
Aku ingin bercerita padamu mengenai sesuatu
yang membuatku hidup sebelum perjumpaan kita.
Sesuatu yang merenggut hatiku secara paksa lebih dari sekedar cinta pertama.
Sebuah kesempurnaan yang telah lebih dulu ku idam idamkan untuk menjadi nyata.
Yang bahkan dengan membayangkannya saja sudah membuat hari hari ku penuh warna.
Sesuatu yang jika kelak kita diizinkan untuk bersama, kamu harus rela berbagi segala nya.
Entah itu cinta, perhatian , waktu maupun kasih sayang tanpa jeda.
Jangan cemburu dulu, sesuatu ini adalah anugerah terindah dalam hidup ku sebelum kamu.
*** Hasbi mengusap dada nya, merasakan detak jantung nya yang dulu pernah berdegup kencang hanya karena menatap Amira, kini hal itu terulang kembali saat ia mengenal Laras.
Namun meskipun ia dan Amira sudah selesai, tapi rasanya sampai kapanpun bayangan perempuan itu masih tertinggal dalam hatinya. Sekalipun saat ini ia telah jatuh cinta dengan Laras, namun tetap saja bayangan yang ia hadirkan adalah Amira.
Hasbi mencoba menyadari diri nya sendiri,
" Ayolah, melangkah ke depan jangan pernah menoleh dengan masa lalu mu".
" Jangan pernah bawa bawa Amira dalam hubungan baru mu".
*** Malam itu Hasbi sudah berpakaian rapi, ia bersiap siap untuk menjemput perempuan yang malam ini ia janjikan untuk dinner berdua.
Ia menyemprotkan parfum ke beberapa sisi di tubuhnya, tak lucu kalau harus kencan dengan bau tak enak fikir nya.
Dena yang melihat adik nya yang tampan akan keluar rumah malam itu tak lepas menanyakan rasa keingintahuan nya
" Eheemm .... yang sudah rapi mau kencan dengan siapa?"
" Ehhh.. Kak Dena, hehehe aku cuma mau makan malam biasa kok dengan Laras", ucap Hasbi malu malu.
" Jangan terlalu lama gantungin perasaan perempuan, nanti dia keburu bosan dan berpaling darimu"
Hasbi menelan ludah mendengar ucapan kakak nya, " benarkah begitu?",tanyanya dalam hati.
" Apa malam ini aku harus menyatakan perasaanku padanya?", gumam Hasbi.
' Hey...malah melamun, pergi lah sana nanti Laras menunggumu".
" Aku doain semoga sukses ya kencan nya, hehehe".
Hasbi kemudian pamit kepada kakak nya,menciumi tangan Dena seolah meminta restu untuk memulai sebuah hubungan baru dengan seorang perempuan.
Sepanjang perjalanan ke rumah Laras, Hasbi memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaan nya. Ia merangkai kata kata agar nanti tak salah ucap kepada Laras .
Hasbi takut perempuan itu menolak nya, namun sejauh ini hubungan mereka bisa dibilang sudah dalam tahap pendekatan. Laras tak pernah keberatan menemani Hasbi berbincang di malam hari lewat telepon, gadis itu juga rajin mengirimkan pesan bercerita tentang kegiatan nya sehari hari, bahkan Hasbi tau apa makanan kesukaan nya.
Sinyal sinyal dari Laras sebenarnya sudah terlihat jelas. Laras hanya menunggu Hasbi sebagai seorang lelaki mengutarakan perasaan nya untuk berikrar dalam sebuah hubungan yang bernama " pacaran".
*** Malam itu mereka memilih makan malam romantis di sebuah Restoran seafood di pinggiran pantai yang terletak di ujung kota.
Angin malam membelai rambut panjang laras yang tergerai sempurna. Ia mengenakan dress selutut dengan belt di bagian perut nya. Dari beberapa kali pertemuan mereka, Hasbi bisa menyimpulkan selera pakaian perempuan ini yang lebih suka memakai dress pendek.
