Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Kesedihan dan Kebahagiaan


__ADS_3

Siang sudah merangkak naik ketika Ayah memanggil Adam berbicara empat mata.


" Rencana perjodohan mu dengan Sekar kita batalkan, Om Wisnu menghubungi Ayah mengatakan kalau Sekar tidak bisa meneruskan nya", Ayah berbicara dengan sedikit nada menyesal.


Bagi Adam ini adalah berita yang ia tunggu, akhirnya ia akan tetap menjaga hubungan baik dengan kedua orang tuanya. Tanpa ada pembangkangan.


****


Hampir dua bulan sudah ia berada di kampung halaman nya, keadaan Ibu jauh lebih baik semenjak dirawat oleh nya. Setiap pagi ia rutin melatih kaki Ibu untuk digerakkan, sehingga sedikit demi sedikit perubahan baik dialami oleh kesehatan Ibunya.


Begitu pula dengan hubungan nya dengan Dena, meski hanya lewat sambungan telepon mereka sudah banyak merangkai mimpi mimpi dan rencana mereka ke depan nya.


Sampai suatu pagi, Adam kesulitan menghubungi Dena. Telepon dari nya berkali kali tak diangkat, pesan pun tak di balas.


Hingga siang hari tak ada kabar dari perempuan itu. Adam akhirnya memutuskan untuk menghubungi Laras, menanyakan keberadaan Dena.


Berita duka kembali ia dengar hari itu, sepuluh bulan dari kepergian Adrian kini Dena harus menghadapi kenyataan ditinggalkan Ibu yang ia cintai karena serangan jantung.


Jenazah Ibu akan dimakamkan siang ini, menurut cerita Laras.


Adam tak bisa membayangkan bagaimana terpukul nya perempuan yang ia sayangi, baru saja ia kehilangan tempat bersandar nya, sekarang Ibu yang banyak menopang nya menjadi lebih kuat dan tegar ternyata harus dipanggil secepat ini oleh Tuhan.


Ia harus pulang, harus berada di sisi kekasih nya saat ini. Adam akhirnya pulang mendadak hari itu juga, menumpang pesawat dengan penerbangan terakhir.


Ia tiba malam hari di rumah kediaman orang tua Dena, tak mengabari sama sekali akan kepulangan nya yang tiba tiba. Laras mengantar Mas Adam masuk ke kamar dimana Dena dan Noah beristirahat setelah hari yang melelahkan dan menguras air mata.


Adam mendapati Dena yang duduk termenung di sudut kamar. Hal ini mengingatkan Adam kembali seperti saat perempuan itu ditinggalkan Adrian. Sementara Noah berada tak jauh dari sisinya, nampak tertawa sendirian memegang mainan di tangan nya.


Adam diam sejenak, menatap wajah Dena dan Noah bergantian. Betapa berat kehidupan yang sudah mereka lalui, Noah berlari menuju Adam setelah menyadari kehadiran lelaki itu.


" Papa.. papa..", Noah memeluk Adam seolah rindu sekali dengan nya. Balita yang sekarang berumur dua tahun lebih itu sudah pandai berbicara. Wajah riang nya jauh berbanding terbalik dengan wajah Ibunya yang menatap kosong entah kemana, hingga tak menyadari kehadiran Adam di kamar itu.

__ADS_1


Tahukah kalian, dalam banyak hal justru orang dewasa lah yang banyak belajar pada anak kecil. Mencari inspirasi, kekuatan dan kebahagiaan di dalam wajah tak berdosa itu.


Adam lalu mendekat di samping Dena, perempuan itu terkejut dengan kedatangan lelaki yang sudah dua bulan berada jauh darinya.


Dena tak bisa mengungkapkan perasaan nya kala itu, kesedihan ditinggalkan Malaikat yang mengasihinya sejak kecil dan kebahagiaan atas kedatangan Malaikat pelindung nya di saat keterpurukan nya, bercampur menjadi satu.


" Kita akan melalui ini bersama sama, aku akan selalu disini bersama kalian ", Adam mendekap Dena dan Noah dalam pelukan nya.


Dena mencengkram erat bahu Adam, dan lelaki itu menatap wajah perempuan yang sekarang matanya terlihat redup. Lalu ia membuka mulut nya, berbisik pelan ke telinga Adam, menikam seluruh hati.


" Aku sungguh mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku lagi".


Noah yang melihat Ibunya menangis ikut mendongak menatap Mas Adam, matanya bulat sempurna beradu pandangan dengan lelaki yang ia kira Papa nya, seperti mengerti akan arti sebuah kehilangan.


