
Pagi yang cerah hari ini menjadi awal yang menyemangati Dena untuk kembali ke kantor setelah beberapa hari tidak bekerja karena harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit.
Ia baru saja kemarin kembali ke rumah, namun sudah memaksakan diri hari ini untuk memulai aktifitas bekerja.
" Istirahat lah dulu satu atau dua hari lagi dirumah", Ayah nampak keberatan melihat Dena pagi ini sudah rapi mengenakan pakaian kerja.
" Aku sudah merasa sehat yah, lagian jika aku punya kesibukan aku merasa lebih bertenaga di bandingkan harus tidur seharian di kamar", Dena meyakinkan Ayah nya .
" Hhmm... baiklah tapi biar Hasbi yang mengantarmu ke kantor hari ini".
Dena tersenyum, mencium pipi kedua orang tuanya lalu berpamitan untuk segera berangkat ke kantor.
**** Dena sudah tiba di lantai lima gedung Perusahaan itu, ruangan tempat nya bekerja.
Masih tampak sepi karena Dena datang terlalu pagi, ia sengaja datang lebih awal untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang beberapa hari ini terbengkalai. Meskipun Puji mengatakan ia sudah membantu sedikit mengerjakan tugas Dena di sela waktu senggang nya.
Dena mulai membuka layar laptop di hadapan nya, mengamati berkas berkas selama beberapa hari yang menumpuk di meja kerjanya.
" Dena..... kau sudah kembali bekerja hari ini??", suara Puji mengagetkan Dena yang sedang fokus pada layar laptop nya.
" Iya, aku sudah pulang dari rumah sakit kemarin pagi".
" Kau sudah enakan?", Puji mendekat ke arah Dena.
Dena mengangguk..
Puji sebenar nya ingin bertanya banyak kepada Dena perihal sakit nya, namun Puji tak ingin membahas itu karena takut Dena merasa tersinggung atau sedih.
" Den... kau tau selama beberapa hari dirimu tidak masuk bekerja, Adrian selalu menanyakan mu kepada ku saat bertemu di kantin", sepagi ini Puji sudah membahas Adrian .
Dena tak tertarik untuk membahas nya.
" Kelihatan nya dia ingin sekali tau tentang dirimu", Puji bersemangat membahasnya.
" Apa penting nya buatku?, jawab Dena.
" Hey.. nona manis kau bilang apa pentingnya?"
" Helllooo.... tentu saja ini berita penting"
" Seorang Adrian yang tampan yang sudah membuat banyak perempuan disini patah hati karena di tolak mentah mentah oleh nya malah peduli dan memperhatikanmu",
" Ini hal hebat kan?", Puji masih saja dengan argumen sok bijak nya mencoba menceramahi Dena.
" Kalau dia memang benar ingin tau tentang ku mengapa dia tak langsung meneleponku saja, dia kan punya nomor ponsel ku".
Demi mendengar jawaban Dena barusan Puji melompat kaget dari tempat duduk nya.
" Apa.....?? Adrian punya nomor ponsel mu??"
" Bagaimana bisa?"
Puji masih saja bertingkah seperti hal itu adalah sebuah hal hebat yang patut di banggakan.
" Kami bertukar nomor ponsel waktu pertama kali berkenalan".
" Ketika kau tidak masuk kerja", Dena menjawab datar yang dianggap Puji sebagai informasi penting yang patut dicatat.
" Dena......ayolah terima laki laki itu jika ia mendekatimu".
" Aku pasti akan sangat bangga punya seorang sahabat yang memiliki kekasih setampan Adrian".
" Uhhhh...pengen......", Puji terus berceloteh tak jelas yang membuat Dena geli melihat nya.
Panjang umur sekali lelaki itu, baru saja Dena dan Puji membicarakan nya ponsel milik Dena bergetar, ada pesan masuk dari Adrian.
" Selamat pagi Dena, apa kabarmu?
" Sudah sehat kan?".
Dena belum membalas pesan Adrian namun ia malah menunjukkan layar ponsel nya ke arah Puji.
Mata puji terbelalak dan seperti biasa menanggapi nya dengan histeris segala sesuatu tentang Adrian.
" Apa ku bilang, pasti ia menyukaimu Dena..."
" Ayo balas pesan nya", Puji yang terlihat menggebu gebu.
__ADS_1
" Baik... aku sudah sehat dan hari ini sudah kembali bekerja".