Mereka memesan makanan favorit di Restoran ini, suasana di sekitar Restoran ini memang semakin menambah keromantisan antara mereka berdua.
__ADS_1
Lampu lampu kecil banyak terdapat di sudut Restoran. Angin pantai yang berhembus lembut membawa udara dingin yang menusuk kulit.
" Laras, pakailah jaket ku ini kau pasti kedinginan", Hasbi memberikan jaket milik nya kepada Laras.
" Terima kasih", Laras tersenyum senang di perlakukan romantis seperti tadi.
Kemudian mereka menikmati hidangan yang sudah tersedia di hadapan mereka.
" Laras...apa kau suka dengan makan malam ini?", tanya Hasbi, terdengar sedikit kaku namun cuma begitulah kemampuan nya untuk memulai pembicaraan.
" Suka, aku selalu suka setiap jalan berdua denganmu, hehehe", Laras nampak santai menjawab apapun,berbeda dengan Hasbi yang selalu canggung.
Satu bulan lebih kedekatan mereka membuat Laras paham karakter laki laki ini. Dan menurut Laras ia lelaki sopan,tampan dan mapan, hehehe. Kelihatannya Laras akan dengan tangan terbuka menyambut perasaan Hasbi.
Mereka sudah menghabiskan hidangan utama yang mereka pesan. Hanya tersisa dessert, beberapa potong buah dan minuman mereka masing masing di meja itu.
" Laras... eemm.. boleh aku bicara sesuatu?", patah patah Hasbi mengucapkan kalimatnya.
" Boleh... bicara saja , aku akan dengan senang hati mendengar mu", Laras masih dengan ekspresi santai nya.
Baru mengatakan seperti itu saja kaki Hasbi sudah gemetar. Dada nya berdegup kencang. Ia masih diam, belum berani menyatakan perasaan nya.
" Hey.. kau bilang mau bicara sesuatu"
" Bicara lah"
" Jangan takut kepadaku, hehehe", Laras tertawa menggoda Hasbi yang wajah nya terlihat gugup.
Padahal tadi di mobil sepanjang perjalanan ia sudah menyiapkan kalimat dengan rapi untuk bicara pada Laras. Namun sekarang kalimat kalimat itu sudah berserakan, tak mampu lagi ia rangkai.
" Ehhhh..begini.. mmmmm anu aku ingin....."
Diam lagi, Hasbi belum berani melanjutkan.
" Ingin pipis", Laras terkekeh melihat Hasbi yang gugup seolah terlihat sedang menahan ingin buang air kecil.
Hasbi memaki dirinya dalam hati kenapa jadi payah seperti ini. Ia kemudian menarik nafas dalam, mengumpulkan keberanian . Ia membayangkan saja ia sedang akan berbicara di depan Klien atau sedang presentasi kerja.
" Laras,sebenarnya aku....."
" Aku.... emmmm aku menyukaimu"
" Apa kau punya perasaan yang sama dengan ku?", wajah Hasbi merah padam.
" Ya ampun Hasbi... mau bicara seperti itu saja kau sudah seperti mau meminjam uang saja hahaha", Laras tertawa.
" Aduh bagaimana ini, apa dia tidak menyukaiku?", tanya Hasbi dalam hati.
Laras tersenyum manis ,
" Aku juga menyukaimu".
Hasbi seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, " Aku tidak mimpi kan", ia mencubit lengan nya sendiri dan merasakan sakit, " Hey aku tidak sedang bermimpi" .
Ternyata semudah itu menyatakan perasaan, " kenapa pula tadi aku harus gemetar?", bikin malu saja, maki Hasbi dalam hati .
" Laras, jadi kau mau menerimaku jadi kekasihmu?", Hasbi bertanya memastikan.
Laras mengangguk dan tersipu malu.
__ADS_1
" Mulai malam ini hubungan kita naik satu tingkat, kau kekasih ku", ucap Laras .
Hasbi memberanikan diri menggenggam tangan Laras.
