Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Drama Hemodialisa ( 2 )


__ADS_3

Tolong Izhar kan !


Aku jalan di tempat karena kode kode mu sungguh samar terlihat.


Maju takut kecewa,mundur belum tentu juga kau tak suka.


Bagaimana bisa menghilangkan dirimu dari pikiran ku,sedangkan hadirmu terlalu nyata.


Akankah nanti hilang mu menjadi benalu,atau bahkan menjadi candu dalam hidupku.


Wahai sang pemberi rasa dalam kehidupan, biarkan hadir nya menggetarkan tiang tiang Arsy yang akan menuntun ku menuju cahaya di atas Surga Firdaus Mu...


**** Satu jam telah di lalui Dena dengan beberapa kali rasa mual yang melanda. Dena meminta Ibu menaikkan selimut lebih tinggi menutupi hingga bagian perut nya. Ruangan berpenyejuk udara ini membuat Dena tampak menggigil, semenjak sakit tubuh Dena seperti tak mampu menahan cuaca dingin. Padahal dulu ia bahkan tidak pernah mengenakan selimut sama sekali di Ruangan ber AC.


" Bu,aku kedinginan tapi kenapa rasa panas menjalar dari dalam dada ku?", tanya Dena kepada Ibu


" Apa perlu ibu panggil kan perawat" tanya Ibu setengah panik mendengar pertanyaan putri nya.


Dena menggeleng, menolak memanggil perawat. Masih bisa di tahan,fikir Dena.


Beberapa menit berlalu,rasa panas kian menjalar ke leher hingga wajah Dena. Tidak hanya itu,dia merasakan dada nya seperti di remas remas. Detak jantung nya kian tidak beraturan, berdegup kencang sampai Dena bisa melihat baju yang ia kenakan ikut bergerak di bagian dada nya karena jantung nya yang berdebar keras. Ia tak mampu lagi menahan sakit yang terus mendera di dada nya.


Dena merintih menahan sakit,mengigit bibir nya berusaha melawan apa yang ia rasa kan. Namun batas kemampuan nya hanya sampai disitu, ia berteriak minta tolong. Seketika pasien pasien lain nya menoleh dan menatap iba Dena yang tampak mengerang kesakitan.


Kak Anjani menyodorkan minuman kepada Dena, melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan adik nya.


Mas Adam dan Lukas yang mendengar teriakan Dena bergegas menghampiri.


" Kenapa?" , tanya Lukas


Ibu berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada putri nya kepada Lukas dan Mas Adam.


Sementara Dena masih terus merintih dan memegang dada nya. Mas Adam mengurangi kecepatan putaran mesin di layar monitor.


"Hentikan sekarang" , ucap Dena lirih.


Sakit kali ini yang ia rasakan lebih sakit dari yang pernah ia alami sebelum nya. Fikiran fikiran buruk mulai memenuhi kepala nya, ia berfikir hari ini adalah hari akhir dia masih bisa bernafas. Denyut jantung nya semakin tak beraturan, udara yang masuk ke paru paru nya seperti tercekat di dalam nya dan tak mampu untuk di hembuskan kembali.


Dena hampir tak bisa merasakan sebagian tubuh nya, terasa dingin. Perlahan semua yang terlihat di sekeliling nya semakin samar, ia menatap Ibu,Kak Anjani,Lukas dan Mas Adam dan kemudian gelap tak tersisa sedikitpun cahaya yang bisa ia temukan. Sesak memenuhi dada nya, dan kemudian ia terpejam tak sadarkan diri.


...****************...


Samar samar Dena mendengar bisikan ibu nya

__ADS_1


"Bangun nak, kamu pasti kuat" ibu berbisik setengah menangis di telinga Dena.


Dena perlahan membuka mata, merasakan ada sedikit cahaya yang bisa ia lihat setelah terakhir sebelum tak sadarkan diri ia hanya melihat kegelapan dalam penglihatan nya.


Ia bisa melihat bahwa perempuan yang berdiri di depan nya adalah Kak Anjani,meskipun masih tampak buram. Anjani yang mendapati adik nya mulai membuka mata segera mendekat dan memeluk nya. Ibu berkali kali mengucap syukur,mengusap netra nya yang merah karena air mata.