" Ohh ya?? Syukurlah kalau begitu, itu berarti nanti makan siang kita bisa bertemu di kantin".
" Iya....", itu balasan terakhir dari Dena sangat singkat hanya dengan satu kata.
Puji memaki maki Dena kenapa tidak terus saja berkirim pesan dengan kalimat yang panjang dan mencari topik baru.
Dena malas menanggapi Puji yang menurut Dena sudah dihinggapi sindrom Adrian.
" Aku ke kantor bukan untuk membalas pesan Adrian, tapi ingin menyelesaikan tugas ku yang menumpuk", Dena berkata sambil menunjuk begitu banyak nya berkas yang harus ia bereskan hari ini.
" Iya iya, ayo mulai pekerjaan kita", akhirnya Puji mengalah .
Ruangan kantor sudah mulai ramai, karyawan di divisi itu sudah datang semuanya. Mereka masing masing sibuk mengerjakan tugas nya masing masing. Beberapa di antara mereka menanyakan kabar Dena yang diikuti pertanyaan kenapa, mengapa, ada apa, kok bisa? membuat Dena merasa jengah.
Namun ia menjawab seadanya, Puji pun tak banyak bicara. Bersikap seolah olah ia tak tau tentang penyakit Dena.
Tugas Dena baru setengah di kerjakan saat jam makan siang tiba .
" Ayolah Den, tinggalkan dulu pekerjaan mu".
" Kau jangan telat makan, nanti sakit lagi", Puji menarik lengan sahabat nya itu, yang diikuti langkah malas Dena.
Mereka sudah tiba di ruangan kantin, Puji meminta Dena untuk duduk saja biar dia yang akan memesan dan membawakan makanan.
Dena merasa beruntung mempunyai teman seperti Puji, ia gadis yang baik. Dena berharap suatu saat akan membalas kebaikan kebaikan Puji. Dena juga berharap suatu saat dia bisa terbuka dan menjadikan Puji tempatnya untuk bercerita layak nya sepasang sahabat sejati .
" Boleh aku duduk disini dan makan siang bersama?", Adrian datang mengejutkan Dena.
Ia sudah membawa menu makan siang nya.
" Silahkan ", jawab Dena singkat.
" Kau sudah benar benar pulih kan?"
" Sudah".
" Jangan terlalu lelah, kalau kau punya masalah dengan kesehatan mu kau bisa bercerita padaku".
Entah mengapa mendengar ucapan Adrian yang menunjukkan perhatian membuat Dena teringat akan Mas Adam .
Dena hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Dari kejauhan, Puji yang sedang menunggu makanan yang ia pesan menatap kagum pada Dena yang sedang berbincang dengan Adrian.
Makan siang hari ini di habiskan Dena bersama Puji dan Adrian.
Adrian akhirnya berani menanyakan tentang penyakit yang di derita Dena .
Mau tak mau Dena menceritakan semua kejadian dari awal ia sakit sampai saat ini. Berusaha menutupi juga percuma fikir dena, toh kedua orang ini sudah tau kenyataan sebenarnya.
" Tolong jangan ceritakan pada siapapun, aku harap cuma kalian berdua yang tau", pinta Dena kepada Puji dan Adrian.
Tentu saja,mereka berdua adalah orang yang bisa di percaya.
" Den, hari ini kau bawa kendaraan sendiri?, tanya Adrian mengalihkan topik karena melihat wajah Dena yang nampak sedih setiap membahas tentang sakit nya.
" Tidak, tadi pagi aku diantar adik ku".
" Kalau begitu nanti izinkan aku pulang mengantarmu".
" Tidak usah, nanti merepotkan.. Adikku pasti menjemput ku", Dena sebenarnya menolak bukan karena Hasbi sungguh akan menjemputnya, bahkan tadi pagi Hasbi berpesan pada kakak nya untuk memesan taksi online kalau pulang karena ia sedang ada pekerjaan . Dena menolah tawaran Adrian karena ia tak mau terlalu dekat dengan lelaki ini.
" Tidak merepotkan Den, aku juga kan teman mu.. jadi jangan sungkan sungkan".
Puji menyenggol lengan Dena, kaki nya menginjak sepatu Dena seperti mengisyaratkan
" Sudah, terima saja tawaran nya".
Dena merasa tak enak hati menolak tawaran Adrian.
