
Saat ini Dena mempunyai kesibukan baru, yaitu ikut mengasuh Viola bayi perempuan Laras yang sekarang berusia satu bulan.
Hampir setiap hari setelah Adrian berangkat bekerja ia datang ke rumah Ibu untuk sekedar menggendong Viola yang menggemaskan.
" Hai baby Vio, baru saja sehari nggak ketemu, aunty udah rindu berat", ucap Dena pagi itu ketika menggendong viola yang baru saja selesai dimandikan oleh Laras.
Diciumnya pipi chubby viola, ia mengajak bicara bayi itu seperti seorang Ibu kepada anaknya.
Laras sebenarnya menatap iba pada Dena, ia tau Kakak iparnya ini begitu mendambakan kehadiran buah hati.
" Laras, aku mau bertanya padamu. Apa selama kau menjadi perawat hemodialisa pernah ada pasien yang hamil?", pertanyaan itu mewakilkan keinginan Dena.
Laras berpikir sejenak, mencoba mengingat ingat.
" Dulu kalau nggak salah pernah ada Kak", Laras ingat satu pasien perempuan yang kala itu hamil.
" Ohh ya, jadi benar ada?", Dena bersemangat.
" Iya kak, tapi usia kandungan nya tidak bisa bertahan lama. Di usia kehamilan tiga bulan janin nya keguguran".
" Ia kehilangan banyak darah, hingga nyawanya tidak selamat", Laras terpaksa mengatakan hal itu.
Dena yang tadinya mulai bersemangat kini tertunduk menelan kecewa.
Ia tau dari awal dokter sudah menjelaskan hal ini, namun baginya ia rela mempertaruhkan nyawa demi memberikan Adrian seorang anak.
" Maaf ya Kak Dena, bukannya aku ingin mematahkan semangat Kak Dena. Tapi memang itu terlalu beresiko", Laras menenangkan hati kakak iparnya.
" Tidak apa apa Ras, asalkan kau selalu mengizinkan ku menggendong bayi imut ini", Dena kembali mencium Viola yang terlelap di pelukan Dena .
Dena dengan telaten membantu Laras mengasuh Viola, menggantikan popok, membuatkan nya susu hingga menidurkan Viola dengan penuh kasih sayang.
Ia baru berpamitan pulang saat tengah hari.
" Laras, aku pulang ya. Aku mau ke supermarket membeli beberapa kebutuhan rumah tangga", ucap Dena pamit kepada Laras seraya menyerahkan Viola yang nyaman tidur di gendongan nya .
" Hati hati ya Kak Dena, terima kasih setiap hari sudah mau menjaga Viola".
Dena kemudian ke supermarket di Pusat kota, berbelanja kebutuhan rumah tangga nya.
Setelah selesai dengan semua yang ia perlukan, ia menuju Restoran cepat saji yang ada di Gedung yang sama.
Dena sudah memesan makanan, matanya mengitari ruangan mencari tempat kosong untuk dirinya.
" Dena, kau disini?", suara laki laki yang duduk tepat di sebelah Dena yang sedang berdiri mengagetkan Dena.
" Mas Adam?", ini kali pertama mereka bertemu setelah Dena menikah dengan Adrian.
Laki laki itu tak banyak berubah, wajah dan tatapan hangat nya masih terasa sama seperti dulu.
Dena buru buru mengalihkan pandangan nya, ia tak mau terlalu lama menatap mata laki laki itu.
Karena baginya tatapan itu sejak dulu selalu berhasil membuat jeratan di dalam hatinya .
" Duduklah disini, sepertinya tidak ada tempat kosong lagi", Mas Adam menepuk kursi kosong di sebelahnya mempersilahkan Dena untuk duduk.
Dena masih ragu ragu.
" Bagaimana kalau Adrian tau aku berdua dengan Mas Adam, ia pasti kecewa", gumam Dena.
Tapi nampaknya memang tak ada lagi tempat kosong di ruangan itu.
Dena akhirnya duduk bersama Mas Adam, namun ia memindahkan kursi nya berhadapan dengan lelaki itu.
" Apa kabarmu?", Mas Adam bertanya masih dengan suara lembutnya.
" Baik Mas, semua baik baik saja. Aku bahagia bersama Adrian", Dena sengaja mengatakan itu agar tak ada lagi membahas tentang perasaan di antara mereka.
" Syukurlah kalau begitu", nada bicara Mas adam terdengar begitu berat.