Dena mencoba membuka selang oksigen yang menempel di hidung nya. Ibu mencegah dengan menahan gerakan tangan Dena.


"Aku sudah baik baik saja bu,sudah bisa bernafas normal" ucap dena sambil melepaskan selang oksigen di hidung nya.


Mas Adam kembali menghampiri Dena, memastikan gadis itu sudah benar benar siuman dan tidak kesakitan lagi.


" Kau gadis yang kuat,aku yakin kau bisa melewati masa masa sulit ini", ucap Mas Adam


" Lihat lah sekelilingmu,pasien pasien itu. Mereka juga dulu sama sepertimu melalui masa masa sulit di awal proses hemodialisa"


"Dan lihat sekarang,mereka bahkan menikmati setiap proses hemodialisa selama 4 jam dengan makan makanan yang mereka sukai,bercanda dengan sesama pasien lain nya,bahkan bisa tertidur pulas" ucap Mas Adam seraya menunjuk seorang pasien laki laki tua yang terlelap tidur dengan dengkuran nya yang terdengar hingga ke segala penjuru ruangan.


"Ya...ini hanyalah masalah waktu" , ucap Dena dalam hati.


"Semakin aku mengikhlaskan apa apa yang telah terjadi, semakin aku tak punya kuasa sedikitpun untuk mengeluh atas takdir ku"..


"Terima kasih telah menyemangati ku", ucap Dena kepada Mas Adam.


Dena melemparkan senyum khas nya yang manis, seperti biasa Mas Adam tetap dengan ekspresi nya yang tenang sedangkan Lukas yang berada di sebelah nya di buat mabuk kepayang hanya karena mendapati senyuman kecil dari bibir mungil itu.


...****************...


Waktu di layar monitor menunjukkan dalam 10 menit lagi proses hemodialisa akan berakhir. Kondisi Dena sudah mulai stabil, meskipun masih merasakan sedikit lemas tetapi paling tidak ia bisa memejamkan matanya,berusaha untuk tertidur agar waktu berjalan dengan cepat,fikir nya kalau ia tertidur.


Ibu dan Kak Anjani terlihat berbincang dengan keluarga pasien yang lain nya. Dena bisa mendengar perbincangan mereka, karena dia tidak sungguhan tertidur.


Ada yang bertanya bagaimana kronologis nya seorang perempuan muda seperti Dena bisa mengalami gagal ginjal,karena hampir rata rata pasien yang cuci darah di ruangan itu sudah berumur di atas 40 tahun.


Ada yang menyemangati Ibu, menceritakan bagaimana mereka pun dulu pernah ada di posisi seperti ini. Berusaha melawan takdir, berusaha mencari jalan lain untuk menyembuhkan penyakit ini,namun semua nya Nihil tanpa hasil. Dan pada akhir nya mereka juga harus menyerahkan nasib,bergantung pada mesin mesin ini.


Bunyi Alarm di mesin menandakan waktu 2 jam telah selesai. Dena yang tadi terpejam membuka matanya, menghembuskan nafas lega karena akhirnya dia bisa melalui waktu 2 jam yang terasa begitu lambat dengan di penuhi banyak drama


" Bagaimana, sudah enakan kan rasa nya?" Mas Adam bertanya pada Dena


Yang di tanya hanya mengangguk kecil dan tersenyum.


" Kenapa dia tersenyum semanis ini sih?" gumam Lukas dalam hati

__ADS_1


" Kan aku jadi semakin gencar untuk membulatkan tekad mendekatinya" batin Lukas sambil menyeringai kecil.


" Hei jomblo sejati,jangan bengong.. Ayo sini bantu aku" ucap Mas Adam yang sengaja mengagetkan Lukas karena lagi lagi ia tau apa yang sedang di fikir kan junior nya itu.


Lukas jadi salah tingkah karena ketauan melamun dan memandang wajah Dena, ia menggaruk garuk kepala nya yang tidak gatal. Kemudian membantu Mas Adam melepaskan jarum Kupu Kupu yang menempel di lengan Dena. Dena tersenyum simpul melihat ulah dua laki laki di hadapan nya ini. " Mereka lucu" batin Dena.


