Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
NICU & ICU


__ADS_3

Lantai 4 Gedung Rumah sakit


Ruangan NICU ( Neonatal Intensive Care Unit )


Suara alarm peralatan monitoring dari jauh sudah terdengar bersahut sahutan.


Adrian harus melewati 3 pintu untuk bisa masuk ke ruangan kaca itu, tentu saja harus melewati pemeriksaan oleh Security karena tidak sembarang orang bisa masuk ke Ruangan ini.


Adrian berjalan melihat ruangan kaca di sisi kirinya ada banyak inkubator yang berisi bayi bayi mungil.


Ibu dan Hasbi hanya bisa berada sampai disitu,menatap dari luar Ruangan kaca. Hanya Adrian yang boleh masuk.


Ia di wajibkan memakai pakaian khusus untuk bisa masuk ke ruangan itu.


Seorang perawat mengantar nya menuju inkubator yang terletak di sebelah meja perawat. Adrian menyapu ruangan dengan pandangan nya, ada sekitar 20 inkubator di ruangan itu.


" Ini pak, bayi dari Ibu Dena Sanlova", Adrian bisa membaca di sisi depan inkubator tertulis nama istrinya.


Adrian tak kuasa menahan tangisnya.


Melihat bayi mungil yang hanya berbobot 1,2 kg harus menggunakan ventilator menutupi mulut dan hidung nya karena kesulitan bernafas.


Tubuh mungil itu telanjang, hanya memakai diapers yang kebesaran di tubuhnya.


Kepalanya di pasang seperti sebuah topi ketat, entah untuk apa fungsinya Adrian tidak tau.


Ada selang kecil di mulut bayinya yang terus mengeluarkan cairan berwarna kuning.


Tak tega rasanya Adrian melihat perjuangan bayi mungil nya, terlihat begitu banyak selang dan kabel kabel yang berada di tubuhnya.


Ada kabel monitor saturasi oksigen di kaki bayinya untuk memantau kadar oksigen darah, sedangkan kabel monitor tanda tanda vital ditempelkan pada dada untuk memantau denyut jantung, laju pernapasan, suhu dan tekanan darah.


Semua aktifitas organ organ nya terpantau di layar monitor di sebelah inkubator.


Adrian tak bisa melihat wajah bayinya, karena hampir seluruh wajah nya tertutup peralatan medis.


Matanya pun dipasang penutup seperti kain karena harus mendapat terapi sinar atau fototerapi akibat kadar bilirubin yang tinggi sehingga tubuh bayinya menguning.


Ia kembali meneteskan air mata melihat tangan yang amat kecil itu harus terpasang jarum infus, entah untuk berapa lama. Bayinya terlihat menangis di dalam inkubator kaca bersuhu 36 derajat itu.


" Suster, apa saya boleh menyentuh nya?", Adrian bertanya pada perawat yang sedang duduk.


Perawat itu mengangguk dan membuka kan tutup seperti lubang yang ada dua buah di sisi kanan inkubator agar Adrian bisa memasukkan tangan nya.


" Silahkan Pak", ucap suster itu kemudian meninggalkan Adrian.


Untuk pertama kalinya Adrian bisa menyentuh kulit halus bayi mungil yang terus menangis itu.

__ADS_1


Dipegang nya jemari jemari kecil itu, Adrian kembali sesenggukan.


" Kamu anak yang kuat Nak, berjuanglah untuk Papa dan Mama mu yang sekarang sedang berjuang juga untuk hidup".


Detak nafas bayi nya begitu terlihat di dada telanjang nya yang hanya seperti tulang berbalut kulit.


Adrian melihat bayinya terus menangis, ia tak tau apa yang harus ia lakukan untuk membuatnya diam. Hanya satu tangan Adrian yang bisa masuk ke dalam inkubator itu untuk bisa sekedar menyentuh nya.


" Suster, apa bayi ku lapar dan ingin minum susu? Ia terus menangis", Adrian berkata pada suster di sebelahnya yang tampak santai saja mendengar suara tangisan bayi bayi di dalam inkubator itu.


" Maaf Pak, bayi nya belum bisa kita beri susu karena saluran pencernaan nya belum stabil. Jadi harus berpuasa selama tiga hari untuk mengeluarkan kotoran kotoran dari lambung dan saluran cerna nya", perawat itu menunjuk selang yang ada di mulut bayi yang terus mengeluarkan cairan kuning.


" Nanti kalau itu sudah bersih, baru bayi bisa kita beri susu. Itupun tidak bisa banyak, hanya sekitar 3 sampai 5 mili di awal pemberian", suster itu juga berkata kalau pemberian susu disuntikkan lewat selang di mulutnya karena bayi prematur belum ada refleks untuk menghisap .


Adrian tercengang mendengar nya .


" Puasa 3 hari?? Hanya minum sekitar 5 mili, berarti setengah sendok makan?? ".


Adrian tidak bisa berlama lama di Ruangan itu, karena jam besuk sangat terbatas. Padahal ia sangat ingin berada di sisi bayinya meskipun hanya sekedar menatap dan menyentuh tangan mungilnya.


" Papa pulang ya Nak, besok Papa kesini lagi", Adrian sekali lagi mengelus tangan mungil yang terlihat menggenggam telunjuk Adrian seolah tak ingin lepas.


