
Mencintai seseorang bagi Dena adalah bukan hanya sekedar memiliki raga nya, namun lebih sebagai mendapatkan segala perhatian dan menjadi prioritas utama. Dena mulai menyadari kalau sekeras apapun ia mencoba mendapatkan hati lelaki itu, ia tetaplah bukan prioritas bagi Mas Adam. Fokus lelaki itu saat ini bukan cinta,tetapi keluarganya atau bahkan cita cita nya. Dena mencoba memahami keadaan dari versi yang berbeda kali ini.
" Karena melupakan mu bukan hal yang mudah,jadi aku tak ingin lagi ada harap, karena hatiku lebih pantas di jaga", begitu lah dari semalam kalimat itu ia tanamkan dalam hatinya.
Pagi ini Dena ke rumah sakit di temani Hasbi, mereka datang lebih awal dari biasanya. Tiba di ruangan hemodialisa Dena sudah di sambut dengan senyuman lima jari Lukas. Tampak dua perawat perempuan Risma dan Laras sedang sibuk menangani pasien. Sementara Mas Adam seperti biasa sudah siap di sisi tempat tidur Dena dengan segala peralatan nya. Dena berjalan menuju tempat nya dengan denyut jantung yang berdetak kencang, cemas dengan situasi seperti apa yang nanti akan terjadi antara ia,Mas Adam dan Hasbi.
" Selamat pagi Dena", suara lembut Mas Adam menyapa .
Sebenarnya ia tak ingin menjawab, tapi rasanya tidak sopan kalau harus seperti. Ayolah bersuara, ini hanya sekedar salam...
" Pagi", jawab Dena singkat.
Hasbi berdeham kecil mengisyaratkan kakak nya untuk tidak terlarut dalam pembicaraan dengan laki laki itu.
Dena sudah dalam posisi berbaring, bersiap mendapat kecupan dari jarum kupu kupu hijau yang sudah seperti teman nya. Hasbi duduk di sebelah kakak nya, mengawasi tiap gerak gerik laki laki itu. Ia tidak akan membiarkan lelaki itu bersikap sok perhatian dengan kakak nya.
" Sini aku periksa desiran pada cimino mu", Mas Adam meraih tangan Dena dan mulai menyentuh tangan yang kemarin menjalani operasi cimino.
Mas Adam ingin memastikan apakah sudah ada desiran pada akses cuci darah tersebut, karena desiran yang terasa menandakan akses tersebut bisa dipakai untuk keperluan cuci darah.
Lelaki itu meraba sekitar pergelangan tangan Dena, Hasbi yang melihatnya terasa gerah. Ingin rasa nya ia menepis tangan Mas Adam agar tidak menyentuh kakak nya, namun ia tahan karena ia masih memahami hal itu ia lakukan demi kepentingan kakak nya.
Dena kembali dibuat bimbang saat sentuhan lelaki itu ia rasakan. Ia tak bisa mengelak bahwa ia menyukai sentuhan kecil itu.
" Desiran nya bagus Den, nanti kurang lebih dua minggu lagi kamu sudah bisa memakai cimino ini untuk akses cuci darah mu", ucap Mas Adam.
Dena hanya diam, tak seperti biasanya ia yang selalu banyak bertanya dan berbincang kepada Mas Adam kini hanya diam tak ingin menatap lelaki itu.
" Kau sudah sarapan!", tanya Mas Adam lagi.
Dena melirik adik nya, kemudian ia tidak menjawab apapun pertanyaan Mas Adam. Ia rasa ia punya hak untuk tidak menjawab, karena pertanyaan seperti itu adalah salah satu bentuk perhatian yang ia berikan. Dan Dena sudah berjanji pada Hasbi untuk menghindari segala bentuk perhatian dari laki laki itu.
" Hey ..kau sakit?"
" Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?", Mas Adam tanpa rasa canggung masih saja terus bertanya. Hasbi semakin dibuat kesal dengan lelaki ini
" Iya kakak ku sedang tidak enak badan, cepatlah mulai dengan tindakanmu lalu biarkan kakak ku beristirahat", Hasbi dengan nada ketus menjawab pertanyaan Mas Adam.
Bukannya langsung menuruti permintaan Hasbi untuk segera menusukkan jarum kupu kupu, Mas Adam malah menunjukkan kekhawatiran nya kepada Dena.
__ADS_1
" Kau sakit apa Den, apa yang kau rasakan?", ia mencoba menatap Dena yang sejak tadi tertunduk. Lagi lagi Dena hanya diam, kemudian ia berpura pura memejamkan matanya. Di dalam hatinya ia bahkan bahagia mengetahui laki laki itu mengkhawatirkan nya.
" Maafkan aku Mas Adam, aku terpaksa acuh kepadamu".
" Aku tidak marah, aku hanya ingin diam dan ingin memberi waktu untuk diriku sendiri agar tenang "
" Aku sedang belajar melepaskan, sampai hati ku benar benar pulih, damai dan tenang".
Dena meminta maaf meskipun hanya di dalam hatinya. Mas Adam akhirnya mulai dengan satu kupu kupu hijau di lengan Dena dan diikuti kupu kupu kedua di paha kiri nya.
Lelaki itu kembali ke tempat duduk nya, dengan sebuah tanya " kenapa lagi kamu Dena?".
