Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Ucapan Terima kasih


__ADS_3

Hari ke 14


Kondisi kesehatan Dena semakin berangsur membaik, ia sudah bisa duduk, sedikit berjalan dan wajahnya sudah terlihat segar.


Hari ini Adrian libur bekerja, ia bisa seharian menemani istrinya di rumah sakit.


Dan ia berjanji untuk membawa Dena ke ruangan NICU bertemu Noah.


Adrian mendorong kursi roda yang di duduki Dena, mereka menuju Ruangan NICU di lantai 4.


Dena tak sabar untuk segera masuk ke Ruangan kaca itu ketika Adrian sedang meminta izin kepada Perawat jaga untuk masuk berdua saat itu karena kondisi Dena yang masih belum terlalu pulih.


Perawat itu akhirnya mengizinkan Dena masuk bersama Adrian.


Adrian mendorong kursi roda Dena tepat di samping inkubator bayi mereka.


Dena tak bisa berkata apa apa, perasaan haru, sedih, bahagia semua beradu di hatinya saat pertama kali menatap buah hatinya.


Ia melihat selang kecil di mulut bayi mungilnya, ia tau selang itu berfungsi sebagai selang untuk menyuntikkan susu.


Jarum infus terpasang di kaki nya, karena dua hari sekali jarum infus tersebut harus berpindah posisi agar tidak terjadi pembengkakan. Dena tak tega melihat tubuh yang amat mungil itu tertusuk jarum, cukup dirinya saja yang harus merasakan tusukan tusukan jarum di kulit.


Dena menitikkan air mata, untuk pertama kali ia menatap bayi yang selama tujuh bulan ini berjuang bersama dalam kandungan nya.


Ia benar benar tidak sedang bermimpi, sekarang ia sudah menjadi seorang Ibu. Hal yang begitu ia impikan dalam hidupnya.


" Bolehkah aku menyentuhnya?", dena bertanya pada Adrian.


Adrian mengangguk dan membuka penutup kaca agar Dena bisa memasukkan tangan nya.


Noah sedang tertidur saat itu.


" Hai, anak mama. Mama datang nak, maaf mama baru sekarang bisa menjenguk Noah", Dena masih terisak mengelus tangan mungil bayi nya.


Noah seperti merasa ikatan batin antara anak dan Ibunya, bayi itu menggeliat kecil karena sentuhan lembut perempuan yang ia hafal sekali suaranya semenjak dalam kandungan.


Noah membuka sedikit matanya, mencari sumber suara.


Dena semakin terharu menatap wajah lucu bayi nya.


" Sayang, dia tampan sekali seperti dirimu", ucap Dena pada Adrian.


" Dia mewarisi semua keindahan yang ada pada Ibunya", Adrian balas memuji Dena.


" Apa aku boleh menggendongnya?".


Adrian menggeleng .


" Noah belum bisa keluar dari inkubator itu, suhu tubuhnya belum bisa stabil jika berada di luar. Lagi pula tubuhnya masih dipenuhi peralatan peralatan itu, sabar ya sayang".


Dena mengerti kondisi bayi nya.


" Aku ingin menyusuinya, aku ingin merasakan benar benar menjadi seorang Ibu".


Memang sudah beberapa hari pa****ra nya sakit karena bengkak oleh air susu. Proses alami seorang perempuan setelah melahirkan, yaitu menyusui bayi nya.


" Sayang, maaf kau tidak bisa menyusui Noah", jawab Adrian.


" Kenapa tidak bisa, ASI ku melimpah dan aku akan menyusui langsung bayiku", ucap Dena protes.


Adrian menggeleng.


" Dokter spesialis ginjal mengatakan kau tidak bisa memberikan ASI mu karena obat obat rutin harian yang kau minum sangat keras dengan dosis tinggi dan sangat mempengaruhi kwalitas ASI, jadi Noah hanya bisa diberi susu formula".


Dena hanya diam, merasakan kecewa untuk kesekian kalinya. Berapa hari ini ia bahkan menggigil menahan pa****ra nya yang bengkak, berharap ia segera menyusui bayinya. Namun nyatanya sia sia semua itu.

