Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Tak ingin Berjanji


__ADS_3

Minggu pagi


Mbok Nah sudah menyiapkan semua kebutuhan yang akan dibawa selama mereka di Jakarta.


Sedangkan Adrian masih berada di kamar nya bersama Noah dan Dena. Sebentar lagi ia akan berangkat, diantar Kak Radit ke Bandara bersama Mbok Nah. Tentu saja ia sudah janjian dengan Mas Adam untuk bertemu disana.


" Sayang, aku pasti akan sangat merindukan mu. Ingat, jangan lupa kabari aku setiap hari", ucap Dena.


Adrian sedang memeluk Noah yang tertidur di samping nya.


" Kesayangan papa, doain ya semua nya berjalan lancar dan papa bisa berkumpul lagi bersama Noah dan mama", Adrian mencium kening dan pipi Noah bergantian.


Dena berat sekali melepas kepergian Adrian, matanya merah. Ia memeluk suami nya yang masih duduk di tempat tidur.


Adrian balas mencium rambut Dena .


" Wangi rambutmu masih sama ketika pertama kali aku mencium nya. Aku ingin selalu ingat akan wangi mu".


Mbok Nah mengetuk pintu kamar, memanggil Adrian untuk segera keluar karena Kak Radit sudah menunggu.


Kecupan terakhir pagi itu mendarat di bibir hangat Adrian, lama dan sangat dalam.


" Kau akan kembali dalam keadaan jauh lebih baik sayang, aku dan Noah akan menanti kepulangan mu".


Mereka sama sama meneteskan air mata, menunjukkan betapa besar cinta yang ada di antara mereka berdua.


Kak Radit sudah menunggu di depan rumah.


Dena melepas kepergian Adrian pagi ini dengan begitu berat. Angin pagi sejuk mengitari halaman rumah kala itu, membelai indah perpisahan sementara yang cukup lama bagi mereka.


Noah masih tertidur dalam gendongan Dena, mungkin saat ia bangun ia tak lagi melihat sosok papa nya untuk waktu yang lama.


****


Kota Jakarta

__ADS_1


Langit sore Ibu kota dihiasi awan yang berarak searah tiupan angin kala itu. Adam berdiri di balkon apartemen di lantai 35 milik Radit.


Ia bisa memandang hiruk pikuk kehidupan Ibu kota dari atas sini. Tak pernah terpikir olehnya ia justru berada disini bersama laki laki yang telah menikahi perempuan yang amat berharga dalam hidupnya.


Ia melakukan ini semata mata karena menghargai ketulusan Adrian, ia mungkin saja bahagia jika nanti melihat Dena bisa menjalani kehidupan normal pada umum nya.


Namun ia juga sudah membayangkan resiko terburuk bagi Adrian karena mendonorkan ginjal nya dalam keadaan kesehatan nya yang tidak cukup baik.


Adrian dengan kursi roda nya menghampiri Adam yang masih berdiri termenung menatap hamparan pemandangan gedung gedung pencakar langit di hadapan nya.


" Mas Adam, sekali lagi terima kasih. Akhirnya kita sampai juga disini, kau memenuhi janjimu untuk membantuku".


Adam menoleh ke belakang, mendengar Adrian yang tiba tiba menghampirinya.


" Adrian, besok kita akan memulai semuanya. Melakukan beberapa cek laboratorium dan USG, aku harap kau masih memikirkan nya sekali lagi", Adam langsung mengatakan apa yang menjadi lamunan nya sedari tadi.


" Kenapa Mas, kau mau mengatakan kalau semua ini berbahaya untuk ku, seperti mempertaruhkan nyawaku?", Adrian bisa menebak maksud kalimat Mas Adam barusan.


" Kalau kau sampai tidak bisa bertahan karena mendonorkan ginjal mu untuk Dena, kau pikir Dena akan bahagia? Dia hanya akan merasa bersalah seumur hidupnya. Pikirkanlah itu".


" Sebenarnya masih ada satu hal yang aku ingin Mas Adam lakukan, dan aku ingin Mas Adam juga berjanji untuk memenuhinya".


Adam menarik nafas berat kemudian menghela nya dengan hembusan halus yang bisa di dengar Adrian.


" Apa lagi yang kau ingin aku lakukan?", nampaknya Adam punya banyak janji yang harus ia tepati.