Hasbi memberikan penghargaan atas apa yang tadi kakak nya lakukan dengan mengacungkan kedua jempol nya ke arah Dena. Dena tersenyum kecut, karena sungguh ia tersiksa karena harus bersikap seperti tadi. Ternyata, satu bagian mencintai yang paling sulit adalah mengikhlaskan sesuatu yang bahkan belum sempat kita miliki.
*** Satu jam sudah berlalu, Dena berniat meminta perawat menaikkan kecepatan putaran mesin hemodialisa dalam mencuci racun racun dalam darah. Biasanya ia memanggil Mas Adam untuk melakukan itu, mengubah pengaturan di layar monitor. Tapi mulai hari ini tampaknya ia harus mengurangi segala interaksi dengan laki laki itu. Kebetulan saat itu perawat perempuan yang bernama Laras sedang berada tak jauh dari tempat tidur Dena.
" Laras, bisa kesini? Aku membutuhkan bantuan mu", ucap Dena
Laras berjalan menghampiri tempat tidur Dena.
Perawat perempuan yang berusia seumuran Hasbi itu dengan senang hati membantu apa yang diminta Dena.
Ia melirik adik nya yang nampak asyik memainkan ponsel nya tanpa menyadari ada perempuan muda cantik berada di sebelahnya.
" Ini pacar kak Dena ya?", Laras memulai pembicaraan dengan bertanya pada Dena .
Tentu saja pacar yang ia maksud adalah Hasbi.
Dena terkekeh kecil mendengar pertanyaan Laras.
" Hehehe, bukan kok Ras.. ini adik kandungku, nama nya Hasbi".
Hasbi yang mendengar nama nya disebut langsung menoleh ke arah kakak nya.
" Hasbi, kenalkan ini Laras perawat perempuan di ruangan ini", ucap dena.
Hasbi menoleh menyadari sedari tadi ia sibuk dengan ponsel nya sampai tidak tahu kalau ada perawat perempuan ada di sebelahnya.
" Hasbi", ia menjabat tangan perempuan itu sambil mengucapkan nama nya .
__ADS_1
" Larasati, biasa dipanggil Laras", perempuan itu tersenyum menampakkan gingsul yang membuat ia terlihat manis.
Hasbi sedikit terpesona dengan perempuan itu, " ternyata ada perempuan cantik juga ya di ruangan ini selain Kak Dena", batin Hasbi.
Dena menyadari adik nya yang menatap Laras sedikit lama.
" Ia seorang jomblo loh Ras, barang kali Laras juga belum punya pacar, hehehe", Dena menggoda adik nya dengan lelucon itu sehingga membuat wajah Hasbi dan Laras sama sama bersemu merah.
Laras tersenyum kemudian menanyakan apa ada yang Dena butuhkan lagi. Dena menggeleng, di otak nya saat ini muncul sebuah ide supaya membuat Hasbi membuka hati untuk perempuan lagi setelah perpisahan dengan Amira. Laras kembali ke tempat duduk nya, sementara pandangan Hasbi masih belum beralih pada perempuan itu.
" Ya Tuhan, mengapa ada banyak cinta di Ruangan Hemodialisa ini".
Dena mulai menggoda adik nya,
" Sepertinya ada yang nggak bisa tidur ya nanti malam". Hasbi menimpuk kecil lengan kakak nya,meminta kakak nya berhenti dengan lelucon gila itu.
" Hey ...tak ada salahnya kan kau jatuh cinta lagi?", ujar Dena pada adik nya.
" Berhentilah kau menggodaku"
" Aku ingin memastikan dulu kalau perempuan yang nanti akan aku cintai bukan istri orang, hahahaha", Hasbi balik menggoda kakak nya.
Perkataan Hasbi telak mengenai Dena, ia memasang wajah masam kepada adiknya.
" Setidak nya aku tidak bodoh sepertimu, yang menjaga jodoh orang selama lima tahun", Dena membalas kekesalan nya kepada Hasbi.
Tiga jam berikutnya mereka habiskan berbincang dengan topik " jodoh baru untuk Hasbi".
Adik laki laki nya itu diam diam mencuri pandang kepada Laras yang berada duduk di sebelah Mas Adam.
" Cihhh... aku muak melihat lelaki itu", tukas Hasbi kepada Dena.
Dena hanya tertawa melihat wajah sebal adik nya. Meskipun ia tak setuju dengan sikap adik nya yang seperti menunjukkan permusuhan.
" Bukankah Mas Adam tak melakukan kesalahan apapun, salahnya hanya karena ia pria beristri namun ia menaruh perhatian lebih padaku", gumam Dena.
Di sudut sana, Adam masih sibuk dengan pekerjaan nya sesekali melempar pandangan ke arah Dena berharap perempuan itu memanggilnya karena membutuhkan bantuan. Namun sampai alarm mesin berbunyi tanda empat jam telah selesai, Dena tak memanggil nya sama sekali. Hey.. kenapa sekarang keadaan seolah berbalik. Kenapa malah saat ini Mas Adam yang berusaha dekat dengan Dena.
Tunggu episode berikut nya ya..
__ADS_1
Apakah Dena masih tetap acuh dengan lelaki itu?