
Suara dua nafas yang menderu saling beradu terdengar samar di sebuah sofa di depan televisi Ruang keluarga.
Dena dengan posisi setengah berbaring di sofa dengan Adrian berada di atasnya.
Ciuman semakin dalam, semakin panas, Dena bahkan tak mampu menahan agar suaranya tak keluar dari mulutnya .
Pantas saja ia pikir Laras setiap malam selalu mengeluarkan suara berisik itu. Ia sendiri hanya karena Adrian terus mencumbu bagian leher nya tanpa henti, terus mengeluarkan suara suara yang membangkitkan gairah laki laki itu.
Tak bisa dibayangkan jika ia melakukan hal lebih, mungkin ia akan seperti Laras yang berteriak di malam hari.
Tak ada kata kata yang keluar dari mulut mereka berdua, hanya adegan cumbuan yang mewarnai ruangan malam itu.
Adrian mencoba menahan ciuman nya hanya sampai leher kekasih nya, namun tampak nya Dena tak akan keberatan jika ia sedikit turun ke bawah.
Tangan nya mulai menarik baju yang dipakai perempuan itu ke atas hingga menampakkan pemandangan dua buah daging yang cukup besar di tutupi bra hitam .
" Dena, apa aku boleh memegang nya?", Adrian masih saja selalu minta izin untuk hal hal itu .
Dena tak mengangguk maupun menggeleng, namun tangan nya yang meraih tangan Adrian kemudian meletakkan nya di dada nya menunjukkan ia tak keberatan akan hal itu.
Adrian membuka pengait dan melempar bra ke lantai. Ia mulai meremas kedua bukit kembar di hadapan nya, bermain main dengan lidahnya hingga membuat kekasih nya itu merasakan sensasi yang begitu hebat.
Dena terus meremas rambut Adrian seolah tak ingin lelaki itu berhenti dari aktifitas nya .
Sepuluh menit sudah adegan itu terjadi, Adrian menarik wajah nya dari dada kekasih nya.
" Maafkan aku Dena, semua sudah terlampau jauh".
" Pakai bra mu dan rapikan bajumu", lelaki itu memungut bra yang tadi ia lempar sembarang di lantai kemudian memberikan nya kepada Dena.
Lelaki ini benar benar tak ingin melakukan lebih dari itu, ia merasa berdosa karena sudah tak sopan melakukan hal yang terlalu jauh baginya.
" Dena, aku minta maaf".
" Aku janji tidak akan mengulanginya lagi sampai kita benar benar sudah menikah".
Dena mengangguk pelan, meskipun sebenarnya ia masih menikmati betapa bergairahnya ia saat lelaki itu mencumbui bagian sensitif tubuh nya.
Malam itu mereka hanya berdua saja di rumah Dena. Hasbi dan Laras sudah sejak sore pergi ke rumah orang tua Laras dan berencana menginap disana.
Ayah dan Ibu bahkan dari pagi belum pulang dari tempat saudara ibu di luar kota .
Tadinya Adrian datang ingin mengajak Dena makan malam diluar, namun cuaca yang tampak dingin dan hujan mengguyur sejak tadi sore membuat mereka memutuskan untuk di rumah saja.
Saat itu Adrian benar benar membahas tentang kejadian tadi siang yang ia lihat di cafe.
" Dena, boleh aku bertanya sesuatu?"
" Tapi aku takut kau akan marah jika aku menanyakan ini".
Dena tau akan kemana arah pertanyaan Adrian .
" Bertanya apa?"
__ADS_1
" Hhmm..tentang tadi siang di cafe".
" Mengapa Mas Adam memegang tanganmu, dan aku lihat kau juga tidak keberatan?"
Dena tentu saja sejak sore sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang pasti akan ditanyakan Adrian.
" Ohh tentang itu, itu hanya bentuk dukungan moril ku saja untuk Mas Adam".
" Ia ada masalah dengan pekerjaan nya, yang membuat ia mengundurkan diri dari pekerjaan nya itu", Dena berkata setenang mungkin.
" Tapi, apa harus ia menggenggam tanganmu?".
" Aku melihat ada yang lain dari cara ia menatapmu", Adrian masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dena.
" Sejak kapan kau tidak mempercayaiku?".
" Sayang, kau jangan marah padaku", tangan Adrian menggenggam tangan Dena karena ia melihat kekasih nya itu mulai cemberut.
" Ayolah jangan marah, aku janji tidak akan bertanya lagi tentang hal itu."
Dena memandang kasihan pada lelaki ini.
" Hey...kenapa jadi terbalik seperti ini?".
