
Izinkan aku mengenangmu,
untuk waktu yang telah lama berlalu.
Izinkan aku menyiram rindu yang tiap hari mekar tanpa tahu bagaimana caranya padam.
Aku ingin mendengar suaramu dan cara bicaramu yang membuat aku jatuh hati berkali kali.
Aku ingin berbagi cerita dan isi pikiran masing masing yang jika denganmu aku selalu mampu mendapat wawasan baru dan cara berpikir yang lebih maju.
Aku ingin mengulang hari hari yang telah berlalu hanya untuk sekedar bercerita
penat apa saja yang ku alami di tiap hari.
Aku juga ingin lagi mendengar setiap keluhanmu yang ku yakini sebenarnya kau
tak sepenuhnya mengeluh,
hanya saja kau mempercayakan setiap kesahmu padaku .
Naif nya kita, sepakat untuk saling lupa
Menikmati luka memendam rindu sendiri sendiri .
Barang kali kita bisa memulainya lagi.
Menepiskan ego dan berpikir bahwa dengan
bersama kita bisa merangkai bahagia.
Merasakan kembali bagaimana rasanya
jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Merasakan hari hari yang indah
dan seakan selamanya bersama.
Meski nyatanya di ujung kebingungan kita tak tahu langkah apa yang selanjutnya dituju.
Aku ingin sekali lagi, walaupun rasanya
memang tak mungkin.
Pagi itu, Dena sudah berada di sebuah kamar hotel yang memang di sediakan untuk ia berganti pakaian dan dirias.
Seorang MUA dan beberapa asisten nya juga ada di ruangan itu.
Tugas mereka adalah membuat mempelai wanita terlihat cantik hari itu .
Ibu, Kak Anjani dan Laras juga nampak dirias dalam ruangan itu . Sedangkan Adrian berada di ruangan terpisah bersama kakak nya Radit.
Dena sudah memakai kebaya berwarna gold, wajahnya sedang dirias dan kepalanya di pasang sanggul untuk akad nikah pagi ini.
Ia terlihat sangat cantik, namun gurat wajah sedihnya tak bisa ia sembunyikan.
" Dena, kau kenapa nak? Ini kan hari bahagiamu, tapi kenapa kau terlihat sedih?, Ibu bisa melihat kesedihan di wajah Dena .
Hanya Laras yang mengerti kenapa kakak iparnya begitu.
" Sudah biasa bu kalau pengantin perempuan terkadang terlihat sedih di hari bahagianya".
" Karena itu berarti ia harus siap berpisah dengan orang tua yang selama ini menjaganya".
__ADS_1
" Bisa jadi Nak Dena juga gugup", seorang asisten MUA menjawab pertanyaan ibu.
Membuat Dena tak perlu lagi mencari alasan untuk menjawab.
Dena terlihat cemas, perasaan hatinya bercampur aduk. Riasan di wajahnya hampir selesai, begitu pula dengan rambutnya.
" Laras, bisa tolong ambil ponsel ku?", Dena berbisik pada Laras yang sedang berada di dekatnya.
Laras mengangguk, mengambil dan memberikan ponsel Dena.
Dena mungkin sudah tak bisa membatalkan semuanya, namun ia masih berharap Mas Adam akan datang menyaksikan akad nikahnya yang akan berlangsung satu jam lagi .
Tak adil memang rasanya jika Mas Adam harus menyaksikan perempuan yang ia cintai justru mengikat janji suci dengan laki laki lain.
Namun bagi Dena, ini bukan lagi tentang perasaan namun tentang sebuah keikhlasan.
Ia ingin laki laki itu hadir menyaksikannya menikah sebagai seorang kakak mungkin baginya.
" Satu jam lagi pernikahan ku dimulai, aku harap Mas Adam datang".
Dena mengetik pesan itu, Mas Adam membacanya namun ia tak membalas.
Sementara disana, setelah membaca pesan dari Dena, Adam meraih undangan yang waktu itu ia remas .
Dibukanya undangan itu, pernikahan Dena berlangsung hari ini dilihatnya jam dan tempat yang tertera disitu.
Ia masih punya banyak waktu untuk datang, namun buat apa?
Membiarkan suasana menertawakan kekalahannya.
" Dena, jika kau ingin pergi. Sungguh, kau boleh pergi".
" Perihal rindu, biar itu menjadi tanggung jawabku".
****
Adrian sudah duduk di tempat yang sudah disediakan di dampingi Kakak kandung nya.
Dena masih berada di kamar Hotel.
" Ayo nak, sebentar lagi acara di mulai. Penghulu dan para saksi sudah menunggu", Ibu menyuruh Dena bersiap siap.
Dena semakin cemas, bolak balik membuka ponsel nya. Namun tak ada jawaban apa apa.
" Apa yang kau cemaskan?", Kak Anjani bertanya.
Dena menggeleng.
" Tidak ada kak, ayo aku sudah siap", dengan terpaksa Dena menaruh ponsel nya di tas.
Mereka pun menuju tempat utama di adakan nya Akad Nikah pagi itu.
Ketika Dena memasuki ruangan, semua yang hadir disitu menyambutnya dengan penuh rasa kagum.
