Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Dinner


__ADS_3

" Puji... apa kau bisa membantuku?", hari itu untuk pertama kalinya Dena meminta bantuan puji.


Tentu saja dengan senang hati perempuan itu mengiyakan permintaan Dena.


" Tapi ini bukan masalah pekerjaan"


Puji memutar bola mata nya bingung dengan si pendiam ini yang tiba tiba meminta bantuan namun bukan tentang pekerjaan. Memang apa yang bisa aku lakukan untuk nya diluar tumpukan tumpukan laporan yang menggunung ini, fikir Puji.


Akhirnya Dena memulai cerita dari menceritakan Hasbi adik laki laki nya yang batal menikah gara gara diri nya . Namun Dena tak mengatakan secara detail duduk permasalahannya mengenai penyakit nya.


Ia hanya mengungkapkan kalau ia merasa bersalah atas hal itu, sebab itulah ia berniat mencarikan adik nya itu seorang kekasih.


" Dari cerita mu,aku bisa membayangkan adik laki laki mu tampan. Kenapa tak kau jodohkan saja ia denganku, hehehe" , Puji terkekeh sambil menyibakkan rambut nya berlagak seperti seorang yang pantas dijadikan target.


" Ciihhh... mana sudi aku punya adik ipar yang genit sepertimu. Kau selalu jatuh hati kepada setiap pria tampan, Adrian contoh nya", umpat Dena dalam hati.


Dena kemudian menceritakan rencana nya kepada Puji. Kemudian mereka berdua mengatur strategi serta menentukan tempat yang pas untuk rencana mereka tersebut.


" Bagaimana, kau setuju kan untuk membantuku" , tanya Dena memastikan.


" Tentu saja, tapi kalau rencana mu tidak berhasil sebaiknya kau relakan adik laki laki mu untuk menjadi jodohku, hahaha..", Puji tertawa terbahak menggoda Dena. Ia sangat senang melihat wajah sebal teman baru nya yang cantik ini.


Dena nampaknya sudah mulai membuka diri untuk bersahabat dengan Puji. Perempuan ini humoris, tidak mudah tersinggung dan tentu saja ia sepertinya tulus ingin bersahabat dengan Dena. Puji adalah sahabat pertama bagi Dena setelah sekian lama ia sibuk dengan dunianya sendiri,seorang diri.


Dena mulai menjalankan rencana awal nya dengan mengirim pesan singkat untuk Laras.


" Laras..nanti malam ada waktu nggak nemenin aku makan diluar",..... SEND.


Laras menerima pesan dari Dena, masih bertanya tanya kenapa tiba tiba Dena mengajak nya makan malam padahal selama ini mereka hanya sebatas bertemu di ruangan hemodialisa dan jarang berkomunikasi diluar itu.


Namun Laras menghargai ajakan Dena, ia berfikiran positif mungkin saja Dena sedang butuh teman untuk ngobrol.


" Baiklah, kebetulan aku nanti malam aku sedang tidak ada acara apapun. Mau makan malam dimana?", Laras membalas pesan dari Dena .


Dena melonjak kegirangan menerima pesan dari Laras. Kemudian ia menyebutkan nama Cafe tempat mereka akan bertemu malam ini, yang letak nya ada di Pusat kota.


Satu langkah sudah aman, gumam Dena. Ia tinggal menjalankan tugas kedua yaitu menghubungi adik nya. Ia lebih memilih menelepon Hasbi dibandingkan mengirimkan pesan, karena adik nya ini pasti lama membalas pesan nya. Mudah mudahan saja Hasbi tidak lembur di kantor nya hari ini, gumam Dena.


" Siang Hasbi, apa kau sedang sibuk?", Dena sudah tersambung dengan Hasbi di telepon.


" Sedikit kak, ada apa?"


" Maaf aku mengganggu waktumu, aku hanya ingin mengajakmu malam ini makan di cafe XX ( Dena menyebutkan nama cafe yang sudah mereka rencanakan)"


" Aku hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan kak, jadi sepertinya aku pulang agak telat"


" Lagian tumben Kak Dena mau makan malam diluar, bukan nya gajian kak Dena masih lama, hehehe" , Hasbi tertawa di ujung telepon.


" Ayolah Hasbi, temani kakak mu ini.. Please...",


Dena memohon.


