Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Terungkap


__ADS_3

" Dena, kau.....", itulah kata pertama yang keluar dari mulut perempuan itu.


" Hey, kalian sudah saling kenal?", kak Radit mendengar Lisa menyebut nama Dena.


Sementara Adrian masih ingat perempuan ini adalah Lisa, mantan istri Mas Adam.


" Kak Lisa?"


" Jadi kau yang datang bersama kakakku?", Adrian balik bertanya .


Dena masih terdiam, wajahnya pias memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.


" Hey.. hey.. tunggu ..".


" Jadi kalian bertiga sudah saling kenal?", Radit masih tak percaya dengan kebetulan ini.


" Jadi Adrian adik kandung mu Dit?", tanya Lisa dengan tatapan sinis ke arah Dena.


" Iya dia adik ku".


" Ceritakan bagaimana kalian bisa saling kenal?", Radit masih penasaran.


Hanya Dena yang dari tadi tak mengeluarkan suara, telapak tangan nya berkeringat menandakan ia sedang gugup .


" Dena adalah pasien cuci darah di tempat mantan suami ku bekerja".


" Betul kan Dena?", Lisa masih ingin menekan Dena tampaknya.


Dena mengangguk, ia ingin lari rasanya dari situasi ini.


" Kami pernah beberapa kali bertemu, dan terakhir bertemu saat Dena memperkenalkan Adrian sebagai kekasihnya di acara pernikahan rekan kerja Adam".


" Dan itu ternyata jadi awal mula pertengkaran ku dengan Adam, hahaha", tawa Lisa bukan menunjukkan ekspresi lucu tapi lebih tepat nya menyindir.


" Maksudnya?", Radit masih tak mengerti.


Begitu juga dengan Adrian, ia ingat waktu pertemuan mereka di Resepsi pernikahan Risma, Mas Adam tiba tiba pergi begitu saja tanpa kata dan menunjukkan wajah kesal.


" Apa mereka bertengkar?"


" Lalu apa hubungan nya dengan pertemuan denganku dan Dena?", Adrian masih bingung.


" Adrian kau bingung kan maksud ucapan ku?", Lisa beralih ke Adrian.


" Hey ... ada apa ini sebenarnya?".


" Kenapa Kak Lisa membuat kami semua disini tak mengerti?", Adrian merasa ada yang tak beres dengan semua ini, terlebih Dena dilihatnya tak berani mengucapkan apapun.


" Kau tanya pada kekasih mu Adrian apa yang sebenarnya terjadi?".


Adrian menatap Dena, meminta penjelasan atas apa yang di katakan Lisa.


Dena, menunduk tak ingin menatap siapapun . Ia merasa seolah menjadi narapidana yang menunggu ketukan palu hakim untuk menjatuhkan hukuman.


" Sayang, bicaralah apa yang di maksud Kak Lisa?".


Dena menunduk menahan air mata nya .


"Adrian , antar aku pulang".


"Aku tidak ingin disini", ia terisak.


" Hey.. kau kenapa menangis sayang?".


" Tidak ada yang marah padamu, aku hanya bertanya apa yang dimaksud dengan ucapan Kak lisa?", Adrian mengusap pipi Dena yang basah.


" Kalau kau tidak mau berbicara, biar aku yang mengatakannya", ucapan Lisa makin berani kali ini.


Ia merasa mendapat kesempatan untuk membalas semua rasa sakit hatinya.


" Radit, kau ingat kan aku pernah bercerita kepada mu tentang rumah tangga ku yang hancur karena orang ketiga?".


Radit mengangguk, sementara perasaan Adrian semakin tak enak mendengar itu.


" Perempuan ini lah, Dena yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kami", Lisa menunjuk Dena dengan ujung telunjuknya.


Ia seperti menjadi pemenang dalam perlombaan ketika berhasil mengatakan itu.


Adrian melepas tangan nya yang tadi mengusap pipi Dena .


Sekarang kedua tangan nya beralih ke bahu Dena dan mengguncangnya.


" Sayang, jelaskan padaku apa benar yang Kak Lisa katakan".

