
Adrian masih izin bekerja hari itu.
Ia sudah berjanji untuk mengantar istrinya ke dokter spesialis ginjal untuk konsultasi kehamilan Dena.
" Sayang, kenapa ya aku tidak mual muntah seperti Laras hamil Viola waktu itu", tanya Dena.
" Menurut info yang aku baca katanya tidak semua perempuan mengalami morning sick seperti Laras sayang".
" Itu artinya kau perempuan yang hebat, perempuan yang kuat".
Pagi itu mereka sudah membuat janji dengan dokter spesialis ginjal.
Dena selalu gugup tiap memasuki Ruangan dokter ini.
Mereka menceritakan perihal kehamilan Dena.
Dokter paruh baya yang sudah berpengalaman hampir lima belas tahun itu tampak nya tidak mendukung kehamilan Dena.
" Maaf Dena, sepertinya kau tidak bisa meneruskan ini semua", ucap dokter tersebut dengan sedikit nada menyesal.
" Maksudnya apa dok?", Adrian yang terlebih dahulu bereaksi.
" Kehamilan ini terlalu beresiko untuk keselamatan nyawa Dena".
" Ia saja harus dibantu oleh mesin hemodialisa untuk bertahan hidup, rasanya sulit mempertahankan janin yang ada di kandungannya", ucapan dokter tersebut seketika memporak porandakan kebahagiaan yang baru satu hari mereka rasakan.
" Obat obatan yang Dena konsumsi, semua itu obat obatan keras yang akan berdampak pada janin. Namun jika tidak di konsumsi, kesehatan Dena jadi taruhan nya", dokter melanjutkan ucapan nya.
Dena hanya diam, memegang perutnya. Ia dan Adrian begitu menginginkan bayi ini, tapi kenapa sekarang ia justru dihadapkan oleh pilihan yang sulit.
" Bagaimana kalau kehamilan ini tetap diteruskan dok, resiko nya apa?", Adrian kembali bertanya.
" Maaf, saya terpaksa mengatakan ini. Resikonya adalah kematian bagi ibu atau pun cacat lahir bayi yang akan dilahirkan".
" Lagi pula, sang ibu saja tidak cukup menyokong sel darah merah untuk dirinya sendiri. Bagaimana jika harus berbagi lagi dengan bayi yang dikandungnya".
Dena menyadari apa yang di katakan dokter itu semuanya benar, ia bahkan selama ini beberapa kali transfusi darah karena hemoglobin nya yang rendah.
Ia menatap wajah Adrian yang penuh dengan kekecewaan.
" Lalu maksud dokter kami harus bagaimana", Dena bertanya lirih, hampir menangis .
" Mumpung usia kehamilan masih terbilang muda, lebih baik di gugurkan saja.
Maaf ya ini semua memang harus di lakukan untuk keselamatan kamu Dena", dokter lagi lagi minta maaf karena begitu mengerti keinginan pasangan ini untuk mempunyai anak.
__ADS_1
Adrian terdiam lesu, ia menatap istrinya.
Tidak mungkin ia membiarkan nyawa istrinya menjadi taruhan nya.
Ia begitu menginginkan bayi ini, namun ia tak sanggup jika harus mengambil resiko sebesar itu untuk perempuan yang ia cintai.
Adrian merasa bisa hidup bahagia walaupun hanya berdua Dena tanpa kehadiran malaikat kecil di antara mereka, tapi jika ia harus kehilangan Dena karena egois ingin mempertahankan janin nya ia rasa ia tak kan mampu hidup tanpa perempuan itu.
" Lakukan yang terbaik dok, saya setuju jika itu menyangkut keselamatan istri saya", Adrian akhirnya harus mengambil keputusan berat itu.
Dena menoleh pada Adrian.
" Tidak sayang, aku mohon izinkan aku mempertahankan janin ini", Dena memegang perutnya sambil terisak.
Adrian memeluknya.
" Aku tahu ini berat untuk mu sayang, aku juga berat melakukannya. Tapi ini semua demi keselamatanmu", Adrian pun tak mampu menahan kesedihan nya.
Dokter yang melihat mereka hanya bisa diam, memberikan waktu untuk pasangan ini berkompromi.
" Percaya padaku, aku bisa menjaga bayi ini di perutku", Dena masih berusaha meyakinkan Adrian.
" Aku percaya kau kuat, kau bisa menjaganya. Tapi aku takut kau yang akan kenapa kenapa jika meneruskan ini semua", Adrian menggenggam tangan istrinya.
