
"Sakit?", tanya Mas Adam kepada Dena yang terlihat sedikit meringis.
Dena mengangguk kecil.
Hari itu Dena ke rumah sakit bukan untuk cuci darah, tetapi ia datang untuk membuka jahitan bekas operasi cimino nya satu minggu yang lalu. Sebenarnya dokter bedah memberikan surat kontrol untuk membuka jahitan tersebut di Ruangan poli dokter bedah. Tetapi Mas Adam mengatakan ia bisa hanya sekedar membuka jahitan itu, daripada Dena harus menunggu lama dengan antrian di Poli. Lagi pula ini hal yang menyenangkan bagi Dena, itu berarti minggu ini dia mendapat jadwal tiga kali untuk bertemu dengan lelaki itu.
Mas Adam dengan hati hati membuka satu persatu benang jahitan di kulit Dena. Berada dalam jarak yang begitu dekat seperti ini membuat Dena seolah lupa dengan rasa nyeri yang satu minggu ini menghinggapi tangan nya. Betapa tidak bebas nya ia untuk bergerak, bahkan mandi pun ia harus menutup bekas operasi nya itu dengan plastik karena belum bisa terkena air.
" Sedikit bengkak ya, tapi ini wajar terjadi.. nanti lama lama juga akan kempes sendiri", Mas Adam berkata sambil membersihkan kulit di sekitar jahitan dengan alkohol.
" Ahhh, lelaki ini kenapa diciptakan begitu sempurna?", Dena untuk sekian kalinya mengagumi lelaki itu. Ia masih sibuk menatap setiap inci wajah hangat yang terpahat sempurna dengan rahang kokoh yang di penuhi rambut rambut halus disekitarnya, ketika suara pintu ruangan terbuka membuyarkan angan nya.
Seorang anak laki laki berumur kurang lebih lima tahun,berlari menghampiri Dena dan Mas Adam dan menyebut sebuah kata yang membuat tubuh Dena terasa ingin luruh ke bumi...
" Papa......", anak laki laki itu berteriak berlari menghamburkan pelukan nya kepada Mas Adam.
" Apa ini?" ,belum sempat Dena menemukan jawaban atas apa yang ia dengar barusan, di balik pintu muncul seorang perempuan yang diperkirakan Dena berumur 30 tahun, dengan rambut panjang yang di kuncir kuda, kulit putih bersih yang sepadan dengan bentuk tubuh nya yang semampai. Di tangan kanan nya tampak memegang tas ransel kecil bercorak spiderman. Perempuan itu mungkin tidak secantik Dena, tetapi tak bisa ditampik kalau ia perempuan yang menarik.
Ia berjalan menghampiri Dena dan Mas Adam, mendapati nya semakin mendekat, nafas Dena rasa nya seperti tercekat seolah melihat Makaikat maut yang bersiap mencabut nyawanya.
" Maaf Mas, aku datang kesini tanpa memberitahumu"
" Juna tadi sepulang dari sekolah mengajakku makan di XX ( menyebut nama pusat perbelanjaan yang berada di sebelah Gedung Rumah sakit)"
" Lalu Juna meminta untuk mampir kesini sebentar ingin bertemu dengan mu", ucap perempuan itu dengan suara nya yang lemah lembut.
Sementara anak lelaki itu sudah bergelayutan dalam gendongan Mas Adam.
" Kangen papa ya Nak" , ucap Mas Adam sambil mencium lembut pipi anak lelaki itu.
Dena seperti tertikam seribu belati, melihat apa yang terjadi di hadapan nya. Ia seperti di sodorkan bara api yang menghantam telak di dada nya. Dari apa yang ia lihat, ia bisa menerka kalau anak lelaki yang bernama Juna itu adalah anak Mas Adam,dan perempuan yang berdiri di sebelah nya ini adalah istrinya.
Entah apa yang harus ia lakukan, rasanya ia hanya ingin berlari dari ruangan ini, tak sanggup menerima kenyataan sesungguhnya yang Tuhan suguhkan pada nya di hari ini.
" Dena,kenalin ini istriku Lisa dan ini putra kami Juna", Mas Adam dengan santai mengenalkan mereka kepada Dena tanpa sadar perubahan raut wajah Dena yang dipenuhi kekecewaan.
Lisa mengulurkan tangan kepada Dena, tersenyum hangat menyebut nama nya.
" Lisa..."
__ADS_1
Dena menyebutkan namanya sedikit terbata, ia mencoba menengadahkan kepala nya ke atas agar bulir air mata tak jatuh.
" Ayo berikan salam pada Tante Dena nak", ucap Mas Adam seraya menurunkan Juna dari gendongan nya.
" Hai tante, aku Juna.. Tante disini sedang apa?"
" Apa tante teman Papa?", suara lucu anak kecil yang dahulu disukai Dena pada semua anak kecil seketika berubah jadi rasa benci yang berkobar kobar.
Ia membenci anak laki laki ini, membenci perempuan yang ia sebut mama nya.
Dena memaksakan senyum, menjawab singkat
" Bukan, tante bukan teman Papa. Tante hanya pasien papa mu disini", dalam hati Dena berteriak ingin mengatakan
" Bukan...aku bukan teman Papa mu, aku adalah perempuan yang diam diam mencintai Papa mu, aku adalah perempuan yang sedang menaruh harap pada papa mu. Dan lihat lah sekarang kau hadir bersama ibu mu membuat semua itu hancur", Dena terlihat tersengal menahan nafas nya.
