
Tidak terasa sudah 1 bulan Dena bekerja di Perusahaan XX, sejauh ini semua berjalan dengan lancar, jadwal cuci darah nya tidak sedikitpun mengganggu kinerja Dena di kantor.
Dalam satu bulan ini pula banyak hal penting dalam keseharian Dena. Mulai dari ia menerima gaji pertama, Hasbi yang sudah mulai dekat dengan Laras, cimino di tangan kiri nya sudah bisa di pakai untuk akses cuci darah, dan hubungan nya dengan Mas Adam yang semakin tak jelas arah nya.
Ia masih mencoba menjauh dari laki laki itu. Meskipun pada kenyataan nya mereka berdua mulai menyadari kalau benih benih cinta sedang tumbuh diantara kedua nya namun satu sama lain masih bertahan dengan berpura pura menutupinya.
*** Hari itu adalah hari minggu, dimana Adam bisa beristirahat dari pekerjaan nya. Pagi itu ia ingin bermalas malasan seharian penuh di rumah. Ia masih berbaring di kasurnya yang berantakan, pakaian nya yang berserakan di lantai menandakan tadi malam ia baru saja menyalurkan hasrat bersama istrinya.
Sedangkan Lisa sepagi ini sudah berada di dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya. Juna sedang tidak berada di rumah, kemarin sore ia dijemput nenek nya untuk menginap disana. Adam dan Lisa bisa sepuas nya menghabiskan malam tanpa harus di ganggu dengan rengekan Juna dari kamar nya yang meminta Lisa menemaninya.
Adam masih bertelanjang dada, ia memperhatikan sprei di kasurnya yang meninggalkan noda bekas cairan nya tadi malam. Ia mengingat kembali betapa liar nya ia menikmati tubuh istri nya.
Kemudian ia melayangkan fikiran nya kepada Dena, " Ahh..gadis cantik itu, andai saja aku belum mempunyai istri aku pasti akan terang terangan menyatakan perasaan ku".
" Hey... perasaan?? apa aku sudah gila, bisa bisa nya aku berfikiran aku mencintai gadis itu", Adam kembali membayangkan wajah manis Dena.
Fikiran nakal nya mulai melayang karena mengingat kembali adegan panas nya tadi malam dengan Lisa. Ia membayangkan bisa memiliki tubuh Dena seutuhnya,tentu saja bukan hanya tubuh tetapi juga hatinya . Perempuan itu gadis yang polos, pasti ia masih menjaga keperawanan nya sampai saat ini .
" Ahhh ..fikiran fikiran nakal itu kembali melintasi benaknya.. akan sangat menyenangkan rasanya bercinta dengan gadis itu", gumam Adam.
" Hey . kenapa aku jahat sekali"
" Aku tak ingin merusak perempuan itu, aku sudah berjanji akan memastikan dia baik baik saja".
" Apa bisa aku menyalurkan hasrat ku bersama dia dalam sebuah ikatan yang halal?"
" Ahhh ... rumit, aku sudah memiliki Lisa".
Adam terus berperang dengan batin nya. Hari ini kan hari libur, pasti Dena sedang tidak sibuk.
" Apa aku hubungi dia saja ya?", gumam Adam.
Kemudian ia mulai mengirimkan pesan kepada Dena.
" Selamat pagi Dena, hari ini kamu libur kerja kan?".
" Iya, libur", Dena hanya membalas singkat.
Adam nampak bahagia walaupun cuma sesingkat itu setidak nya Dena membalas pesan nya, tak seperti kemarin kemarin selalu ia abaikan pesan dari Adam.
" Kau sedang apa Den, sudah sarapan?"
" Belum", singkat lagi jawaban nya.
" Dena...apa besok jam makan siang kau bisa keluar kantor?"
" Aku mau mengajakmu makan siang di luar, aku ingin berbincang dengan mu".
Dena yang menerima pesan itu menjadi galau, apakah ia harus menerima ajakan Mas Adam?
Sia sia rasanya satu bulan terakhir ia mati matian berusaha melupakan lelaki itu kalau pada akhir nya dia kembali luluh dengan ajakan lelaki itu.
" Tapi bagaimana ini, aku tidak munafik... aku masih ingin bersamanya".
Kemudian Dena membalas pesan Mas Adam,
" Lihat saja besok, nanti aku kabari".
__ADS_1
Adam kembali tersenyum mendapat pesan dari Dena, meskipun belum pasti perempuan itu mengiyakan setidak nya masih ada kemungkinan baik.
Adam membalas lagi,
" Terima kasih ya Den sudah mau membalas pesan pesan ku, aku hanya rindu kamu yang dulu, yang selalu ceria saat berbincang denganku".
Setelah mengetik pesan itu, Adam meletakkan ponsel nya di meja kecil sebelah tempat tidur . Ia kemudian beranjak dari tempat tidur nya, masuk ke kamar mandi di dalam kamar tidur nya untuk mandi membersihkan tubuh nya dari sisa sisa jejak percintaan nya semalam.
Lisa sudah selesai di dapur, kemudian masuk ke kamar berniat menyuruh suaminya lekas mandi dan sarapan. Namun kosong, ia mendengar suara gemericik air di kamar mandi menandakan suaminya berada di situ.
Lisa melepas sprei dari kasur dan berniat mengganti dengan sprei yang baru karena ia melihat begitu banyak noda cairan yang telah mengering. Entah cairan milik nya atau pun suaminya. Tiba tiba ponsel milik Adam berbunyi menandakan pesan masuk.
Lisa penasaran siapa yang mengirim pesan di pagi Minggu seperti ini kepada suaminya.
Ia kemudian membuka pesan tersebut.
" Mas Adam tak perlu berterima kasih, sampai jumpa besok".