Hasbi tak tega rasanya menolak ajakan kakak nya, " daripada nanti ia mengajak lelaki beristri itu menemaninya, lebih baik aku terima ajakan nya", fikir Hasbi.


" Baiklah, demi kakak ku yang cantik nanti malam sepulang dari kantor kita langsung ketemuan di cafe".


" Nah gitu dong, itu baru nama nya adik yang berbakti, hehehe"


" Jam 7 malam ya aku tunggu, jangan telat"


" Bye Hasbi"....


" Bye Kak Dena, sampai jumpa nanti malam".


Sambungan telepon di tutup.

__ADS_1


Dena menepuk punggung Puji,melihat teman nya itu yang sedang menggigit ujung pulpen sambil memikirkan sesuatu


" Hey, kau kenapa melamun begitu?", tanya Dena heran kepada Puji yang biasanya tak henti berkicau


" Aku sedang bingung, nanti malam bagusnya aku pakai kostum apa ya?"


" Gaun atau celana jeans ?", dengan santai Puji menjawab .


Dena menepuk keningnya sendiri..


" Astaga Puji... dinner ini bukan untuk dirimu tapi untuk adik ku dan Laras"


" Jadi berhentilah membuat dirimu spesial".


Puji cemberut mendengar ucapan Dena.


" Tapi aku juga kan ingin terlihat cantik, siapa tau nanti aku bisa jadi pemain cadangan, hahaha", Puji masih percaya diri dengan skenario keduanya.


" Sudahlah, hentikan halusinasi mu... sekarang lebih baik kita ke kantin untuk makan siang", Dena menarik lengan Puji .


Dan,sepasang sahabat baru itu sekarang sudah mulai terlihat akrab dan tak canggung lagi saling melempar canda.


...****************...


CAFE XX, pukul 07.00 malam...


Dena sudah hampir sepuluh menit duduk di kursi yang sudah dia pesan di cafe yang berkonsep alam terbuka itu. Lampu lampu hias tertata indah di semua penjuru cafe. Live music di panggung kecil depan halaman cafe kian menciptakan suasana romantis.


Puji memang tepat memilih tempat ini untuk dinner. Dena kembali teringat akan Mas Adam, andai saja ia bisa makan malam berdua dengan lelaki itu disini pastilah adegan adegan romantis akan banyak tercipta.


" Ahhh...tapi apa pantas aku bermesraan dengan suami orang di tempat umum begini, bisa bisa aku di labrak istrinya", gumam Dena.


Dena melirik jam di pergelangan tangan nya, sudah jam tujuh tetapi Hasbi maupun Laras belum tampak batang hidung nya.


Ia mengeluarkan ponsel dari tas nya, mengirimkan pesan kepada Laras menanyakan keberadaan nya.


Lima menit kemudian Laras sudah tiba di cafe, Dena melambaikan tangan ke arah Laras.


Laras terlihat cantik malam itu dengan Dress hijau muda selutut bermotif abstrak yang nampak pas di tubuhnya.


" Maaf menunggu lama" , ucap Laras.


Mereka kemudian memesan minuman dan makanan andalan di cafe itu.


" Ada apa Den mengajakku makan malam, ehh maaf Kak Dena", ucap Laras meralat panggilan nya kepada Dena yang usia nya memang lebih tua diatas nya.


Belum sempat Dena menjawab, Hasbi berjalan setengah berlari menghampiri Dena dan Laras.


" Maaf kak aku datang sedikit terlambat"


" Ehhh.. kau?", Hasbi kaget melihat keberadaan Laras.


Apa apaan ini, kenapa Kak Dena tak memberitahuku kalau makan malam nya tak hanya berdua, tapi ada Laras juga disini..Hasbi menggerutu.


" Tau begitu kan aku pulang dulu ke rumah, mandi dan ganti pakaian, tidak dengan pakaian kantor dan wajah kusam seperti ini"..


Hasbi duduk di kursi kosong sebelah Laras.


Perempuan itu juga tampak tak mengerti sebenarnya ini makan malam apa, kenapa Dena mengajak serta adik laki laki nya.


" Maaf ya Laras, aku mendadak mengajak adik ku kesini karena kebetulan dia sedang dalam perjalanan pulang dari kantor", Dena menginjak kaki Hasbi mengisyaratkan untuk menuruti sandiwara nya.


" Ehh...iya benar begitu", Hasbi terbata bata.


Laras tersenyum melihat wajah Hasbi yang seperti salah tingkah.

