
Prolog#
Kau yang paling paham
Aku lebih suka bersembunyi di balik temaram
Menikmati hening di antara kesunyian
Memeluk erat segala bayangan pilu akan kelam.
Ya.... memang hanya dirimu yang paling mengenalku.
Tanpa pernah ku ungkapkan
Tanpa perlu ku ucap kan
Nyatanya memang hanya kamu yang membuatku tenang.
Sungguh...
Aku tak ingin lagi ada yang lain
Karena bagiku cukup dengan kehadiran mu
Yang menyempurnakan segala mimpi
Dan membuatku nyaman menyandarkan hati.
Terima kasih sudah menjadi separuh hidupku.
Tetaplah seperti itu..
Entah seperti apa pada akhirnya, namun semua selalu tentang kamu pada mula nya.
*** Dena duduk melamun di kursi kerjanya, ia sedikit santai hari ini karena laporan bulanan yang di minta atasan nya sudah selesai ia kerjakan kemarin. Sejauh ini atasan nya selalu puas dengan hasil kerja Dena, sejauh ini pula belum ada rekan rekan kerja nya yang mengetahui sebenar nya ia menderita penyakit kronis, bahkan Puji teman satu satu nya pun belum mengetahui hal itu.
Biar saja, selagi hal itu masih bisa aku tutupi dari teman nya itu, begitu fikir Dena.
Puji hari itu tidak masuk ke kantor, ia mengatakan kepada Dena kalau ia sedang tidak enak badan.
" Bisa sakit juga ternyata dia, hahaha", tawa Dena dalam hati.
Dena menanti jam makan siang sepuluh menit lagi, hari ini berarti ia harus makan sendirian di kantin. Tak mengapa baginya, selama ini sebelum perkenalan nya dengan Puji saat ia masih bekerja di Ibu kota, ia terbiasa makan siang tanpa ditemani siapa pun.
Jam makan siang sudah tiba, beberapa karyawan di Ruangan itu sudah keluar menuju kantin. Dena masih malas beranjak dari kursi nya, ia tidak begitu lapar. Namun demi melihat obat obatan rutin yang harus ia minum, ia memaksakan diri melangkah kan kaki untuk makan siang.
Dena menekan tombol lift, dia berada di lantai lima gedung Perusahaan itu sedangkan kantin terletak di lantai dasar. Tidak ada siapa siapa di dalam lift, dia hanya sendirian karena hampir semua karyawan sudah menuju kantin sedari tadi.
Lift berhenti di lantai tiga, menandakan ada seorang yang akan ikut turun bersama nya. Pintu lift terbuka, seorang Laki laki masuk ke dalam lift.
" Hey... laki laki ini kan Adrian yang selalu di ceritakan Puji dalam setiap percakapan mereka", gumam Dena.
__ADS_1
" Ohh.. divisi umum ada di lantai tiga rupanya".
Mereka berdua hanya diam di dalam lift, tidak saling menyapa.
Kemudian mereka berjalan ke arah yang sama menuju kantin setelah pintu lift terbuka di lantai dasar.
Dena melihat ruangan kantin yang sudah penuh dengan karyawan yang makan siang, dia memang sedikit terlambat hari ini jadi hampir tidak ada tempat duduk yang tersisa. Tak seperti biasanya ada Puji yang sangat gesit mencari tempat duduk untuk mereka.
Dena akhirnya melihat satu buah meja kecil dengan dua buah kursi di pojok kantin. Ia segera duduk disitu, menaruh tas nya di atas meja untuk kemudian memesan makanan.
Ia kembali ke kursi nya dengan membawa satu piring nasi dan sebotol air mineral,namun Dena dikejutkan dengan Adrian yang sudah duduk di situ dengan makanan nya .
" Maaf, apa aku boleh duduk disini?"
' Aku mencari tempat kosong namun tak menemukan nya"
" Hanya dua kursi ini yang aku lihat , dan ini tas mu kan?", tanya Adrian.
" Iya silahkan, duduk saja disitu", Dena tak enak hati untuk mengusir Adrian dari situ.
Sebenarnya dia tidak merasa nyaman makan berdua dengan lelaki, terlebih lagi Adrian adalah salah satu laki laki yang banyak di idola kan karyawan perempuan di kantor ini.
Beberapa pasang mata menatap Dena, menebak apakah perempuan ini kekasih Adrian.
Ada pula yang mengatakan " Betapa beruntung nya perempuan itu bisa makan siang berdua dengan Adrian yang terkenal dingin dengan perempuan".
Dena mulai menyantap makanan di hadapan nya .
" Aku sering melihatmu makan siang berdua dengan teman mu, kenapa sekarang sendirian?", Adrian bertanya .
" Ahh aku lupa, kenalkan aku Adrian".
