
"Dunia ku akan baik baik saja ketika aku masih melihat senyum ibu yang tampak jelas di wajahnya" Dena mencoba mengatur nafas setelah tadi meronta ronta ingin melepaskan jarum di tangan nya.
Dia terlihat sedikit tenang ketika Ibu yang sebenarnya juga sangat terpukul dengan apa yang dikatakan dokter Daniel masih berusaha menunjukkan senyum di hadapan putri cantik nya .
"Tenang dulu sayang,bukankah tadi dokter Daniel bilang akan memastikan semuanya dengan USG" ucap ibu sambil mengusap pipi Dena
Masih ada kemungkinan kemungkinan baik yang akan terjadi,berdoa dan berharap yang terbaik,hanya itu yang bisa di lakukan sekarang.
Sebelum meninggalkan ruangan,tadi dokter Daniel masih melanjutkan penjelasannya.
Ayah bertanya pada dokter.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini dok,anak saya selama ini tidak pernah merasakan penyakit yang serius,dia hanya merasa mual muntah dan kelelahan" tanya Ayah pada dokter Daniel
"Nanti dokter spesialis ginjal yang akan menangani nya Pak,dan dokter tersebut yang akan menjelaskan semuanya"..jawab dokter Daniel
"Nanti untuk lebih memastikan diagnosa nya akan dilakukan USG ginjal"..
"Apa bisa disembuhkan dok?" kalimat pertama yang keluar dari mulut Dena setelah reda tangis nya
Dokter daniel menggeleng lembut dan melontarkan senyum..
"Tidak ada obat untuk gagal ginjal kronis,yang bisa dilakukan hanya lah menjaga agar kondisi badan Dena tetap stabil agar bisa beraktifitas layaknya orang sehat" jawab dokter Daniel
"Caranya??" Dena bersemangat mendengar kata kata dokter Daniel
" Cuci darah"... singkat jawaban dokter Daniel
"Deeegggg".. jantung Dena terasa ngilu mendengar kata cuci darah. Yang ada di pikirannya adalah hal menakutkan yang akan ia jalani.
"Berapa lama dok?" Ayah bertanya
"Seumur hidup"jawab dokter Daniel tanpa fikir panjang menandakan itu adalah hal mutlak tanpa pertimbangan.
" Ya Tuhan...apalagi ini,baru saja aku seperti diangkat diatas awan setelah mendengar bahwa aku bisa beraktifitas normal seperti orang sehat kenapa sekarang rasanya aku di hempaskan ke dalam kerak bumi terdalam" Dena menangisi dan meratapi takdir nya dalam hati.
...****************...
Seorang perawat mendorong kursi roda yang di duduki Dena,di ikuti Ayah dan ibu di belakang nya.Mereka akan menuju ruangan USG di lantai 1 Ruman sakit.
Sepanjang koridor Rumah sakit,Dena hanya melemparkan pandangan kosong. Tapi otaknya dipenuhi beribu pertanyaan kepada dirinya sendiri. "kenapa?" " bagaimana bisa?" "harus seperti apa?"... begitulah pertanyaan pertanyaan itu berdesakan di kepala Dena,sedang Dena sendiri tidak menemukan jawaban apa apa dalam diri nya.
"Tuhan menyayangiku"batin Dena dalam hati
Dena dan kedua orang tuanya masih menunggu antrian untuk masuk ke dalam Ruangan USG. Ada beberapa pasien dengan keluhan berbeda satu sama lain nya,tampak wajah mereka pun sama tegang nya seperti Dena.
"Bu..." Dena memegang lengan ibunya yang berdiri disamping nya.
"Apa ibu percaya kalau aku benar benar gagal ginjal seperti yang dokter bilang?" Dena bertanya hal yang membuat Ibu nya bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Dena tidak percaya bu,lihat Dena bu!Dena baik baik saja kan"... Dena berbicara terisak .
