Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Persiapan Operasi


__ADS_3

Kini langit telah membiru dan hatiku telah membentuk ruang ruang sendu yang berujung pilu.


Sesaknya rindu yang seakan menggebu ingin lekas bercumbu.


Hai cakrawala, sampaikan salam atas kedukaan hatiku, dimana ruang dan waktu tak lagi bersahabat untuk menyapa parasnya wajahmu.


Adrian masih duduk di balkon Apartemen malam itu, ia masih belum bisa tertidur.


Dua bulan sudah ia berada disini, meninggalkan istri dan anaknya jauh di kota sana. Kelip lampu yang mewarnai langit Ibu kota bisa Adrian lihat dari atas sini.


Ia sudah mengurus advokasi ke notaris, hanya tinggal menunggu panggilan untuk surat surat itu selesai. Mas Adam juga sudah mendaftar kan Adrian sebagai pendonor ginjal di Rumah sakit.


Adrian masih duduk termangu kala Mas Adam menghampirinya.


" Adrian, kau belum tidur?", tanya Mas Adam.


Adrian menoleh ke belakang, mendengar namanya dipanggil.


" Belum Mas, aku masih ingin menikmati angin malam", jawab Adrian singkat.


" Aku punya kabar baik untuk mu Adrian, berkas berkas di notaris sudah selesai".


Kalimat Mas Adam barusan terasa sama sejuk nya dengan angin yang berhembus malam ini.


Adrian memutar kursi roda nya, terlihat bersemangat.


" Sungguh? Jadi kapan kita bisa mulai?".


" Besok kita ke notaris untuk mengambil berkas berkas nya kemudian kau bisa langsung check up ke beberapa poli untuk memastikan kesehatan mu".


Malam itu, setelah mendengar berita menggembirakan dari Mas Adam, barulah Adrian bisa tertidur.


Hari berganti hari, hingga tak terasa saat ini sudah memasuki bulan ke enam Adrian berada di Ibu kota. Rindu nya sudah sangat membuncah, meski setiap hari ia dan Dena selalu berkomunikasi lewat sambungan telepon. Namun tak pernah mampu mengobati rasa rindunya pada perempuan itu. Perempuan yang biasanya selalu ia jamah di malam malam panjang nya.


Sedangkan Mas Adam selama enam bulan ini beberapa kali bolak balik dari Jakarta ke kota mereka. Banyak hal yang harus Mas Adam kerjakan, ia harus mengurus usaha nya dan tentu saja ia juga merindukan Juna putra nya.


Di bulan ke enam ini, di pagi hari Mas Adam mendapat telepon dari pihak rumah sakit.


" Selamat pagi, dengan Pak Adam?", suara perempuan terdengar menyapa di ujung telepon.


" Iya saya sendiri".


" Pak Adam , kami dari Rumah sakit XX ingin mengabarkan kalau pendaftaran untuk transplant ginjal atas nama Bapak Adrian Pamungkas sudah mendapatkan jadwal dari pihak tim transplant".


" Dan itu akan dilakukan dalam waktu dekat".


Petugas rumah sakit itu kemudian mengatakan waktu untuk transplant ginjal yang akan dilakukan dalam waktu kurang lebih dua minggu lagi.


" Hasil HLA crossmatch kepada penerima donor menunjukkan ada kecocokan, jadi operasi bisa kita lakukan".


" Harap pendonor datang ke Rumah sakit H-5 sebelum operasi karena akan di karantina di Rumah sakit selama 5 hari", ucap Petugas itu.


" Baiklah, terima kasih atas informasinya", jawab Adam.

__ADS_1


Petugas itu pun menghubungi Dena untuk menyampaikan informasi yang sama.


Adrian lah orang yang paling bahagia mendengar kabar baik itu.


Akhirnya penantian nya selama enam bulan di kota ini segera berakhir.


Ia memegang ponsel nya, menunggu Dena yang pasti akan menghubunginya.


Benar saja, tak lama ponsel nya berdering. Video call dari Dena.


" Sayang.......", suara girang istrinya itu memecah terdengar di Ruangan.


" Hey ..ada apa?", Adrian berpura pura bingung


" Akhirnya, aku akan menjalankan transplantasi ginjal dua minggu lagi. Aku akan ke Ibu kota, kita akan bertemu sayang. Aku bisa datang lebih awal untuk mengunjungimu", ucap Dena.


" Maaf sayang, sepertinya kita tidak bisa bertemu di tanggal seperti itu karena aku harus menjalani karantina untuk tahap akhir pengobatan ku di Rumah sakit", Adrian mencari alasan karena tak mungkin ia bertemu dengan Dena di apartemen ini. Ia juga memang benar akan menjalani karantina namun justru untuk menjadi pendonor ginjal bagi istrinya.


Wajah Dena terlihat kecewa, padahal ia sangat ingin bertemu dengan Adrian.


