
Adrian siang itu memutuskan untuk pulang ke rumah Ibu.
Ia merasakan semakin kesepian jika harus pulang ke rumahnya, sudut mana pun di rumah itu selalu mengingatkan nya pada Dena.
Terlebih saat ia berada di kamar tidur mereka, bayangan malam malam panjang bersama Dena selalu ada di kamar itu.
Perempuan yang begitu ia cintai itu tak pernah menolak menunaikan kewajiban nya sebagai seorang istri di ranjang hangat mereka.
" Nak Adrian, istirahatlah di kamar", Ibu membuyarkan lamunan Adrian yang sedang duduk termangu di Ruang keluarga.
Ada Laras disitu yang sedang menggendong Viola.
" Bagaimana perkembangan Kak Dena saat ini?", Laras bertanya pada Adrian karena Laras belum menjenguk Dena sama sekali karena harus menjaga Viola.
" Masih sama seperti kemarin, tapi tadi sebelum aku pulang ia sempat mengeluarkan suara berbisik mengucap sesuatu, ia juga mengeluarkan air mata", Adrian menceritakan kejadian di Ruangan ICU tadi pada Laras, Ibu dan Hasbi.
" Kak Dena mengucapkan apa?", tanya Hasbi penasaran.
" Kupu kupu, sepertinya ia terus mengulang kata kata itu".
Hasbi nampak berpikir.
" Apa kak Dena mengingat saat ia cuci darah? sehingga ia menyebutkan kupu kupu, yang ia maksud sebenarnya jarum kupu kupu?".
" Aku juga berpikiran seperti itu", ucap Adrian .
Ibu pun berpikiran hal yang sama pada Adrian dan Hasbi.
Hanya Laras yang tak sepemikiran dengan mereka. Namun Laras tak berani mengutarakan nya.
" Habislah aku kalau aku ceritakan tentang bros kupu kupu itu, pasti Adrian dan Hasbi akan sangat kecewa padaku dan Kak Dena", gumam Laras dalam hati.
Ya, Laras bisa menebak kalau sebenarnya kupu kupu yang dimaksud Kak Dena adalah bros kupu kupu bukan jarum kupu kupu.
" Sayang, bisa pegang Viola sebentar, aku mau ke kamar mandi", Laras memberikan Viola pada Hasbi.
Ia tak sungguhan ingin ke kamar mandi, ia hanya butuh ruang untuk berpikir.
" Sepertinya Kak Dena perlu bertemu Mas Adam, barang kali itu bisa membuatnya sadar", Laras terus berpikir di kamar mandi .
Namun ia tak tau bagaimana caranya mempertemukan Mas Adam dengan Kak Dena, Adrian dan suaminya pasti tak akan mengizinkan itu.
Otak nya berpikir cepat, meski ia sebenarnya sedikit lemot namun untuk hal hal tertentu otaknya bisa menjadi cemerlang.
Ia tersenyum seperti menemukan ide. Laras keluar dari kamar mandi kemudian bergabung lagi di ruang keluarga.
" Kak Adrian, apa besok aku boleh menjenguk Kak Dena? Aku kan perawat, aku mungkin bisa sedikit membantu nya memberi rangsangan agar ia cepat sadar. Tapi aku butuh beberapa barang pribadi milik Kak Dena", Laras nekad menawarkan ide itu pada Adrian.
" Barang pribadi seperti apa?", tanya Adrian.
" Entahlah, mungkin aku bisa meminjam tas yang terakhir Kak Dena pakai?", Laras berharap Kak Dena menyimpan bros kupu kupu itu di dalam tas nya.
Adrian mengingat kembali tas yang terakhir Dena pakai saat hendak rawat inap di rumah sakit sebelum operasi.
" Iya bisa Ras, tas itu ada di mobil ku. Beberapa barang milik Dena masih ada di dalam tas itu", ucap Adrian.
__ADS_1
Laras seperti mendapat angin segar.
" Kebetulan besok aku harus bekerja Ras, sudah tiga hari aku izin tidak masuk. Jadi besok aku sepertinya tidak bisa menjenguk Dena ke rumah sakit"
" Kau tolong lihat perkembangan Dena ya", pinta Adrian.
Laras mengangguk, rencana nya semakin berjalan mulus.
Adrian mengambil tas milik Dena di dalam mobil dan menyerahkan nya pada Laras.
Laras masuk ke kamar, mengobrak abrik isi tas untuk menemukan benda yang ia cari.
" Ini dia, ketemu", Laras memegang satu buah bros kupu kupu. Yang satunya entah kemana, namun bagi Laras ini saja sudah cukup.
Ia tinggal menjalankan skenario berikutnya.
Ia mengintip Hasbi masih sibuk berbincang dengan Adrian sementara Viola sedang digendong ibu.
