
" Kak Dena, bisa aku bicara suatu hal padamu?,
ucap Hasbi malam itu selesai makan malam bersama .
" Tentu, bicaralah".
Dena berjalan ke arah sofa di depan televisi yang diikuti oleh Hasbi.
" Duduklah disini, apa yang mau kau bicarakan?".
Dalam hatinya berharap, jangan sampai yang akan dibahas adalah masalah pernikahan lagi.
" Kak.... menikahlah".
Lemas rasanya tubuh Dena mendengar kata kata menikah.
" Buktikan padaku kalau kak Dena sudah tidak ada perasaan lagi dengan laki laki itu".
" Tuhan.. bagaimana ini, bukan nya menghilangkan perasaan tetapi malah tidur dengan lelaki itu".
" Aku tidak bisa terburu buru memutuskan hal besar seperti itu", ucap Dena.
" Adrian pria yang tepat untuk mu Kak, jangan biarkan ia menunggu terlalu lama".
" Kakak ingin melihatku bahagia kan?"tanya Hasbi.
" Tentu saja".
" Aku akan sangat bahagia jika aku menikah dengan orang yang aku cintai, tapi sebelum itu terjadi aku ingin kak Dena menikah duluan".
Dena menelan ludah, menghela nafas panjang.
Masih lekat di ingatan nya, Hasbi yang batal menikah hanya karena dirinya.
Dan kali ini apa dia tega membiarkan adiknya batal menikah lagi karena menunggu dirinya yang tak kunjung menikah.
" Beri aku waktu untuk berpikir", ujar Dena.
" Baiklah kak, secepatnya ambillah keputusan".
" Maaf kalau aku terkesan mendesak Kak Dena".
" Ini semua demi kebaikan kakak".
*** Malam itu Dena kembali tak bisa tidur, ia sudah menenggak beberapa pil yang harus nya menimbulkan rasa kantuk. Namun sampai larut begini ia masih tak bisa memejamkan mata nya .
Ia harus berpikir cepat, berpikir matang untuk segera mengambil keputusan.
" Ayolah Dena, gunakan logika mu kali ini".
" Jangan hanya andalkan hatimu".
Segala baik buruk dan resiko apapun atas keputusan nya sudah ia pertimbangkan matang matang .
Hanya ada dua pilihan.
Pilihan pertama ia menikah dengan Adrian, lelaki itu meskipun belum seutuhnya ia cintai namun pasti akan menjadi suami yang baik untuknya. Namun ada resiko atas pilihan itu, belum tentu Adrian bisa terima kalau Dena ternyata sudah di jamah lelaki lain. Karena mau tidak mau ia harus jujur untuk hal yang satu itu, tentang keperawanan.
Pilihan kedua ia menikah dengan Mas Adam, lelaki yang ia cintai begitu dalam. Ia pasti akan menjaga dan merawat Dena dengan baik. Namun resiko nya ia harus dibenci oleh banyak orang karena di nilai menjadi orang ketiga. Beluk tentu juga keluarganya bisa menerima Mas Adam menjadi suaminya.
Lama ia berpikir, menimbang lagi apa yang menjadi keputusan nya.
Mengingat kebaikan kebaikan kedua lelaki itu, lalu menilai kelebihan dan kelebihan masing masing.
Malam itu, Dena baru tertidur ketika ia sudah mendapatkan jawaban yang di tunggu Hasbi.
Ia sudah bertekad, kali ini tak akan ia ubah lagi keputusan nya .
*** Minggu pagi
" Hasbi, temani aku jalan pagi di sekitar taman yuk".
" Hhmm..siap kak , Ayo aku juga mau cari keringat".
Di taman tak jauh dari rumah mereka, sudah ramai dipenuhi pengunjung tiap akhir pekan seperti ini untuk berolahraga kecil.
Dena menyeka keringat yang mengalir di pelipis nya, ia menenggak air mineral dingin yang ia beli di taman .
Ada banyak penjual makanan disitu, kalau saja Dena tidak mengidap penyakit kronis itu pastilah ia sudah membeli jajanan yang banyak jenis nya .
Mereka duduk di sebuah bangku kecil di taman, Dena memijit kaki nya yang terasa pegal.
__ADS_1
" Hasbi, semalam aku sudah berpikir matang",
Dena mulai menyatakan maksud nya.
" Tentang pembicaraan mu semalam".
" Aku setuju untuk segera menikah".
Diam sejenak, belum melanjutkan kalimatnya .
Ia menarik nafas panjang, berpikir cepat sekali lagi sebelum mengatakan nya.
" Dengan Adrian".
Hasbi mendapat kabar bahagia sepagi itu, ia menepuk bahu kakak nya.
" Aku tau kakak pasti akan mengambil keputusan tepat itu".
" Sebenarnya Adrian sudah lebih dulu menyatakan keinginan itu padaku, cuma aku belum memberi nya jawaban".
" Hari ini aku akan mengatakan padanya kalau aku siap menikah", meskipun ada nada terpaksa dalam ucapan itu namun ia sudah tak ingin lagi menoleh ke belakang yang hanya akan membuat nya ragu.
" Mungkin butuh sedikit waktu untuk persiapan semua nya".
" Aku harap kau sabar untuk proses itu", ucap Dena.
Hasbi mengangguk lega, ia tak peduli berapa lama proses yang dibutuhkan kakak nya.
Yang terpenting baginya, Kak Dena sudah bertekad untuk menikah dengan Adrian.
" Ada satu lagi hal yang mau aku sampaikan padamu Hasbi".
" Dan aku minta bantuan mu untuk itu".
" Aku akan selalu siap membantumu Kak, katakanlah".
" Aku .. aku..."
Berpikir sekali lagi sebelum mengatakan nya.