Ibu yang mendengar perkataan Dena rasanya tak mampu membendung bulir air di matanya,memeluk putri nya yang sedang terpuruk itu.
"Percayalah nak,apapun yang akan terjadi..takdir sang Pencipta itu sungguh indah",ibu mencoba menenangkan Dena sementara Ayah tak kuasa melihat pemandangan haru di depan nya lebih memilih memalingkan wajah,menarik nafas panjang agar tak ikut menangis bersama istri dan anak nya.
"Nona Dena Sanlova"... seorang petugas laki laki muncul dari dalam ruangan menyebut nama Dena.
"Silahkan masuk Nona" mempersilahkan Dena masuk dengan bantuan perawat yang tadi mengantarkan nya.
Sementara itu,Ayah dan ibu tidak diizinkan masuk.Hanya pasien yang bisa masuk ke Ruangan.
Jantung Dena kian berdegup kencang,ini pertama kalinya ia berhadapan dengan peralatan peralatan medis yang asing di penglihatan nya. Dena melihat beberapa layar di ruangan itu. Seorang dokter Spesialis Urologi tampak duduk memeriksa data data yang dibawakan perawat yang mengantarkan Dena.
Dena berbaring di atas tempat tidur yang sudah di siapkan,seorang petugas perempuan membantu membuka sedikit pakaian yang ia kenakan.
"Hhhmm...masih muda ya"..terdengar suara dokter tersebut berbicara pada staff nya setelah melihat berkas berkas yang ia pegang.
Dokter menghampiri Dena.
"Apa yang anda rasakan Nona?" tanya dokter lembut
" Hanya mual dok,seperti mau muntah,lemas" jawab Dena tidak terlalu bersemangat.
"Baiklah,kita mulai ya" lanjut sang dokter
Petugas perempuan yang membantu sang dokter mulai mengoleskan cairan bening berbentuk gel di perut area pinggang sebelah kanan dan kiri Dena.
Tampak layar monitor di depan nya dengan gambar hitam putih samar yang tidak di mengerti Dena.
"Sudah selesai"..ucap sang dokter
"Nanti hasil nya akan diserahkan ke dokter spesialis ginjal yang menangani Anda nona"...
"Terima kasih dok"balas Dena
"Semangat ya,berdoa yang terbaik" ucap dokter mencoba menyemangati pasien muda yang bisa ia baca raut wajahnya sedang menyembunyikan kecemasan.
Dena mengangguk pelan kepala nya,kembali ke ruangan rawat inap masih di temani kedua orang tuanya.
**** Wajah Dena semakin terlihat pucat dan kelelahan,rasa mual semakin lebih sering terasa. Makan siang hari ini masih dengan menu masakan rumah sakit,Dena berhasil dengan terpaksa menelan nasi di hadapan nya. Tapi tidak lama berselang,Dena semakin tidak bisa menahan rasa mual yang menyebabkan ia memuntahkan semua yang ia makan.
Sebagian tubuh nya terasa dingin,hampir tidak bisa merasakan apa apa. 3 kantong darah sudah disiapkan petugas Rumah sakit untuk dilakukan transfusi.
Dena menatap sayu Ayah nya,mengatakan apa yang ia rasakan saat ini benar benar membuatnya takut.
"Sabarlah nak,tidak semua hal bisa kamu selesaikan sendiri.Untuk hal hal di luar jangkauanmu kamu harus belajar sabar dan mengikhlaskan nya" Ayah mencoba menenangkan Dena.
Semakin berusaha mengikhlaskan,semakin tenang perasaan.
__ADS_1
Suara pintu ruangan terdengar terbuka,seorang perawat dan seorang lagi perempuan paruh baya yang bisa ditebak oleh Dena kalau dia adalah Dokter spesialis ginjal yang akan menanganinya.
"Siang,Dena.."sapa dokter itu dengan lembut
Dena yang sedari tadi merasa lemah hanya menjawab dengan anggukan kecil.