__ADS_1


Dena masih saja terus terisak.


" Ini tidak seperti yang kalian kira".


" Aku tak bisa mencegah perasaan Mas Adam yang mencintaiku".


" Tapi sungguh aku tak berniat menghancurkan rumah tangga kalian", suara Dena setengah berteriak membuat orang orang menoleh ke arah nya .


" Bohong, kau munafik".


" Kau juga membalas perasaan Adam, bahkan kalian beberapa kali jalan berdua".


Adrian yang mendengar ucapan Lisa langsung teringat dengan kejadian di cafe waktu itu. Ketika Mas Adam menggenggam tangan Dena.


" Tidak.. aku saat itu tidak tau Mas Adam sudah mempunyai istri", Dena membela diri.


" Jangan bohong kau Dena, aku masih ingat isi percakapan kalian ketika ingin bertemu berdua".


Dada Adrian semakin sesak mendengar keributan itu. Ia ingin marah kepada Dena, tapi ia tak tega melihat kekasih nya menangis di sudut kan seperti itu.


Ia akan tetap minta penjelasan dari Dena, namun saat ini yang terbaik adalah membawa Dena pergi dari hadapan Lisa.


Adrian bisa melihat wajah Dena yang sesenggukan, menahan malu karena orang orang menatap nya .


" Kak Lisa, hentikan semua ini".


" Berhenti kau menyudutkan Dena".


" Aku tau kau orang yang penting di hati kakak ku, tapi aku tidak bisa membiarkan kau memperlakukan kekasih ku seperti ini", Adrian memeluk Dena, mengusap bahunya.


" Sayang jangan menangis lagi, ayo kita pergi dari tempat ini".


Hanya Adrian yang tau bagaimana hancurnya perasaan nya saat itu mendengar kenyataan yang di sembunyikan kekasih nya.


Namun di satu sisi ia harus jadi pelindung bagi kekasih nya itu, tak akan ia biarkan siapa pun membuat nya menangis.


" Kak Radit, maaf aku pulang".


" Nanti kita bicara lagi di rumah".


Adrian membawa Dena pergi keluar dari cafe.


Dena masih sesenggukan ketika sudah di dalam mobil.


Menunjukkan betapa kecewa nya dia dengan satu satunya perempuan yang ia cintai.


" Sejak kapan kalian saling mencintai?", Adrian bertanya sementara kepalanya ia tengadahkan ke atas.


" Dena, bicaralah".


" Apa lagi yang kau tutupi dariku", kali ini ia tidak memanggil Dena dengan ucapan sayang.


" Dena, katakan apalagi yang tak ku ketahui tentangmu", Adrian semakin geram karena Dena terus saja diam.


" Sekarang aku tanya apa benar ia mencintaimu?".


Dena mengangguk.


" Dan, apakah kau juga mencintainya?".


" Iya, tapi dulu", jawaban yang terdengar singkat dari mulut dena itu cukup membuat Adrian terpukul.


" Apa aku hanya kau jadikan pelarian mu?",suara Adrian masih saja terdengar lembut .


Semarah dan sekecewa apapun ia terhadap Dena, ia tak akan berbicara dengan berteriak.


" Tidak Adrian, tidak...".


" Aku sama sekali tak pernah menganggap mu sebagai pelarian".


" Aku mencintaimu dan ini tak ada hubungan nya dengan Lisa maupun Mas Adam", entahlah rasanya Dena mulai putus asa untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi .


" Ceritakan lah padaku, bagaimana awal nya hingga kalian saling mencintai. Meskipun sakit aku akan mendengarnya."


" Baiklah, aku tak ingin kau salah paham hingga membuat hubungan kita berantakan".


" Aku akan bercerita, dan aku harap kau tak sakit hati mendengar ini".


" Tentu saja aku sakit, mendengar kau pernah mencintainya", suara Adrian terdengar pelan sekali.


Ia seperti pasrah dengan cerita yang akan ia dengar.


