
Adrian semakin hari semakin menunjukkan betapa ingin ia mengenal Dena lebih jauh .
Setiap hari ia tak lupa mengirim pesan kepada Dena, mengingatkan perempuan itu untuk tak lupa makan dan minum obat . Perhatian perhatian yang sama seperti yang Mas Adam berikan, namun yang membedakan nya adalah rasa yang diterima oleh Dena .
Dena biasa saja menanggapi perhatian yang di berikan Adrian, namun untuk perhatian yang diberikan Mas Adam selalu ia rindukan meskipun ia tetap menunjukkan dengan sikap acuh nya .
Puji selalu bersemangat mendengar perkembangan perasaan Adrian terhadap Dena, ia selalu mendukung hubungan mereka berjalan lebih jauh.
" Kau sudah berumur 27 tahun Dena, apalagi yang kau tunggu?"
" Kau cantik, Adrian tampan. Kalian pasangan yang serasi".
" Ayo buka hatimu untuk Adrian", Puji selalu menghasut Dena dengan kata kata nya yang terkadang membuat Dena berfikir untuk menjalin hubungan dengan Adrian.
Tapi rasanya sulit bagi nya untuk memaksakan diri mencintai orang yang tidak ia inginkan.
Ia tidak pernah bercerita sedikitpun perihal urusan cinta nya yang rumit dengan laki laki beristri.
" Kalau Puji sampai tau habislah aku di tertawa kan nya", gumam Dena
" Sudahlah Puji, hentikan bualanmu".
" Adrian sampai detik ini tidak pernah menyatakan perasaan apapun terhadapku".
" Meski ia menaruh perhatian padaku tapi belum tentu juga kan ia menyukai ku", ucap Dena kepada Puji yang terus saja membujuk Dena untuk menjadi kekasih Adrian.
" Lagi pula aku sudah punya lelaki yang aku cintai, meskipun aku belum bisa memilikinya", akhirnya Dena membuka sedikit cerita tentang hatinya.
" Hahaha, Dena Dena... jangan menunggu yang tidak pasti, kalau Adrian sungguh sungguh menyukaimu lebih baik kau lupakan saja lelaki yang kau maksud", dengan enteng nya Puji berkata.
" Cihh .. tau apa kau tentang perasaan, kau saja sampai saat ini tidak punya pacar", Dena mendecis kepada Puji.
" Ehhh.... nanti sore sepulang dari kantor temani aku cari sepatu ya di XX ( menyebut nama sebuah pusat perbelanjaan)", ujar Dena.
" Siap...dengan senang hati aku menemanimu, tapi kau harus traktir aku ya, hehehe".
" Baiklah, aku traktir kau makan ya tapi yang murah aja. Rugi dompet ku kalau harus merogoh uang banyak hanya untuk mentraktir seorang Puji yang genit,hahaha", Dena terkekeh menggoda Puji .
Puji hanya cemberut memasang wajah masam.
" Biarin genit daripada kau bodoh".
*** Sore sepulang kerja, Dena dan Puji segera menuju Pusat Perbelanjaan yang tak jauh dari kantor mereka di Pusat Kota.
Dena di bantu Puji memilih sepatu mana yang cocok untuk dirinya.
" Harus nya kau mengajak Adrian untuk menemanimu Den".
" Lumayan kan kalau ternyata dia yang membelikan sepatu untuk mu", Puji berkata sambil melirik harga sepatu yang tertera di bandrol.
" Cihh... dasar kau selain genit ternyata juga mata duitan", Dena mencubit kecil pinggang Puji.
" Hahaha, ayolah segera ke kasir lalu kita ke food court.. Aku lapar", Puji menagih janji Dena yang akan mentraktir nya.
*** Kedua sahabat itu menuju food court hendak mengisi perut yang lapar, bahkan sedari tadi suara keroncongan terus berbunyi dari perut Puji membuat Dena terkekeh terus menggodanya.
Baru saja masuk ke pintu food court, Dena menangkap sosok yang begitu ia kenal.
" Tuhan, kenapa dunia ini sempit sekali"
" Kenapa aku harus bertemu dengan nya".
__ADS_1
Dena menarik lengan Puji, ingin membatalkan niat untuk makan di food court itu sebelum sosok yang ia lihat ikut melihatnya juga.
" Puji, ayo kita keluar.. aku tidak berselera makan disini".
" Kita makan di cafe dekat taman kota saja ya", rayu Dena kepada Puji.
" Hey...kau gila? kau tau kan aku hampir pingsan menahan lapar"
" Sekarang kita tinggal pesan makanan dan kau bilang kau tidak selera makan disini?", Puji nampak cemberut.
Belum sempat Dena berhasil menyeret Puji untuk keluar dari Food court tersebut, sebuah suara menghentikan langkah Dena.
" Dena... kau disini?", suara lembut lelaki yang tadi berusaha dihindari Dena tiba tiba menyapa.
" Ehh.. Mas Adam, iya aku pulang dari kantor dan langsung kesini", Dena sebenarnya ingin diam saja dan mengacuhkan Adam namun dia tak ingin Puji banyak bertanya kalau sampai ia tak menjawab apa apa .
" Bukan nya dia perawat yang waktu itu di Ruangan IGD saat kau pingsan?", bisik Puji .
" Aku fikir saat itu dia kekasih mu, karena dia begitu mengkhawatirkan mu kala itu"
Dena melotot ke arah Puji, meminta nya untuk diam dengan segala celotehan nya itu.
