
Hari ketiga
Perkembangan bayi Adrian dan Dena sejauh ini sangat baik.
Meski tak banyak yang berubah dari sejak pertama Adrian melihatnya.
Namun perawat dan dokter yang menangani, mengatakan mulai hari ini bayi mungil mereka sudah bisa diberikan susu karena cairan di saluran pencernaan nya sudah bersih dari kotoran.
" Pak, bisa siapkan ASI untuk bayi bapak? Asi perah di masukkan ke dalam storage bag", ucap seorang perawat ketika Adrian hari itu menjenguk bayi nya.
" Maaf sus, Istri saya saat ini masih koma di ruangan ICU jadi tidak bisa untuk memberi ASI. Bagaimana kalau diganti susu formula?", ucap Adrian.
" Sebaiknya ASI pak, karena saluran cerna bayi belum stabil jika di berikan susu formula. Takut ada infeksi atau alergi juga. Tapi kalau memang keadaan nya seperti yang bapak katakan tadi ya apa boleh buat, kita berikan susu formula saja".
" Baik sus, nanti saya akan membawakan susu formula untuk bayi saya".
Adrian membuka penutup kaca di inkubator, memegang jari mungil itu dan membiarkan ia menggenggam telunjuk Adrian.
" Hai jagoan kecil Papa, lagi apa anak pinter?", Adrian mengajak berbicara bayinya yang sekarang sudah tidak di tutup lagi matanya.
" Doa in mama ya Noah, biar mama cepat sadar dari koma nya dan bisa lihat Noah", Adrian memberi nama Noah untuk anak nya. Entah apa nama lengkap nya, ia belum merencanakan nya.
Bayi mungil itu nampak mencari sumber suara yang di dengarnya, matanya berkedip kedip mengisyaratkan bahwa ia mendengar suara Adrian.
Meskipun ventilator belum dilepas dari wajah nya namun Adrian bisa melihat bayi laki lakinya itu begitu tampan.
Adrian hanya sebentar mengajak Noah berbicara, karena harus berbagi waktu dengan Ibu yang juga ingin melihat cucu kesayangan nya.
Ibu bergantian dengan Adrian untuk bisa masuk ke Ruangan itu. Sebenarnya hanya orang tua dari bayi yang boleh masuk, namun dengan alasan Dena yang sedang koma jadi Ibu di izinkan masuk melihat cucu nya.
Pemandangan yang Ibu jumpai di Ruangan itu membuat nya sama seperti Adrian saat pertama kali kesitu, tak bisa menahan tangis.
Ibu turut mengucap doa doa dan harapan pada bayi mungil di dalam inkubator yang sedang berjuang itu.
Selepas menjenguk bayi nya di Ruangan NICU, giliran Adrian menjenguk istrinya di ICU.
Kali ini Hasbi dan Ibu juga ikut menjenguk Dena.
Ibu yang pertama kali masuk, ia ingin segera melihat putrinya. Semua peralatan yang menempel di tubuh putrinya, menunjukkan betapa keadaan nya tidak baik baik saja
Perempuan paruh baya itu berkali kali menyeka matanya, teringat bagaimana ia dulu merawat Dena dari bayi hingga dewasa dan harus di hadapkan kenyataan pahit dengan vonis dokter tentang penyakitnya.
" Sadarlah nak, bayimu butuh dirimu. Suamimu juga tak henti menangis, ia menyayangimu", Ibu mencium putri nya yang masih saja tak bisa menerima rangsangan apapun dari keadaan sekitarnya.
Ibu pun hanya sebentar disitu, Hasbi dan Adrian sudah menunggu di depan Ruangan kaca untuk bergantian masuk melihat Dena.
Adrian membiarkan Hasbi yang duluan masuk, karena adik laki laki Dena ini belum pernah menjenguk Dena semenjak ia koma.
Siapa yang sanggup menahan tangis melihat orang yang dicintai nya tergeletak dengan belalai yang melilit di tubuhnya untuk mendukung kerja organ organ vital nya agar bisa bertahan hidup .
Suara detak jantung di layar monitor terdengar mengerikan bagi Hasbi.
" Kak Dena, ini Hasbi. Hasbi datang untuk Kak Dena, kakak cepat sadar ya. Kita semua rindu dengan Kak Dena".
" Hasbi yakin Kak Dena bisa melawan semua ini", Hasbi menggenggam dan mencium tangan kakak nya.
Ia pun kemudian memberi waktu pada Adrian untuk menemui Kak Dena.
Adrian sebenarnya tak kuat setiap masuk ke Ruangan ini, Dena tak menunjukkan kemajuan apapun menurut dokter. Belum ada respon rangsangan apapun.
Ia duduk di sebelah istrinya, lamat lamat ia tatap wajah yang seperti membeku itu.
" Sayang, kau menangis?", Adrian mendapati ada air mata di sudut netra istrinya yang terpejam.
Adrian mengusap air di sudut mata itu dengan tangan nya.
__ADS_1
" Apa kau bisa mendengarku?", Adrian berbisik di telinga Dena. Tak ada respon apa pun.
" Sayang, tunjuk kan padaku kalau kau bisa mendengar apa yang ku ucapkan".
Masih diam tak ada respon.
"Bisakah kau gerakkan sedikit jari mu, jika kau bisa mendengarku?", Adrian menatap ke jari jari istrinya namun tetap tak ada gerakan apapun.