" No...ah..saa..yang.. Pa..pa", balita itu terbata mengungkapkan perasaan sama seperti Ibunya.


Ya Tuhan, Adam tahu maksud bocah kecil itu. Ia tahu sekali, ia lah yang membiasakan Noah mengucap kalimat itu dengan indah.


Namun Adam tak bisa menahan nya lagi, ia semakin erat mendekap Dena dan Noah.


Biarlah, malam ini biarlah aku menangis untuk dua orang yang saat ini jadi tanggung jawabku.


Noah tak pernah mengatakan iya atas permintaan Adam untuk terus riang. Tetapi menatap wajah itu, menatap cahaya matanya, Adam bisa merasakan janji kehidupan.


Terima kasih Tuhan, Noah masih terlalu kecil namun bayi berumur 2 tahun lebih itu pun mengerti arti dari sebuah pembicaraan.


Noah beringsut memeluk Ibunya, malam itu dalam gendongan Dena, Noah masih menatap Adam sambil mengerjap ngerjapkan matanya.


Entahlah, akan seperti apa kelak Noah dewasa memanggilnya ketika ia tahu bahwa Adam bukan papa nya.


Besok hari saat matahari terbit, Adam berjanji akan menghilangkan kesedihan di wajah perempuan nya. Karena hanya itu yang akan membuat seluruh kejadian menyakitkan ini bisa dilewati dengan mudah.

__ADS_1


Ia tahu keluarga Dena masih diliputi duka, namun ia tetap pada keputusan nya. Esok ia akan mengatakan pada Ayah Dena untuk segera menikahi putri nya. Tanpa lamaran, tanpa persiapan apa apa. Ia hanya ingin segera menghalalkan perempuan itu, ingin setiap malam berada di sisinya, memastikan tak akan pernah lagi ada air mata.


Benar saja, Adam benar benar menyatakan niatnya untuk menikahi Dena keesokan harinya saat semua keluarga sedang berkumpul setelah membacakan doa untuk almarhumah Ibu nya Dena.


Tak ada yang bisa melarang, karena mereka semua tahu kalau Adrian sendiri yang sudah menitipkan Dena dan Noah pada lelaki itu.


Ayah mengangguk setuju, menyerahkan semua keputusan di tangan Dena. Hasbi yang dulu sempat tak menyukai Mas Adam pun kini hanya bisa menerima dengan lapang kalau lelaki itu yang akan menikahi kakak nya .


Dena yang masih dilingkupi perasaan sedih atas kehilangan Ibunya pun menerima permintaan Mas Adam untuk menikahinya dalam waktu dekat. Sudahlah, ia merasa sudah lelah dengan segala cobaan yang mendera hidup nya. Kali ini ia ingin bahagia, dinikahi laki laki yang sangat setia menunggunya selama bertahun tahun.


" Ibu dan Adrian sekarang pasti sangat bahagia jika tahu kita akan menikah", ucap Dena malam itu pada Adam.


Ia sudah menerima takdirnya atas kehilangan Adrian, ini semua memang rencana yang sudah Tuhan persiapkan untuknya. Adrian tak akan pernah mati dalam hatinya, sekalipun nanti ia sudah menjadi istri Mas Adam.


" Aku tak ingin resepsi megah, aku hanya ingin acara sederhana saja. Hanya akad nikah dan mengundang keluarga dekat", pinta Dena malam itu.


Adam mengerti sekali, keluarga Dena masih dalam keadaan berduka, tak mungkin mereka mengadakan pesta.


" Baiklah, aku akan mengabari keluargaku secepatnya. Ayah dan adik ku pasti akan datang".


Pernikahan sudah di tetapkan dua minggu lagi. Tidak terburu buru bagi mereka, karena perkenalan di antara keduanya bukanlah waktu yang singkat. Dan cinta yang tumbuh tak terhitung satu atau dua bulan saja, mereka sudah benar benar yakin dengan keputusan menikah.


Kau masih menjadi ambisiku yang tak pernah habis menciptakan diksi termanis dalam ruang imaji. Walau saat mengenang masa masa melepaskanmu dahulu, netraku kerap bergerimis.


...----------------...


Ngetik bab ini seperti terburu buru dan udah gak sabaran pengen melihat pernikahan Mas Adam dan Dena.


Ada yang bisa nebak nggak nanti mereka bakal honey moon kemana?


Atau ada yang mau request juga boleh, hehehe..

__ADS_1


Semoga suka ya dengan bab berikutnya🙏🥰


__ADS_2