Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Menikmati saat saat terakhir


__ADS_3

Adam sedang mengendarai mobil nya kala Adrian pagi itu menelepon nya.


" Hallo Mas Adam, maaf mengganggumu pagi pagi begini", ucap Adrian .


" Iya Adrian, tidak mengapa. Bagaimana keadaan mu sekarang?".


" Beginilah Mas, aku sudah hampir dua minggu ini dirumah. Hanya menghabiskan waktuku dengan berbaring dan duduk di kursi roda".


" Mas Adam, aku merasa keadaan ku sudah lebih baik. Aku rasa sudah cukup kuat untuk berangkat ke Jakarta dalam waktu dekat", Adrian mengatakan maksudnya menelpon Mas Adam.


" Hhmm, baiklah. Aku sedang menyetir saat ini, kau bisa mengirimkan pesan padaku tanggal berapa kita akan berangkat".


Mereka pun mengakhiri panggilan telepon pagi itu .


Dena masuk ke kamar tepat saat Adrian mengakhiri panggilan nya.


" Telepon dari siapa sayang?", tanya Dena yang membawakan nampan berisi sarapan untuk Adrian.


" Dari Kak Radit", ucap Adrian singkat.


" Ada apa Kak Radit menelepon sepagi ini?".


" Hhmm, begini sayang.. aku perlu menyampaikan ini padamu. Kak Radit ingin aku mendapatkan penanganan yang lebih baik untuk kepulihan tulang rusuk dan paru paru ku".


" Jadi ia berniat untuk menyuruhku melakukan pengobatan di Jakarta dengan rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih baik".


Dena nampak berpikir dengan ide Kak Radit yang dikatakan Adrian.


" Hhmmm, aku juga sepertinya setuju kalau kau mendapatkan penanganan di Rumah sakit yang lebih baik. Aku akan menemani selama pengobatan mu sayang", ucap Dena.


" Tidak, tidak... kau tak perlu menemaniku, kasihan Noah kalau harus ditinggal kan kedua orang tuanya", Adrian mencoba membantah karena memang semua ini hanyalah sebuah alasan palsu.


Dena mengerutkan alisnya.


" Kenapa kau tak mau aku menemani mu? Lagi pula kan tidak selamanya kita meninggalkan Noah, hanya sementara selama pengobatan mu saja. Ada Ibu yang akan tetap memantau Noah".


" Pengobatan nya mungkin butuh waktu kurang lebih 6 bulan sayang", Adrian tak berani menatap mata Dena karena ia takut tak mampu menutupi kebohongan nya.


" Enam bulan? Kenapa lama sekali sayang? Lalu kalau aku tidak menemani mu siapa yang akan mengurus mu selama disana?".


" Tadi Kak Radit sudah mengatakan selama aku pengobatan disana aku akan tinggal di Apartemen milik Kak Radit, ia juga meminta bantuan rekan nya untuk mengurus administrasi ku di rumah sakit karena kebetulan rekan Kak Radit itu bekerja di rumah sakit yang akan aku tuju".


" Untuk keperluan sehari hari ku biar Mbok Nah yang akan ikut bersamaku", Adrian menggenggam tangan istrinya meyakinkan kalau tidak mengapa ia tak menemaninya.

__ADS_1


Ada raut kekecewaan di wajah Dena.


" Padahal aku ingin menemani mu sayang, enam bulan bukan waktu yang singkat untuk kita tidak bertemu".


" Kemarilah", Adrian meminta Dena untuk mendekat padanya.


Dena duduk di samping Adrian.


" Bukan nya aku tak mau kau menemaniku, aku juga berat meninggalkan kau dan Noah selama itu. Tapi jika kau ikut dengan ku, akan lebih kasihan lagi dengan Noah. Kau mengerti kan?", Adrian memainkan rambut panjang bergelombang milik istrinya.


Lalu ia mengecup bibir merah itu, di balas hal yang sama oleh Dena. Sudah satu bulan rasanya mereka tidak ada kesempatan untuk bermesraan. Adrian masih ingat, terakhir mereka bercinta sepertinya saat malam sebelum kecelakaan naas itu terjadi.


" Sayang, maafkan aku yang tak bisa memenuhi hasrat mu seperti dulu lagi dengan kondisi ku yang seperti ini", Adrian bisa merasakan deru nafas istrinya yang haus akan sentuhan sentuhan dari dirinya.


Adrian memegang dada nya, merasakan sedikit nyeri. Bagaimana bisa ia bercinta dengan keadaan nya yang tidak memungkinkan. Ia sendiri sudah tak tahan memendam hasrat.


Dena terus mengecup bibir Adrian yang baginya tak pernah berubah, selalu menjadi candu baginya.