" Aku Dena", Dena menerima uluran tangan Adrian, kemudian mereka berjabat tangan dan buru buru di lepas oleh Dena.
Ia tak terlalu menyukai perkenalan dengan orang asing.
Dalam hati Dena berkata,
" Tentu saja aku sudah tau namamu, Puji bahkan tak pernah bosan mengagumi ketampanan mu dan mengulang ulang ucapan nya setiap hari sampai telinga ku bosan mendengar nya".
" Kau belum lama bekerja disini Dena?"
" Iya, baru satu bulan lebih aku bekerja".
" Ohh ya, kau di divisi apa?"
" Keuangan", jawab Dena singkat
Dena menilai laki laki di hadapan nya ini bukan lah seorang pria dingin seperti yang sering Puji katakan, buktinya siang itu banyak obrolan yang terjadi di antara mereka berdua.
Dena masih merasa tak nyaman karena karyawan karyawan perempuan di ruangan kantin terus saja menatap ke arah nya.
__ADS_1
" Dena, bolehkah kita bertukar nomor handphone?", Adrian mengatakan hal yang tidak di sangka oleh Dena.
Ia sebenarnya ingin menjawab " tidak boleh", karena memang selama ini Dena tidak sembarang memberikan nomor ponsel nya kepada seorang yang baru ia kenal. Bahkan hanya saudara dan keluarga nya saja yang tau nomor ponsel nya, beberapa orang lain seperti Puji dan perawat perawat di ruangan Hemodialisa.
Namun Dena tak punya cukup alasan untuk menolak memberikan nomor handphone nya sedangkan Adrian sudah melihat ponsel Dena yang tergeletak di atas meja.
Akhirnya mereka saling bertukar nomor ponsel.
" Entah untuk apa dia meminta nomor teleponku?", gumam Dena.
Pasti kalau Puji tau hal ini dia akan memekik kegirangan dan kemudian meminta Dena untuk membagikan nomor telepon Adrian .
" Pujiiiii... kau belum beruntung hari ini, lihatlah hari ini aku makan berdua dengan idola mu, hahaha".
Dena melihat laki laki di hadapan nya ini dengan jarak kurang dari satu meter.
" Dia tampan juga, pantas perempuan perempuan di kantor ini banyak yang di buat patah hati karena di tolak oleh nya".
" Semoga saja aku tidak termasuk salah satu dari perempuan perempuan itu", gumam Dena.
Kantin sudah mulai sepi, sebagian karyawan sudah kembali ke ruangan mereka masing masing.
Adrian mengajak Dena untuk meninggalkan kantin. Di ikuti anggukan Dena, kemudian mereka berjalan beriringan menuju lift.
Adrian sebenar nya mencuri curi pandang terhadap Dena. Bahkan selama ini ia sering diam diam memperhatikan Dena saat makan siang di kantin. Namun baru hari ini nampak nya ia punya kesempatan untuk berkenalan dengan Dena.
Adrian berhenti di lantai tiga, sebelum keluar dari lift ia berpamitan kepada Dena .
" Aku duluan ya Den, senang berkenalan dengan mu".
Dena membalas ucapan Adrian dengan senyuman.
Andai saja Adrian adalah sosok Adam dalam versi tanpa istri, pastilah Dena rasa ia akan menjadi salah satu pejuang perempuan yang mengantri untuk mendekati nya .
Namun sosok Adam terlalu kuat dengan segala karakter hangat yang ia miliki, sulit rasanya bagi Dena untuk menyamakan Mas Adam dengan lelaki manapun yang ia kenal.
Meskipun saat ini ia tak tau arah hubungan mereka, ia di hadapkan dengan situasi yang sulit. Memilih bertahan dengan perasaan nya harus menanggung resiko dengan sebutan perusak rumah tangga orang. Tapi jika memilih mundur dan melupakan lelaki itu rasanya ia belum sanggup, ia hanya mampu menunjukkan sikap acuh yang sebenarnya juga menyiksa batin nya.
Dena kembali ke ruangan kerja nya,bersandar lelah. Ia duduk dengan tangan kanan nya meraba cimino di pergelangan tangan nya. Desiran begitu kencang terasa, ada beberapa bekas tusukan jarum kupu kupu di sekitarnya.
Desiran desiran itu sama kencang nya dengan desiran hatinya saat bertemu Adam.
" Mas Adam.. kau tau apa salah mu?"
" Salah mu karena kau telah memiliki istri".
Dena kembali mengumbar pilu di benak nya.
...****************...
Kira kira bagaimana ya kelanjutan hubungan Adrian dan Dena setelah perkenalan itu
__ADS_1
Apakah Adrian adalah sosok yang bisa mengalihkan perhatian Dena?
Baca terus episode berikut nya ya ...🥰🥰