Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Pertanggung jawaban


__ADS_3

Orang yang depresi adalah orang yang paling pandai memanipulasi dirinya. Bagaimana tidak?


Lihatlah Adrian yang selama ini bisa bertingkah baik baik saja di depan semua orang, tapi ia menangis dan melampiaskan amarahnya ketika sedang sendirian.


Ia masih tertidur ketika Dena memutuskan untuk menemui seseorang pagi itu.


" Mbok Nah, kalau Adrian bangun dan mencari ku, tolong katakan padanya aku ke apotik sebentar".


Mbok Nah menahan langkah Dena.


" Nyonya masih belum pulih, jangan keluar rumah dulu", Mbok Nah melihat Dena berjalan pelan masih memegang perutnya.


Ia terkejut melihat wajah Dena yang sudah kotor dengan air mata.


" Nyonya kenapa menangis?", Mbok Nah masih bingung. Tak mungkin menurutnya majikan perempuan nya ini bertengkar dengan Adrian, karena selama ini Mbok Nah tahu bagaimana keseharian mereka.


" Sudahlah Mbok Nah, aku sudah tau apa yang kalian sembunyikan dariku. Mbok Nah yang menemani Adrian selama 6 bulan kemarin, Mbok Nah tau kan semua itu", Dena meninggalkan perempuan berumur yang sudah merawat Adrian dari kecil itu.


Mbok Nah tak mampu menahan langkah Dena, ia tak menyangka majikan nya itu secepat ini mengetahui segalanya.


Dena berjalan pelan menuju mobil nya, kemudian melajukan nya keluar dari halaman rumah.


Karena terburu buru ia bahkan lupa membawa ponselnya. Ia sudah berada di depan rumah yang ia tuju.


Pikir Dena, lelaki yang ingin ia temui itu masih ada di rumah sepagi ini.


Benar saja dugaan nya, lelaki itu membuka kan pintu tak lama Dena menekan bel.


Ia terkejut melihat Dena tiba tiba datang ke rumah nya dengan wajah sembab.


" Dena, kenapa disini? Kau belum pulih dari operasi mu, siapa yang mengantarmu?", ia melihat sekitar tak ada siapa siapa.


Tatapan Dena tampak berapi api pada lelaki ini.


Ya, Dena sengaja datang menemui Mas Adam untuk meminta penjelasan nya.


" Ehh iya maaf, silahkan masuk", Mas Adam hampir lupa mempersilahkan Dena masuk.


Dena masih belum bersuara, ia melangkah pelan masuk ke dalam rumah.


Mas Adam ingin membantunya berjalan, namun ia sadar ia tak bisa lagi menyentuh perempuan itu. Ia sebenarnya masih ingin bermain riang dalam khayal, meski bertemu adalah tabu. Namun tetap saja perempuan ini tak mampu lepas dari ruang semu nya.


Lalu ia bertanya pada dirinya sendiri, mengapa ia tersesat oleh cintanya sendiri?

__ADS_1


" Ada apa kau memaksa datang kemari?", Mas Adam bertanya meski sebenarnya ia yakin ini ada hubungan nya dengan operasi cangkok ginjal itu.


" Jangan berpura pura seolah kau tak tahu apa apa", Dena begitu membenci laki laki ini rasanya sampai ia tak memanggil Adam dengan sebutan Mas.


Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tas nya dan melempar nya kasar di atas meja.


Mas Adam tak perlu melihat apa isi kertas itu, karena ia sudah tahu berkas berkas apa itu.


Dena beranjak dari duduk nya, ia berdiri tepat di hadapan Mas Adam yang masih duduk.


" Apa maksud semua ini, jelaskan padaku kenapa ada nama dan tanda tangan Mas Adam di surat pernyataan dari Notaris", Dena meraih kertas dia atas meja tadi dan menunjuk nya tepat di hadapan wajah Mas Adam.


" Dan ini, di surat persetujuan operasi donor ginjal ada nama dan tanda tangan Mas Adam juga sebagai keluarganya", Dena terus mendesak sebelum sempat Mas Adam menjawab pertanyaan yang pertama.


Mas Adam menarik dan menghela nafas panjang. Ia mencoba mengatur kalimat untuk menjawab pertanyaan Dena.


" Maafkan aku, aku sudah berusaha mencegahnya namun aku tak berhasil".


" Kau bilang kau mencegahnya? Kalau kau berniat mencegahnya harus nya kau menceritakan padaku sebelum semuanya terjadi", Dena melempar kertas itu ke tubuh Mas Adam dengan kasar.


Mas Adam berdiri, membuat mereka saling berhadapan saat ini. Ia menatap tajam.