Akhir nya Dena menceritakan semua tentang perasaan nya dan Mas Adam. Mulai dari pertama mereka bertemu, hingga Dena tau ia lelaki beristri. Dena juga menceritakan alasan ia pindah rumah sakit. Semua ia ceritakan, kecuali satu hal.

__ADS_1


Tentang kejadian di villa kala itu.


Adrian mematung mendengar cerita Dena, ia sakit mendengar betapa sayang nya laki laki itu kepada kekasih nya meskipun pada akhirnya Dena memilih melupakan laki laki itu dan menjalin hubungan serius dengan nya sekarang.


Adrian menyalakan kendaraan nya, keluar dari halaman cafe dengan perasaan yang bercampur aduk.


Ia marah, kecewa, namun ia tak punya daya untuk meluapkan nya karena betapa pun sakit hatinya, ia sangat takut ada pertengkaran antara ia dan Dena.


" Kenapa kau tak pernah jujur padaku sebelumnya", suara itu terdengar sangat berat.


" Aku minta maaf, aku tidak menceritakan apapun karena bagiku itu sudah tak penting lagi".


" Aku tidak pernah mengira akan berurusan dengan Kak Lisa seperti ini", ucap Dena penuh sesal.


" Aku bahkan tidak tau jawaban apa nanti yang akan aku berikan pada Kak Radit".


" Adrian, kau hanya perlu menceritakan apa yang memang sebenarnya tejadi".


" Kalau ternyata Kak Radit tidak bisa menerimaku hanya karena perempuan yang ia cintai membenciku, aku bisa apa?", Dena nampak pasrah dengan kalimatnya.


" Dena, kau tau aku sangat takut kehilanganmu".


" Aku akan selalu memaafkan apa pun kesalahanmu, jadi aku mohon mulai sekarang kau jujur lah dengan semua yang ada pada dirimu".


" Jangan ada yang kau tutupi lagi dari ku".


"Degg"..jantung Dena terasa ngilu.


" Bagaimana ini, apa aku juga harus mengatakan kalau sebenarnya aku sudah memberikan mahkota ku pada lelaki itu?", ucap Dena dalam hati.


Ia mempertimbangkan lagi, dan ia memutuskan tidak mungkin mengatakan nya sekarang.


Adrian pasti akan bertambah hancur jika ia jujur tentang hal itu.


" Hey...hati... kenapa sekarang kau takut kehilangan lelaki ini?".


" Bukankah kalau ia memutuskan hubungan dengan mu kau akan bebas dari ikatan yang mulanya terpaksa kau jalani".


" Kau bisa meneruskan cintamu dengan Mas Adam".


" Tidak, tidak, jangan lakukan itu !!!".


" Lelaki ini orang yang tepat untukmu, pertahankan hubungan kalian".


Dua sisi yang saling bertentangan di dalam hati Dena terus bertarung.


" Dena, setelah mengantarmu ke rumah, aku langsung pulang".


" Aku lelah, aku perlu tidur untuk melupakan apa yang baru saja terjadi", Adrian mengatakan itu ketika mobil nya hampir tiba di rumah Dena.


" Adrian maafkan aku, gara gara aku makan malam nya jadi berantakan".


" Sudahlah, malam ini kau terlalu banyak menangis".


" Masuk lah ke rumah, dan segera istirahat".


" Jangan di bahas lagi saat kita sedang emosi seperti ini".


Dena turun dari mobil tanpa kecupan hangat yang biasanya selalu lelaki itu berikan padanya.


Adrian pulang ke rumahnya malam itu dengan sebuah perasaan yang sangat berat ia terima, merasa dikhianati namun tidak nyata.


Ia membanting tubuh nya dengan keras ke atas tempat tidur.


Lalu, hening....


Ia tenggelam dalam sepi yang paling sakti.


Membawa altar pikirnya pada perenungan tak bertepi.


.


...----------------...


Adrian selalu saja mengalah dalam setiap hal kepada kekasihnya.


Apa kali ini ia akan tetap seperti itu??


Lalu gimana ya dengan Lisa dan Radit??


Next ditunggu ya up berikut nya.


Pencet like nya jangan lupa🥰🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2