
" Lukas, apa kau bisa mengatakan padaku prosedur apa saja yang harus aku lakukan jika ingin pindah rumah sakit?", tanya Dena pagi itu di ruangan Hemodialisa.
Mas Adam saat itu sedang menerima telepon di meja perawat .
Lukas yang sedang mengukur tekanan darah Dena nampak bingung dengan pertanyaan tadi.
" Maksud nya?", Lukas balik bertanya .
" Aku berniat ingin cuci darah di rumah sakit XX".
Lukas mengernyitkan dahi.
" Kenapa harus pindah, bukankah ini rumah sakit terdekat dari rumahmu?".
Dena diam, merasa tak perlu menjawab pertanyaan Lukas.
" Katakan saja apa yang perlu aku lakukan?".
Lukas harus menjaga profesionalisme sebagai seorang tenaga medis.
" Baiklah, pertama kau harus menghubungi rumah sakit yang akan dituju".
" Tanyakan apa masih ada slot kosong untuk cuci darah disitu".
Lukas belum melanjutkan penjelasannya.
" Dena maaf kalau aku lancang bertanya, apa alasanmu karena masalah pribadi?", tanya Lukas berbisik.
" Tidak, teruskan lagi apa saja yang aku perlukan", Dena menjawab kesal.
" Kalau sudah mendapat jadwal disana, kau perlu screening ulang seperti pertama kau cuci darah".
" Lalu mintalah surat pengantar dari dokter spesialis yang menanganimu serta minta surat rujukan", Lukas menjelaskan sampai selesai prosedur tersebut.
" Baiklah Lukas, terima kasih".
Adam berjalan ke arah Dena, seperti biasa ia yang bertanggung jawab menusukkan jarum kupu kupu kepada perempuan itu.
Lukas meninggalkan mereka berdua.
Jujur saja Dena sebenarnya malu setiap bertemu lelaki ini semenjak kejadian di villa kala itu.
Ia malu karena lelaki ini satu satunya orang yang sudah melihat setiap lekuk tubuh nya tanpa busana.
Laki laki ini pula yang sudah menjamah keperawanan nya. Melakukan hal gila itu sebanyak tiga kali hanya dalam waktu singkat.
" Ahhh, aku merasa jijik dengan diriku sendiri meskipun aku sebenarnya menikmati semua itu", ucap Dena dalam hati .
" Selamat pagi Dena, sudah sarapan?".
Dena mengangguk, ia ingin menghindari perbincangan dengan lelaki ini agar keyakinan nya tak goyah.
" Aku tusuk ya, tahan sedikit".
Dua jarum kupu kupu sudah mendarat cantik di lengan kiri Dena.
" Bagaimana hubungan mu dengan Adrian?", tanya Adam.
" Baik, kami akan berencana menikah dalam waktu dekat", Dena sengaja mengatakan hal itu.
Wajah Adam tampak kesal.
" Dena, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu".
" Kau mencintaiku tetapi kenapa kau menikah dengan lelaki yang tak kau cintai".
" Kata siapa aku tidak mencintai Adrian?".
__ADS_1
" Aku mencintainya dan aku akan terus belajar mencintai dengan utuh", jawaban Dena terdengar tegas.
" Lalu apa artinya semua yang pernah kita lakukan jika pada akhirnya kau menikah dengan laki laki lain?", Adam masih tak terima dengan ucapan Dena.
Tak ada lagi kata kata yang bisa keluar dari mulut Dena. Entah dengan alasan apa ia bisa menjawab nya.
Karena ia mengakui pada dirinya bahwa memang ia melakukan itu atas dasar rasa cintanya dan kala itu ia berharap akan bisa hidup dengan lelaki itu di sisa usianya.
" Tuhan, aku tak tau berapa lama lagi aku bisa bertahan dengan penyakit ku?".
" Apa salah kalau aku meminta aku ingin menghabiskan sisa umurku dengan lelaki yang begitu aku cintai?", air mata mengalir di pelupuk netra nya.
Sungguh itu sudah menjadi harap nya yang lalu, karena saat ini harapan nya adalah menikah dengan Adrian.
" Mas Adam, kau sudah selesai kan dengan jarum kupu kupu itu?".
" Sekarang aku ingin sendiri, tinggalkan aku".
Adam menghargai ucapan Dena, ia kembali ke meja nya.
" Kalau butuh bantuan, panggil saja aku", mengucapkan lagi kalimat itu.
Dena tak ingin menoleh pada laki laki itu, seperti yang dulu sering ia lakukan , selalu mengikuti gerak langkahnya.
Yang ada di pikiran Dena saat ini adalah segera mengurus berkas berkas kepindahan nya ke rumah sakit lain . Ia akan meminta bantuan Hasbi untuk meminta jadwal di rumah sakit tujuan.
Ia perlu surat pengantar dari dokter spesialisnya. Berencana besok akan mengambil cuti 1 hari, sekalian konsultasi perkembangan penyakit nya pada dokter.