" Kau minta aku untuk menceritakan nya padamu, meminta aku untuk menghubungimu? Kau tahu, bertahun aku melatih diri tanpa kabarmu".


" Apa kau tahu bagaimana sakitnya menahan untuk tidak menghubungimu?".


Mas Adam tersengal, ia tak mengira ia bisa mengeluarkan apa yang ia pendam selama ini.


Mereka masih sama sama terdiam.


" Persetan dengan yang kau ucapkan tadi, apa kau berharap setelah Adrian mendonorkan ginjal nya padaku lalu ia tak bisa bertahan?"


" Bicara apa kau hah? Aku tidak seburuk yang kau katakan", Mas Adam kali ini benar benar marah.


Meski ia begitu mencintai Dena, tapi ia tak pernah berharap akan kembali pada Dena dengan cara menginginkan Adrian pergi dari dunia ini.


Ia begitu kecewa, perempuan ini tak tahu sama sekali ia bahkan menolak berjanji pada Adrian untuk menikahinya karena ia berharap Adrian akan terus mendampingi Dena sampai kapanpun.


" Kalau terjadi apa apa pada Adrian, aku tak akan pernah memaafkan mu", Dena terus menyudutkan dan menyalahkan Mas Adam.


Mas Adam menarik lengan Dena, mencengkram erat tangan nya.


" Apa kau tahu, aku sudah berusaha menjauh dari kehidupanmu. Tapi tetap saja takdir terus menghubungkan aku dengan kehidupan rumah tanggamu".

__ADS_1


Dena mencoba mengingat, memang selama ini keluarganya lah yang selalu meminta bantuan Mas Adam. Mulai dari ngidam nya Laras, kemudian saat ia koma, lalu sekarang ketika Adrian mendonorkan ginjal nya pastilah ini semua atas permintaan Adrian sendiri. Ia tahu sudah sejak dulu Adrian berniat untuk itu.


Dena melepas cengkraman tangan Mas Adam, ia memukul mukul dada lelaki itu sambil menangis terisak.


" Aku takut kehilangan Adrian, kenapa kau membantu ia melakukan semua ini", Dena terus terisak hingga pukulan nya ke dada lelaki itu mulai melemah.


Mas Adam merasa semakin bersalah melihat perempuan ini menangis. Ia ingin menghapus air matanya, dan akhirnya ia telah kalah untuk menahan rindu yang ******. Semakin ia tepis semakin rindu itu menari binal menggauli pikiran. Mas Adam akhirnya memeluk perempuan itu dalam dekap nya, mencoba menenangkan nya.


" Tenanglah, semua akan baik baik saja. Adrian akan bertahan untuk mu", Mas Adam mengusap kepala Dena.


Dena mendorong tubuh Mas Adam.


" Aku membencimu", namun justru semua terdengar begitu klise. Mulutnya mengatakan itu, namun tatapan nya tak bisa dibohongi kalau sesungguhnya masih ada perasaan cinta.


" Lakukanlah, bencilah aku semampu mu", Adam tak bisa menjelaskan apa apa lagi, bukankah selama ini ia sudah menjadi orang yang berusaha Dena lupakan.


" Jika mengingatku adalah sebuah kesakitan bagimu, bencilah diriku", Mas Adam berkata pelan sambil terus menatap Dena.


Mungkin kita hanyalah sepasang primata yang diberi rasa, diberi harap, diberi waktu untuk menikmati sejenak manisnya hidup.


Yang nyatanya kepergian salah satu diantara kita menjadi sebuah kepastian. Singkat saja, jangan pernah takut berjalan dalam kegelapan jika terang membakarmu .


Dena meraih kertas yang sudah terjatuh di atas kursi.


" Permisi, aku pulang dan terima kasih untuk bantuan mu yang salah", Dena berkata tajam.


Ia meninggalkan Mas Adam yang masih mematung karena pelukan singkat tadi.


" Kenapa lagi lagi aku yang di salahkan", Mas Adam bertanya dalam hatinya .


Selepas kehilangan ia telah berkarib dengan kesunyian. Merasa asing di riuhnya percintaan, bahkan ia lupa bagaimana caranya bercumbu.


...----------------...


Ngenes banget nasibnya Mas Adam😭, udah bantuin Adrian dengan mengorbankan waktunya, sekarang justru ia yang kena getahnya.


Padahal banyak yang bisa di minta pertanggung jawaban nya atas semua ini termasuk keluarga Dena dan Adrian sendiri.


Semangat ya Mas Adam, nanti thor bikin Mas Adam bahagia kok😁.


Ikuti terus ya lanjutan nya, di episode berikutnya. Like komen dan dukung terus karya author🙏🙏🥰


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2