Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Tertampar oleh kata kata


__ADS_3

Kedua sahabat itu sudah berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan membawa dua buah parcel yang berisi buah buahan dan cake.


Mereka sedang mencari letak ruangan Rawat inap, Dena tidak hafal dengan seluk beluk rumah sakit ini karena bukan rumah sakit yang biasa rutin ia datangi.


Dena menelepon Adrian memastikan lagi dimana letak nya.


Tak lama , mereka sudah berada di depan pintu Ruangan sebuah Kamar VIP tempat kakak nya Adrian.


Adrian membuka pintu, menyambut kedatangan kedua orang tersebut. Lebih tepatnya menyambut kedatangan Dena.


Ruangan ini membuat orang yang berada di dalam nya merasakan sedang tidak di rumah sakit, karena lebih mirip dengan kamar hotel.


Sebuah tempat tidur berukuran Queen, terdapat sofa empuk dan sebuah meja di sudut ruangan. Ada televisi LED berukuran besar menempel di dinding, tak ketinggalan sebuah kulkas dan peralatan makan di rak kecil di sebelahnya.


Kamar mandi yang terletak di dalam ruangan itu juga tak kalah mewahnya, terdapat bath tub di dalam nya lengkap dengan air panas dan dingin.


Puji berdecak kagum ketika masuk ke ruangan itu, Dena menginjak kaki sahabatnya itu kemudian berbisik kecil .


" Jangan bersikap norak dan malu maluin".


" Tunjukkan kau gadis berkelas karena kakak nya Adrian itu seorang pengusaha kaya raya".


Puji berjalan membusungkan dada nya demi mendengar kalimat Dena barusan .


" Ayo Dena kemari, aku kenalkan kau pada kakak laki laki ku".


Mereka berjalan mendekat ke tempat tidur yang bentuk nya mungkin lebih bagus daripada yang ada di kamar Puji dan Dena, yang membedakan hanyalah ada sebuah infus beserta tiangnya di sisi kiri tempat tidur itu.


Seorang laki laki yang menurut perkiraan Dena seumuran Mas adam, berkulit sedikit lebih gelap dibanding Adrian, namun raut wajahnya hampir mirip hanya saja lelaki itu mempunyai rahang lebih kokoh dan terlihat tegas .


Jika di bandingkan dengan Adrian menurut Dena kekasih nya itu jauh lebih menarik daripada kakak nya . Tentu saja mungkin karena jarak usia di antara mereka .


Seperti biasa, Puji kembali meleleh setiap melihat lelaki yang kadar ketampanan nya sedikit di atas rata rata. Namun ia tahan untuk mengeluarkan kata kata pujian yang biasa ia ucapkan karena ia takut Dena akan mengusirnya dari ruangan ini.


Lelaki itu terpejam, dengan bahu sebelah kanan terbungkus perban sehingga ia mengenakan kemeja pendek yang hanya tersisip di lengan sebelah kiri nya .


Di pelipis nya tampak beberapa luka memar.


" Kakak mu sedang tertidur, biarkan ia beristirahat", ucap Dena.


Mendengar suara mereka berbincang kakak Adrian terbangun .


" Kak, kau sudah bangun".


" Maaf mengganggu istirahat kakak".


Kakak Adrian hanya tersenyum.


" Aku malahan sudah bosan tiga hari beristirahat disini, hahaha".


" Hey...Adrian siapa yang kau bawa".


" Ehh.. iya kak kenalin ini Dena, kekasih ku yang pernah aku ceritakan waktu itu".


" Dan ini Puji teman nya".


" Dena"


" Aku Puji", sambil tersenyum malu malu.


" Radit, aku kakak nya Adrian".


Mereka saling berjabat tangan.


" Adrian, aku tau kau tak pernah menurunkan standar mu dalam menilai perempuan, lihatlah betapa cantik kekasih mu, hahaha", kakak Adrian tertawa.


" Kau harus ekstra menjaga kekasihmu".

__ADS_1


Adrian tersenyum bangga mendengar pengakuan kakak nya.


Dena hanya tersenyum, dalam hati ia berkata


" Aku tak sebaik dan sesempurna yang kalian lihat".


Hanya Puji yang nampak malu malu mengulum senyum seolah pujian tadi di tujukan untuk dirinya.


" Jadi kapan kalian mau menikah?", Radit langsung to the point' dengan pertanyaan nya.


" Hah, menikah? kenapa sih akhir akhir ini orang orang di sekelilingku senang sekali membahas tentang menikah", Dena menggerutu dalam hati.


" Kalau kakak tidak keberatan aku menikah duluan, secepatnya aku akan melamar Dena untuk menjadi istriku".


" Ehh...tentu saja kalau Dena sudah siap menikah denganku", Adrian meralat ucapan nya karena sampai saat ini ia tau Dena belum memberikan keputusan untuk menikah dengan nya.


" Pasti lah kekasih mu tak akan menolak jika kau mengajaknya menikah, iya kan Dena?", kak Radit bertanya langsung pada Dena .


" Ehh... iya kak", Dena menjawab begitu, dia pikir tak ada salahnya menyenangkan hati orang yang sedang sakit.


" Kau beruntung mendapatkan cinta adik ku Dena, dia tak pernah bermain dengan perasaan perempuan".


" Ia pasti akan mencintaimu dengan seluruh perasaan yang ia punya".


Wajah Adrian bersemu merah karena ucapan kakak nya .


