
Malam telah datang seakan membungkam suara, Dena masih setia duduk bersandar di kursi tunggu UGD. Ia bahkan lupa kalau sejak siang ia tidak makan apa apa, ia tidak mandi, tidak minum obat obat rutin nya.
Hal yang sama ketika dulu ia terbaring koma, begitu lah Adrian juga melakukan nya.
Ia merasa pilu mengenang kisah yang ada di antara mereka, ternyata bahagia hanyalah ambigu dan semu belaka.
Saat ini ia hanya merasa sepi, tanpa makna.
Hening.....membuat nyeri semakin meronta.
Tuhan, mengapa angin malam ini terasa menghembuskan segala derita??
Siksa yang tak pernah alpa mendera rumah tangga nya dengan Adrian.
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam lebih lima belas menit, ketika petugas yang berjaga di Ruangan UGD memanggil Dena.
" Nyonya, korban atas nama Adrian sudah selesai menjalani operasi nya. Sekarang korban kami pindahkan ke Ruangan ICU untuk tetap memantau kesehatan nya", petugas itu berkata pada Dena.
" Apa aku sudah boleh bertemu suamiku?".
Petugas itu mengangguk kemudian mempersilahkan Dena untuk ke ruangan ICU.
Dena berlari kecil untuk segera tiba di Ruangan itu. Ruangan mengerikan baginya, dulu ia pernah hampir mati di Ruangan itu dan sekarang suaminya yang harus terbaring lemah disitu.
Ia hampir terjatuh saat masuk ke Ruangan ICU, menatap tubuh suaminya yang benar benar penuh luka yang serius.
Beberapa luka jahitan di kening nya akibat pecahan kaca, wajah yang penuh lebam sementara dadanya masih dibalut perban panjang melilit sekeliling tubuh nya.
Patah tulang rusuk yang cukup parah membuat paru paru nya ikut tergores hingga menyebabkan Adrian sedikit susah bernafas.
Dan... di balik selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya? Dena tak berani rasanya untuk membukanya, ia tak siap menerima semua kenyataan itu.
Adrian membuka sedikit matanya, merasakan kehadiran istrinya.
" Saaaa...yaa..aangg", Adrian patah patah memanggil Dena.
Dena menghampiri Adrian kemudian menangis menggenggam tangan nya.
" Jangan me...na..ngiiss", Adrian masih saja tetap menenangkan Dena.
Tak ada kata yang mampu mengutarakan perasaan Dena kala itu. Ia sesak menangis, ingin memeluk suaminya tapi tak mungkin dengan tubuh yang penuh luka itu.
" Apa...kaaa..uu..maa siihh men..cin taaa iikuu?", Adrian masih memaksa bibir nya untuk bicara meskipun dengan sangat sulit.
Dena mengangguk kencang sambil terus menangis.
" Aku selalu mencintaimu, aku mencintaimu sampai kapanpun, dengarkan itu", Dena terus meyakinkan suaminya.
__ADS_1
Adrian tersenyum sambil menahan sakit di sudut bibir nya yang ikut terluka.
" Aaa...kuuu...tak pantaaa...sss lagiii un..tuk..mu".
" Kau bicara apa? kau dulu selalu menyemangati ku, sekarang kau harus bersemangat untuk bisa cepat pulih", Dena masih terisak.
Adrian menggeleng pelan, menahan sakit bagian kepala nya yang juga mendapat jahitan.
" Ka..kii...., aku suu..daahh takk puunyaa.. kaa..kii", masih dengan nada patah patah.
Dena hanya bisa menelungkup kan wajahnya di tempat tidur, menahan tangis nya yang semakin pecah.
Adrian ternyata sudah tau kedua kaki nya di amputasi.
Ia mencoba mengangkat wajahnya, berusaha kuat dan tegar di hadapan suaminya. Kalau ia menunjukkan bahwa ia lemah, siapa lagi yang akan menguatkan suaminya.
Adrian lah orang yang dari dulu yang selalu berwajah tegar melindungi dirinya. Sekarang ia harus bisa meyakinkan Adrian kalau semua baik baik saja meski ia tak memiliki kaki.
" Aku tidak akan mempermasalahkan itu, aku yang akan menjadi kaki bagimu", ucap Dena memasang wajah tegar.
Adrian hanya memejamkan matanya, ia mengingat Noah putra kesayangan nya.
