
Penghujung Agustus
Kau tau, ada banyak cerita disini
Agustus, duka maupun suka berseru,berseteru.
Mungkin agak mustahil tuk mengatakan bahwa semuanya baik baik saja.
Beberapa momen diri hampir tumbang, hampir punah karam.
Tapi, beberapa saat berikutnya ada secuil harap dan semangat yang datang. Menerjang kekalutan badan, hati dan prasangka buruk keadaan.
Kau tau,aku juga punya rasa lelah!!!
*** Dena mengurung diri di dalam kamar, hingga sore hari ia masih terlelap dalam tidur nya. Ibu mencoba membangunkan nya, mengetuk pintu kamar tetapi tak ada jawaban sama sekali. Khawatir terjadi apa apa dengan putri nya, ia mencoba menelepon Hasbi untuk segera pulang. Sang adik yang memang dari siang mencoba menghubungi kakak nya namun tak pernah ada jawaban dari panggilan telepon nya,bergegas pulang karena takut terjadi sesuatu pada kakak nya .
" Kak Dena, buka pintunya"
" Kau baik baik saja kan?", Hasbi terus mencoba mengetuk pintu kamar.
Dena mengejapkan mata nya, melihat jam di dinding kamar nya menyadari hampir empat jam ia tertidur. Suara Hasbi membangunkan nya, ia berjalan malas membuka pintu kamar kemudian kembali menghempaskan tubuh nya di kasur.
" Kak Dena kenapa, sakit?", tanya Hasbi seraya memegang kening kakak nya mencoba memeriksa.
Dena menggelengkan kepala, tetapi ia tak mau menatap wajah adik nya karena masih berusaha menyembunyikan wajah nya yang sembab karena menangis.
Tetapi adik laki laki nya ini sangat mengenal kakak nya, ia tau ada sesuatu yang disembunyikan kakak nya.
" Katakan padaku apa yang terjadi?", Hasbi menarik tubuh Dena, berusaha membalikkan wajah Dena ke arah nya.
" Aku hanya lelah dan butuh istirahat", Dena masih mengelak dengan jawaban semu yang ia sodorkan.
" Kau tau,aku bahkan bisa merasakan kebohongan dalam suaramu meskipun aku tidak melihat matamu", Hasbi berujar dalam hati.
Dena masih diam, ia lelah menyembunyikan semua perasaan nya selama ini. Ia butuh seseorang tempat nya bercerita, tempat meluahkan rasa apapun yang ia hadapi.
Sunyi, ruangan kamar itu masih sunyi tanpa suara. Hasbi masih duduk di sisi tempat tidur kakak nya, sengaja memberi jarak dan ruang menunggu apa yang akan kakak nya lakukan.
Akhirnya terdengar juga suara isak tangis itu, ia menghamburkan diri memeluk adik laki laki nya.
" Aku hanya ingin menangis, biarkan aku menangis tanpa kau harus bertanya sebab nya", Dena makin erat memeluk adik nya.
Hasbi membelai lembut rambut kakak nya, ia bahkan tau apa yang membuat seseorang menangis tanpa ada luka fisik di tubuhnya pasti karena satu alasan.... " perasaan".
" Menangis lah kak, jika itu bisa membuatmu tenang.."
"Tak ada yang salah kan dengan air mata, bahkan aku yang seorang laki laki pun pernah menangis karena perasaan", Hasbi menenangkan kakak nya .
Puas ia menangis di pelukan adik laki laki nya, ia meminta Hasbi untuk tidak menceritakan apapun kepada ibu nya. Ia menyudahi kesedihan nya sore itu dengan sebuah janji kepada adiknya bahwa ia akan menceritakan perihal apa yang membuat nya menangis.
...****************...
Dena meneguk beberapa pil yang rutin ia konsumsi 2 bulan ini semenjak divonis gagal ginjal. Malam ini seperti malam malam biasanya ia hanya menghabiskan waktu di kamar nya, menatap layar ponsel tetapi bingung hendak melakukan apa dengan telepon genggam nya tersebut. Sekilas ia masih mengenang bagaimana tadi pagi ia dihadirkan dengan kejutan pahit dari lelaki yang diam diam ia cintai.
Besok jadwal Dena untuk cuci darah ke rumah sakit, hari hari kemarin ia selalu semangat menanti pertemuan wajib dengan si kupu kupu hijau. Namun hari ini rasanya itu bukan menjadi suatu hal yang ia tunggu tunggu lagi. Ingin rasanya ia tak melihat lagi lelaki itu, bukan membenci ... tetapi menghindari untuk tak bertemu dengan nya menurut Dena adalah pilihan tepat agar perasaan nya yang tak tau diri ini bisa ia hilangkan perlahan.
