Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Terbongkar


__ADS_3

Beberapa hari terakhir Dena terlihat kurang bersemangat, entah itu di kantor maupun di rumah. Bahkan malam malam nya terasa kian panjang sebab ia sulit memejamkan mata nya. Ia baru bisa tidur hampir di sepertiga malam.


Ada hal yang membuat beban fikiran nya semakin berat. Pertemuan nya dengan Lisa beberapa hari yang lalu terus menghantuinya.


Belum juga ia memulai hubungan khusus dengan Mas Adam, tetapi cap sebagai pengganggu dalam rumah tangga orang sudah di tujukan Lisa kepada nya.


" Dasar perempuan tak tau diri"


" Sudah baik aku untuk berusaha menghindari suaminya, malah menyudutkan ku".


" Harus nya ia berterima kasih kepadaku karena aku tak pernah sama sekali menggoda suaminya", gerutu Dena.


Ia menunjukkan wajah kesal sementara jari nya mengetuk ngetuk meja.


Puji yang sedari tadi memperhatikan wajah cemberut Dena tak pelak langsung menggoda sahabat nya itu.


" Ternyata aku terlihat lebih cantik ya hari ini, lihat saja wajah kau yang masam seperti itu membuatmu jadi perempuan paling jelek di gedung ini, hahaha", Puji tergelak menertawai Dena.


" Huh....dasar kau"


" Aku sedang tidak ingin bercanda hari ini".


" Hey..kau kenapa Dena? sedang datang bulan?",Puji masih penasaran dengan sahabatnya yang hari ini sepertinya sedang bad mood.


Dena menggeleng.


" Coba aku lihat wajahmu", Puji memegang pipi Dena.


" Kau pucat sekali Den, kau sakit?"


Dena malas sekali menjawab apa apa,ia merasa tak punya energi pagi ini untuk berbicara. Kurang tidur selama beberapa malam ini membuat kantung mata di wajahnya.


Puji mengkhawatirkan keadaan Dena, ia sebenarnya sudah lama ingin bertanya lebih detail kepada Dena tentang obat obatan yang ia minum selama ini.


Tapi ia tak berani, ia takut sahabatnya ini akan marah besar jika terlalu dalam menanyakan hal yang bersifat pribadi.


" Dena, biar pekerjaanmu hari ini aku yang kerjakan ya", Puji menawarkan bantuan kepada Dena .


" Nggak perlu, aku baik baik saja"


*** Siang itu ruangan kantin sudah mulai ramai ketika Puji dan Dena masuk kesitu.


Dena sebenarnya hampir tak punya tenaga untuk berjalan sampai kesini. Sepanjang perjalanan dari lantai lima untuk tiba disini sudah membuat nafas nya pendek.


Mereka berdua sedang memesan makanan, Adrian berada tepat di belakang Dena.


Ia mulai menyapa,


" Hai Dena, apa kabar mu?"


" Ehhh.. Adrian, baik .. kau sendiri bagaimana?"


Puji hampir saja berteriak karena terkejut melihat Adrian menyapa Dena, untung saja tangan nya buru buru menutup mulut nya yang sudah terbuka mengeluarkan suara.


" Aku juga baik baik saja".


" Nampak nya hari ini wajahmu pucat Den, kau sakit?", Adrian orang kedua yang berkata seperti itu setelah Puji.


Dena menggeleng, padahal ia merasakan ada yang tak beres dengan tubuh nya.Kepala nya terasa sedikit pusing dan pandangan nya berkunang kunang.


Meskipun Adrian dan Dena saat itu sudah bertukar nomor ponsel, namun belum pernah sekalipun mereka berkomunikasi lewat pesan singkat maupun sambungan telepon .


Puji menarik tangan Dena dan berbisik,


" Dena, katakan padaku sejak kapan ia mengenalmu?".


" Waktu kau tidak masuk bekerja hari itu"


" Itupun perkenalan yang tidak di sengaja".


" Kau hebat Den", Puji berbisik lagi membanggakan sahabatnya hanya karena berhasil berkenalan dengan idola nya itu.


" Cihh... begitu saja kau sudah kaget, apalagi kalau aku bilang aku bahkan bertukar nomor ponsel dengan nya", ujar Dena dalam hati.


Mereka bertiga sudah memegang piring masing masing yang sudah terisi makanan yang mereka pesan. Puji dan Dena mencari tempat untuk mereka duduk, Adrian berjalan di belakang mereka melakukan hal yang sama pula untuk mencari bangku yang masih kosong.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, Dena seperti hilang keseimbangan. Tiba tiba pandangan nya menjadi gelap, tubuh nya terasa melayang. Kemudian piring yang ia pegang terlepas..


