
Sepulang dari rumah Mas Adam, Dena melihat Adrian masih saja tertidur. Ia memegang kening Adrian, dingin sekali.
Ingin rasanya ia menutup semua pintu dari segala rasa cemas dan memberikan jarak antara dirinya dan dunia.
Namun ia tak bisa begitu saja berhenti mengkhawatirkan Adrian, suaminya sedang tidak baik baik saja.
Dena kemudian menggenggam tangan Adrian, menciumnya berulang. Ia menatap wajah yang banyak berkorban untuk nya.
Dena kembali mengingat dengan jelas memori perkenalan nya dengan Adrian. Bagaimana saat pertama kali ia datang menyapa Dena dengan tingkah nya yang sederhana.
Beralasan ingin menjadi teman dan menyibukkan Dena dengan berbagai perhatian nya. Sungguh, saat itu Dena sama sekali tidak menyukainya.
Bagi Dena saat itu Adrian hanyalah Aligator yang sibuk menebar perangkap hanya untuk sekedar mencari mangsa.
Namun entah mengapa, justru pada sosok nya lah pada akhirnya Dena jatuh cinta. Konyol bukan?
Adrian membuka matanya, ia terbangun karena suara isak tangis Dena.
" Kenapa menangis?", suaranya terdengar amat pelan.
Dena memeluk suaminya itu, semakin kencang sesenggukan di dada Adrian.
" Kenapa kau melakukan itu untuk ku?", Dena menarik pelukan nya dari dada Adrian dan menatap lelaki itu.
Adrian hanya diam, ia tak mau lagi berpura pura untuk tidak tahu apa maksud Dena.
" Aku tak butuh ginjal baru, jika itu ginjal milikmu. Kenapa kau bodoh...", Dena tak henti mencium punggung tangan Adrian.
" Kau pantas bahagia sayang, aku akan memberikan apapun yang aku punya untuk mu", Adrian berkata lirih.
" Aku hanya perlu kau memberikan cinta dan kasih sayang mu, percayalah aku sudah cukup bahagia dengan itu", Dena menyangkali ucapan Adrian.
Adrian tersenyum, memainkan rambut istrinya dengan ujung telunjuknya.
" Kau perempuan tercantik yang pernah aku lihat, berhentilah membuat wajahmu jelek dengan menangis", Adrian mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dena sama sekali tak ingin tersenyum.
" Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa apa denganmu".
" Sudahlah, jangan menyalahkan siapa pun sayang. Kondisi ku memang tidak baik bahkan sebelum aku mendonorkan ginjal ku. Izinkan aku melakukan hal berharga untuk mu sebelum aku pergi karena aku ingin kau terus mengenangku", mata Adrian turut berkaca kaca.
" Kau bodoh, bodoh, bodoh...", Dena terus berteriak.
" Surat ini, kenapa kau nekad sekali ingin melakukan ini semua bahkan dengan meminta bantuan Mas Adam", Dena menunjuk beberapa lembar kertas yang tadi ia lempar di hadapan Mas Adam.
" Aku harap kau jangan menyalahkan Mas Adam sayang, aku yang memaksanya. Dia sudah mencoba mencegahku, keluargamu dan Kak Radit juga semua melarangku tapi aku yang sungguh sungguh ingin melakukan itu", ucap Adrian.
" Tidak, aku tidak akan memaafkan siapapun karena sudah membiarkanmu melakukan itu".
" Aku bisa bertahan hidup meski dengan ginjalku yang sudah rusak, tapi kau? Lihatlah kau begitu lemah karena mendonorkan ginjal mu padaku".
Adrian menggeleng, lalu tersenyum.
" Aku ikhlas dengan segala yang aku lakukan, jangan khawatirkan aku".
__ADS_1
Dena tau Adrian memaksa senyum nya, ia sebenarnya menahan sakit.
" Ayo kita ke rumah sakit, kita kontrol luka operasi mu. Kau kelihatan nya menahan sakit", ucap Dena.
Namun Adrian menolak, ia benar benar tak mau lagi berurusan dengan rumah sakit. Cukup berada di samping anak dan istrinya baginya lebih baik dibandingkan penanganan dari dokter.
Hari itu, Adrian hanya menghabiskan waktunya di kamar. Ditemani Dena dan Noah.
" Sayang, kau ingat dulu kau pernah berkata ingin kembali mengajakku ke Bali?", Dena bertanya pada Adrian.
Adrian mengangguk.
" Tentu saja aku ingat, lalu kau mengatakan ingin kembali ke Bali membawa anak anak kita".
" Kau mau kan kita kesana? Aku mohon kau ke rumah sakit, kau harus segera pulih".
Adrian tersenyum.
" Dalam keadaanku seperti ini pun aku siap berangkat kesana demi kau".
" Aku ingin menatap sunset bersama mu dan Noah".
Dena menangis mendengar permintaan Adrian.
" Tidak, kau sangat lemah sekarang ".
" Nanti kalau kondisi mu sudah membaik, baru kita akan kesana".
Adrian lalu memeluk istri dan anaknya bergantian.
" Kau tak perlu berterima kasih padaku, bagiku ini semua bukanlah pengorbanan namun sebuah kewajiban untuk membahagiakanmu".