__ADS_1
" Salah ku kah jika ada perasaan tertarik hanya karena ia memperlakukanku dengan baik?", Dena mendesah pelan.
Selama ini ia terlalu sibuk menanti pertemuan, sampai lupa bahwa perpisahan selalu datang tanpa persiapan.
Dena menyandarkan tubuh nya, duduk di sudut tempat tidur memeluk lutut. Kepalanya terasa pusing, rasa mual yang akhir akhir ini jarang ia rasakan kini muncul lagi. Ia meraih kotak obat di meja sebelah tempat tidurnya,menenggak beberapa pil secara bersamaan. Obat obatan itu rutin ia konsumsi selama dua bulan ini.
Ternyata benar ya, hati dan fikiran itu sangat mempengaruhi kondisi kesehatan.
Ia memejamkan mata, berharap malam itu bisa tidur nyenyak dan melupakan betapa rumit nya hidupnya saat ini. Ia seperti berlayar di lautan lepas,disaat ia melihat dermaga untuk bersandar namun ternyata kapal nya telah karam terlebih dahulu.
" Hey lelakiku,apa mungkin aku bisa membencimu?"
Bahkan di saat aku terluka pun aku masih bisa merasakan aku mencintaimu.
*** Sabtu pagi,
Dena mengemas tas kecil yang biasa ia bawa ke rumah sakit, menyiapkan beberapa ampul obat yang akan di suntikkan selesai cuci darah. Tak lupa ia membawa kotak bekal yang sudah Ibu siapkan untuknya. Pagi itu wajah nya tak seceria kemarin kemarin saat akan berangkat cuci darah.
" Kau sakit?", tanya Ibu ketika melihat wajah putrinya yang tampak kusut .
" Tidak bu,aku baik baik saja", Dena terlihat masih merapikan perlengkapan yang akan ia bawa
" Aku berangkat ya bu, sudah hampir telat", Dena melirik jam di pergelangan tangan nya.
Ia mencium tangan Ibunya,berpamitan dan melajukan kendaraan nya dengan malas.
Tiba di depan pintu Ruangan Hemodialisa Dena menghentikan langkah nya, menghela nafas dalam seperti menyiapkan diri bagaimana ia harus bersikap jika bertemu lelaki itu. Ia berjalan menuju tempat nya di ujung ruangan, Mas Adam yang saat itu sudah menyiapkan beberapa peralatan di tempat Dena menyapanya dengan sopan seperti biasa yang ia lakukan.
" Pagi Dena..."
" Hey... kau sakit?"
" Kenapa wajahmu kusut dan kau tak memberiku senyuman pagi ini?", Mas Adam masih bertanya dengan lelucon nya berharap Dena akan tersenyum seperti biasanya.
" Aku kurang enak badan", jawab Dena singkat tanpa ekspresi.
" Kenapa, kau demam?", Adam menempelkan telapak tangan nya di kepala dan leher Dena.
Dena sebenarnya ingin menepis tangan Mas Adam, tapi rasanya perasaannya yang masih terlalu dalam membiarkan laki laki itu menyentuh nya, menikmati tiap sentuhan yang laki laki itu berikan.
" Ahhh... dasar munafik, kau memang pecundang sejati Dena, kau ingin membenci laki laki itu, tapi lihatlah bagaimana dirimu menikmati hangat nya sentuhan tangan yang mungkin tak dianggap berarti bagi laki laki itu", Dena mencerca dirinya sendiri.
" Sudahlah, hentikan semua perlakuan baikmu", kalimat itu tiba tiba keluar begitu saja dari mulut Dena.
Adam mengernyitkan dahi nya, bingung dengan perubahan sikap perempuan di hadapan nya ini. Namun ia hanya diam,tak menanggapi hardikan Dena karena ia tau bagaimana kondisi emosional pasien gagal ginjal. Ia bisa memaklumi, mungkin Dena sedang ada masalah pribadi jadi sedang tak ingin ia berbicara.
" Lukas, bisa kau saja yang menangani ku hari ini?", ide untuk berkata seperti itu refleks Dena ucapkan ketika melihat Lukas yang lewat di hadapan nya.
Adam dengan wajah tenang seperti biasanya mengisyaratkan kepada Lukas untuk memenuhi permintaan Dena.
Adam kembali ke tempat duduk nya, tampak melanjutkan kesibukan nya seperti tak menganggap tingkah aneh Dena hari ini kepadanya. Dena semakin dibuat kesal oleh itu, ia sungguh berharap lelaki itu bertanya kepadanya kenapa ia bersikap seperti ini,namun nyatanya lelaki itu tak menghiraukan atau lebih tepatnya tak menyadari Dena yang sudah memasang wajah penuh amarah.