" Brakkkk...", suara piring pecah berhamburan di lantai bersama isinya .


Sementara tubuh nya lunglai dan terjatuh.

__ADS_1


Untung saja Adrian yang berada tepat di belakang nya refleks menangkap tubuh Dena meskipun Adrian langsung menjatuhkan piring yang ia pegang .


Ruangan kantin tiba tiba riuh, karyawan karyawan yang sedang makan langsung datang berkerumun melihat kejadian itu.


Dena pingsan dalam pelukan Adrian. Dengan sigap laki laki berpostur tegap itu menggendong tubuh Dena yang terlihat lemah dan mata terpejam.


Puji berteriak histeris melihat sahabat nya yang lemah tak berdaya.


" Ayo ikut aku, bawa dia ke rumah sakit terdekat", ujar Adrian kepada Puji.


Tanpa basa basi dan banyak tanya Puji mengikuti langkah Adrian menuju parkiran. Setelah izin kepada HRD dan sekuriti gedung, Adrian melajukan kendaraan nya. Dena berada di kursi belakang kemudi tertidur di pangkuan Puji.


Adrian menambah kecepatan mobil nya, ia terlihat cemas dan ingin segera sampai ke rumah sakit.


*** Adrian dan Puji membawa dena ke Instalasi Gawat Darurat di rumah sakit XX tempat Dena melakukan cuci darah.


Tubuh Dena sudah di baringkan di tempat tidur, Dokter jaga dan perawat IGD segera menangani nya. Bertanya kepada Adrian dan Puji apa yang terjadi dengan perempuan yang saat ini pingsan.


Adrian bercerita sebagaimana yang terjadi di kantin tadi. Ia dan Puji tak mengetahui riwayat penyakit Dena.


Ketika perawat IGD hendak mengukur tekanan darah di lengan kiri Dena, ia tak sengaja meraba pergelangan tangan Dena yang bergetar.


" Cimino?"


" Apa ia pasien cuci darah?", perawat itu bertanya pada Adrian dan Puji.


Adrian dan Puji melongo saling tatap mendengar ucapan perawat tersebut.


Mereka sama sama menggeleng, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Dena.


Dokter jaga memastikan bahwa memang benar cimino yang ada di tangan Dena.


" Apa kalian bisa menghubungi keluarga nya?",


dokter tersebut bertanya.


Puji meraih tas Dena mencari ponsel milik nya, berinisiatif untuk menghubungi Hasbi adik laki laki laki Dena.


Namun sayang Puji tak bisa membuka ponsel Dena karena tak mengetahui kata sandi nya.


Puji menggeleng kepada dokter tersebut,karena tidak bisa menghubungi keluarga Dena.


" Bagaimana kalau alamat rumah nya?", dokter itu memberi opsi lain.


Dokter mengambil sample darah Dena, kemudian perawat dengan cekatan memasang infus di tangan kanan nya.


Selang oksigen di pasang untuk membantu Dena bernafas. Dokter dan beberapa perawat masih berusaha menyadarkan Dena.


" Hey..namamu siapa?", Adrian bertanya pada Puji .


Puji tersipu malu mendengar Adrian menanyakan nama nya.


" Puji", jawab nya dengan wajah bersemu.


" Apa kau tak tau sama sekali kalau sahabatmu ada penyakit yang serius?"


" Kau dengar kan tadi dokter memastikan kalau Dena adalah pasien cuci darah"


" Itu artinya dia punya penyakit ginjal", Adrian berkata menjelaskan apa yang sedikit ia ketahui tentang cuci darah.


" Dena tak pernah bercerita apapun padaku tentang penyakit nya".


" Yang aku tau setiap hari ia rutin minum beberapa obat setelah makan siang", Puji seolah merasa bersalah atas ketidak tahuan nya tentang penyakit Dena.


Namun bagaimana dia bisa tau sedangkan Dena sendiri adalah seorang yang begitu tertutup untuk kehidupan pribadi nya.


Perawat yang tadi memasang jarum infus di lengan Dena menghampiri Adrian dan Puji.


" Bisa kah aku minta Kartu tanda pengenal pasien?"


Puji kembali meraih tas Dena, mencari dompet Dena dan membuka nya untuk menemukan KTP. Ia menyerahkan KTP tersebut kepada sang perawat .


" Baiklah, kami akan mencari informasi mengenai pasien lewat perawat di Ruangan Hemodialisa", ucap perawat tersebut .


" Halo selamat siang, dengan Adam ada yang bisa di bantu?", Adam menyambut telepon ruangan yang berdering.