Lalu hening sesaat di antara mereka, menjadi asing karena pernah bersama.
" Bagaimana kabar Juna Mas?", Dena memecah keheningan diantara keramaian di Ruangan itu.
" Juna lebih banyak bersama Lisa dan nenek nya saat ini, ia hanya akhir pekan bersamaku. Beberapa kali ia menanyakanmu dan memaksa untuk bertemu denganmu".
__ADS_1
" Tapi.....", Mas Adam masih menggantung kalimatnya.
" Ahh sudahlah, tak mungkin aku menuruti semua kemauan Juna", Adam mengakhiri kalimatnya.
" Titip salam ku buat Juna ya Mas, maaf kalau aku belum bisa bertemu dengan nya".
" Aku tak ingin Adrian salah paham, berada disini berdua dengan Mas Adam walau tanpa rencana pun aku merasa sangat bersalah padanya", Dena menunduk.
Mereka kemudian menghabiskan makanan masing masing tanpa banyak bicara.
Ada yang tak mereka sadari karena mereka sibuk melawan perasaan masing masing. Adam baru sadar ketika ia tak sengaja menatap tubuh perempuan di hadapan nya itu.
" Bros kupu kupu itu, kau menyukainya?", Dena refleks melihat bros yang ia kenakan ketika Mas Adam menanyakan nya.
Ia hanya mengusap lembut bros kupu kupu itu, tak menjawab.
" Aku juga selalu memakai kalung ini", Mas Adam mengeluarkan kalung yang tergantung di lehernya yang tertutup kaos yang ia kenakan.
Hal itu memaksa Dena untuk menatap ke arah dada lelaki itu.
Dada nya bergemuruh, menahan perasaan yang selama enam bulan sejak pernikahan nya sudah ia coba kubur hidup hidup.
" Maaf Mas, aku tidak bisa lama lama disini. Aku sudah selesai dengan makan siangku, aku pamit pulang", Dena beranjak dari tempat duduk nya.
Baginya lebih baik menghindari hal hal yang hanya akan mengingatkan tentang memori yang telah berlalu.
" Dena, hati hati di jalan.. Jaga kesehatanmu, teruslah bersemangat", ucap Mas Adam menahan langkah Dena.
" Ahhh, kau masih saja belum berubah. Selalu memberikan perhatian kecil itu", Dena berkeluh di dalam hati.
Iya mengangguk kemudian berlalu meninggalkan lelaki yang masih saja menatap tubuh nya sampai ia benar benar hilang dari pandangan.
*****
Semalaman ia tak bisa tidur karena masih memikirkan pertemuan singkat yang tadi siang tak di sengaja.
" Kau belum mengantuk?", tanya Adrian pada istrinya yang masih belum mengenakan pakaian setelah mereka bercinta tadi.
Dena menggeleng.
" Apa yang kau pikirkan sayang?", Adrian mengusap peluh di wajah istrinya karena panasnya aktifitas mereka tadi .
Adrian memijat lembut bahu istrinya.
" Maafkan aku yang tadi tidak bisa mengontrol tenaga ku, aku terlalu bergairah", ucap Adrian mengira tubuh istrinya benar benar sakit karena tadi ia terlalu bermain kasar.
" Tidurlah, besok kau harus bekerja. Dan besok aku juga harus cuci darah ke Rumah sakit".
" Kau juga tidur sayang, kau pasti kelelahan. Maafkan aku ya", hal yang selalu diucapkan Adrian, kata maaf setelah hampir setiap malam mereka bercinta.
Padahal bagi Dena ia tak perlu minta maaf, karena memang sudah kewajiban nya melayani suaminya di tempat tidur.
Sampai Adrian tertidur pulas, Dena masih saja tak bisa memejamkan mata.
Ia memandang wajah suaminya di antara temaram cahaya remang remang di kamar mereka.
" Kau suami terbaik untuk ku, tapi kenapa terkadang aku masih belum bisa berdamai dengan masa lalu bersama cinta pertamaku", batin Dena.
Ia menelusup kan kepalanya di dada bidang Adrian, membiarkan kenyamanan itu menjalar ke tubuhnya.
Tangan Adrian mengusap kepala Dena, membuat ia terkejut karena Adrian ternyata menyadari apa yang ia lakukan.
" Kenapa masih belum tidur juga?", Adrian dengan mata setengah terpejam bertanya pada Dena.
