
Tahun sudah berganti dengan tahun yang baru.
Ada banyak kisah yang terukir di tahun lalu, ada yang melekat hingga saat ini, ada pula yang dipaksa terbuang oleh kenangan.
Nanti malam Adrian akan datang ke rumah Dena, mereka telah sepakat untuk mempertemukan keluarga masing masing hari itu.
" Kau gugup Adrian?", tanya kak Radit ketika mereka dalam perjalanan ke rumah Dena.
" Sedikit kak, tak sabar aku ingin segera menentukan tanggal pernikahan kami".
" Hahaha, sabar bro....".
" Jangan bilang pada kakak mu kau sudah tak tahan lagi dengan hasrat lelakimu", Radit menepuk bahu adik satu satu nya itu.
Adrian ikut tertawa karena memang sebenarnya ia ingin cepat menikah karena ia tak mau melakukan hal gila kepada orang yang ia cintai sementara status sebagai seorang suami belum melekat pada dirinya.
" Kak Radit, jika nanti kau tau kekurangan calon istriku aku mohon kakak akan tetap merestui hubungan kami", ucap Adrian pelan.
" Hey... jika kau saja bisa menerima kekurangan pasangan mu lalu apa hak kakak mu ini untuk tidak bisa menerima".
Adrian menarik nafas lega, karena nanti di sana mau tidak mau Kak Radit akan tau kalau Dena punya penyakit kronis. Ia takut kakak nya nanti akan mengambil sikap yang membuat keluarga Dena tersinggung dan sakit hati.
" Kau tau Adrian, lelaki hebat itu adalah lelaki yang tau semua aib pasangan nya namun ia tetap memilih mencintai".
Adrian mengangguk menyetujui ucapan Kakak nya yang entah ia kutip dari mana.
Mereka sudah sampai di Rumah Dena, di sambut hangat oleh Dena dan keluarganya.
Lamaran ini tak seperti lamaran pada umum nya yang terlihat banyak keluarga laki laki yang datang.
Adrian hanya datang berdua dengan kakak laki laki nya, karena dialah satu satunya keluarga yang Adrian punya.
Kak radit sudah terlibat perbincangan kecil dengan Ayah Dena dan Hasbi.
Mereka saling berbincang tentang pekerjaan dan kesibukan mereka masing masing.
Ayah Dena tak menyangka kalau calon menantu nya ini adalah seorang adik dari pemilik sebuah Perusahaan Properti yang sudah punya nama di kota itu.
Karena yang ia lihat Adrian selalu bersikap sederhana, ia bahkan menjadi karyawan di Perusahaan lain meskipun sebenarnya jika ia mau ia bisa saja ikut mengelola bisnis kakak nya itu.
Perbincangan mereka masih belum menuju ke masalah lamaran Adrian dan Dena.
Tawa masih terdengar di antara perbincangan kala itu.
Sementara Adrian hanya banyak diam, mengamati perempuan yang nanti akan ia nikahi.
Dena masih terlihat sibuk membantu ibu menyiapkan makanan dan minuman untuk tamu spesial nya malam ini.
Adrian lagi lagi menatap kagum kecantikan kekasih nya itu. Dena memakai dress berwarna jingga selutut dengan belahan kecil di sisi kanan nya, pakaian itu membalut pas di tubuh nya hingga menampilkan lekuk tubuh yang indah. Cara berpakaian yang sederhana, namun selalu terlihat istimewa jika perempuan cantik itu yang memakainya.
Kak Radit dan Ayah Dena nampaknya sudah selesai dengan perbincangan kecil mereka.
__ADS_1
Dena dan Ibunya pun sudah ikut duduk bergabung di Ruangan itu.
Radit memulai pembicaraan, menyatakan niat kedatangan mereka.
" Begini Pak Surya, jadi maksud saya datang kesini adalah untuk memenuhi niat baik adik laki laki saya yang ingin melamar Nak Dena".
" Meskipun mereka belum lama menjalin hubungan, tapi nampak nya adik saya sudah yakin dengan pilihan nya".
" Apa Bapak dan keluarga mau menerima niat baik kami untuk melamar Dena?".
Ayah diam sebentar kemudian menarik nafas panjang dan mulai memberi jawaban yang mungkin tidak langsung pada intinya.
" Begini nak Radit, sebelum nya saya mau cerita dan ingin nak Radit tau semua tentang keluarga kami termasuk keadaan anak saya Dena".
" Saya rasa nak Adrian sudah paham dan bisa mengerti, namun saya tidak tau apakah nak Adrian sudah menceritakan nya atau belum kepada Anda".