" Aku pernah bercerita padamu sebelumnya tentang kisah cintaku yang kandas".
" Aku harap kau tak akan mengecewakanku", ucap Hasbi serius .
Laras memastikan pada Hasbi ia tak akan melakukan hal yang sama seperti Amira yang begitu saja meninggalkan Hasbi .
" Aku tak ingin lama lama pacaran, kalau kau sudah siap untuk menikah kau harus berjanji padaku untuk segera mengenalkan aku pada orang tua mu", Hasbi mengatakan keinginan nya.
Untuk hal ini Laras belum mau menjanjikan akan secepatnya, ia butuh waktu untuk memikirkan nya dengan matang .
" Tak apa, aku akan memberi waktu untuk kau berfikir"
" Tapi jangan terlalu lama"
" Aku sudah bosan dengan yang nama nya pacaran"
" Aku ingin menikah"
Laras mengangguk, kemudian mereka memutuskan untuk segera pulang karena cuaca tampak nya tidak bersahabat.
Rintik hujan gerimis sudah mulai turun ketika mereka berjalan menuju mobil yang mereka parkir .
Mereka masuk ke mobil dengan baju yabg sedikit basah, Hasbi mengambil beberapa lembar tisu dan mengusap nya ke wajah Laras .
Udara dingin malam itu menciptakan hasrat di antara keduanya. Mereka masih diam, Hasbi terlihat membersihkan wajah nya dengan tisu dari air hujan yang sedikit membasahi wajah nya.
Laras mendekatkan wajah nya ke wajah Hasbi, gadis itu nampak nya tak mampu melawan pesona lelaki yang saat ini sudah menjadi kekasih nya. Ia merapatkan tubuh nya mendekat ke arah Hasbi.
Ia menatap Hasbi dalam jarak dekat seolah meminta Hasbi untuk segera memulai.
Lalu kecupan hangat dari mulut Hasbi mendarat di bibir perempuan itu yang disambut liar oleh nya .
Hasbi mengakui betapa dahsyat nya cumbuan perempuan ini, jauh berbeda dengan Amira yang sedikit pasif . Laras nampak bernafsu menerima ciuman ciuman dari Hasbi, sesekali ia memainkan lidah nya dengan nakal membuat Hasbi semakin tak mampu menahan hasrat untuk berjelajah.
Mulut Hasbi sudah turun ke leher Laras, memberi kecupan kecupan keras yang membuat perempuan itu mendesah, meninggalkan tanda merah di sekitar leher nya.
Nafas kedua nya sudah semakin menderu, jika tak di kendalikan keduanya akan semakin jauh melakukan hubungan. Bisa bisa mereka bercinta di dalam mobil.
Hasbi menghentikan cumbuan di leher Laras, ia tak ingin melakukan hal lebih sebelum mereka menjadi pasangan halal.
Laras nampak masih ingin terus melanjutkan hasrat nya, perempuan ini memiliki nafsu yang membara tampaknya . Ia menarik tangan Hasbi agar terus menggerayangi tubuh nya .
" Jangan disini, nanti kita bisa ketauan sama orang ", ucap Hasbi .
Laras cemberut, padahal ia masih haus akan kecupan kecupan dari lelaki itu .
" Apa aku bilang, sebaik nya kita tidak usah lama lama berpacaran".
" Kalau kau sudah jadi istriku, tiga kali sehari pun akan kulakukan untuk memenuhi hasrat mu", ucapan Hasbi membuat Laras bergidik mendengar nya.
Malam itu sepasang sejoli sedang merasakan indah nya bunga bunga cinta.
Laras pulang dengan begitu banyak tanda merah di leher nya, besok pagi saat bekerja ia harus berfikir keras untuk menutupi bekas merah sisa kecupan keras dari kekasih nya.
...****************...
__ADS_1
Kalau Hasbi dan Laras menikah sepertinya seru ya, pasti Laras akan dominan dalam urusan ranjang, hehehe...
Episode berikutnya kita kembali ke kisah Adam dan Dena ya...🥰🥰