" Jika nanti aku benar benar pergi meninggalkan dunia ini, aku ingin Mas Adam menjaga Dena dan Noah anak ku", ucap Adrian dengan tatapan jauh ke langit yang mulai jingga di ujung sana.


" Kenapa harus aku? Aku bukan siapa siapa di keluargamu, masih ada kakak mu dan keluarga Dena yang bisa melakukan itu", jawab Adam sama pelan nya dengan suara Adrian barusan.


" Karena aku tahu, Mas Adam masih mencintai Dena dan aku yakin Mas Adam adalah orang yang bisa membahagiakan Dena ", kali ini Adrian menunduk berkata pelan karena sebenarnya ia tak rela ada laki laki lain yang mencintai istrinya.


" Bicara apa kau Adrian, berhentilah dengan omong kosong mu. Aku akan tetap membantu mu hingga proses transplant selesai tanpa kau harus mengaitkan antara perasaan ku pada Dena. Dan untuk rasa cintaku, kau tak perlu tahu. Karena bagiku kau adalah laki laki terbaik yang pantas mendampingi Dena", Mas Adam berkata tajam.


" Apapun perasaan Mas Adam saat ini, aku mohon Mas Adam berjanji untuk ku saat ini. Menikahlah dengan Dena jika nanti aku tak ada lagi di dunia ini, berjanjilah aku mohon. Agar aku bisa pergi dengan tenang jika hari ini aku bisa memastikan istri dan anak ku akan selalu bahagia", Adrian setengah memohon.

__ADS_1


" Tidak, tidak akan ada janji untuk itu. Kau akan selalu jadi suami bagi Dena, dan kau akan baik baik saja", sebenarnya Adam sendiri ragu kalau Adrian akan baik baik saja setelah operasi transplant ginjal.


Adam tak ingin meneruskan pembicaraan ini, ia hendak meninggalkan Adrian yang masih terdiam duduk di kursi roda.


" Aku mencintai istriku, sangat mencintainya. Aku bahagia di kehidupan ini bisa memilikinya, tapi jika Tuhan memanggilku aku tak ingin ia sendiri menghadapi dunia yang keras ini", Adrian menahan langkah Mas Adam dengan kalimatnya.


" Dena tak akan pernah sendiri, ia akan selalu bersama mu. Dan berhentilah memintaku untuk berjanji karena aku tak akan pernah berjanji untuk pikiran bodoh mu itu", Adam kali ini benar benar meninggalkan Adrian sendiri.


Ia menghempas kasar tubuh nya di atas kasur di sebuah kamar yang di khusus kan untuk nya di apartemen itu.


Teringat ucapan Adrian tentang ia yang masih mencintai Dena.


Tentu saja semua yang di katakan Adrian itu benar, ia masih begitu mencintai Dena.


Namun jika ia mengambil kesempatan atas keterpurukan Adrian, bukan lelaki sejati nama nya.


Seberapa besar pun keinginan nya untuk memiliki Dena, ia tak akan pernah berjanji untuk menikahi perempuan itu.


Karena ia berharap, Adrian akan selalu menjadi satu satu nya untuk Dena.


Dena, biarlah aku mencoba bernafas dengan diksi. Meski aku sadar, aku harus menepikan mu.


Bahwa kau hanya rahasia terbesar dalam hidupku.


Tak perlu diungkapkan, tak perlu di ucapkan.


Tanyakan pada semesta tentang hati siapa yang lebih ikhlas saat kau mengatakan "aku mencintainya dan tidak bisa meninggalkan nya".


...----------------...


Prinsip Adam, jadilah laki laki yang teguh pada pendirian, yang mampu bertanggung jawab pada ucapan dan berani berkomitmen dengan satu wanita. Ia pernah melepaskan Lisa karena ia tak ingin ada dua wanita dalam hidupnya, meskipun pada akhirnya ia tak pernah memiliki Dena.


Namun baginya tak mengapa, lelaki sejati adalah yang paling ikhlas dalam menerima.


Hhmmm, kira kira Mas Adam yakin gak ya dengan keputusan nya untuk tidak mau berjanji pada Adrian??

__ADS_1


Next ikuti terus ya lanjutan nya, sorry kalau thor nya masih slow up🙏🙏🥰


__ADS_2