__ADS_1


" Kau jangan kecewa ya, kau tetap menjadi Ibu yang sempurna untuk Noah meskipun kau tidak bisa menyusuinya", Adrian membesarkan hati istrinya.


Puas ia mengusap tangan dan wajah bayi nya hingga Noah kembali tertidur, mereka meninggalkan Ruangan itu.


Menurut Dokter anak yang menangani Noah, Noah baru bisa dibawa pulang kerumah jika tubuhnya sudah bisa menyesuaikan dengan suhu Ruang dan sudah mempunyai refleks menghisap yang baik agar tidak minum dari selang di mulutnya.


Biasanya butuh waktu lebih dari 1 bulan lamanya.


****


Setelah melalui beberapa pertimbangan dan mengevaluasi perkembangan kesehatan Dena, dokter mengizinkan ia pulang ke rumah keesokan harinya.


Adrian meminta Ibu untuk sementara tinggal di rumah mereka, meskipun ada Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah mereka namun Adrian tak bisa meninggalkan Dena begitu saja saat bekerja.


Dena begitu merindukan rumah ini, merindukan kamar nya.


" Silahkan masuk ke kamar kita sayang", Adrian sudah menata kamar begitu rapi untuk menyambut kedatangan istrinya.


" Istirahatlah, kalau kau butuh apa apa panggil saja Ibu karena aku harus kembali ke kantor", Adrian melirik jam tangan nya, waktu istirahat nya hampir habis.


" Aku kembali ke kantor ya, aku janji akan pulang tepat waktu", Adrian mengecup kening istrinya.


Dena hanya tiduran di kamar, ia merasa bosan .


Ia teringat Laras, karena saat tak lama ia sadar dari koma nya ia juga melihat ada Laras di Ruangan itu.


" Hallo, Laras apa kau sedang sibuk sekarang?", Dena menelpon Laras.


" Tidak kak, aku hanya berdua Viola di rumah. Ada apa?", Laras memang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan nya atas permintaan Hasbi. Ia hanya fokus mengurus Viola saat ini.


" Apa kau bisa datang ke rumahku? Aku ingin berbicara padamu, aku juga rindu Viola. Kemarilah".


" Hhhmmm, baiklah Kak. nanti aku dan Viola ke rumahmu".


Laras langsung diminta ke kamar oleh Dena ketika ia tiba di rumah Dena. Sementara Viola digendong oleh Ibu.


" Kak Dena udah enakan?", tanya Laras.


" Sudah Ras, aku hanya butuh istirahat beberapa hari . Kondisi ku jauh lebih baik".


" Laras, apa yang terjadi ketika aku koma?", Dena mulai bertanya.


" Kak Adrian sangat terpukul Kak, setiap hari ia datang menemui Kak Dena dan terus membisikkan kata kata untuk menyemangati kakak".


Dena sudah tau itu, ia yakin dengan perasaan cinta yang dimiliki Adrian. Tapi bukan itu yang ia maksud kan pada Laras.


" Maksud ku siapa yang berada di ruangan ku saat pertama kali aku tersadar?".


Laras terdiam, dia ragu untuk menceritakan tentang Mas Adam.


" Kenapa kau diam Ras, apa ada yang kau sembunyikan?" tanya Dena menyelidik.


" Sebenarnya..... eeemm, aku.. aku..meminta Mas Adam hari itu ke rumah sakit. Karena menurut Adrian, Kak Dena mengucap kupu kupu dalam keadaan kakak yang tak sadarkan diri", akhirnya Laras jujur.


Dena menghela nafas, ternyata benar yang ia lihat saat itu adalah Mas Adam.


" Apa Adrian tahu kalau Mas Adam datang?".


Laras menggeleng.


" Tidak kak, tidak ada siapapun yang tahu", Laras menceritakan bagaimana awalnya ia merencanakan semua itu.


" Terima kasih ya Ras, aku mungkin sekarang masih dalam keadaan koma atau bahkan sudah meninggal jika kau tak meminta Mas Adam datang saat itu", Dena akhirnya juga bercerita apa yang ia alami selama ia koma.


