
Lantai 2 Rumah Sakit XX,tepatnya di sebuah Ruangan panjang dengan belasan tempat tidur dan di setiap tempat tidur memiliki sebuah mesin lengkap dengan Monitor nya. Ya, ruangan itu adalah Ruangan Hemodialisa bagi pasien pasien cuci darah di Kota itu.
Setiap hari, tempat tempat tidur itu selalu di penuhi orang orang yang menggantungkan hidup dan kesehatan nya dengan Mesin pencuci darah itu. Dalam satu minggu,setiap pasien akan menjalani 2 kali tindakan hemodialisa.Dari pagi hingga sore hari menjelang maghrib,mesin mesin itu akan terus berputar, mencuci darah dengan cara memisahkan cairan dan zat zat racun yang berbahaya bagi tubuh Manusia.
Disini lah Dena nanti akan menghabiskan perjalanan hidup nya,agar dia bisa beraktifitas normal lagi seperti biasa.
Tampak beberapa petugas atau Perawat Dialysis di Ruangan itu sedang sibuk menangani pasien pasien yang sudah mereka anggap sebagai saudara. Empat orang pagi itu bertugas menangani pasien pagi ini yang akan menjalani tindakan selama 4 jam. Begitu pula dengan siang hari nanti,akan ada 4 orang staff yang bergantian mengabdikan diri mereka merawat para pasien pasien siang hari.
"Pagi ini ada satu pasien baru lagi" ucap seorang perawat perempuan bernama Risma
"Dari rawat inap?" tanya Perawat laki laki di sebelah nya yang bernama Lukas
Risma mengangguk
Seorang pria yang sedang duduk di depan layar komputer tampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu,ya... dia salah satu staff senior di Ruangan itu.
"Lukas,siapkan satu mesin di ujung sana" perintah laki laki itu.
Lukas dengan cekatan menarik satu tempat tidur dan menyalakan mesin hemodialisa untuk di persiapkan pada pasien baru pagi ini.
Seorang perawat perempuan yang masih begitu terlihat muda bernama Laras memberikan berkas berkas pasien baru tadi kepada Perawat laki laki senior yang duduk di hadapan nya. Lelaki berumur 33 tahun itu sudah hampir 9 tahun mengabdi diri di Rumah sakit ini sebagai Perawat dialysis. Wajahnya terlihat teduh,begitu menyejukkan mata kaum hawa yang memandangnya,janggut tipis di dagu lancip nya membuat semakin lengkap pesona lelaki itu.
"Ini berkas berkas beserta hasil screening nya Mas,tadi perawat Ruangan Rawat Inap yang menyerahkan nya" ucap Laras
Lelaki itu memeriksa berkas berkas yang di berikan kepada nya,memastikan semua hasil screening HIV ,HbsAg, dan HCV semuanya negatif. Laki laki itu mengerutkan alis hitam nya yang lebat,bulu mata lentik nya kian terlihat jelas saat ekspresi wajah nya seperti itu. Dia membaca berkas di hadapan nya,
Nama : Dena Sanlova
Umur : 27 tahun
Ia tampak tidak asing mendengar nama itu,mencoba mengingat ingat apa dia mempunyai teman bernama Dena. Tapi rasanya dia tidak punya teman perempuan berusia masih lebih muda darinya yang bernama Dena.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu,di Lantai 3 Rumah sakit,Dena sedang bersiap menuju Ruangan Hemodialisa. Pagi itu,dia di temani Ibu dan Kak Anjani sedangkan Ayah dan Hasbi tidak bisa datang ke Rumah sakit karena urusan pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
Dena mencuci wajahnya di wastafel kamar mandi, lama ia menatap wajah nya yang tampak pucat saat ini. Dena mencoba mengingat bagaimana dulu rupanya sebelum ia di vonis sakit seperti ini. Dulu dia selalu ingin tampil sempurna walaupun cukup dengan riasan tipis di wajah nya sudah membuat dia di kagumi orang orang yang melihatnya. Dia memang punya wajah yang manis,yang tidak akan bosan di pandang terus menerus. Tapi sekarang?? Bahkan untuk mengoleskan lipstik tipis di bibir nya pun dia sudah tidak bersemangat.
Ibu dengan hati hati membantu Dena bergantj pakaian,Ibu selalu takut melihat jarum infus yang tertusuk di pergelangan tangan Dena. Berkali kali ia selalu bertanya pada Dena apakah jarum itu membuat nya sakit?
Tak lama,perawat ruangan masuk dengan membawa Kursi roda
"Apa nona sudah siap?" Sekarang sudah waktunya untuk Nona menjalani tindakan pertama Nona di Ruangan hemodialisa,ucap perawat itu.
Dena dengan mantap menganggukkan kepala nya,ia bahkan dari semalam tidak bisa tidur memikirkan bagaimana hari ini akan ia lalui. Banyak hal yang ia renungi sampai ia benar benar memantapkan hati nya dan bertekad akan menjalani semua proses ini apapun resiko nya.