" Berbaringlah di samping ku", pinta Adrian pada dena.


Dena merebahkan diri di samping suaminya, mereka melanjutkan ciuman hangat tadi.


" Aku ingin bercinta pagi ini dengan mu, dan kali ini aku yang meminta nya", ucap Dena lalu melanjutkan kembali ciuman nya.


Adrian rindu mengecup keras bagian leher dan dada istrinya.


Dena nampaknya sudah tak tahan ingin segera memulainya.


Ia melepas pakaian nya, kemudian mulai naik ke atas tubuh suaminya.


Adrian menatap tubuh b**il istrinya yang sedang berada di atas tubuhnya. Istrinya begitu liar kali ini, berbeda dengan saat ia yang selalu menguasai permainan. Biasanya istrinya hanya pasrah dengan apa yang ia lakukan.


Adrian menikmati liang sempit yang berada di atas tubuhnya. Tangan nya memegang pinggul istrinya, menggerakkan nya lebih cepat ke depan dan ke belakang.


Tubuh indah itu bergerak semakin kencang, diselingi de***an yang kian menambah gairah Adrian. Tak lama tubuh istrinya menggelinjang hebat dan mulai terkulai disamping nya.


Adrian belum ingin menuntaskan permainan ini, ia kemudian duduk bersandar di tempat tidur, ia meminta istrinya duduk di pangkuan nya.


Lalu meminta istrinya mengaitkan kedua kaki di belakang tubuhnya. Mereka saling berpelukan kali ini, Adrian menggerakkan pinggul istrinya agar menghentak lebih cepat dan lebih dalam di tubuh nya.


Tiga puluh menit berlalu, baru lah mereka mengakhiri pertunjukan panas pagi ini.


Sarapan yang tadi dibawakan Dena sudah dingin dan belum disentuh sama sekali.

__ADS_1


" Aku siapkan sarapan lagi ya sayang, ini sudah dingin", Dena menunjuk semangkuk sup di atas nampan.


Adrian menarik lengan istrinya, menahan langkah nya untuk tidak meninggalkan kamar.


" Terima kasih sayang untuk pagi ini, aku mencintaimu. Tidak usah siapkan makanan lagi, buatkan aku segelas susu hangat saja", pinta Adrian.


Dena mengangguk dan tersenyum, sebelum ia meninggalkan kamar, Adrian berpesan untuk membawa Noah padanya.


Ia ingin hari ini menghabiskan waktu di kamar saja bersama anak dan istrinya.


Ia sudah mengatur tanggal keberangkatan nya ke Jakarta, minggu pagi yang berarti besok lusa.


Adrian cuma punya waktu hari ini dan besok pagi untuk bersama kedua orang yang ia sayangi.


Ia sudah memeluk kemungkinan terburuk jika operasi transplant ginjal sudah di lakukan. Ia takut tak akan bertahan lebih lama setelah itu. Biarlah hari ini dan besok ia puaskan untuk menghabiskan waktu bersama Dena dan Noah, menatap wajah mereka lekat lekat agar ia tak pernah lupa dengan wajah wajah itu.


Biarlah hari ini dan besok ia puaskan untuk mencium dan memeluk dua orang berharga dalam hidupnya. Karena ia tak pernah tahu kapan ia bisa memeluk dan mencium mereka lagi.


Dena kembali ke kamar dengan membawa Noah dan segelas susu.


Bayi lucu itu langsung tersenyum menggemaskan ketika diletakkan di samping Adrian. Seketika, tawa riangnya membuat Adrian lupa kalau saat ini dunia nya sudah hancur. Ia merasa dunianya baik baik saja ketika melihat wajah tanpa dosa anak laki laki kesayangan nya.


Berkali kali Adrian mencium Noah yang memeluk manja papa nya. Ia menitikkan air mata, tak sanggup membayangkan harus meninggalkan Noah buah hati yang selama ini begitu ia sayangi.


Kemudian ia beralih mencium istrinya.


Sayang, bukan maut yang menggetarkan hatiku


Namun segala angan ku tentang perpisahan di depan mata.


Ketakutan ku jika tak lagi punya waktu


Sekedar untuk melihat senyum mu dan anak kita.


Hamparan harap memilih jalan untuk bernaung.


Berkali kali menghabiskan waktu untuk merenung.


Sebab Tuhan menyelidiki tiap tiap hati yang tersembunyi.


...----------------...


😇😇😇😇

__ADS_1


Ikuti terus ya lanjutan nya, proses transplant ginjal yang di rencanakan Adrian.


Kira kira cocok nggak ya ginjal nya Adrian untuk Dena?


__ADS_2