
Kehilangan adalah bagian dari hidup..
Karena hak manusia adalah dua,
Bahagia atau berduka
Menangis atau tertawa
Meninggalkan atau ditinggalkan
Dena sampai di rumah dengan mata yang sembap oleh air mata.
Ia masuk ke kamar tanpa mempedulikan Laras dan Hasbi yang bertanya kepadanya.
" Kenapa Kak Dena ya, apa ia bertengkar dengan Adrian?",Hasbi bertanya pada Laras.
Laras mengangkat kedua bahunya.
" Aku akan menemui Kak Dena, mungkin ia butuh teman untuk bicara".
Kali ini Hasbi setuju dengan Laras.
" Tok..tok..tok...", Laras mengetok pintu kamar Dena.
" Kak Dena, ini Laras.. Apa aku boleh masuk?".
Dena membukakan pintu kemudian mempersilahkan Laras masuk.
Ia masih menyembunyikan sisa sisa tangis di wajahnya.
" Kak Dena, kenapa menangis?", Laras memberanikan diri bertanya.
Dena hanya menggeleng.
" Kak, menangislah jika itu bisa meluapkan sedikit kesedihan kakak.
Menangis bukan berarti lemah kan, itu semua bukti bahwa kita masih punya perasaan", Laras kali ini mengeluarkan kata kata bijaknya.
Dena tertunduk, terisak kembali dalam tangisnya.
" Kak Dena, aku mengerti perasaan Kak Dena.
Maafkan kami, maafkan orang orang di sekeliling Kak Dena yang tak pernah merasakan ada di posisi seperti kakak", Laras nampaknya begitu peka dengan apa yang terjadi pada Dena.
" Aku yakin, Mas Adam juga lebih terluka dengan ini semua".
" Tapi Kak Dena masih bisa menghentikan nya?", entah apa maksud Laras akan hal ini.
Dena menggeleng keras.
__ADS_1
" Tidak Ras, aku sudah tak bisa menghentikan ini semua. Aku sudah tak punya kuasa".
" Semua sudah berjalan seperti apa yang orang orang inginkan terhadap ku".
" Aku hanya lah makhluk menjijikkan di mata orang orang jika aku meninggalkan Adrian dan memilih hidup bersama Mas Adam".
Laras begitu merasakan kepedihan dalam kata kata Kak Dena barusan.
" Tapi kakak juga punya hak untuk bahagia Kak".
" Aku bahagia bersama Adrian", Dena berusaha menolak keras perasaan ia yang sebenarnya.
Laras turut berkaca kaca, ia begitu menyayangi perempuan yang menjadi kakak ipar nya ini. Ia juga sudah menganggap Mas Adam bukan seperti orang asing lagi. Kak Dena dan Mas Adam baginya adalah sepasang kisah yang dipaksa mengubur semua rasa cinta hanya karena keadaan yang harus dijaga.
" Laras, apa menurutmu salah jika kita pernah jatuh cinta pada suami orang?".
Laras memilih kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Kak Dena kali ini.
" Kak, tidak ada yang salah. Bukankah cinta itu datang tanpa pernah memberi aba aba. Jadi tak. ada yang salah dengan perasaan cinta".
" Tapi mengapa rasanya aku menjadi wanita paling hina hanya karena aku mencintai laki laki yang saat itu sudah tidak sendiri?", Dena masih berusaha mencari pembenaran.
" Karena Kak Dena terlalu memikirkan prasangka orang terhadap kakak, Kak Dena mengesampingkan perasaan Kak Dena hanya karena tak ingin orang beranggapan buruk".
" Bagiku itu tak adil Kak, kak Dena dan Mas Adam juga punya hak untuk mempertahankan perasaan masing masing".
Kalau Hasbi mendengar ucapan Laras kali ini habislah dia, Hasbi pasti akan sangat marah jika Laras mendukung hubungan Kakak nya dengan Adam.