"Ini orang tua Dena ya?" tanya sang dokter beralih pada ayah
" Iya dok"..
"Baiklah,ini saya sudah membawa hasil usg Dena".. sang dokter menunjukkan kertas kecil hitam putih hasil USG tadi pagi,tidak berbeda jauh dengan hasil USG kandungan yang pernah Dena lihat saat Kak Anjani hamil.
"Dari hasil ini,sudah bisa di pastikan tegak diagnosa kalau kedua ginjal nak Dena sudah mengalami kerusakan.Beruntung kantung kemih masih terlihat bagus sehingga masih bisa buang Air kecil" jelas sang Dokter
Dena sudah menyiapkan hati untuk segala kemungkinan terburuk yang ia dengar. Tahukah kalian bagaimana sakitnya ketika kita merasa hancur tapi sudah tidak mampu mengeluarkan air mata.
"Kenapa bisa dok?" tanya Dena masih tidak percaya dan butuh alasan
" Saya masih muda,saya selama ini sehat dan tidak merasakan sakit yang serius,saya selalu makan makanan sehat,minum air putih cukup,olahraga cukup,lalu kenapa harus saya?"..Dena memberondong dengan rentetan pertanyaan yang lebih tepat nya disebut penolakan.
"Kalau kasus yang terjadi pada pasien muda seperti anda kemungkinan karena auto imun,bisa juga karena hipertensi menahun yang tidak disadari dan terlambat diobati"jelas sang Dokter
"Saran saya,kamu harus segera melakukan hemodialisa atau cuci darah"
"Ini udah stadium 5,sebelum racun dalam tubuh menyerang ke otak bisa menyebabkan koma atau kelumpuhan" perkataan Dokter semakin terdengar menakutkan di telinga Dena
Seketika Dena berteriak kencang sambil menangis,meronta ronta dengan sisa tenaga yang ia punya sambil berkata "AKU MAU PULANG....."....
Ayah memeluk Dena,menenangkan putri nya yang masih tidak bisa menerima apa yang telah terjadi.
"Dok,apa harus sekarang kami mengambil keputusan untuk melakukan cuci darah?" tanya Ibu
" Secepatnya bu,karena kedua ginjal anak ibu sudah tidak berfungsi untuk membuang racun di dalam tubuhnya. Kalau dibiarkan terlalu lama,racun itu akan menyebar kemana mana dan hanya akan merusak organ organ yang lain" Dokter mencoba memberikan pengertian.
"Apa tidak ada cara lain?" Dengan obat obatan misal nya?"
Dokter menggelengkan kepala
"Tidak ada obat untuk penderita gagal ginjal,obat obat yang kami berikan hanya sebagai penunjang kesehatan pasien seperti halnya vitamin" dokter paruh baya itu dengan sabar menjelaskan nya
"Ada cara lain,transplantasi ginjal atau donor ginjal" tapi itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat karena butuh proses yang lama dan tentu saja dengan biaya yang besar"
"Untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah hemodialisa" sekali lagi Dokter itu meyakinkan pada Ayah,Ibu dan Dena kalau itu harus segera dilakukan.
"Saya kasih waktu ibu dan bapak untuk mengambil keputusan sampai besok pagi" sang Dokter kemudian keluar dari ruangan.Menyisakan Dena dan kedua orang tuanya dengan seribu kebimbangan.
Dena memejamkan matanya,mengurai satu per satu benang kusut di fikiran nya. Memikirkan masa depan yang rasa nya sudah hancur,karir nya? pekerjaan nya? cita cita nya? Mimpinya bertemu lelaki teduh itu???
Jangankan untuk menyesali,untuk mengeluh pun rasa nya sudah tak berarti.Nikmat ini....sudah lebih dari cukup.Ketika kebahagiaan sedang tidak berpihak kepada mu,maka janganlah kamu membenci dirimu sendiri.
__ADS_1
"Ayah....Ibu...aku hanya ingin tertidur"