" Harusnya kau yang marah padaku dan aku yang minta maaf padamu", batin Dena dalam hati.
Tuhan, terbuat dari apakah hati lelaki ini. Dena begitu terharu dicintai sedalam ini, laki laki itu menomor duakan perasaan curiga nya hanya karena ia takut kehilangan kekasihnya.
" Aku tidak marah, aku hanya ingin kau percaya aku juga berjuang untuk hubungan kita",ucap Dena.
Sungguh, berjuang yang di maksud oleh Dena adalah mati matian melupakan Mas Adam dan belajar mencintai Adrian seperti ia mencintai cinta pertamanya.
" Kau mau bukti kalau hanya dirimu yang ada di hatiku?', Dena menarik Adrian lebih dekat padanya.
Kemudian tanpa aba aba ia ******* bibir kekasihnya itu, hingga tadi Adrian mengakhirinya karena takut mereka terlampau jauh.
Sepasang kekasih itu kini hanya menghabiskan malam minggu mereka dengan menonton televisi.
" Sayang, nanti kalau kita sudah menikah kau ingin kita bulan madu kemana?", Adrian malu malu mengucapkan kata bulan madu.
" Kemana saja, asalkan denganmu aku yakin semua tempat akan terasa indah".
Dena malah tak yakin dengan jawaban yang baru saja ia ucapkan.
" Apa benar begitu?", batin nya.
Adrian menyebutkan beberapa nama tempat untuk dijadikan pilihan bulan madu mereka.
Sedangkan Dena malah sibuk mengingat kembali kejadian di villa waktu itu bersama Mas Adam. Ia membayangkan, nanti saat bulan madunya ia akan melakukan hal itu dengan Adrian. Mungkin akan lebih, dan berkali kali dibanding yang ia lakukan dengan Mas Adam.
" Aku sudah menanyakan beberapa gedung untuk resepsi pernikahan kita nanti".
" Kau yang memutuskan nanti akan dimana kita menikah", ujar Adrian membuat Dena semakin berdegup kencang memikirkan hari dimana ia benar benar harus melepas Mas Adam untuk selamanya.
__ADS_1
" Iya, nanti kita pikirkan lagi", Dena nampak tak bersemangat.
" Sayang, boleh aku minta sesuatu lagi?", begitulah ciri khas Adrian jika memiliki keinginan. Ia tak pernah mengatakan nya langsung tetapi ia akan bertanya dulu pada Dena apa ia boleh mengatakannya.
"Huuh...lagi lagi kau bersikap seolah aku wanita kejam yang tak pernah mengiyakan mau mu", gerutu Dena.
" Palingan juga hal yang ia minta, sebenarnya tidak perlu meminta persetujuan".
" Minta apa, katakanlah".
" Aku ingin kau selalu memberiku kabar kau ada dimana, dan sedang apa".
" Karena selama ini kau selalu lupa memberiku kabar sehingga aku kadang khawatir denganmu". Adrian sebenarnya meminta hal ini karena ia masih kesal tadi siang kekasihnya malah berduaan dengan Mas Adam tanpa memberitahunya.
" Ehhh...tapi kalau kau keberatan untuk melakukan itu tidak apa apa".
" Aku tidak memaksanya", Adrian takut takut kalau Dena malah tak nyaman dengan permintaan nya.
" Hahaha...", Dena malah tertawa terbahak.
" Jadi sebenarnya kau niat meminta atau tidak?".
" Bisakah sekali saja kau meminta dengan tegas tanpa ada penutup kalau kau keberatan tidak apa apa".
Adrian menggaruk kepalanya.
" Hehe... aku takut kau marah".
" Hey permintaanmu kan sederhana, tidak pernah yang aneh aneh".
" Kenapa aku harus marah?" , Dena lagi lagi ingin tertawa melihat wajah Adrian yang salah tingkah.
" Jadi, kau mau melakukan permintaanku?", tanya Adrian masih dengan takut takut.
Dena mengangguk.
" Tentu saja sayang, aku akan melakukan itu untukmu".
" Mulai hari ini aku tidak akan lupa mengabarimu", Dena mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
" Terima kasih sayang", diakhiri dengan kecupan lembut di kening perempuan itu.
...----------------...
Memberi tahu pasanganmu di mana kamu berada, dengan siapa kamu, dan jam berapa kamu pulang, bukanlah suatu bentuk "pengekangan".
Itu menunjukkan kamu menghargai dia sebagai seorang pasangan.
Adrian....coba ada lelaki sepertimu di dunia nyata.
Otor mau satu😁😁
Pencet like ya n kasih vote kalau suka, next episode di tunggu ya🥰🥰🙏
__ADS_1