
Hasbi menatap tajam Mas Adam yang berjalan mengikuti Dena menuju kamar.
Hasbi masih menebak apa yang akan Adrian lakukan dengan memanggil Mas Adam.
" Apa Adrian ingin meminta bantuan Mas Adam lagi untuk membawanya ke rumah sakit? Tapi mengapa, bukankan banyak keluarga mereka yang bisa membawa Adrian".
Adam sudah berada di kamar hangat milik pasangan suami istri itu, ia duduk mendekat di sisi tempat tidur.
" Tolong panggilkan Ayah dan juga Ibu mu sayang", pinta Adrian lagi dengan terbata.
Ia memaksa duduk bersandar di tempat tidur.
Kini mereka sudah berkumpul di kamar itu.
Adrian tersengal memegang dada nya, Dena memeluk Adrian, menangis....
" Aku mohon sekali ini saja, kau perlu mendapat penanganan medis".
Adrian tak bereaksi atas ucapan Dena.
Ia justru meminta Mas Adam semakin mendekat ke arahnya.
" Mas Adam, disini sekarang ada kedua orang tua Dena. Maukah kau berjanji dengan apa yang aku inginkan waktu itu?", suara Adrian terdengar begitu pelan.
Mas Adam tahu, Dena adalah orang yang benar benar istimewa bagi Adrian. Sebab itu, Mas Adam tak ingin bertanya mengapa atau bagaimana.
" Berjanji untuk apa?", tanya Dena masih bingung dengan rahasia di antara dua laki laki ini.
Adrian ingin berbicara, namun nafas nya terasa semakin tercekat di kerongkongan. Dena begitu panik memegang bahu Adrian. Sedangkan Ibu berusaha memijit jemari jemari menantu nya yang dingin dengan minyak kayu putih.
Dena beralih menatap Mas Adam, seolah berkata, " Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?".
" Berjanjilah...un..tuu..uukk', Adrian bicara kemudian terhenti lagi karena sesak.
" Men..jaa..gaa.. Dena daa..nn..anak ku Noo..aahh", susah payah Adrian melanjutkan ucapan nya.
Ia menatap ke Mas Adam, laki laki itu masih diam menunduk mengatupkan wajahnya dengan kedua tangan seolah tak bisa menolak atau pun menerima.
" Sayang, apa maksudmu?", Dena menangis bercampur amarah.
" Aaa..ku.. men..cintaii muu dan Noah...."
" Hi..dup lah..dengan.. Maas.. Aaa..daamm, jika aa..ku.. per..gi..".
" Kau bicara apa? Tak akan pernah ada yang menggantikan mu, kau akan baik baik saja".
Adrian beralih menatap Mas Adam, ia tak bisa lagi berkata kata karena tenaga nya sudah habis.
__ADS_1
Adam mengangguk.
" Iya aku berjanji akan menjaga Dena dan anakmu Noah".
Suasana kembali hening, hanya deru tarikan nafas Adrian yang semakin berat terdengar memenuhi ruangan kamar.
Semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Tuhan, aku tahu suatu saat ia akan pergi.
Entah karena takdir , atau karena maut.
Tapi, jika boleh aku meminta
Aku ingin ia tetap disini
Mas Adam mendekat ke Adrian, memegang denyut nadi nya yang kian melemah.
Tatapan Adrian sudah kosong, dalam pandangan nya ia melihat seorang laki laki berpakaian putih membawa sutera yang berisi kasturi dan tangkai tangkai bunga.
Wahai roh yang tenang, kembalilah pada Tuhan mu dengan perasaan rela dan diridhoi.
Lalu ia merasakan sebagian dari dalam dirinya terasa ditarik menghilang. Roh nya keluar dari jasadnya kemudian di letakkan di atas kasturi dan bunga bunga itu lalu dilipat dengan sutera dan diangkat ke atas udara.
Jasad yang ditinggalkan nya tetap tersenyum, karena sakratul maut yang terjadi begitu indah bagi orang berhati mulia seperti Adrian.
" Sayang, kau jangan tidur", Dena menangis setengah berteriak sambil memukul jasad laki laki yang ia cintai itu.
Ibu berusaha menenangkan dengan menarik Dena menjauh dari jasad Adrian.
" Dena, ikhlaskan Adrian".
Dena menggeleng keras, tangan nya tetap tak mau lepas.
Mas Adam membantu Ibu menarik cengkraman tangan Dena dari tubuh dingin Adrian.
