jengkal tubuh Hasbi karena menyukai aroma parfum nya .
" Sakit mu kali ini memang aneh Ras".
" Sebaik nya kau segera tes dengan ini", Hasbi menyerahkan test pack yang tadi ia beli.
Laras mengikuti kemauan kekasih nya ini.
Ia menampung sedikit air seni nya di wadah kecil. Kemudian ia keluar dari kamar mandi.
" Kau saja yang mencelupkan nya kesini", Laras memberikan wadah berisi air seni dan test pack tadi .
Hasbi memasukkan test pack ke air seni sesuai petunjuk yang ada.
Hanya dalam waktu dua menit, garis merah yang ada di alat tes kehamilan itu menampilkan dua buah garis meskipun yang satu nampak terlihat samar.
" Laras.....".
" Lihat ini", Hasbi menyerahkan test pack tersebut kepada Laras.
Laras masih memejamkan matanya, tidak berani untuk melihat.
" Bagaimana ini, kau sungguhan hamil", nada suara Hasbi semakin panik.
Laras membuka matanya, memberanikan diri melihat dua garis merah yang terpampang di alat tes kehamilan itu.
" Sayang .. aku belum siap".
" Bagaimana ini?".
Hasbi mengacak acak rambutnya.
" Aku akan bertanggung jawab Ras, karena kau tau kan aku memang mencintaimu dan memang berniat menikah dalam waktu dekat".
" Yang aku pikirkan bagaimana harus mengatakan pada keluargaku jika tiba tiba mendadak ingin menikah".
" Kau tau kan Kak Dena saja berencana menikah tiga bulan lagi".
" Kalau aku tunda sampai Kak Dena menikah duluan, perutmu akan semakin membesar".
__ADS_1
Laras menangis .
" Bagaimana ini sayang?".
" Hey, kau jangan menangis".
" Aku bukan laki laki brengsek tak bertanggung jawab yang akan meninggalkanmu karena kau hamil".
" Aku akan tetap menikahimu", Hasbi memeluk Laras membiarkan kepala kekasih nya itu bersandar di bahunya.
" Semua karena perbuatan kita yang terlalu sering hingga kebablasan", Hasbi teringat beberapa kali mereka berhubungan badan dan ia tak sengaja memuntahkan cairan itu ke rahim kekasihnya.
" Kau tenang lah Ras, aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan keluargaku".
" Lalu kita ke rumah orang tua mu", ucap Hasbi kepada Laras yang tidak tinggal bersama orang tuanya.
Kedua orang tuanya ada di kota kabupaten, jadi ia disini tinggal sendirian di sebuah kost an.
" Apa kau akan memberi tau keluargamu kalau aku hamil?", Laras bertanya ragu.
" Iya, aku akan jujur karena aku tak punya alasan apa apa jika harus menikah mendadak".
" Aku akan beritahu keluarga ku agar mereka mengizinkan aku secepatnya menikahimu".
" Meskipun mungkin Kak Dena harus mengundurkan tanggal pernikahan mereka".
Laras sedikit lega mendengar ucapan kekasih nya. Ia tak sendiri menghadapinya.
Semakin cepat ia menikah, semakin lebih baik agar tak ada yang tau kalau ia hamil duluan.
" Kita harus segera ke dokter kandungan, memastikan lagi usia kehamilanmu".
" Kau juga harus mendapatkan penanganan yang tepat" .
" Aku tidak mau terjadi apa apa denganmu dan bayi kita", Hasbi mengelus perut kekasih nya.
Laras mengangguk, kemudian kembali memeluk kekasih nya.
" Apa kau masih mual?".
Laras mengangguk.
" Sedikit mual jika mencium bau parfum mu".
" Lalu, apa aku harus mengganti parfumku?", tanya Hasbi sedikit melotot.
" Tidak, kau tidak usah pakai parfum lagi".
" Aku lebih suka kau tidak memakai parfum, aku suka aroma tubuh mu yang alami", tangan Laras mulai aktif membuka kancing kemeja Hasbi satu persatu .
" Hey, kau mau apa dengan keadaanmu yang sekarang?", tanya Hasbi karena Laras sudah melepas seluruh kancing kemeja nya.
" Kata siapa orang hamil tidak boleh melakukan itu?", tangan Laras malah semakin nakal membuka resleting celana Hasbi.
" Lakukan lah, aku mau sekarang juga", ia memelas memohon kepada kekasih nya .
" Dasar kau yaa.....".
Hasbi akhirnya menuruti kemauan kekasih nya itu, membuat Laras menahan setiap suara rintihan yang keluar dari mulut nya agar tak di dengar orang.
Hari ini mereka menghabiskan waktu hingga sore hari hanya di atas tempat tidur.
...----------------...
Bagaimana gilanya ya pasangan ini kalau sudah menjadi pasangan suami istri?
Apa mereka akan menikah sebelum Dena dan Adrian melangsungkan pernikahan?
__ADS_1
Next episode dilanjutin ya kisah mereka.
Pencet like nya ya🥰🥰🙏