
Rindu yang paling pilu adalah rindu pada yang tiada.
Rindu yang paling sakit adalah merindu tanpa dirindu.
Rindu yang paling sesak adalah rindu pada yang bukan milik kita lagi.
Rindu yang paling ambigu adalah rindu tanpa temu.
Jarak bisa di tempuh, jauh bisa di dekatkan.
Namun kau bukanlah lagi hal yang sama.
Hadirmu tak akan kunjung ada karena raga yang telah sirna.
Hari ini satu minggu sudah kepergian Adrian.
Dena sudah mulai bisa menerima kenyataan kalau Adrian sudah tiada.
Malam malam nya hanya ia isi dengan mengirimkan doa pada almarhum suaminya.
Terkadang rasa sedih dan tangis masih saja terus menghampirinya, tatkala ia melihat Noah menangis memanggil papa nya.
Ibu berniat kembali ke rumah, ia mengajak serta Dena dan Noah.
" Dena, kau dan Noah ikut Ibu saja menginap beberapa hari di tempat ibu. Agar kau tak kesepian, ada Laras dan Viola nanti akan menemani Noah bermain".
Dena setuju dengan ajakan Ibu, ia pikir itu ide yang bagus dari pada ia terus mengenang kesedihan jika melihat kamar dan setiap sudut rumah yang selalu mengingatkan nya pada Adrian.
Bukan ia ingin melupakan Adrian, namun ia kasihan dengan Noah yang terus menangis tak punya teman. Bayi laki laki itu belum mengerti kalau papa nya tidak akan pernah kembali. Nanti jika di rumah Ibu, ada Hasbi yang akan mengobati kerinduan Noah akan sosok seorang Papa, begitu pikir Dena.
Mereka tiba di rumah Ibu dengan suasana rumah yang begitu sepi. Viola nampaknya sedang tidur siang, sama seperti Noah yang saat itu tertidur di gendongan Dena.
Dena memindahkan Noah ke kamar, ia kemudian ikut merebahkan diri di samping Noah. Suara suara teriakan dan des**an Laras terdengar samar di kamar sebelah.
" Huuhh...dasar Laras, siang bolong begini masih saja sempat sempatnya bercinta.Ia masih saja tidak berubah, sama seperti dulu saat baru menikah. Apa Viola tidak terbangun dengan suara berisik Ibu nya ya", gumam Dena dalam hati.
Sementara itu di kamar sebelah, Hasbi dengan gagah nya menindih tubuh mungil Laras yang terus berteriak tak karuan karena nikmat.
Mereka tak menyadari Ibu dan Dena ada di rumah itu.
" Lagi sayang ....jangan hentikan", Laras terus merengek agar suaminya tidak mengakhiri permainan itu sekarang.
Suara suara rintihan semakin sering terdengar memenuhi ruangan, permainan siang itu diselesaikan dengan rintihan panjang dari mulut Laras.
Ia baru keluar kamar saat Dena sedang duduk di ruang makan. Laras berjalan menyeret malas kaki nya karena mungkin merasa kesakitan akibat terlalu gila bercinta tadi dengan suaminya .
" Eehhh, ada Kak Dena . Kapan sampai Kak?", tanya Laras yang terkejut dengan kehadiran kakak iparnya itu.
" Sudah satu jam yang lalu, kau saja yang tak sadar karena terlalu berisik di kamarmu", ucap Dena.
" Hehehe, maaf kak... Mumpung Viola tidur", Laras tanpa malu malu mengakui nya.
__ADS_1
" Ciihh..dasar kau. Seperti malam hari Viola tidak tidur saja, sampai siang siang begini pun kau berteriak hebat sampai terdengar ke kamarku", umpat Dena dalam hati.
" Ehh, Noah mana Kak?".
" Ada tuh lagi tidur di kamar, untung saja ia tidak bangun karena suara berisik dari kamarmu".
Laras hanya terkekeh menanggapi ucapan Dena.
" Ohh ya Ras, nanti sore aku ingin berkunjung ke makam Adrian. Nanti aku titip Noah ya".
" Iya Kak, tenang saja aku akan menjaganya. Nanti sore kebetulan aku dan Hasbi ingin membawa Viola bermain di pusat permainan anak anak. Biar Noah nanti aku ajak, dia pasti senang sekali".
Dena mengangguk.
" Terima kasih ya Ras, sudah satu minggu ini Noah uring uringan".
" Sepertinya ia rindu papa nya", ucap Dena sambil menunduk sedih.
Laras menghibur kakak iparnya itu, ia turut berempati atas apa yang sekarang Dena dan Noah rasakan.
****
Dena sudah hampir setengah jam berada di hadapan makam Adrian. Ia mengusap lembut nisan kayu di atas nya.
Banyak sekali ia bercerita tentang keluh kesah nya, tentang kerinduan nya. Ia bicara sendiri, namun ia tahu Adrian pasti akan mendengarnya.