" Ini Santi, dari Instalasi Gawat Darurat"


" Kami ingin menanyakan apa ada pasien cuci darah atas nama Dena Sanlova?", tanya Santi sambil membaca nama di Kartu pengenal milik Dena.


" Iya benar, Nona Dena adalah pasien cuci darah di sini".

__ADS_1


" Ada apa ya?", tanya Adam


" Bisa kah menghubungi salah satu keluarganya, karena saat ini pasien ada di IGD dalam keadaan tak sadarkan diri".


" Dan kami kesulitan menghubungi keluarga pasien".


Adam hampir saja melepas gagang telepon yang ia pegang karena panik.


" Baiklah tunggu sebentar, saya akan ke ruangan IGD", Adam segera menutup telepon.


Ia tergesa gesa meninggalkan Ruangan Hemodialisa, bahkan ia tak menghiraukan pertanyaan Lukas yang menanyakan ia mau kemana.


Adam sampai ke Ruangan IGD, mendapati Dena yang terbaring menggunakan selang oksigen di hidung nya. Di samping nya ia melihat dua orang yang tak ia kenal.


" Kalian siapa?", tanya Adam pada Puji dan Adrian.


" Kami teman kerja Dena, kami membawa nya kesini karena ia pingsan di kantin saat makan siang", Puji yang menjawab pertanyaan Adam .


Adam mengelus rambut Dena, berbisik lembut di telinga nya.


" Dena, sadarlah!!!"


" Kau kenapa?", wajah Adam menunjukkan kecemasan membuat Puji dan Adrian bertanya tanya siapa sebenar nya lelaki ini.


Apa dia kekasih Dena karena tampak nya ia begitu khawatir.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dena dan kau siapa?", Adrian memberanikan diri bertanya.


" Saya Adam, saya perawat yang biasa menangani Dena di Ruang Hemodialisa", jawab Adam.


" Apa benar Dena punya penyakit kronis?", Puji ragu ragu bertanya.


Adam mengangguk...


" Ya, sudah tiga bulan ini dia menjalani cuci darah karena gagal ginjal stadium lima yang ia alami".


Puji dan Adrian tercengang, tepat nya tidak menyangka kalau perempuan muda yang terlihat cantik dan sehat ini sebenarnya menyembunyikan penyakit kronis nya dari orang orang sekitar nya.


Adam memperhatikan Adrian, terlihat menyelidik apa laki laki ini ada hubungan khusus dengan Dena sampai ia mengantarkan Dena ke rumah sakit.


" Kau.... siapa namamu?",pertanyaan Adam tertuju pada Adrian.


" Aku Adrian..."


" Adrian apa kau tidak tau sama sekali tentang penyakit Dena?"


Adrian menggeleng..


" Aku belum lama mengenal nya di tempat kerja, itu pun hanya sekedar menyapa saat makan siang di kantin".


Adam menghela nafas lega, setidak nya laki laki ini bukan orang yang spesial dalam hidup Dena, begitu fikir nya.


Adam hampir melupakan sesuatu, ia lupa bahwa ia hanya diminta oleh perawat IGD untuk menghubungi keluarga Dena, bukan malah duduk di samping Dena dan mengkhawatirkan nya .


Ia mengeluarkan ponsel nya, kemudian mencari nama Hasbi.


" Halo... Hasbi ini aku Adam "


" Iya.. ada apa Mas Adam?", Hasbi sebenarnya benci mendengar suara laki laki ini.


" Segera lah datang ke rumah sakit, kakak mu ada di Ruangan IGD "


" Ia tak sadarkan diri".


Hasbi tak banyak bertanya, ia langsung mematikan telepon nya tanpa sempat mendengar Adam yang sebenar nya ingin menjelaskan kalau Dena pingsan di tempat kerjanya dan dibawa kesini oleh rekan kerjanya


Hasbi memukul setir, ia terlihat mengumpat sepanjang perjalanan ke rumah sakit.


" Apa yang laki laki itu lakukan kepada kakak ku sampai ia tak sadar kan diri"


" Kenapa dia ada bersama kak Dena, bukankah sekarang masih jam kerja".


" Lihat saja, kalau sampai terjadi apa apa dengan kakak ku habislah kau" .


...****************...


Hari itu sebuah rahasia yang Dena tutupi selama ini dari rekan kerja nya akhir nya terbongkar.


Apakah Adrian menaruh hati kepada Dena meski ia tau Dena punya penyakit serius???


Dan..apa yang terjadi dengan Dena setelah ia sadarkan diri??

__ADS_1


Lanjut episode berikut nya ya... Selamat malam🥰🥰


__ADS_2