Besok ia ingin ditemani Adrian, lelaki itu kelak yang akan menjadi pendamping hidupnya jadi ia perlu tau hal apapun tentang penyakitnya.
" Hallo, Adrian apa kau sedang sibuk?", Dena menghubungi Adrian lewat sambungan telepon.
" Sedikit Dena, apa kau sekarang sedang di rumah sakit?", mengingat hari ini hari Rabu.
" Iya, aku sedang berada di rumah sakit".
" Aman kan? tidak ada masalah?", Adrian bertanya karena tak biasanya Dena menghubungi saat sedang cuci darah.
" Aman kok".
" Adrian, aku besok berencana untuk kontrol ke dokter spesialis yang menanganiku".
" Aku cuti kerja besok, apa kau besok juga bisa mengambil cuti?".
" Aku ingin kau menemaniku".
Tentu saja Adrian akan menyempatkan waktu untuk menemani kekasih nya itu, senyum tipis tersungging di bibir nya. Ia senang karena kekasih nya ini mulai menunjukkan kalau ia butuh Adrian di sisi nya.
" Bisa kok Den, hari ini aku ajukan cuti untuk besok".
" Aku akan menemanimu".
" Terima kasih ya Adrian".
" Lanjutkan kerjaan mu, sampai ketemu nanti di kantor".
" Bye".
" Bye Dena".
" Hati hati di jalan".
Telepon di tutup.
Empat jam telah selesai dilalui.
Jarum kupu kupu telah di cabut, Dena membereskan tas dan beberapa peralatan yang ia bawa.
__ADS_1
" Tunggu aku diluar, aku butuh penjelasan mu", ucap Mas Adam.
" Maaf, aku buru buru ingin ke kantor", Dena menolak.
" Lukas bilang kau berniat pindah ke rumah sakit lain?".
" Apa maksudmu?".
" Tidak ada maksud apa apa, aku rasa itu hak setiap pasien menentukan dimana akan menjalani cuci darah".
" Aku permisi, selamat siang".
Dena pergi meninggalkan lelaki yang masih terus saja menatap nya hingga punggung nya menghilang di balik pintu.
Belum berapa jauh ia keluar dari ruangan Hemodialisa, suara lelaki itu menahan langkahnya .
" Kenapa kau ingin pergi dari hidupku?", suara berat Adam terdengar lirih.
" Karena aku ingin hidup tenang, mengertilah Mas".
" Aku juga lelah berada di posisi yang salah", mata Dena berkaca kaca tapi ia tahan agar tak jatuh air mata nya.
" Aku tau, tapi tak bisakah kau izinkan aku tetap melihatmu".
" Sekalipun melihat tanpa ada lagi rasa di hatimu",ucap lelaki itu dengan penuh nestapa.
Dena menggeleng, kemudian menunduk mengusap air mata nya yang menetes.
" Itu sudah tak penting bagiku", singkat Dena menjawab .
" Dena, berikan aku satu bukti yang nyata, bahwa kehadiranku tak pernah kau anggap penting".
" Agar aku bisa meyakinkan hatiku bahwa bertahan sejauh ini adalah pilihan yang salah".
Pilu rasanya Dena mendengar kalimat yang tadi Mas Adam ucapkan.
" Dengan aku tidak lagi di rumah sakit ini adalah sebuah bukti kalau kehadiranmu tak penting bagiku", Dena mencaci dirinya dalam hati saat kalimat itu keluar ia lah orang paling munafik dan seorang pecundang .
" Aku harus segera pulang"
" Permisi", Dena setengah berlari menghindari lelaki itu membawa sisa kepedihan di hatinya.
Adam masih berdiri terpaku.
Tingkatan tertinggi dalam kepedihan adalah ketika sebuah tangisan tak mampu lagi mengeluarkan air mata.
" Dena, aku masih ingin melihatmu".
" Jika aku tidak bisa menghapus namamu dari ingatanku, mungkin kau memang digariskan untuk ada disana".
Sudahlah, manusia akan melupa pada saatnya.
Adam kembali ke ruangan Hemodialisa, wajah nya kusut seperti seseorang yang kehilangan semangat hidup .
Ia yang setiap hari selalu memberi semangat pada tiap pasien, nyatanya hari ini justru menjadi orang yang sudah tak bisa disemangati lagi.
Lukas dan Laras saling pandang, bertanya tanya apa yang terjadi pada senior mereka itu setelah tadi keluar ruangan.
Mereka tak berani bertanya.
Berita ini nampaknya akan jadi perbincangan Laras dan Hasbi ketika bertemu.
......................
Hari ini Author sudah up 2 episode, mudah mudahan nanti malam bisa nambah 1 lagi ya🙏
Jangan lupa baca terus kelanjutan nya,
__ADS_1
pencet like n kasih vote jangan lupa🥰🥰