" Sudahlah Den, lupakan saja Mas Adam.. Kau hanya akan membiarkan dirimu jauh lebih terluka jika kau terus mengharap nya", ujar Lukas sambil menusukkan satu jarum kupu kupu di lengan Dena.
" Aku belum menyerah" , ucap Dena
__ADS_1
" Jangan dibutakan oleh perasaan Den, kau tau kan dia itu pria beristri, kenapa kau tidak mencoba membuka hatimu untuk aku yang masih sendiri hehehe", Lukas masih saja tak gencar merayu perempuan di hadapan nya itu
Dena malas menanggapi lelucon Lukas.
" Kau kenal dengan istri nya Mas Adam?", tanya Dena berusaha menyelidik.
" Saran ku, kau lebih baik tidak perlu mengenal ia lebih dalam jika kau tak ingin semakin dalam pula menelan kekecewaan", Lukas serius dengan perkataan nya.
" Tapi aku sudah terlanjur jauh dengan perasaan ku, aku tidak bisa berhenti sampai disini", Dena menunjukkan sisi keegoisan nya kala itu.
" Itu hak mu Den, kau yang berhak memutuskan langkah apapun yang akan kau ambil"
" Tapi kau lihat sendiri kan ia bahkan sudah memiliki seorang anak",Lukas masih berusaha menyadarkan Dena.
" Ya , aku tau"
" Tapi aku ingin memilikinya dengan caraku".
Lukas menggelengkan kepala nya seperti berkata " terserah",ia menusukkan jarum kupu kupu kedua di kulit Dena diiringi erangan kecil dari bibirnya .
" Aku tinggal ya, jika butuh bantuan panggil aku", ucap Lukas dan segera kembali ke tempat duduk nya.
Empat jam dilalui Dena dengan wajah cemberut, berharap Mas Adam datang menghampirinya untuk sekedar bertanya apakah ia sudah makan? Tapi nampak nya lelaki itu sibuk dengan pekerjaan nya,dan sesekali terlihat menelepon dan membalas pesan seseorang di ponsel nya .
" Ciihhh... pasti ia menelepon istrinya", Dena menghardik kesal kepada dirinya sendiri.
Bertanya dalam hati betapa aneh diri nya, ia marah kepada lelaki yang mengubungi istrinya tanpa ia sadar ia tak punya posisi apapun di hati lelaki itu.
" Kau masih mengizinkanku untuk mencabut kupu kupu ini kan?", Mas Adam menghampiri Dena setelah mendengar alarm mesin berbunyi menandakan waktu empat jam telah usai.
Dena hanya diam tak menjawab, separuh hatinya ingin menolak namun separuh lagi masih menggebu menunggu lelaki itu berada dalam jarak yang sangat dekat dengan nya.
Seperti biasa, lelaki ini masih dengan wajah hangat nya mengurai senyum yang selalu Dena tunggu tunggu.
" Kau harus cukup istirahat Den, jangan terlalu banyak fikiran agar kondisi kesehatan mu terus stabil", Mas Adam masih saja memberikan perhatian nya kepada Dena.
Bagaimana bisa perempuan ini menjauh dari laki laki ini,jika hanya dengan perhatian kecil saja ia sudah kembali luluh hatinya.
" Sepertinya aku perlu mengajakmu makan siang berdua lagi ya,biar kau lahap makan dan bersemangat", Mas Adam mengucapkan itu diselingi tawa kecil.
" Hey... bagaimana bisa kau terus memberikan celah kepada ku untuk maju dengan perasaan ku? Kau sudah punya istri, tapi kau tanpa canggung bisa berdua denganku" ,umpat Dena dalam hati.
" Tapi tunggu, ini kan yang aku mau.. ingin dekat dengan lelaki ini dan membuatnya jatuh cinta kepadaku",separuh hati Dena merayu untuk terus mendekati lelaki itu.
" Bagaimana kalau siang ini kau ku ajak ke satu tempat favorit ku"
" Kau bisa bercerita kepadaku semua masalahmu, aku akan jadi pendengar yang baik", ucap Mas Adam.
Lihatlah betapa lelaki ini bahkan tak memberi jarak bagi Dena untuk melangkah mundur.
Dena akhirnya kembali larut dengan perasaan nya,membiarkan lelaki itu terus dekat dengan nya.
" Baiklah, bawa aku kemana saja yang kau mau", Dena menjawab dengan seringai kemenangan.
Di sebelah sana, Lukas menggelengkan kepala melihat betapa dua insan ini memulai langkah salah nya.
__ADS_1