" Entahlah, aku belum mengantuk", Dena masih mengusap usap wajah nya di dada Adrian.
" Apa kau mau aku melakukan nya sekali lagi?", kali ini Adrian sudah membuka lebar matanya.
" Aahhh...kenapa jadi begini sih, kan aku tidak mungkin menolaknya. Kenapa gara gara aku tidak bisa tidur, ia malah menawarkan untuk bercinta lagi", gerutu Dena dalam hati.
Namun ia tak mampu menolak kenikmatan yang selalu disuguhkan lelaki ini .
Akhirnya malam itu, mereka bercinta sekali lagi.
Peluh membasahi tubuh mereka berdua, bercampur dengan nafas yang sama sama menderu.
__ADS_1
Sekali lagi Adrian melepaskan benihnya, kemudian terkulai tidur tanpa berpakaian.
Sedangkan Dena, masih saja terjaga hingga sepertiga malam.
Pagi hari, Dena malah masih tidur pulas karena rasa kantuk menyergapnya.
Adrian sudah selesai mandi, berganti pakaian kerja.
" Sayang, bangun kau harus ke rumah sakit hari ini", Adrian menepuk lembut pipi istrinya.
Sebenarnya ia tak tega membangunkan istrinya,
" Ia pasti sangat lelah karena semalam", pikir Adrian .
Dena memaksa untuk membuka matanya.
Ia mencoba duduk, namun kemudian ia berbaring kembali .
" Kepala ku pusing", Dena mengusap pelipis nya.
" Kau kenapa sayang?", Adrian terlihat sedikit panik.
" Entahlah, aku tidak enak badan. Kepalaku sakit", suara Dena terdengar serak.
" Lalu bagaimana, kau tidak ke rumah sakit hari ini?".
Dena menggeleng .
" Aku pusing, tak kuat rasanya kalau harus berdiri".
" Sayang, aku bawa kau berobat ya", Adrian melepas dasi yang sudah ia kenakan.
Dena menahan menghentikannya.
" Tidak usah sayang, aku hanya perlu tiduran. Kau ke kantor saja".
" Mana mungkin aku meninggalkan mu sendirian di rumah saat kau sedang sakit", Adrian masih menolak untuk berangkat ke kantor.
" Telepon ibu saja, biar ibu yang menemaniku", pinta Dena.
" Bagaimana dengan cuci darahmu, apa kau kuat menunggu sampai jadwal hari sabtu", itu yang sebenarnya dikhawatirkan Adrian .
" Kalau nanti siang kepalaku sudah tidak pusing, aku akan meminta jadwal siang untuk hari ini".
Akhirnya Adrian mengalah, ia menelepon Ibu untuk menemani Dena. Sampai ibu tiba di rumah baru ia lega meninggalkan istrinya untuk berangkat ke kantor .
" Kau istirahat ya, jangan lupa sarapan", Adrian mencium istrinya yang terbaring lemas di tempat tidur.
" Ibu sedang membuatkan mu bubur", ucap Adrian.
" Aku tidak mau sarapan bubur, sayang.."
" Aku mau sarapan mie ayam sepertinya", ucap Dena serius.
" Hah.... mie ayam sepagi ini?"
" Tidak tidak, kau sedang tidak enak badan. Kalau kau makan mi ayam pagi pagi begini perutmu nanti akan sakit, lagipula sepagi ini belum ada yang berjualan mie ayam", Adrian sedikit heran dengan istrinya.
Dena cemberut karena keinginannya dilarang Adrian.
" Kali ini kau harus ikuti yang aku katakan, sarapan lah dengan bubur".
" Aku berangkat ke kantor sekarang ya, aku sudah terlambat", Adrian mengecup kening istrinya yang masih saja terlihat cemberut.
" Maaf, bukan aku tak mau menuruti keinginanmu. Nanti kalau kau sudah sehat, aku janji kita makan mie ayam berdua di tempat favoritmu".
" Aku berangkat".
Adrian meninggalkan Dena yang masih saja kesal karena dipaksa makan bubur.
...----------------...
Dena ada ada aja, pagi pagi udah minta mie ayam🤭🤭
Sakit kenapa ya dia? Apa karena semalaman bercinta dengan Adrian, hehehe...
__ADS_1
ikuti terus ya up berikutnya🥰🙏
Maaf kalau sedikit telat, lagi nulis novel kedua soalnya😁