" Hhmmm ....kak Radit jangan terlalu berlebihan".


Dena rasa apa yang diucapkan kakak nya Adrian amat sangat benar. Ia tau bagaimana Adrian.


Namun ia lah yang merasa tak pantas di cintai laki laki sebaik Adrian. Ia bahkan telah mengkhianati Adrian sebelum mereka menikah.


Ia juga tak tau dengan sikap nya sendiri, tak jelas mengambil langkah . Entah akan tetap bersama Adrian atau malah meneruskan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Mas Adam.


" Kak Radit sendiri bagaimana, apa ada perempuan yang kakak cintai?".


Puji yang mendengar itu merasa mendapat kesempatan untuk mengakhiri takdir jomblo nya sambil berdoa dalam hati,


"Tuhan, sisakan satu laki laki seperti ini untuk jodoh ku", kemudian ia mengamini doanya sendiri lantas cengar cengir tak karuan.


" Sebenarnya kakak sudah mempunyai pilihan kepada seorang perempuan".


" Dia mantan kekasih kakak dulu saat kuliah".


Kak Radit menghentikan kalimat nya sampai disitu.


" Kalau begitu tunggu apalagi kak, apa kak Radit sudah mengatakan perasaan kakak?".


Dena hanya jadi pendengar setia percakapan kakak beradik itu.


" Pasti akan kakak sampaikan, tapi nanti jika perempuan itu sudah resmi bercerai dengan suaminya".


" Glek..", Dena menelan ludahnya mendengar kata perceraian .


Ia teringat dengan Lisa istri Mas Adam, "Bagaimana ia sekarang , apa dia terpuruk dengan perceraian mereka yang sudah menanti di depan mata?".


Raut wajah Adrian berubah mendengar ucapan kakak nya .


" Hey.. Adrian kenapa wajahmu aneh begitu?".


" Jangan bilang kau berpikir kakak mu ini yang menyebabkan mereka bercerai, hahaha".


Radit terkekeh melihat ekspresi wajah Adrian.


" Syukurlah kalau begitu kak,aku kira..."


" Tak usah kau lanjutkan kalimat mu, kakak mu bukan seorang pecundang yang melakukan hal buruk hanya demi mendapatkan seseorang".

__ADS_1


Dena terlihat berkeringat dingin mendengar itu, ternyata kata kata bisa menampar lebih keras dibandingkan perbuatan.


Ia merasa apa yang diucapkan Kak Radit itu semua tentang dirinya.


" Dan satu lagi yang perlu kau ingat Adrian, jangan pernah jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain".


" Kakak paling benci dengan yang nama nya perselingkuhan, apapun itu alasan nya".


Adrian mengangguk dan tersenyum karena ia bisa meyakinkan kakak nya kalau ia bukan laki laki seperti itu. Ia menjunjung tinggi prinsip hidup nya untuk tidak jadi laki laki brengsek .


Lain hal nya dengan Dena yang sejak tadi merasa tersudut oleh kesalahan nya sendiri.


Ia memang egois, memang jahat, hanya karena memperjuangkan cinta pertama nya ia rela membuang harga dirinya.


Rasa bersalah hinggap semakin besar di hatinya, namun ia tak bisa memutar waktu untuk kembali ke masa dimana ia belum jatuh cinta pada Mas Adam .


Di dalam hatinya ia masih berusaha membela diri.


Dia berselingkuh dengan Mas Adam ketika laki laki itu memang sudah memutuskan untuk menceraikan istrinya.


Meskipun tak bisa ditampik, perceraian itu karena Mas Adam lebih mencintai nya.


Dan ia tak bisa menyalahkan dirinya sendiri atas hal itu, bukan kah ia tak pernah bisa memaksa perasaan seseorang.


" Adrian, sepertinya aku harus pulang".


Dena tak ingin masuk terlalu jauh dalam percakapan kakak beradik itu yang membahas perselingkuhan.


" Baiklah, kau hati hati di jalan ya".


" Kabari aku kalau sudah di rumah".


Dena mengangguk dengan wajah yang masih kaku.


" Kak Radit, aku pamit ya maaf mengganggu istirahatnya".


" Tidak apa apa Dena, senang berkenalan dengan mu".


" Kapan kapan kalau aku sudah sehat, kita bisa bertemu lagi".


" Tapi kau harus mau datang jika aku mengundangmu untuk double date "


" Kau dengan Adrian, aku dengan seseorang".


" Hehehe, doakan semoga ya".


Kak Radit berkata hangat di iringi gelak tawa.


Dena mengangguk dan pamit pulang, keluar dari ruangan itu.


Di perjalanan pulang, Puji terus merayu agar Dena jadi mak comblang antara ia dan kakak nya Adrian.


" Ayolah Dena, kau mau kan nanti aku yang jadi perempuan yang menemani kakak nya Adrian saat kau double date", rengek Puji.


" Sudahlah Puji, jangan terus mengeluarkan ide gila dari kepala mu".


Dena kali ini malas menanggapi permintaan Puji yang selalu aneh tiap melihat laki laki tampan yang masih jomblo.


Dena masih memikirkan percakapan Adrian dan kakak nya tadi.


" Bagaimana jika Adrian dan kakak nya tau kalau aku adalah perempuan yang baru saja menjadi selingkuhan suami orang?".


...****************...


Ikuti terus ya update berikutnya.


Jangan lupa like nya🥰🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2