" Baiklah kalau aku tidak merepotkan mu, nanti saat jam pulang kantor aku akan menghubungimu", akhirnya Dena menerima tawaran itu.
Adrian tersenyum senang...
Sementara Puji tak kalah girang nya, padahal ia sama sekali tak diajak Adrian untuk pulang bersama.
__ADS_1
*** 16.00 Jam pulang kantor
Dena sudah menuju lift bersama Puji untuk turun ke basemen tempat parkiran. Dena sudah menghubungi Adrian dan berjanji untuk bertemu di parkiran.
Dena dan Puji berpisah di lantai dasar.
" Ceritakan padaku ya besok apa yang kalian lakukan berdua, hehehe", Puji terkekeh menggoda Dena.
" Ciihhh... jangan berfikiran mesum"
" Dasar genit.."
" Ia hanya mengantar ku pulang", Dena menatap kesal puji yang selalu menggoda nya.
" Bye Dena, hati hati ya", Puji melambaikan tangan.
" Bye Puji, see you tomorrow"..
Telepon Dena berdering, panggilan masuk dari Adrian.
" Halo Dena, kau dimana sekarang?"
" Aku sudah berada di parkiran, kau dimana Adrian?"
" Aku sudah di dalam kendaraan ku, mobil XX berwarna hitam yang terparkir paling ujung di depan mushola"
Dena berjalan menuju mobil Adrian.
" Dena... disini", Adrian membuka kaca mobil melambai ke arah Dena .
Mobil yang dikendarai Adrian keluar dari parkiran gedung Perusahaan. Dena tampak kaku duduk di sebelah Adrian yang memegang kemudi .
Sungguh, Adrian laki laki kedua setelah Mas Adam yang pernah berduaan bersama Dena seperti ini.
" Dena, aku boleh bertanya sesuatu?, tanya Adrian memecah suasana yang hening .
" Iya, boleh...".
" Maaf kalau ini sedikit pribadi Den, aku ingin tau apa kau saat ini sudah memiliki kekasih?".
" Ehhh...maaf kalau kau tak mau menjawab pun tak apa, aku hanya ingin memastikan tidak ada yang marah karena aku mengantarmu pulang", Adrian takut takut Dena akan marah .
Dena hanya tersenyum, lagi lagi ia tak nyaman jika ada orang asing yang ingin tau kehidupan pribadi nya.
" Tidak, aku masih sendiri dan aku tidak berniat mencari kekasih", jawab Dena menegaskan kepada Adrian kalau ia sedang tidak tertarik dengan laki laki .
Adrian mengernyitkan dahi nya, merasa heran dengan perempuan cantik ini. Bagaimana bisa ia tidak tertarik mencari kekasih, dengan wajah cantik dan senyuman manis nya tidaklah sulit bagi nya mendapatkan lelaki mana pun yang ia mau termasuk Adrian sendiri.
" Apa jangan jangan dia penyuka sesama jenis?", pertanyaan konyol itu mengalir begitu saja di kepala Adrian.
" Dena, kapan kapan apakah aku boleh mengajakmu makan malam berdua?", Adrian takut takut menyampaikan keinginannya.
" Hhmmm...", hanya itu jawab Dena.
" Dena,jika ada laki laki yang menyukaimu saat ini apa kau mau membuka hati?", tanya Adrian lagi
"Hhmmm...", begitu lagi jawaban Dena.
Adrian ingin jungkir balik rasanya menghadapi perempuan di sebelah nya ini .
" Tidak bisakah dia menjawab dengan bahasa manusia, jangan cuma ham hem tak jelas maksudnya", Adrian menggerutu
" Apa selain penyuka sesama jenis ia juga punya gangguan dalam bicara?", gumam Adrian.
Wanita memang lebih pandai menyimpan masalah daripada uang.
Dia lebih pandai menutupi perasaan nya sendiri dari pada keangkuhan.
Lebih pintar merefleksikan diam daripada harus mengumbar kata tanpa alasan.
Pelajari arti kata "hhhmmm", percayalah itu akan sangat membantu kalian .
...****************...
Gimana nih pembaca setia " Cinta dalam jarum kupu kupu", setuju nggak kalau Dena sama Adrian aja?
Atau Dena lebih baik menunggu Mas Adam jadi duda ya, hehehehe..
__ADS_1
Sepertinya nanti Dena akan belajar mencintai Adrian demi melupakan Adam.
Saksikan lanjutan episode nya🥰🥰