Ia begitu cantik dengan riasan sederhana dan kebaya yang membalut tubuhnya .
Adrian bahkan tak bisa berkedip menatap calon istrinya itu. Ia masih saja berdebar setiap melihat perempuan itu.
" Dena, berkunjunglah ke jantungku bukan sebagai tamu, tetapi sebagai pemilik rumah, sebab disana kau yang akan tinggal selamanya".
Mereka berdua telah duduk berdampingan, ada Ayah dan juga Kak Radit disitu.
" Sayang, kau cantik sekali. Terima kasih untuk hari ini dan hari hari esok yang akan kita lalui bersama", Adrian membisikkan kalimat itu kepada Dena.
__ADS_1
Semua tamu yang hadir merasa di hipnotis oleh kedua pasangan serasi ini. Semua diam dengan takzim menyambut acara akad yang sudah akan di mulai.
Adrian menarik nafas panjang, mengatur wajah setenang mungkin.
Sebentar lagi Ijab kabul yang dianggap sakral dalam prosesi akad nikah akan segera di mulai. Ucapan ijab dan kabul hari ini akan menghalalkan hubungan nya dengan Dena.
Penghulu yang hadir sebagai pencatat nikah dan sudah diberi wewenang melakukan pengawasan nikah hari ini sudah memberikan aba aba untuk segera memulai acara nya karena mempelai dan para saksi sudah siap semuanya.
Ayah yang akan menikahkan langsung putri nya hari itu.
Ia sudah menjabat tangan Adrian yang duduk di hadapan nya. Semua hening, tak ingin melewatkan momen suci ini.
Beberapa kamera sudah siap menyorot prosesi akad nikah ini.
Bismillahirrahmanirrahim...
" Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Adrian Pamungkas bin Winata Said dengan anak saya yang bernama Dena Sanlova dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan emas dibayar tunai".
Ucapan Ijab sudah di lafadz kan Ayah seraya menjabat tangan Adrian.
" Saya terima nikah dan kawinnya Dena Sanlova binti Surya Darmawangsa dengan mas kawin tersebut tunai".
Adrian mengucapkan Kabul dalam satu tarikan nafas.
Para saksi pernikahan sudah mengucapkan kalimat sah. Detik itu juga, Dena sudah resmi menjadi istri Adrian.
Matanya berkaca kaca, ia tak sedang bermimpi hari ini menjadi perempuan yang beruntung di nikahi laki laki sebaik Adrian.
Namun perasaan nya kacau, karena sejak masuk ke ruangan ini ia menyapu segala penjuru ruangan dengan tatapan nya tapi tak ada Mas Adam disitu sampai ia selesai di nikahkan.
Penghulu membacakan doa doa dan beberapa petuah mengenai adab setelah menikah. Ia memberi pesan bagaimana suami menggauli dan menafkahi istri, begitu juga sebaliknya tugas istri kepada sang suami.
Air mata tumpah ketika Dena mencium punggung tangan laki laki yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Tak kalah mengharukan lagi ketika ia dan Adrian meminta restu kepada orang tua dan saudara mereka .
Ayah dan ibu berkali kali mencium putri kesayangan mereka, melepas nya untuk mengarungi rumah tangga bersama laki laki yang mereka percayakan akan membahagiakan Dena .
Ayah menitipkan beberapa pesan kepada Adrian, saat itu juga terurai janji dalam hati Adrian untuk memegang penuh tanggung jawab nya sebagai seorang suami.
Para kerabat dan saudara bergantian memberikan selamat kepada mereka berdua.
Laras di ujung sana meneteskan air mata, ia tau kakak iparnya itu sedang berbahagia namun ia juga tau kalau masih tersimpan perih yang amat dalam di hati Dena .
" Selamat ya, hari ini kau sudah jadi seorang suami. Tunjukkan kalau kau laki laki sejati, jaga dan lindungi istrimu", Radit menepuk bahu adik laki lakinya itu. Hidung nya sudah memerah sejak tadi, sedih dan terharu melepas adik kandung nya.
" Tentu saja Kak Radit, aku akan menjaga istriku dengan nyawaku sendiri", ucap Adrian penuh rasa bangga.
Adrian berkali kali mencium kening perempuan yang sekarang sudah menjadi istrinya.
Genggaman tangan mereka semakin erat , membuat semua orang iri rasanya dengan pasangan ini.
Doa doa sudah kita langit kan, izinkan aku dengan Aamiin paling serius .
Sebab di lubuk hati yang paling dalam aku menyimpan tujuan agar kita bisa menetap hidup bersama dengan cara yang paling di Ridhoi Nya.
...----------------...
Akhirnya..... setelah ujian ujian yang berhasil dilewati Adrian dengan kesabaran, hari ini ia resmi menikah dengan perempuan yang ia cintai.
Apakah masih banyak prahara yang nanti akan hadir di pernikahan mereka??
Ikuti terus ya kelanjutan nya, di episode episode mendatang.
__ADS_1
Masih panjang sepertinya perjuangan Adrian dan Dena.
Jangan lupa pencet jempol nya🥰🥰🙏