" Dengar, aku tetap akan mempertahankan bayi ini apapun resikonya. Janin ini sudah berdetak, ia sedang berkembang di dalam sana, mana mungkin aku tega membunuhnya", air mata Dena semakin deras mengalir.
Adrian semakin tak tega melihatnya, ia di hadapkan dua pilihan yang sulit.
Simalakama memang menghadapi kerumitan ini.
Dena seorang perempuan, ia memiliki naluri keibuan. Mana mungkin ia begitu saja mau menggugurkan kandungan nya.
" Dokter, izinkan aku tetap meneruskan kehamilan ku. Aku berjanji akan selalu dalam pengawasan dokter dan dokter kandungan", Dena memohon sambil memegang tangan dokter perempuan itu.
Dokter itu menatap ke Adrian, menunggu apa reaksinya.
" Apa bisa kita evaluasi dulu dalam beberapa bulan ke depan dok?", akhirnya ada pilihan lain yang di ajukan Adrian.
" Bisa, namun saya tidak menjamin keselamatan bagi keduanya. Kalian harus menandatangani surat persetujuan meneruskan kehamilan, agar semua resiko yang terjadi kalian akan tanggung sendiri'.
Adrian menelan ludahnya, menarik nafas panjang. Sungguh ngeri ia membayangkan semua resiko yang akan dihadapi.
" Sayang, aku mohon beri aku kesempatan mempertahan kan nya", kali ini Dena memohon pada Adrian.
Akhirnya dokter dan Adrian mengambil keputusan sesuai dengan keinginan Dena.
__ADS_1
" Baiklah, kehamilan mu berada di bawah pengawasan ku. Mulai minggu depan selama hamil kau harus melakukan cuci darah ekstra, seminggu tiga kali", ucap dokter tersebut.
Mau tidak mau Dena mengangguk setuju. Itu berarti jadwal bertemu si kupu kupu akan lebih sering lagi.
Aaahhh andai saja keadaan nya masih seperti dulu saat menanti pertemuan dengan Mas Adam, pasti akan menyenangkan bertemu sesering itu dengan nya.
" Shiitt...mikir apa sih", batin Dena.
" Obat obatan mu sementara dihentikan karena takut berdampak pada janin", ucap dokter.
" Hanya vitamin dan suntikan wajib untuk menjaga asupan sel darah merah mu yang boleh di berikan".
Dena mengangguk menyetujui yang di katakan dokter, meski ia tahu besar sekali resiko yang ia hadapi jika menghentikan obat obatan itu.
Mereka pulang dari dokter dengan wajah kaku masing masing, berbeda saat tadi pagi hendak berangkat wajah keduanya berseri bahagia.
" Sayang, kenapa kau mau mempertaruhkan keselamatanmu demi kehamilan ini. Aku sungguh tidak apa apa jika kita tidak diberikan keturunan asalkan kau baik baik saja", ucap Adrian saat mereka tiba di rumah.
" Aku sudah pernah berada di titik terendah dalam hidupku, dan aku berhasil melewati itu semua. Sekarang pun aku yakin aku pasti bisa melewati semua ini".
" Terima kasih sayang, kau mau berjuang untuk bayi di di dalam kandungan mu. Aku berjanji akan terus menjagamu dan bayi kita".
Mereka berpelukan.
" Aahhh...setiap memelukmu aku tak bisa menahan hasrat ku", tangan Adrian sudah bermain main di **** ***** milik istrinya.
" Ingat sekarang aku sedang hamil, lakukan dengan hati hati", Dena mengingatkan suaminya yang sering tak terkontrol saat bercinta itu.
Adrian sudah tak menjawab, bibir nya sedang sibuk menyusuri leher jenjang istrinya. Turun ke bawah hingga mencapai area paling intim milik istrinya.
Dena berulang ulang mengingatkan Adrian agar mengontrol tenaganya.
Kali ini Adrian melakukan nya dengan lemah lembut, tak seperti kemarin kemarin dari awal menikah ia selalu mengeluarkan tenaga nya yang kuat untuk menghajar habis habisan istrinya di ranjang.
" Aahhh, terima kasih sayang. Punyamu selalu nikmat, selalu membuatku kecanduan", Adrian ambruk di sebelah tubuh telanjang istrinya.
...----------------...
Entahlah, apakah keputusan Dena untuk mempertahankan kehamilan nya adalah sesuatu yang tepat?
Next lanjut terus ya ikuti up nya.
Thor lg jadwal di ruang hemodialisa. doain lancar sampai selesai ya 🙏🙏🥰
__ADS_1