Mas Adam dengan hati hati melepaskan jarum kupu kupu di bagian paha,kemudian menutup bekas nya dengan kain kasa yang telah di gulung berbentuk bulat lalu di rekatkan dengan plester. Ia menekan nya selama beberapa menit untuk mencegah aliran darah merembes keluar. Sementara Lukas melakukan hal yang sama di lengan kanan Dena, tentu saja dia melakukan nya dengan sedikit grogi karena berada sedekat itu dengan Dena.


" FIX....dia memang benar benar cantik" ucap Lukas dalam hati setelah memandang wajah perempuan itu dalam jarak dekat.


Lukas mulai memutar otak, berusaha membuka obrolan agar ia bisa sedikit berbincang dengan perempuan di hadapan nya ini yang lebih banyak diam dan memilih tersenyum dari pada berbicara. Belum sempat Lukas mencari ide harus bagaimana memulai pembicaraan, Dena sudah duluan bertanya kepada Lukas.


" Berapa lama plester ini bisa di buka Mas Lukas?" tanya Dena sembari menunjuk lengan nya yang masih di tekan oleh Lukas.


" Ehhh...heemm.." Lukas tampak salah tingkah mendengar Dena menyapa dan bertanya sesuatu padanya . Ia mengatur nafas, berusaha menunjukkan wajah santai dan menjawab pertanyaan Dena, " Nanti sore juga sudah bisa di buka kok" , Lukas memaki diri nya sendiri atas kebodohan nya yang salah tingkah hanya karena Dena menanyakan hal lumrah seperti itu.


Mas Adam menggembungkan pipi nya, menahan tawa melihat Lukas yang salah tingkah. " Bagaimana cerita nya mantan play boy bisa salah tingkah hanya karena hal kecil seperti itu" begitu lah maksud tawa Mas Adam yang ia lemparkan kepada Lukas.


" Ayo.. ayo.. keluar kan jurus jurus rayu mu Lukas" batin Mas Adam.


" Ohh ya Dena tinggal nya dimana?" tanya Lukas, mulai melebarkan sayap pembicaraan di luar topik cuci darah.


Dena menjawab singkat hanya dengan menyebutkan kecamatan tempat tinggal nya.


Lukas menggerutu dalam hati , " Kenapa sih dia tidak mengatakan secara detail alamat rumahnya". Apa perlu aku minta dia share loc agar aku bisa langsung datang kerumah nya? Ha ha ha, Lukas menertawai diri nya sendiri di dalam hati.


" Panggil saja aku Lukas, Den.. Gak perlu dengan sebutan Mas Lukas,kita seumuran kok" ucap Lukas yang tanpa malu malu.


" Siapa pula yang peduli kalau dia seumuran dengan ku" jawab Dena dalam hati


" Kalau Mas Adam umur nya berapa?" tanya Dena mengalihkan pembicaraan.


Lukas tampak kesal sendiri mendengar Dena malah bertanya pada Mas Adam,padahal ia berharap Dena paling tidak menjawab " Ohh ya kita seumuran ya".


" 33 tahun 4 bulan 12 hari" , jawab Mas Adam santai menunjukkan ekspresi wajah nya kepada Lukas supaya junior nya itu semakin kesal .


" Ciihhh... syukurlah kalau kau mengakui umur mu yang sudah tidak muda itu", gumam Lukas


" Ayo dong Dena, di hadapan mu ada pria muda tampan dan berkelas ini, kenapa sih kamu tertarik sama lelaki yang umur nya terpaut 6 tahun dengan mu" gerutu Lukas dalam hati.


*** Hari itu, Dena bisa melewati 2 jam pertamanya dengan Dua kupu kupu hijau.


" Terima kasih banyak ya Nak Adam dan Nak Lukas" ucap Ibu pada dua lelaki itu.

__ADS_1


" Sama sama bu,jangan lelah untuk terus menyemangati putri ibu" ucap Mas Adam lembut.


Dena menatap wajah hangat itu, merasakan kembali desiran halus memenuhi relung relung hati nya. Sepanjang koridor rumah sakit menuju lantai 3 Ruangan rawat inap,Dena tak henti merangkai kepingan kepingan rasa yang mulai tumbuh benih, berharap bersemai dan suatu hari akan dituai sang pemilik hati.


__ADS_2