" Mas Adam sendiri?", Dena basa basi bertanya.
Belum sempat Adam menjawab dari kejauhan Juna berteriak memanggil papa nya.
" Papa, aku dapat hadiah mainan ini saat mama memesan makanan", bocah lelaki itu berlari ke arah Mas Adam sambil menunjuk miniatur pesawat kecil kepada Adam.
Tentu saja Juna tak sendirian, di belakang nya Lisa nampak membawa nampan berisi makanan yang sudah mereka pesan.
Ia menatap tajam ke arah Dena, mungkin di dalam fikiran nya Dena memang saat itu sudah tau kalau Adam disini sehingga sengaja datang untuk bertemu.
" Hai.. Dena apa kabarmu?"
" Iya, aku bersama teman ku", jawab Dena singkat .
" Ohhh bersama teman mu? Nampak nya kau harus segera punya kekasih Dena untuk menemani mu kemana mana"
" Kau tau kan kondisi mu tidak sebaik kami?", ucapan Lisa terdengar seperti menghina.
Adam tak enak hati atas ucapan istrinya.
" Dena sekarang baik baik saja kok, dia bisa beraktifitas layak nya orang sehat", Adam mencoba membela Dena.
Wajah Lisa terlihat masam.
" Tenang saja Kak lisa, kapan kapan aku akan perkenalkan kekasihku", Dena menjawab semaunya hanya untuk membalas perkataan Lisa .
" Ohh ya, kau sudah punya kekasih?"
" Baguslah kalau begitu, mudah mudahan kekasih mu itu pria lajang ya?", perkataan Lisa membuat Dena ingin sekali membungkam mulut perempuan itu.
Sementara Adam, wajah nya berubah pias. Ia bertanya tanya dalam hatinya.
" Benarkah Dena sudah punya kekasih?".
Kalau saja tak ada Lisa di sebelah nya saat ini pasti Adam sudah mencerca Dena dengan banyak pertanyaan .
" Baiklah, aku tahan rasa penasaranku sampai besok jadwal bertemu Dena di Ruang Hemodialisa", gumam Adam.
Dena malas menanggapi ucapan Lisa yang tadi, ia tau Lisa hanya menyindir nya .
__ADS_1
" Sebaik nya Kak lisa segera mencari tempat duduk, tidak lucu kan kalau Kak lisa dikira pelayan food court karena dari tadi berdiri memegang nampan", ucapan Dena seakan membalas rasa kesal nya .
Lisa terlihat geram...
" Ayo sayang kita cari tempat duduk", ucapan Lisa sengaja ingin memancing kecemburuan Dena.
Huh, Dena memang cemburu melihat Lisa yang berkata manja kepada Mas Adam.
" Dena, kami makan duluan ya", ucap Mas Adam masih dengan senyuman nya yang lembut dan hangat.
Dena dan Puji akhirnya tetap makan di food court itu, mereka duduk tak jauh dari tempat Mas Adam dan keluarga nya .
Sesekali Adam mencuri pandang ke arah Dena, memperhatikan Dena yang sedang berbincang dengan Puji.
Lisa bisa merasakan suami nya yang masih menyimpan rasa kepada perempuan itu.
Dena pun melakukan hal yang sama, diam diam dia masih saja memperhatikan Mas Adam meskipun Lisa dengan sengaja nya bersikap mesra kepada Adam seperti bergelayut manja di lengan suami nya itu.
Ia ingin menunjukkan betapa dirinya menang satu langkah di hadapan Dena yang hanya bisa menatap dari kejauhan .
Tentu saja Dena terbakar rasa cemburu.
" Kenapa juga Mas Adam tidak menepis Lisa yang bermanja manja kepada dirinya di tempat umum seperti ini", batin Dena
" Lihat saja nanti, akan ku balas kecemburuan ku hari ini dengan hal yang sama", gerutu Dena dalam hati.
Dena meyakini hati nya bahwa saat ini dia menjauh dari lelaki itu hanya karena ia tak ingin di caci oleh Lisa dan adik nya Hasbi. Ia juga belum siap menyandang cap perebut suami orang. Sungguh di dalam hati nya hanya ada laki laki itu yang bersemayam.
*** Mungkin lebih baik seperti ini
Diam dari segala cibir yang sibuk mencaci.
Mencoba kembali menepi
Memeluk erat perih yang perlahan lahan menghampiri.
Gelap yang terlampau pekat
Tersibak cahaya namun tak lekat
Hadirkan sedikit hangat yang mulai berkarat.
Menimbun luka yang telah lama membuatku sekarat.
Tak apa apa
Aku sudah terbiasa berkawan dengan lara.
Nestapa pun tak segan segan merajalela.
Sebab pada akhirnya semua hanya tentang bagaimana caraku berdamai dengan luka.
Jika diam ku tak bisa kau mengerti, lalu bisakah rinduku engkau pahami??
...****************...
Hari ini Dena cemburu pada kemesraan Adam dan Lisa.
Lalu apa ya kira kira rencana Dena untuk membalas rasa cemburu nya?
Sepertinya pilihan yang ada hanya Adrian.
__ADS_1
Mungkinkah Dena menjadikan Adrian sebagai alat untuk menebus rasa cemburu nya??
Lanjut terus episode berikutnya, jangan lupa like nya ya 🥰🥰