Sayang, aku ingin menjadi bintang di langit malam mu, namun aku sadar cahayaku terlalu redup untuk berpendar.
Beberapa hari berlalu, kondisi Adrian terus menurun. Ia demam tinggi, terkadang sesak di dadanya membuat ia jerih menahan nya.
Kak Radit berkali kali memaksa nya untuk ke rumah sakit. Namun keputusan Adrian tetap sama, ia hanya ingin di rumah dirawat istrinya.
Siang itu Ibu dan Ayah serta Laras dan Hasbi turut datang ke rumah karena Dena mengabari kondisi Adrian yang kian menurun.
" Sayang, kau mau menolongku?", tanya Adrian terbata sambil menahan sesak di dada nya.
" Tentu saja, katakanlah".
" Tolong hubungi Mas Adam, minta ia untuk datang ke rumah sekarang".
" Apa?? Untuk apa sayang kau menyuruhnya kesini, kita sudah tidak ada urusan lagi dengan nya", Dena tak setuju dengan permintaan Adrian kali ini.
" Ikuti saja apa yang aku minta, katakan pada Mas Adam aku yang menyuruhnya datang".
" Kau ingin kan kondisiku membaik?".
Dena menghela nafas panjang, tak mengerti dengan maksud Adrian yang ingin bertemu Mas Adam.
" Baiklah, aku akan menghubunginya".
__ADS_1
Dena dengan terpaksa meraih ponsel kemudian menelepon lelaki yang masih membuatnya marah saat ini.
" Hallo, Mas Adam".
" Iya, ada apa kau menghubungiku?", jawab Mas Adam heran.
" Adrian yang memintaku untuk menghubungimu, ia ingin Mas Adam datang ke rumah kami sekarang. Bisa kan?".
Mas Adam diam sejenak, lalu berpikir.
" Maaf Dena, sepertinya aku tidak bisa ".
Bukan karena ia tak punya waktu untuk datang ke rumah Adrian, namun ia tak ingin masuk ke pusara kehidupan Adrian dan Dena lagi.
" Adrian kondisi nya terus memburuk, aku juga tak tahu kenapa ia ingin bertemu dengan Mas Adam. Aku harap Mas Adam bisa datang, agar ia tak kecewa".
Mas Adam tak tega membayangkan kondisi Adrian yang lemah saat ini, terlebih mendengar Dena memohon seperti itu. Ia menghela nafas panjang, kemudian tanpa berbicara apa apa ia menutup sambungan telepon.
Dena tau, Mas Adam pasti masih kecewa dengan sikapnya beberapa hari yang lalu.
Mas Adam meraih kunci kendaraan nya, meski bibirnya mengucap tak bisa datang menemui Adrian namun tetap saja perasaan iba kepada laki laki yang begitu banyak berkorban untuk perempuan yang ia cintai tak mampu membuatnya untuk tak memenuhi permintaan kecil untuk bertemu kali ini.
Sepanjang perjalanan, Adam terus melapangkan hatinya, menerima berbagai kenyataan kalau ia harus selalu ada di kehidupan Adrian dan Dena.
Ia ingin mencoba untuk tidak peduli, namun lucunya... rindu semakin menariknya untuk terus mencintai lagi dan lagi.
Ia sadar, ia tak mampu menahan rasa cemburu ketika berada di antara Adrian dan Dena.
Namun baginya, ia tidak terlalu suka memanjakan rasa cemburu. Ia hanya ingin mencintai dengan sederhana. Tanpa kata, tak perlu terungkap, namun akan selalu ada .
Seperti saat ini , ia tetap datang dan akan selalu ada untuk perempuan itu. Ia tak tega melihat Dena yang bersedih dengan kondisi Adrian yang kian memburuk.
Mas Adam tiba di rumah Adrian, pintu rumah terbuka kala itu. Dan Dena yang menyambut kedatangan nya tak menyangka laki laki itu akan datang setelah tadi di telepon ia mengatakan tidak bisa.
Adam tak berkata apa apa, hanya dengan tatapan hangat dan tenang nya membiarkan Dena yang membuka suara terlebih dahulu mempersilahkan nya masuk.
Kali ini aku sengaja tidak menyapamu, agar kau tahu bagaimana rasanya ditusuk tusuk rindu di ruang semu.
" Mas Adam, terima kasih sudah mau datang", Dena berkata pelan.
Laki laki itu hanya mengangguk tanpa bersuara.
" Masuk lah ke kamar, Adrian menunggumu", ucap Dena.
Mas Adam mengikuti langkah Dena dari belakang.
Kenapa kau membawa ku untuk berada dalam kamar kalian, kamar tempat kalian menghabiskan malam malam panjang dengan penuh cumbu dan de*ah mesra.
...----------------...
Nyatanya, musuh terbesar yang harus kita hadapi adalah bukan kenyataan, namun berbagai macam ingatan yang selalu berkelanjutan.
Hhhmmm, sepertinya Mas Adam mengingat kembali bagaimana dulu ia pernah menyatukan tubuhnya dengan Dena.
Kira kira Adrian mau ngapain ya meminta Mas Adam datang menemuinya?
__ADS_1
Jangan bosen untuk menunggu lanjutan nya ya, meskipun author masih slow up🙏🥰