Radit menoleh kepada Adrian seolah bertanya,
" Hal apa yang belum kau ceritakan padaku tentang kekasihmu?".
Ayah berdeham kecil, lalu melanjutkan kalimat nya.
" Anak saya Dena memang terlihat layak nya perempuan biasa yang menjalani aktifitas nya dengan normal".
" Namun di balik itu semua, kami sangat menjaga apapun itu tentang kesehatan Dena".
" Karena anak kami sebenarnya mengidap penyakit kronis".
Radit sedikit kaget mendengar itu, di tatapnya sekilas wajah perempuan itu.
Wajah nya terlihat segar, kecantikan nya bahkan bisa di bilang di atas rata rata.
Ayah melanjutkan kata katanya kembali.
" Anak kami mengidap gagal ginjal kronis stadium lima dan sudah hampir delapan bulan ini menjalani cuci darah".
" Apa nak Radit selaku keluarga Adrian bisa menerima kondisi anak saya Dena?".
" Jujur saya percaya dan yakin dengan Nak Adrian yang tulus menyayangi Dena".
" Saya juga ingin keluarga Adrian menerima keadaan Dena, agar nanti di kemudian hari tidak ada penyesalan yang membuat anak saya Dena kecewa".
Adrian terlihat cemas, menanti bagaimana reaksi kakak nya setelah tau hal ini.
Radit masih tak percaya rasanya dengan apa yang Ayah nya Dena katakan.
" Apa mungkin?", tanyanya dalam hati.
" Kak Radit", Adrian menyenggol tangan kakak nya yang terlihat masih bengong.
" Ehh iya".
__ADS_1
" Begini Pak, saya malam ini sudah sampai datang ke rumah Bapak berarti saya sangat mendukung semua yang di inginkan Adrian".
" Kalau Adrian saja sudah yakin dengan tekadnya untuk menikah dengan Dena, berarti ia menerima semua kelebihan dan kekurangan Dena".
" Saya sebagai kakak nya selalu mendukung keputusan Adrian".
Ayah Dena tersenyum mendengar perkataan Radit, Adrian tak kalah sumringah nya.
Ia menatap kakak laki laki nya itu, mengatakan beribu ribu terima kasih lewat tatapan nya .
" Baiklah nak Radit, jika Adrian dan nak Radit sudah bisa memahami dan menerima semua keadaan nya saya rasa tidak ada alasan untuk saya menolak lamaran ini".
" Satu pesan saya nak Adrian, jagalah dan sayangi Dena seperti kami keluarganya yang selalu menjaga Dena".
Adrian hanya mengangguk takzim tanpa mengeluarkan beribu ribu janji.
Terkadang, ada tipikal manusia yang tak banyak bicara. Terlihat biasa saja mengucapkan perasaan nya namun di dalam hatinya ada begitu besar bongkahan rasa cinta.
Kelak di kemudian hari, lelaki penyabar inilah yang bahkan akan membuat Dena menjalani kehidupan normal seperti dahulu lagi atas pengorbanan besar yang ia berikan.
Dena menunduk, tak ingin semua orang di ruangan itu melihat wajahnya.
Ia tak tau perasaan apa yang kini sedang berkecamuk di dalam dada nya .
Antara sedih dan bahagia.
" Mas Adam, aku telah di lamar orang".
" Bahkan aku tak bisa mencegah hatiku untuk bisa menolaknya".
" Akhirnya aku sadar bahwa kita hanyalah sekumpulan kisah yang terbuang".
Air mata menetes tanpa permisi, Adrian bisa melihat wajah Dena yang menangis meski berusaha ia tutupi .
" Dena, apa kau menangis bahagia karena terharu dengan lamaranku?".
" Atau masih ada hal lain yang kau sembunyikan dariku?", Adrian mendesah di dalam hati.
Malam itu, Dena resmi sudah bertunangan dengan Adrian.
Sepasang cincin emas melingkar di jari tangan mereka masing masing sebagai tanda mereka terikat dalam sebuah hubungan yang lebih serius, dengan ukiran inisial huruf A dan D di dalamnya.
Lalu, cincin bermutiara indah yang sebelum nya pernah Adrian berikan kepada Dena tetap ia pakai di jari manis tangan kirinya.
...----------------...
Adrian, semoga kau tak kecewa dalam ketika tau rahasia hidup yang masih yang Dena sembunyikan.
Kapan akan terungkap semuanya?
Ikuti terus update kisah nya di episode berikut nya ya readers..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin like n beri vote biar karya author jadi populer.
Semangat senin🥰🥰🙏