" Bersabarlah, setelah operasi mu selesai kita akan bertemu", ucap Adrian mencoba mengobati kekecewaan istrinya.


" Aku akan selalu mendoakan mu, semoga operasi mu dilancarkan dan kau akan kembali sehat".


Sambungan video call malam itu diakhiri dengan tawa Noah yang pecah ketika melihat wajah Adrian di layar ponsel Dena.


****


H-5 operasi transplant ginjal.


Adrian sudah terlebih dahulu masuk ke Ruangan untuk di karantina selama 5 hari dan melakukan screening ulang sebelum operasi dilaksanakan.


Sementara itu Dena masih menunggu di Ruang pendaftaran bersama Ibu dan Hasbi yang masih mengurus berkas berkas rawat inap.


Dena duduk di kursi tunggu,kemudian mengirimkan pesan kepada Adrian kalau ia sudah tiba di Rumah sakit.


Namun ia berhenti dengan ponsel nya, kala ia melihat seorang laki laki yang begitu mirip dengan Mas Adam lewat di ujung lorong tepat di hadapan ia duduk.


Dena ingin sekali memastikan kalau laki laki itu adalah Mas Adam, ia berlari mengejar laki laki yang hampir menghilang di balik tembok.


Ia mengejar langkah laki laki itu, berhasil dan sekarang ia tepat berada di depan nya.


Dena begitu yakin laki laki itu adalah Mas Adam, ia bisa tahu dari postur tubuh dan cara nya berjalan.


" Mas Adam", Dena tanpa ragu memanggil laki laki itu .


Mas Adam yang merasa ada yang memanggilnya seketika menoleh ke belakang.


Mereka sama sama terkejut, terlebih lagi Mas Adam. Ia berusaha menghindari pertemuan dengan Dena, tadi berkali kali ia menelepon Hasbi untuk menanyakan posisi nya saat itu agar tidak bertemu dengan Dena.


Namun ternyata justru perempuan itu sekarang berada di depan nya, menyapa nya.


Waktu seolah berhenti berputar kala mereka berdua saling bertatapan.

__ADS_1


Adam tak bisa menyangkal, ia masih mengagumi wajah cantik perempuan ini Menatap bibir nya yang membuat Adam tak tahan ingin ******* nya.


" Mas Adam kenapa disini?", tanya Dena, membuat waktu kembali berdetak.


" Eehhh, iya aku sedang mengunjungi kerabat ku yang dirawat di Rumah sakit ini", Mas Adam mencari alasan yang paling masuk akal.


" Kau sendiri mengapa berada disini?", ia pura pura tidak mengetahui apapun.


" Iya Mas, aku akan menjalani operasi transplant ginjal", ucap Dena dengan wajah bahagia.


" Sungguh?".


Dena mengangguk pelan dan tersenyum.


" Aku akan mendoakan yang terbaik untuk mu Dena, percayalah semua akan baik baik saja. Kau nanti tak akan pernah lagi merasakan sakitnya jarum kupu kupu", ucap Mas Adam mengenang Ruangan Hemodialisa dan jarum kupu kupu yang mempertemukan mereka.


" Ya, kupu kupu ini yang akan selalu menjagaku", Dena menunjuk bros kupu kupu yang ia kenakan di bajunya.


" Terima kasih kau selalu memakai nya, aku pun masih menyimpan kalung ini", Mas Adam mengeluarkan kalung di lehernya.


Dena tersenyum.


" Mas Adam, maaf aku harus kembali. Hasbi dan Ibu pasti mencariku", ujar Dena.


" Baiklah,sampai jumpa. Jaga kesehatan mu, semoga semuanya lancar".


Dena mengangguk berbalik arah.


Ternyata dunia ini begitu sempit ya, entah mengapa dimana pun ia berada ia selalu dipertemukan dengan Mas Adam.


Sementara Mas Adam belum beranjak sama sekali dari tempatnya berdiri, ia masih memandang Dena dari kejauhan hingga perempuan itu benar benar hilang dari pandangan matanya.


Sudahlah..


Aku tak ingin berdiskusi perihal hati yang sudah pergi itu lagi.


Aku tak ingin mengingat ingat hal yang susah payah kuabaikan.


Aku terlalu banyak berandai andai jika kita kembali membuka suara dan berbincang.


...----------------...


Tidak pernah ada yang kebetulan di dunia ini kan?


Semua yang datang pada kita telah ditakdirkan Tuhan.


Mereka punya porsi untuk membentuk pribadi kita .


Yang baik melatih kita untuk bersyukur.


Dan yang buruk melatih kita untuk bersabar.


Nyelesain 1 bab ini aja dari mulai cuci darah sampai selesai, hehehe..

__ADS_1


Karena dijeda mulu😁


Jangan lupa like n komen nya, dukung terus karya author ya🙏🙏🥰


__ADS_2