__ADS_1


Hasbi kemudian memesan makanan dan minuman. Ketika pelayan mengantarkan pesanan mereka ke meja, di saat itulah skenario berikut nya terjadi.


Dari kejauhan Puji datang kemudian berjalan mendekat ke arah Dena.


" Dena, kau sedang disini juga?", tanya Puji bersandiwara seolah olah pertemuan mereka tak disengaja .


" Hey... Puji kau juga sedang apa disini, sendirian?", tanya Dena menjalankan strategi yang telah mereka atur tadi siang.


Laras dan Hasbi semakin dibuat bingung, ini makan malam bertema apa ya. Kenapa tiba tiba ada saja yang hadir di meja ini.


" Ohh iya kenalin ini Puji teman sekantor ku", Dena memperkenalkan Puji pada Hasbi dan Laras.


" Puji.."


" Hai.. Aku Laras"


" Hasbi"


Mereka bertiga saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing masing.


Puji masih sempat nya melirik Hasbi dan bergumam " Kakak nya saja cantik, pantas saja kalau adik nya setampan ini, hehehe".


Dena mengedipkan mata ke arah Puji, memberi isyarat untuk menjalankan adegan berikutnya .


" Jangan sampai ia lupa dengan skenario kami hanya gara gara ia terpesona memandang adikku, dasar Puji genit....", umpat Dena.


" Ohh ya Den, aku datang kesini sendirian aku frustasi karena baru saja putus dengan pacarku"..


" Kau mau kan menemaniku makan dan mendengarkan curhatan ku", Puji memasang tampang memelas dan sedih seolah olah benar ia sedang patah hati . Padahal dalam hatinya ingin tertawa dengan bualan nya yang mengatakan ia putus dengan pacarnya.


" Bagaimana mau putus, pacar saja aku tak punya", ia terkekeh dalam hati.


" Baiklah, aku akan menemanimu".


" Sungguh??", Puji memasang ekspresi wajah berbinar.


Dena merasa geli sendiri dengan akting Puji, kalau saja ada penghargaan penghayatan peran terbaik maka Dena yakin Puji layak mendapatkan nya.


" Laras, Hasbi..kalian lanjutkan makan berdua ya".


" Aku minta maaf karena aku harus menemani Puji'.


Dena dan Puji memilih meja di ujung Cafe tak begitu jauh dari meja Hasbi dan Laras.


" Kenapa jadi begini, malah aku ditinggal berdua dengan Laras?", Hasbi mulai mencium gelagat aneh kakak nya .


" Awas kau Kak Dena, nanti di rumah aku akan mengadakan sidang untuk mu", umpat Hasbi.


Hasbi dan Laras tampak canggung berdua, bingung harus berbicara apa. Laras mengambil inisiatif untuk membuka topik pembicaraan .


" Kau baru pulang bekerja jam begini?", tanya Laras sambil memperhatikan Hasbi yang masih memakai kemeja panjang lengkap dengan dasi dan memakai sepatu pantofel.


" Iya, aku lembur kerja hari ini biasanya sore hari juga sudah pulang", jawab Hasbi sedikit gugup berhadapan dengan Laras.


Mereka akhirnya bercerita panjang lebar, saling membagikan kisah sehari hari mereka. Suasana yang awal nya tampak kaku lama lama berubah menjadi menyenangkan. Mengalir begitu saja keakraban di antara mereka.


Sementara itu, dari kejauhan Dena tersenyum girang melihat rencana yang ia atur sedemikian rupa berjalan mulus. Hanya Puji yang wajah nya terlihat masam..


" Yahh... gagal sudah aku menjadi peran pengganti wanita malam ini"..


Dena menimpuk lengan Puji dengan tas nya,


" Berhentilah bermimpi untuk jadi adik ipar ku".


Dinner pertama Hasbi dan Laras berjalan lancar malam ini. Mereka saling bertukar nomor ponsel. Dena pulang ke rumah dengan senyum keberhasilan. Ia sepertinya harus bersiap sebagai terdakwa dengan sidang tertutup yang akan Hasbi adakan nanti di rumah.

__ADS_1


...----------------...


Bagaimana ya kalau Hasbi dan Laras saling jatuh cinta... apa mungkin Laras bisa menggantikan posisi Amira di hati Hasbi? Lanjut episode yang akan datang ya🥰


__ADS_2