" Kenapa kau terus mengeluarkan air mata?".
" Kau sedih?"
Pertanyaan pertanyaan itu terus Adrian ucap kan, namun sama saja. Tubuh itu tak bergerak sama sekali.
*****
Jauh di alam bawah sadar Dena.
Ia sedang berjalan di suatu tempat, entah tempat apa itu ia sama sekali tak mengenalnya.
Gelap, tak ada petunjuk apa pun yang menuntun nya harus melangkah kemana.
Dena menangis, ketakutan seorang diri dalam kegelapan.
" Sayang, kau dimana? Tolong aku", ia mencoba mencari bantuan dengan memanggil suaminya.
Hening sekali tak ada suara apapun, atmosfer di sekitarnya terasa berbeda.
Ia merasa kedinginan, udara basah dan lembab serta tak ada penerangan apapun yang ada di sekelilingnya. Ia terus berjalan, tak tau arah harus kemana.
Namun langkahnya terhenti, ia mendengar samar samar suara memanggilnya.
" Dena, kau harus tetap bersemangat menjalani hidup mu. Berjanjilah padaku kalau kau akan selalu baik baik saja", Dena tak asing dengan kalimat itu.
Tak ada jawaban, suara itu masih terdengar samar.
Dena terus berjalan, ke arah kanan dimana ia merasa sumber suara itu ada.
" Dena, kau perempuan kuat. Aku yakin kau akan baik baik saja. Terus lah berjanji padaku bahwa kau akan selalu bahagia", suara itu terdengar kembali.
Semakin Dena berjalan mendekat ke arah sumber suara, suara itu terdengar semakin menjauh.
" Sayang, kau dimana? Aku takut", Dena menangis.
" Apa itu kau Adrian?".
Tak ada jawaban.
" Tidak, tidak, itu bukan suara suamiku".
" Itu Mas Adam, ia yang selalu mengucapkan kalimat itu".
Dena berjalan lagi.
" Mas Adam, apa kau disana?"
" Tolong aku Mas, aku tidak bisa melihat apa apa disini. Katakan padaku aku harus berjalan kemana. Aku ingin pulang, suamiku pasti menungguku".
Terdengar lagi suara samar samar.
" Dena, mana bros kupu kupu mu? Kenapa kau tak memakainya?", ucap suara itu.
Dena meraba baju yang ia kenakan, dalam kegelapan ia mencari dimana bros kupu kupu yang biasa selalu ia pakai.
Tidak ada apa apa, di bajunya. Bahkan ia juga bingung ia memakai pakaian seperti apa karena benar benar tak ada pencahayaan disitu.
__ADS_1
" Kupu kupu? mana bros kupu kupu ku?", Dena kebingungan.
****
Sementara itu, di Ruangan ICU.
Adrian harus beranjak dari Ruangan itu karena waktu yang hampir habis.
Namun Adrian mengurungkan niat nya untuk keluar Ruangan, saat ia ingin berpamitan mencium kening istrinya ia samar samar mendengar bibir istrinya mengucap sesuatu.
Terdengar lirih dan pelan sekali karena tertutup oleh ventilator yang membantu nya untuk bernafas.
Adrian mendekatkan telinga nya ke arah ventilator.
" Sayang kau bicara apa?", Adrian masih mendengar suara lirih itu. Tapi tak jelas apa yang diucapkan istrinya .
" Suster, suster... tolong kesini", Adrian memanggil perawat yang berjaga di ruangan itu.
Perawat itu mendekat.
" Ada apa pak?".
" Sus, bisa kah buka sedikit ventilator ini. Istri saya sepertinya mengatakan sesuatu", pinta Adrian.
Perawat itu mengangguk kemudian membuka sedikit ventilator, membuat celah agar Adrian dapat mendengar suara Dena.
Adrian mendekat kan kepala nya.
" Kupu kupu.."
" Kupu...
" Kupu...
Putus putus kalimat itu terdengar, namun Adrian bisa mendengarnya.
Hanya Kupu kupu yang ia ucapkan, perawat kemudian memanggil dokter memberi tahu bahwa pasien menunjukkan respon dengan bersuara.
Dokter memeriksa mata nya dengan sebuah senter kecil, tapi tak ada tanda bahwa ia sudah sadar.
Refleks bernafas nya pun belum ada, masih harus menggunakan alat bantu itu.
Dokter menggeleng.
" Dok, istriku mengucapkan kupu kupu", ucap Adrian.
" Mungkin di alam bawah sadar nya ada petunjuk yang mengarah pada kata kata yang ia ucapkan. Bapak mungkin bisa terus memberi rangsangan pada istri Bapak", ucap dokter tersebut.
Adrian sibuk berpikir, apa maksud dari ucapan istrinya tentang kupu kupu.
" Apa ia teringat saat cuci darah dengan jarum kupu kupu?", batin Adrian.
Hingga sepanjang perjalanan pulang ia tak hentinya berpikir.
" Kenapa Dena tak menyebut namaku?".
...----------------...
Apa Adrian bisa menemukan petunjuk tentang ucapan Dena??
Haruskah Laras akhirnya jujur dengan bros kupu kupu yang selama ini Dena kenakan??
Ikuti terus ya up berikutnya.
Jempol nya jangan lupa🥰🥰🙏
__ADS_1