" Pak, bapak bisa tinggalkan nomor telepon Bapak disini untuk mempermudah kami menghubungi Bapak jika terjadi apa apa", ucap Perawat tersebut karena bayi bayi di Ruangan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka tanpa boleh di tunggu oleh keluarga.


Adrian keluar dari Ruangan itu, sekali lagi menatap lamat bayi laki laki mungil di dalam sana .


Adrian menggeleng.


" Aku tidak lapar bu, aku memikirkan keadaan istriku. Apa dia baik baik saja?", Adrian tertunduk meremas rambutnya.


Hasbi mengusap bahu kakak ipar nya itu.


" Yang sabar ya Kak, kita terus berdoa untuk keselamatan Kak Dena dan bayinya", Hasbi bisa merasakan bagaimana kekhawatiran laki laki ini. Ia tahu Adrian begitu menyayangi Kak Dena.


Ruangan ICU sebenarnya terletak di sebelah ruangan NICU tadi. Namun Adrian belum di izinkan masuk kesana, petugas akan menghubunginya jika pasien sudah bisa dibesuk.


" Ibu dan Hasbi pulang lah dulu, menunggu disini pun kita belum bisa melihat Dena", ucap Adrian.


Ibu dan Hasbi mengangguk setuju.


" Nak Adrian, jangan lupa makan. Kalau nak Adrian juga ikut sakit kasihan Dena dan bayinya. Mereka butuh semangat dari kamu", Ibu kembali mengingatkan Adrian sebelum pulang .


Entahlah, rasa lapar dan lelah sudah tak dirasakan lagi oleh Adrian.


Ia belum bisa tenang jika belum tahu keadaan istrinya.


Berapa kali ia bolak balik menanyakan kepada petugas kapan ia bisa melihat istrinya. Baru saat sore hari sekitar pukul lima, petugas memanggil nya untuk bisa masuk ke Ruangan ICU.

__ADS_1


Adrian kembali memakai pakaian khusus seperti saat tadi menjenguk bayinya.


Kabel, suara menderu dari alat, dan bunyi monitor menjadi pemandangan yang Adrian jumpai di Ruangan itu.


Ia melihat istrinya terbaring lemah tak sadarkan diri dengan beberapa selang di badan nya.


Kondisinya tak jauh berbeda dengan bayinya, bernafas dengan bantuan ventilator.


Layar di samping nya memperlihatkan garis garis yang menunjukkan grafik detak jantung yang juga mengeluarkan suara sesuai detak jantung.


Adrian duduk di samping tubuh yang tak sadarkan diri itu. Yang masih terlihat cantik meski sedang berada dalam keadaan kritis.


" Sayang, maafkan aku. Kau harus seperti ini demi memperjuangkan bayi kita".


" Bertahanlah sayang, biar kita bisa menggendong bayi kita bersama. Aku sudah melihatnya, bayi kita laki laki seperti yang kau harapkan selama ini", Adrian terus berbicara meski ia tau istrinya entah bisa atau tidak mendengarnya.


Adrian menggenggam tangan yang tergolek lemah itu, mencium nya berkali kali.


Jika ia bisa menggantikan posisi itu, rasanya akan ia lakukan.


Tak banyak yang bisa ia lakukan disitu, hanya bisa berdoa, berbicara sendiri membisikkan kalimat kalimat penyemangat di telinga istrinya.


" Sayang, aku pulang ya. Karena aku tak di izinkan menemani mu disini. Besok aku pasti kembali kesini".


" Kau mau makan apa?", Adrian meneteskan air mata saat mengatakan itu karena ia tau itu hal bodoh menanyakan pada istrinya yang bahkan untuk bernafas saja harus bergantung pada peralatan medis itu.


Ia mengecup kening istrinya sebelum pulang, sekali lagi menatap tubuh yang begitu ia cintai.


Ia pulang ke rumah hanya untuk mandi kemudian merebahkan diri tanpa merasakan perutnya yang belum terisi apa apa hari ini.


Kak Radit dan Lisa datang malam itu menemui Adrian setelah mendapat kabar dari Ibu Dena.


" Sabar ya, ujian ini pasti berlalu", Radit menyemangati adik laki lakinya .


" Kau sudah jadi seorang Bapak sekarang, kau harus kuat demi istri dan anak anakmu", ucap Radit pada Adrian yang lagi lagi menyeka air matanya.


Tidak lama Kak Radit dan Lisa berada disitu, ia kemudian pamit pulang membiarkan Adrian beristirahat malam itu setelah hari yang begitu melelahkan ini.


Adrian tertidur, bermimpi memeluk istri dan anaknya yang sedang tersenyum.


...----------------...


Ngetik di part ini membuat author teringat dua tahun yang lalu juga pernah berhadapan dengan Ruangan ini.


Bayi mungil di NiCu, ahh semuanya masih teringat jelas sampai harus meneteskan air mata.


Semoga kesedihan di keluarga kecil Adrian dan Dena segera berlalu ya.

__ADS_1


Ikuti terus up nya, jangan lupa dukung karya author ya. Tinggalin jejak like n komen🙏🥰


__ADS_2