" Aku ingin cuci darah ku pindah ke rumah sakit XX".
Hasbi bisa mengerti apa yang dirasakan kakak nya, ia tau permintaan yang seperti itu karena ia sebenarnya masih sulit untuk melupakan Mas Adam .
Dengan cara tidak bertemu dengan laki laki itu lagi, mungkin bisa membantu perlahan lahan menjauh.
" Baiklah kak, jika itu keputusan kakak"
" Secepatnya aku urus berkas berkas untuk memindahkan jadwal kakak di rumah sakit lain".
" Mudah mudahan masih ada slot kosong di rumah sakit itu".
" Terima kasih ya Hasbi, maaf kalau kakak mu ini selalu merepotkan mu".
" Dan satu lagi, tolong jangan katakan alasan ku pindah rumah sakit kepada Ayah dan ibu".
" Katakan saja kalau fasilitas yang ada di rumah sakit baru nanti lebih baik dibanding yang sekarang".
Hasbi mengangguk, menyetujui pemikiran kakaknya.
*** Seperti hari hari minggu sebelum nya, Adrian selalu datang ke rumah Dena di sore hari.
Entah sekedar untuk berbincang di rumah saja atau pun terkadang menghabiskan waktu akhir pekan untuk jalan jalan berdua.
Sore itu mereka hanya duduk santai di taman kecil di halaman rumah Dena.
Adrian memainkan rambut indah Dena yang terurai dengan ujung jarinya.
Menatap lembut perempuan kuat dan tegar di hadapan nya.
" Adrian...."
" Iya, ada apa?".
" Aku ingin menyampaikan kabar baik untuk mu".
" Kabar baik, apa itu?", Adrian terlihat berbinar matanya tak sabar mendengar jawaban Dena.
" Aku sudah memutuskan untuk menyetujui permintaanmu agar kita segera menikah".
" Dena kau serius? Aku tidak salah dengarkan?", Adrian ingin Dena mengulang lagi ucapan nya.
__ADS_1
" Iya, aku serius"
" Aku mau menikah denganmu".
Adrian tak tau lagi ingin berkata apa, rasanya ini adalah kebahagiaan pertama yang benar benar ia rasakan selama menjalin hubungan dengan Dena.
" Terima kasih Dena, kakak ku pasti akan sangat senang mendengarnya".
" Adrian, apa kau tau persiapan apa saja untuk menikah?".
Adrian tertawa mendengar pertanyaan polos kekasih nya .
" Hahaha, aku juga kan belum pernah menikah Dena"
" Tapi yang paling penting harus menyiapkan hati untuk memulai berumah tangga".
" Mudah mudahan hatiku sudah siap sampai hari pernikahan itu tiba", batin Dena.
" Mungkin yang pertama yang harus kita lakukan adalah lamaran Den, aku akan membawa kakak ku datang menemui orang tuamu".
" Nanti biar kita putuskan bersama waktu yang tepat untuk menikah".
" Ehhh...itupun kalau orang tuamu menerima lamaran ku, hehehe".
Dena bergumam dalam hati,
" Tentu saja orang tuaku menerima mu, mereka sangat menyukaimu Adrian".
" Mungkin kalau ibu masih gadis, ia bahkan akan menjadikan mu suaminya, hehehe", Dena tertawa geli membayangkan nya.
" Adrian, sebenarnya masih ada dua hal yang mengganjal di hatiku", Dena berkata pelan.
" Apa lagi Dena, bukankah sudah ku katakan aku mencintaimu dan akan menerima apapun yang ada dalam dirimu", Adrian meyakinkan Dena.
" Aku tau itu, tapi yang aku takutkan kakak mu tidak akan merestui mu denganku jika ia tau aku ini bukan perempuan yang sehat".
" Aku takut hanya akan menyusahkanmu, karena kondisi kesehatan ku tidak bisa ditebak bagaimana ke depan nya" .
Adrian menggenggam tangan kekasih nya itu, meremas nya .
" Dena, kau tak usah khawatir akan hal itu".
" Aku akan meyakinkan kakak ku kalau semua itu bukan halangan untuk aku menikahimu".
" Terima kasih Adrian, kau mau menerima aku yang tak sempurna ini".
" Sudahlah Den jangan berkata seperti itu, di mataku kau sudah sangat sempurna".
" Lalu hal apa lagi yang mengganjal hatimu?".
" Tadi kau bilang ada dua hal".
Dena berubah cemas, ia rasanya tak mungkin mengatakan hal itu sekarang.
Satu hal lagi yang mengganjal di hatinya, hal yang jika ia sampaikan akan membuat kecewa lelaki itu.
Bisa jadi ia bahkan membatalkan rencana untuk menikah.
Meski bagaimanapun suatu hari ia pasti akan mengatakan nya, tapi tidak untuk sekarang.
Ia belum siap mengatakan pada Adrian kalau ia sudah tak perawan lagi, seperti yang Adrian kira.
" Sudahlah Adrian, kau tak perlu mendengarnya sekarang" .
" Nanti juga kau akan tau, dan aku harap disaat kau tau kau tak kan pernah meninggalkanku".
Adrian mengangguk, tak mengira kalau hal yang satu ini tentu sangat penting baginya .
" Aku janji Dena, apapun yang kau katakan tentang ketakutanmu, kekhawatiranmu, semua bisa aku terima".
Langit sore mencatat perkataan Adrian kala itu, ia harus memegang ucapan nya sebagai seorang lelaki yang menepati janji.
...****************...
Yeayy ... pada seneng kan akhirnya Dena mau menikah dengan Adrian.
Eitss tapi ini belum berakhir ya, masih panjang lika liku nya.
Baca terus episode yang selanjutnya🥰
Jangan lupa pencet like n vote ya🙏🙏
__ADS_1