" Aku tadi ke rumah Mas Adam, mengantarkan undangan pernikahanku. Entah mengapa aku bisa merasakan sakit yang teramat dalam di hatinya".
Laras memeluk kakak iparnya itu, membiarkan ia puas menangis.
Mereka baru keluar kamar ketika Hasbi menghampiri dan mengatakan kalau ada Adrian datang ke rumah.
Dena menyeka air mata nya, menggenggam sekali lagi tangan Laras.
Meminta adik ipar nya itu untuk tidak menceritakan apapun termasuk kepada Hasbi.
" Tolong katakan pada Adrian tunggu sebentar, aku mandi dulu".
Dena masih melanjutkan tangisnya di antara guyuran air yang membasahi wajahnya.
Ia memejamkan mata membiarkan air mata bersatu dengan guyuran air, ia mengenang wajah lelaki itu sekali lagi, lebih dalam dan semakin dalam pula ngilu yang ia rasakan.
Dena keluar dari kamar mandi di kamarnya, dan terkejut mendapati Adrian sudah duduk di sudut tempat tidurnya.
" Sayang, kau disini?", Dena merapatkan handuk kimono yang membalut tubuhnya.
Rambut panjang nya tergerai basah, membuat ia terlihat semakin menggoda di mata Adrian.
__ADS_1
Dena tampak sedikit malu, meskipun tubuhnya tertutup rapat oleh kimono.
" Kau tak keberatan kan aku ada disini?", ucap Adrian pada perempuan yang masih saja belum melepas tangan nya yang mencengkram erat ujung handuk nya.
" Eeehh...aku, aku... aku kan mau ganti pakaian", ucap Dena gugup.
Ia takut jika Adrian tiba tiba menarik handuk nya.
" Ganti saja, aku tidak akan melihat", Adrian terkekeh .
" Hey..sayang, beberapa hari lagi kita akan jadi suami istri. Jadi latihan lah dari sekarang untuk berganti pakaian di hadapan ku."
Wajah Dena memucat rasanya, entah gugup atau malu.
Ia melangkah mendekati lemari baju nya, mengambil selembar pakaian.
" Sayang, balikkan tubuh mu kesana", Dena menunjuk tembok di belakang Adrian.
" Aku mau berpakaian, berjanjilah untuk tidak melihat".
Adrian tertawa melihat Dena yang ketakutan, bukan nya menuruti perintah Dena ia malah bangkit dari duduk nya dan berjalan ke arah Dena.
Dena mundur beberapa langkah melihat Adrian yang mendekat .
" Kau...mau apa?", Dena makin kencang merapatkan handuk kimono nya.
" Hey...kenapa kau ketakutan melihatku seolah aku orang asing. Aku calon suamimu", Adrian mendekatkan wajah nya ke wajah perempuan itu. Tangan nya meraih pinggang Dena, hingga perempuan itu berada dalam dekap nya.
Ia menciumi bibir dingin yang tadi basah oleh air itu. Dena hanya pasrah dan kemudian membalas ciuman itu lebih dalam.
Adrian melepas ciuman nya, kemudian berbisik di telinga kekasih nya .
" Kau tenang saja, aku tak akan melakukan hal gila itu padamu meskipun kau sebentar lagi akan menjadi milikku".
" Aku masih bisa menahan hasrat ku sampai hari pernikahan kita tiba".
Dena semakin erat memeluk dan menyandarkan kepala nya di dada bidang itu.
" Terima kasih Adrian, kau benar benar membuatku merasa nyaman dengan pelukanmu. Kau membuatku seperti merasakan lagi hangatnya pelukan cinta pertamaku", ucap Dena dalam hati.
...----------------...
Berikan waktu untuk bersedih
Berikan waktu untuk menangis
Berikan waktu untuk diri sendiri menikmati rasa sakit...
Menangis, berteriak, menatap...
__ADS_1
Setelah itu, angkat kepalamu dan tersenyum lah berkata " Semua sudah lewat".