" Noah, apa papa masih bisa menggendongmu? Apa nanti jika kau tumbuh besar dan papa masih diberi kesempatan untuk hidup apa kau tidak malu mempunyai papa yang tak sempurna ini?", ia hanya bisa meratap dalam hati karena bibir nya sudah tak punya kekuatan untuk bicara.
Tangan Adrian masih bisa membelai rambut istrinya yang tertunduk di tempat tidur.
" Puu..lang.. lah, No..ah menung...guu..mu".
" Tidak, aku tidak akan pulang. Aku akan tetap menunggu mu disini. Aku tak ingin kau sendirian".
Namun tampaknya Dena memang tak bisa berlama lama disitu, karena Perawat yang berjaga memintanya untuk meninggalkan ruangan.
" Maaf nyonya, pasien harus istirahat. Keluarga tidak diperkenankan menunggu di dalam Ruangan ICU. Kalau ada apa apa kami akan menghubungi nyonya", ucap perawat itu.
" Sayang, aku masih ingin tetap disini tapi perawat tak mengizinkan aku untuk menunggumu. Aku harus pulang atau aku menunggumu saja di luar pintu Ruangan?", Dena masih berat untuk melangkah.
" Puu..lang lah.. aa..kuu baaik ba..ik saja.."
" Ja..ga.. No..ah anak ki..ta..", kali ini ada air mata yang mengalir di sudut matanya.
Dena mengusap nya.
" Jangan menangis sayang, aku janji akan menjaga Noah. Aku yakin tak lama lagi kau segera pulih dan kita bisa berkumpul lagi dengan Noah".
Adrian tak menjawab apa apa, pandangan nya ke atas entah memikirkan apa.
Dena mencium punggung tangan suaminya, mencari celah bagian mana yang bisa ia kecup setelah melihat hampir seluruh wajahnya lebam dan luka.
__ADS_1
" Kau istirahat ya sayang, aku pamit pulang. Besok aku akan kembali".
Sebelum pulang, Dena memberanikan diri membuka selimut yang menutupi kaki Adrian.
Ia mencoba kuat melihat apa yang ada di baliknya.
Dena menutup mulut nya, menahan suara nya yang hendak berteriak histeris.
Kedua kaki suaminya terbalut perban panjang dari lutut hingga ke pangkal paha nya sementara dari lutut ke bagian bawah nya sudah tidak ada karena di amputasi akibat tulang tulang kaki nya yang remuk akibat kecelakaan maut itu.
Ia menutup kembali selimut itu, sementara Adrian menatap wajahnya seolah berkata.
" Lihatlah aku sekarang sudah tak punya kaki, apa kau masih mencintaiku".
Dena meninggalkan Ruangan ICU, sementara Adrian masih mencoba ikhlas dengan apa yang menimpanya. Ia masih sempat memikirkan ketiga rekan nya.
Firman yang mengemudikan kendaraan harus tewas di tempat kejadian karena luka parah di kepala nya dan kaki yang sama hancur nya dengan Adrian. Sementara dua rekan nya di belakang juga mengalami luka, tetapi tidak separah Adrian.
" Tuhan, kenapa aku tidak mati saja? Aku tak ingin menyusahkan istriku", ratap Adrian.
Namun nampaknya Tuhan sudah menyiapkan skenario terbaik bagi kehidupan Dena dan Adrian.
Tuhan sedang mengatur dengan caranya yang sangat indah untuk kebahagiaan Dena lewat laki laki berhati malaikat ini.
Dena, jadilah rumah tempat ku kembali.
Tempat keletihan berpulang
Tempat rindu berakhir
Tempat senang berbagi
Tempat yang menerima dengan senang hati
...----------------...
Kalau readers pada bertanya kenapa novel ini isinya cerita cerita yang menyedihkan??
Jawab nya, karena sejatinya kehidupan hanyalah pengingat untuk kita agar tak terlena dalam kebahagiaan semata.
Cinta dalam jarum kupu kupu tidak mengangkat cerita kemewahan hidup, tidak mengangkat cerita manusia yang memfoya foya kan harta.
Hanya kisah kehidupan sederhana dengan cinta yang rumit dan penuh perjuangan.
Semoga nanti ending nya akan bahagia ya😇
Terima kasih yang terus menunggu up nya🙏🥰.
__ADS_1
Yang udah kasih like, komen, hadiah dan vote nya serta udah dimasukin ke list favorit, terima kasih banyak. Semoga sehat selalu.
Ditunggu ya episode berikutnya.