"Bukankah menerima kenyataan hidup adalah bagian dari cara kita untuk tetap bertahan hidup"
"Isi hatimu sampai penuh bukan oleh harapan namun oleh kekuatan untuk menerima kenyataan".. Begitulah Dena memaknai hatinya saat ini.
Dena membaca Tulisan di Ruangan di hadapan nya "Ruang Hemodialisa",terdengar dari jauh bunyi alarm mesin mesin tersebut,membuat Dena semakin merinding.
Dengan infus yang masih menempel di tangan sebelah kirinya,Dena tertunduk lesu di dorong perawat sedangkan Ibu dan Kak Anjani mengikuti di belakang nya .
"Selamat pagi,ini pasien dari Ruangan Rawat inap yang akan menjalani cuci darah"ucap perawat itu pada salah satu petugas ruangan yang bernama Lukas
"Baik,silahkan ditinggal nanti kita yang akan menanganinya" jawab Lukas sambil mengambil alih kursi roda dan mendorong Dena ke tempat tidur paling ujung di Ruangan itu.
Dena tampak canggung karena pasien pasien yang tampak duduk ada pula yang berbaring memperhatikan kedatangan nya. Dena bahkan tidak melemparkan senyum sama sekali,pandangan matanya hanya lurus ke depan. Hanya Ibu dan Kak Anjani yang tampak basa basi menyapa orang orang yang ada di Ruangan itu. Ada beberapa yang di dampingi keluarganya.
Pasien pasien itu ada sebagian yang berbisik melihat kedatangan Dena,tentu saja yang mereka bicarakan adalah "masih muda sekali pasien baru ini" ada juga yang menatap iba seolah mengatakan "kasihan ya,padahal dia cantik sekali" begitu lah kira kira mereka menatap Dena,mengingatkan mereka saat pertama kali dulu mereka harus masuk ke Ruangan ini. Pasti sulit dilalui oleh gadis manis yang masih sangat muda ini,gumam mereka.
Dena dengan hati hati berbaring di atas tempat tidur yang di siapkan untuk nya di tempat paling ujung di Ruangan itu. Perawat bernama Lukas itu tampak sedang mengatur beberapa settingan di mesin. Dena melihat sebuah mesin di sebelah nya dengan sebuah layar monitor bertuliskan angka angka yang masih belum bisa dimengerti oleh Dena.
__ADS_1
Di sisi kiri bagian bawah mesin tersebut terdapat tabung berisikan butiran seperti Detergent bubuk,sedangkan di bagian atas terdapat tabung dializer yang di lengkapi dengan dua buah selang panjang yang nanti akan terhubung dengan jarum yang akan di tusukkan di tangan dan paha pasien.
Lukas mengukur tekanan darah Dena,menanyakan beberapa hal seperti berat badan dan memeriksa apakah ada pembengkakan di pergelangan kaki dan sekitarnya. Ibu berada di sebelah Dena,menggenggam erat tangan putrinya dan tak henti membisikkan kata kata penyemangat agar Dena tetap tenang.
Saat itu,saat Dena sedang mempersiapkan jiwa dan raga nya memantapkan dan meneguhkan hati untuk memulai proses cuci darah pertama kalinya,saat itu juga seorang laki laki yang tidak diduga oleh Dena muncul di hadapan nya mengenakan seragam putih yang sama seperti dikenakan Lukas. Lelaki itu menghampiri Lukas,menoleh ke arah Dena. Dan sepersekian detik tatapan mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain.
"Kamu?", ucap lelaki itu sambil mengingat ingat kapan dia pernah berjumpa dengan perempuan ini.
Dena yang tak kalah terkejut nya,spontan mengucap nama itu..
"MAS ADAM"...
" Kita sepertinya pernah bertemu?" ucap Mas Adam
Dena bingung antara harus bahagia atau sedih kah mendengar nya. Ia bahagia bisa bertemu lagi dengan lelaki hangat di hadapan nya ini,namun di satu sisi semangat nya seperti terpatahkan karena bahkan Mas Adam lupa kapan mereka pernah bertemu. Itu artinya dia bahkan tidak mengingat dirinya sedikitpun. Berbeda dengan Dena yang setelah pertemuan itu selalu berharap untuk bertemu lagi dan berharap lebih dari perkenalan mereka.
"Tuhan....kau benar benar mengabulkan harapanku"
"Aku pernah berucap dan berharap agar Engkau mempertemukan aku lagi dengan lelaki ini dalam keadaan apapun"
"Dan sekarang,lihatlah... Aku bertemu lagi dengan nya dalam keadaan diriku yang seperti ini"
Dena hanya terpaku,bibirnya terasa berat dan kelu hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan Mas Adam apa mereka pernah bertemu?
"Ada hasrat yang tak sanggup ia ungkap"
" Ada keinginan yang tak mampu ia sampaikan"
"Namun kenyataan menunjukkan bahwa keadaan itu di biarkan"
" Hingga tak tau pada akhirnya akan seperti apa"
__ADS_1
Sementara,di sudut sana... Kak Anjani mengingat nama itu "ADAM", nama yang Dena ucapkan saat ia dalam keadaan tidak sadar dan berteriak histeris. Kak Anjani menoleh pada laki laki itu. " Mungkinkah dia?"