Tangan Lisa gemetar membaca pesan tersebut, ia melihat nama sang pengirim " Dena". Kemudian ia membaca semua pesan pesan yang dikirimkan suami nya kepada perempuan itu
Dada nya terasa sesak, rasa marah, sedih, kecewa semua bercampur menjadi satu. Ia tak menyangka suaminya tidak sungguh sungguh menepati janjinya untuk tidak memberi perhatian kepada Dena.
Perasaan nya sebagai seorang istri merasa telah dikhianati, meskipun tak ada bukti bukti sebuah perselingkuhan. Namun baginya suaminya mengajak perempuan lain untuk makan siang berdua bukan lah suatu hal yang bisa di toleransi kan.
Ingin rasanya ia membanting ponsel itu, namun ia tahan amarah nya . Ia mengambil ponsel milik nya kemudian menyimpan nomor Dena.
Tak sabar ia menunggu suami nya keluar dari kamar mandi untuk meminta penjelasan kepada nya.
Adam keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi area bawah nya . Ia nampak mengeringkan rambut nya dengan sebuah handuk kecil.
" Hey.. istriku kau sudah selesai di dapur?", Adam bertanya santai tanpa menyadari wajah Lisa yang menahan emosi.
" Jelaskan padaku apa maksud pesan pesan mu ini", Lisa tak mampu menahan amarah nya.
Ia menyodorkan ponsel ke arah Adam tepat di dadanya
Adam terkejut dengan perkataan Lisa, ia menerima ponsel yang di sodorkan Lisa dengan setengah melempar.
Ia kemudian melihat layar ponsel nya yang berisi percakapan nya dengan Dena.
" Ahhh ..bagaimana bisa aku sampai lupa menghapus pesan pesan ini", maki Adam dalam hati.
Lisa menatap suaminya tajam, mata nya berkaca kaca.
" Jelaskan padaku Mas"
" Lisa, kau jangan salah paham"
" Kau tau kan bagaimana aku menganggap Dena?"
" Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku tidak punya perasaan lebih selain menganggap nya sebagai adik".
Adam mencoba berkilah.
" Apa....? kau bilang adik?", suara Lisa semakin lantang.
" Kau mengatakan padanya kau rindu padanya kan?"
__ADS_1
" Berhentilah bersikap seolah aku anak kecil yang bisa kau bohongi".
Lisa berteriak sambil menangis, ia mengatupkan kedua telapak tangan nya ke wajah nya.
Adam merasa bersalah telah membuat menangis perempuan yang selama ini dengan setia menemaninya. Ia memeluk Lisa, berharap pelukan nya dapat meredakan amarah dan tangisan istrinya .
" Lepaskan aku, kau pasti melakukan hal yang sama kan dengan perempuan itu"
" Kau juga pasti memeluk nya", Lisa semakin kencang menangis.
Adam melepaskan pelukan nya
" Hentikan fikiran kotor mu Lisa"
" Aku tidak sejauh yang kau kira, aku hanya mengajak Dena makan siang"
" Itu pun di tempat ramai, jadi tidak mungkin aku berbuat tak senonoh seperti yang kau ucapkan".
" Itu berarti sama saja kau tidak menghargai ku"
" Coba kalau aku yang melakukan hal itu, aku berduaan dengan lelaki lain"
" Apa kau bisa terima?", Lisa masih saja menangis dan berteriak kencang .
Adam terdiam membenarkan ucapan Lisa, ia juga pasti akan marah jika Lisa pergi dengan laki laki lain atau hanya sekedar berkirim pesan.
" Apa aku yang egois dalam hal ini?", Adam bertanya pada hatinya.
" Aku benci melihatmu"
" Biarkan aku pergi menyusul Juna ke rumah orang tuaku", Lisa berdiri dari duduk nya.
" Aku tak mengizinkanmu keluar dari rumah", Adam menarik tangan Lisa.
Semarah apapun Lisa terhadap suaminya, ia seorang istri yang patuh. Jika suaminya mengatakan tak mengizinkan nya keluar dari rumah maka ia akan menuruti.
Adam memeluk istrinya,
" Maafkan aku yang sudah membuatmu menangis, jangan pergi", Adam mencium bibir Lisa. . Ia mencumbui leher istrinya, semakin turun ke bawah lalu melepaskan pakaian istrinya dan melemparkan nya ke lantai.
Ia menggendong tubuh istrinya ke atas tempat tidur dengan sprei yang sudah setengah terbuka . Lalu ia melepaskan handuk yang sedari tadi menutupi tubuh nya.
Lisa memejamkan mata, menikmati cumbuan cumbuan liar dari suaminya . Ia melupakan bagaimana marah nya ia kepada suaminya. Bagaimana ia bisa menolak serangan serangan penuh gairah yang di lontarkan Adam kepada nya.
Pagi ini, ia berkali kali mencapai puncak kenikmatan. Mereka selesai dengan meninggalkan bekas merah di leher dan dada Lisa. Adam tertidur dengan tubuh telanjang setelah lelah memuaskan istrinya.
Sementara Lisa merasa jijik dengan dirinya sendiri, mengapa bisa melupakan emosi nya yang tadi sudah meletup karena merasa di khianati. Ia memungut pakaian nya di lantai, kemudian mandi membersihkan tubuhnya yang basah oleh keringat dan kecupan kasar suaminya.
...****************...
Besok apakah Adam tetap pergi makan siang dengan Dena??
Mungkinkah perasaan nya kepada Dena lebih kuat di bandingkan keputusan nya untuk menghargai permintaan Lisa.
Lalu apa yang akan di lakukan Lisa kepada Dena?
Mudah mudahan Lisa nggak ngelabrak Dena ya. Tunggu lanjutan episode berikut nya ya!🥰
__ADS_1