" Lihat wajah suami mu, dia tersenyum. Lepaskanlah, ikhlaskan lah. Bantu ia untuk tenang meninggalkan mu", suara lembut Mas Adam entah bisa dicerna atau tidak oleh Dena yang semakin tak terkendali. Namun perlahan cengkraman tangan nya mulai melemah.
Mas Adam kemudian melepaskan nya, sekali lagi ia memeriksa denyut nadi, denyut jantung dan nafas di hidung Adrian.
Mas Adam menggeleng, mengatakan kepada semua yang ada di Ruangan itu bahwa Adrian benar benar sudah tiada.
Apa yang pernah di inginkan Adrian kala itu benar benar ia wujudkan hari ini. Ia mengatakan jika ia tak akan menghabiskan saat saat terakhirnya di Rumah sakit, ia ingin meninggal di kamar hangat miliknya dalam dekapan istri dan anak nya.
" Kenapa kau pergi meninggalkanku..." ,suara lirih Dena menggema di sudut sudut ruangan. Ia terduduk bersimpuh di lantai.
Hasbi dan Laras serta Mbok Nah ikut masuk ke kamar mendengar teriakan Dena.
__ADS_1
Hasbi memeluk erat kakak nya, ia tahu kakak perempuan nya itu amat terpukul saat ini.
Dena telah kehilangan orang yang selalu memberinya tawa, mengisi hari hari sepinya dengan bahagia yang sederhana.
Dengan lelaki ini ia merasakan cinta yang tak biasa, bukan hanya sekedar nafsu syahwat yang memicu rindu melainkan doa doa yang dilangitkan begitu tulus hingga desir angin pun bisa membuat Dena sejenak mengingatnya.
" Yang kuat sayang, kita semua akan selalu ada untukmu", Ibu sangat prihatin dengan nasib putrinya yang tak kunjung henti dengan ujian hidup yang bertubi tubi.
Air mata sudah mengering di pipi Dena, suaranya sudah serak karena menangis dan terus berteriak seperti orang kesetanan. Ia benar benar lelah.
Ia hanya bisa menatap kosong melihat Mas Adam, Ayah dan Hasbi memindahkan jasad kaku suaminya.
Hidupnya terasa begitu hampa, hambar bagaikan mati rasa. Bernyawa seperti tanpa jiwa.
Ia masih tak percaya Adrian begitu cepat meninggalkan nya, membuat status janda baginya serta Noah yang sekarang menjadi anak yatim.
" Kak Dena, ayo bangun", Laras mencoba menarik lengan Dena yang masih duduk bersimpuh di lantai.
Namun ia tak merespon apa apa, Laras dan Ibu berusaha sekuat mungkin meminta Dena untuk mengikhlaskan kepergian Adrian namun ia tetap tak bergeming.
Kehilangan Adrian telah membuatnya seperti orang gila. Sebentar ia menangis, lalu diam, kemudian ia tertawa terkekeh dan melanjutkan lagi tangis nya.
" Dena...kau tak boleh seperti ini", Mas Adam menepuk pelan pipi Dena. Ia tak bisa membiarkan emosi menguasai diri Dena sendiri hingga ia bersikap seperti orang yang terguncang mental nya.
Dena menatap tajam ke wajah Mas Adam lalu tertawa.
" Hahaha, kau... kau jangan ganggu Adrian ku dia sedang tidur. Pergi lah kau", ucapan Dena terus ngelantur tanpa arah.
Adam menarik nafas panjang menghadapi perempuan yang sedang terguncang hebat ini.
" Hey..Dena sadarlah, lihat Noah anakmu. Dia butuh dirimu, jangan bertingkah gila seperti ini" , Mas Adam setengah membentak.
Dena lalu diam, menatap Noah yang sedang dalam gendongan pengasuh nya. Wajahnya yang tadi tertawa berubah jadi sedih.
" Noah...sayang mama kesini. Noah, jangan kayak papa ya jahat ninggalin Mama", kali ini ia mengambil Noah dari gendongan pengasuh nya lalu ia memeluk bayi laki laki itu sambil menangis.
Adam menggeleng kepala nya, sepertinya nanti setelah mengurus jenazah Adrian yang harus di makamkan hari itu, Dena harus mendapatkan penanganan yang tepat untuk mencegah gangguan kejiwaan pada dirinya.
...----------------...
Hai para readers, maaf ya semuanya 🙏🙏
Peran Adrian harus hilang dari kisah ini, semoga nggak pada kecewa ya😁😁
Episode episode yang datang pasti thor akan mengulik lagi kehidupan percintaan Dena dan Mas Adam yang sempat ada.
Cuuss...ikuti terus up nya ya . Jangan lupa like, komen, fav n vote nya🙏🥰
__ADS_1