Ia tiba tiba berdiri, mengambil tas nya. Ia tak ingin berlama lama disini.
" Terima kasih Mas Adam untuk bantuan nya, aku harus pulang sekarang", Dena tak mampu melihat wajah Mas Adam saat mengucapkan itu.
Dena bahkan tak menggubris Lisa yang masih berdiri di sebelahnya, ia pergi berlalu begitu saja meninggal kan ruangan. Menahan bulir bulir air mata yang sudah hampir jatuh.
" Dena.... tunggu", suara seorang laki laki membuat langkah Dena terhenti di lorong rumah sakit .
Dena menoleh, sangat mengenal suara itu.
" Lukas, kenapa kau memanggilku?", ucap Dena sambil menyeka mata nya yang sudah basah.
" Aku harap kau bisa menahan amarah mu"
" Kau tidak bisa pulang sendirian mengemudikan mobil mu dengan perasaan amarah mu yang seperti ini", Lukas memegang tangan Dena.
Dena tak berusaha menjawab apapun, hanya air mata nya yang semakin tumpah.
Lukas sudah menyadari perasaan Dena kepada Mas Adam sejak pertama mereka bertemu. Namun laki laki ini tak punya kesempatan untuk sekedar mengatakan jauhi Mas Adam karena ia laki laki beristri. Dena tak pernah memberikan Lukas kesempatan untuk berbicara banyak.
" Aku baik baik saja, pergilah kembali ke Ruangan", Dena setengah membentak kepada Lukas berusaha melepaskan genggaman tangan Lukas dari tangannya.
Dena melanjutkan langkah nya, meninggalkan Lukas yang terdiam menatap punggung perempuan itu yang semakin menjauh. Ia berjalan setengah berlari, tak menghiraukan orang orang yang melihat air mata nya yang terus berderai membasahi wajah nya.
__ADS_1
" Tuhan..jika aku sudah gagal, mengapa dari awal ia tak memberikan rambu"
" Sekarang berikan aku waktu untuk menyisihkan diri menerima nyata dan bukan tentang makna"
Dena berteriak dalam hati, memaki kebodohan nya. Bodoh sekali, bahkan tak menggunakan akal sehat nya untuk menyadari bagaimana mungkin laki laki matang berusia 33 tahun itu bahkan tak sekedar memiliki kekasih, tetapi sudah memiliki seorang istri dan anak.
" Bodoh ..bodoh.. bodoh..., mengapa aku membiarkan diriku terluka dengan harapan ku sendiri", Dena terus memaki dirinya
" Kenapa?"
" Kenapa kau membuat semuanya tampak indah?"
" Kenapa kau membiarkan aku jatuh cinta dengan segala kehangatan yang engkau suguhkan?"
" Dan sekarang, setelah aku tau kenyataan nya kau bahkan tak menyadari sedikitpun kalau aku terluka hebat".
Dena berlari menuju kendaraan yang terparkir di halaman rumah sakit, membuka pintu mobil kemudian menutup dengan membanting nya.
Wajah nya telah kotor dengan air mata, ia mengatur nafas nya yang tersengal karena emosi yang terlalu dalam.
Wajah perempuan yang bernama Lisa itu terus terngiang dalam ingatan nya, silih berganti hadir dengan wajah anak lelaki kecil bernama Juna yang wajahnya mirip dengan Mas Adam, kemudian tanpa malu wajah lelaki hangat itu masih ia hadirkan dalam ingatan nya.
Tak ada yang salah, Dena tak salah atas perasaan nya selama ini karena ia tak pernah tau bagaimana status laki laki itu, Mas Adam pun tidak berniat mempermainkan perasaan Dena karena sungguh selama ini yang ia lakukan semata mata karena ia ingin Dena terus bersemangat, menganggap perempuan itu seperti adik nya yang wajib ia lindungi.
Namun kesalahpahaman sudah terjadi.
Dewi Amor.....
Ajari aku cara melupakan tanpa harus aku pergi
Ajari aku cara merelakan tanpa harus ada benci
Ajari aku cara mengikhlaskan tanpa harus melukai hati.
Perempuan itu kini seolah kehilangan arah hidup nya, ia tak tau bagaimana nanti ia harus melangkah. Apa yang menjadi tujuan hidup nya sekarang harus ia kubur dalam dalam bersama kekecewaan.
Dena mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi,linangan air mata terus membasahi netra nya. Suara ponsel nya berkali kali berdering, ia hanya melirik melihat siapa yang menelepon nya. Tak berniat mengangkat nya sama sekali. Hasbi yang menelepon nya, ingin memastikan kakak nya sedang berada dimana . Akhir akhir ini Hasbi memang membiarkan kakak nya pergi ke rumah sakit dengan mengendarai mobil sendiri.
Dena tiba di rumah dan langsung menuju kamar nya, tak mempedulikan Ibu yang menatap bingung putri nya yang pulang dengan mata merah dan wajah kusut. Ia menghempaskan tubuh nya di kasur, masih terus menangis merasakan kekecewaan hingga matanya lelah dan tertidur dengan wajah basah oleh air mata.
__ADS_1