Laras mengambil ponsel nya, buru buru mengetik pesan.
" Mas Adam, maaf menggangu. Besok jam sebelas siang aku tunggu di Lobby rumah sakit" .
" Ada hal penting yang harus kita lakukan, ini menyangkut nyawa Kak Dena".
" Maaf aku tidak bisa menjelaskan nya disini".
SEND...
Mas Adam menerima pesan dari Laras.
Sudah lama sekali ia tak bersinggungan dengan nama Dena di hatinya semenjak pertemuan tak sengaja di Restoran cepat saji kala itu.
Tak ada niat untuk menyukai perempuan lain dengan status duda nya saat ini.
Ia membaca pesan dari Laras .
" Nyawa Dena??? Apa yang terjadi padanya??" Adam hanya bertanya dalam hatinya .
Ia tau jika Laras sudah mengatakan tak bisa membahas nya disini berarti Laras dalam keadaan takut ketahuan suaminya.
Adam hanya membalas
" Baiklah besok aku pasti datang".
Adam begitu cemas memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, karena memang ia tak tahu lagi kabar perempuan itu.
Ia bahkan tak tahu kalau Dena hamil dan sudah melahirkan. Ia seperti tak punya celah berkabar sedikitpun dengan perempuan itu.
****
Keesokan harinya, Lobby Rumah sakit
Adam sudah tiba di Lobby Rumah sakit setengah jam sebelum waktu yang di tetapkan Laras.
Ia tak ingin terlambat hari itu, biarlah ia yang menunggu.
__ADS_1
Lima menit sebelum pukul sebelas Laras tiba dan menemui Mas Adam yang sedang duduk di kursi tunggu .
" Mas Adam, syukurlah Mas Adam datang menepati janji".
" Laras, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?", Adam sudah tak mampu menutupi rasa penasaran nya dari kemarin.
" Kak Dena Mas....., ia sekarang koma di Ruangan ICU. Ini hari ke empat ia di Ruangan itu", Laras mulai bercerita.
" Koma?? Bagaimana itu bisa terjadi??", Wajah Adam pucat membayangkan perempuan itu sekarang sedang berada di masa kritis.
Tak pantas memang rasanya ia begitu mencemaskan Dena, ia sadar ia bukan siapa siapa di kehidupan Dena.
Tapi baginya, entah kenapa ia masih merasa bertanggung jawab atas kesehatan perempuan itu seolah dia masih perawat yang bertugas menangani Dena.
" Kak Dena koma setelah operasi caesar", jawab Laras.
" Caesar?? Maksudmu Dena hamil dan melahirkan??"
Laras mengangguk.
" Bodoh.. kenapa kalian membiarkan ia mempertaruhkan nyawa nya untuk hamil dan melahirkan. Kalian tahu kan resiko nya adalah kematian", nada bicara Adam meninggi, ia kesal namun entah siapa yang akan ia salahkan.
" Keluarga sudah melarang Kak Dena, namun ia bersikeras mempertahankan kehamilan nya Mas", Laras menceritakan semua yang terjadi.
Adam meremas rambutnya, ia bingung, cemas akan keselamatan perempuan itu.
Laras kemudian menceritakan tentang kata kata yang Kak Dena ucapkan kemarin yang sempat di dengar Adrian.
" Kau yakin yang ia maksud bros kupu kupu itu?", Adam bertanya.
" Yakin Mas, karena itu aku sengaja diam diam ingin mempertemukan Mas Adam dengan Kak Dena. Aku yakin Mas Adam bisa membantu".
Adam tentu saja menyambut baik maksud Laras yang ingin meminta bantuan pada dirinya .
" Ini bros kupu kupu itu", Laras memberikan nya pada Mas Adam.
" Ayo sekarang Mas, sekarang sudah jam besuk", Laras menarik lengan Mas Adam untuk buru buru naik ke lantai empat
Laras takut tiba tiba Adrian datang, meskipun tadi pagi ia mengatakan lagi tak bisa datang menjenguk Dena karena pekerjaan nya yang beberapa hari terbengkalai . Namun Laras takut Adrian berubah pikiran.
" Mati aku, bisa bisa dipecat jadi adik ipar", batin laras kalau sampai ketahuan.
Mereka berjalan di lorong Ruangan kaca.
Laras mempersilahkan Mas Adam yang terlebih dahulu masuk sementara ia menunggu di luar.
" Mas Adam, aku percaya Mas Adam bisa membuat Kak Dena sadar".
Adam melangkahkan kaki, masuk ke dalam ruangan ICU dengan degup jantung seirama dengan suara di layar monitor.
...----------------...
Rencana Laras kali ini berhasil nggak ya??
Apakah Dena akan sadar dari koma nya?
__ADS_1
Next.. jawaban nya di episode mendatang ya.
Ikuti terus up nya🙏🙏🥰