" Bros kupu kupu itu menyelamatkanku, dan Mas Adam orang yang hadir dalam kegelapanku saat itu, hingga aku akhirnya tersadar", Dena mengingat lagi kejadian mengerikan itu.

__ADS_1


" Ras, sekali lagi aku minta hal ini tetap menjadi rahasia kita ya. Aku tak ingin Adrian tau dan merasa aku tak menginginkan nya. Sungguh saat itu aku mencari Adrian dan terus memanggil nama nya, tapi entah kenapa justru suara Mas Adam yang hadir saat itu".


Laras mengangguk.


" Tentu saja kak, percayakan itu semua padaku".


Laras tak lama keluar dari kamar Dena, Viola terdengar menangis di bawah sana.


Dena ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada Mas Adam.


" Apa aku telpon saja ya?", gumam nya.


" Tapi aku sudah berjanji tak akan pernah berhubungan lagi dengan nya, aku harus menjaga perasaan Adrian".


Lama ia berpikir, namun akhirnya ia memutuskan untuk menelpon lelaki itu.


" Ia sudah menyelamatkan nyawaku, tak pantas rasanya jika aku melupakan itu begitu saja. Lagipula aku hanya ingin berterima kasih, bukan untuk mengingat kembali yang sudah sudah".


Dena mengambil ponselnya, mencari nama Mas Adam yang waktu itu hampir saja ia hapus.


Telepon tersambung.


Adam yang melihat ponsel nya berdering sedikit ragu ingin mengangkatnya atau tidak.


Ia sempat ragu apakah ini benar Dena yang menelpon ataukah Adrian suaminya.


" Hallo....", suara lembut di ujung telpon terdengar.


" Dena...? Ini kau?", Adam masih ingin meyakinkan.


" Iya Mas, ini aku.. Eemmm, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih".


" Laras sudah menceritakan semuanya".


" Kau tak perlu berterima kasih padaku Dena, bukankah aku yang memang sudah berjanji padamu untuk selalu menjagamu".


" Aku pernah berjanji padamu untuk memastikan kau baik baik saja".


Ucapan Mas Adam memaksa Dena untuk mengingat kembali janji yang pertama kali ia ucapkan di pantai kala itu.


" Dena, kenapa kau nekad mempertaruhkan nyawamu?"


" Kau tau kan resiko hamil dan melahirkan dengan kondisi kesehatan mu yang seperti itu?", Adam bertanya tak habis pikir.


" Mas Adam, aku sudah begitu banyak kekurangan. Dan aku beruntung ada laki laki yang dengan tulus menerima semua kekuranganku".


" Aku tak ingin aku merasa semakin tak beruntung jika aku tak mencoba berjuang untuk memberikan keturunan untuk suamiku", Dena berkata lirih.


Adam hanya menghela nafas.


" Dena, kau tau..Aku pun bisa menerima semua kekuranganmu. Bahkan aku tak akan menuntut untuk mempunyai keturunan darimu jika kau mau menjadi milikku", ucap Adam dalam hati.


Lalu mereka sama sama diam, hal yang sering terjadi saat mereka berbincang.


Dan akhirnya pembicaraan kali itu berakhir begitu saja. Dena sekali lagi mengucapakan terima kasih pada laki laki yang menyelamatkan nyawanya


Andai Adrian tahu, ia pasti melakukan hal yang sama, berterima kasih pada Adam. Karena sungguh laki laki itu mempunyai hati yang besar untuk menerima apapun termasuk hal hal yang menyakitkan baginya.


...----------------...


Seseorang yang masa lalunya pernah dihancur leburkan, ditipu, dikhianati, biasanya jika ia sudah memiliki pasangan hidup, ia akan tumbuh menjadi orang yang sangat tulus dan penyayang


Setuju gak????


Beberapa episode udah engap sama yang sedih sedih, kayak nya next episode kita beralih sama yang hot hot lah ya🤭🤭😁

__ADS_1


Pasti udah kangen sama cerita panas Dena Adrian atau pun Laras Hasbi kan, hehehe..


Lanjut terus ya ikuti Up berikutnya🙏😍🥰🥰


__ADS_2