Ketika ia hendak beranjak dari duduk nya, seseorang datang dari belakang nya lalu meletakkan seikat bunga segar di atas gundukan makam.
" Baru saja, hari ini hari ke tujuh kepergian Adrian. Aku berniat mengunjungi makam nya dan mengirimkan bunga ini. Ternyata aku tak sendiri ya", Mas Adam tersenyum menatap Dena.
" Terima kasih ya Mas, kau masih mengingat Adrian ".
Setelah duduk sebentar dan melangitkan doa doa untuk almarhum Adrian, Mas Adam dan Dena melangkah beriringan keluar dari pemakaman.
" Noah dimana sekarang?", tanya Mas Adam.
" Noah sedang bersama Laras dan Hasbi di salah satu pusat permainan anak anak".
" Ohh ya, bagaimana kalau kita menyusul mereka? Noah pasti akan sangat senang kalau kau juga ada disitu".
Dena menyetujui ide Mas Adam, mereka pun berangkat dengan kendaraan masing masing.
Benar saja, setiba disana Noah terlihat girang melihat kedatangan Dena dan Mas Adam.
" Pa..pa.. papa..", Noah berteriak mengarahkan tangan nya ke Mas Adam meminta untuk digendong.
" Noah, ini bukan papa. Ini Om Adam", ucap Dena.
Namun Noah tak peduli ia terus menyebut papa ketika sudah berada dalam gendongan Mas Adam. Bayi laki laki itu tertawa kembali memainkan rambut halus di dagu Mas Adam.
Laras tersenyum melihat kedekatan Noah dan Mas Adam, ia berharap Mas Adam akan menjadi Papa baru untuk Noah nantinya.
__ADS_1
Hanya Hasbi yang wajahnya masih terlihat tidak begitu suka dengan kehadiran Mas Adam.
Laras menarik lengan Hasbi, mengajak nya menjauh agar memberikan waktu untuk Dena, Mas Adam dan Noah.
" Hey Laras, apa yang kau lakukan. Kenapa kau menyeretku menjauh. Aku harus mengawasi Mas Adam agar tidak macam macam memanfaatkan kesendirian Kak Dena", gerutu Hasbi.
" Sayang, kau ingat kan Ibu dan Ayah bilang apa. Almarhum Adrian menitipkan Kak Dena dan Noah pada Mas Adam, jadi biarkan Mas Adam dekat dengan mereka".
" Huuh, aku masih bisa menjaga dan mengawasi Kak Dena serta Noah", Hasbi masih saja tidak terima.
" Sudahlah, biarkan mereka bertiga", Laras menyeret Hasbi semakin jauh.
Sementara itu, Noah tampak begitu gembira ketika Mas Adam membawa nya naik arena kereta api yang berkeliling di lintasan kecil.
Noah melambai lambaikan tangan nya ke arah Dena, sedangkan Dena sibuk merekam Noah dan Mas Adam dengan kamera ponsel nya.
Bayi laki laki itu senang bukan main karena Mas Adam tanpa malu ikut naik ke arena permainan anak anak untuk menemani Noah.
Ini kali pertama Dena bisa tersenyum setelah kepergian Adrian. Ia dan Noah merasakan kehadiran Adrian kembali lewat Mas Adam.
" Mas Adam, terima kasih banyak ya sudah membuat Noah tertawa senang hari ini", ucap Dena ketika mereka hendak meninggalkan Pusat permainan anak anak karena Noah yang tertidur dalam pelukan Mas Adam ketika naik wahana pesawat pesawat terbang.
" Kau tak perlu berterima kasih, aku juga senang bersama Noah ".
" Ayo kita pulang, aku akan mengantarkan Noah dengan kendaraan ku", ucap Mas Adam.
Mas Adam mengantarkan Noah sampai ke dalam kamar, meletakkan bayi laki laki itu dengan sangat hati hati di atas tempat tidur.
Ibu tersenyum melihat kedekatan Mas Adam dengan cucu nya, ia berharap sekali lelaki ini nanti bisa menjadi menantunya.
" Dena, aku pulang ya. Jaga Noah, dan jaga dirimu baik baik. Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran, karena ginjal barumu masih dalam masa penyesuaian dengan tubuhmu".
" Terima kasih banyak Mas, hati hati di jalan ".
Mas Adam melambaikan tangan nya sebelum masuk ke dalam mobil.
Biarkan saja waktu yang bertugas membuat bahagia .
Karena sering kali aku mencoba namun tak bisa.
Biarkan saja hujan membawa sejuta kerinduan, tidak perlu harus kutahan
Karena semesta selalu punya cara untuk mengingatkan
...----------------...
Apa nanti Dena kembali membuka hati nya untuk Mas Adam?
Tunggu pengakuan cinta Mas Adam ya di next episode🥰🙏
Like komen n dukung karya thor selalu.
__ADS_1
Terima kasih.