Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu

Cinta Dalam Jarum Kupu Kupu
Drama Hemodialisa


__ADS_3

" Kuat lah Nak,tugas mu belum selesai"


" Meski engkau begitu lelah menerima kenyataan


" Hati mu pun sudah letih dengan semesta yang selalu mempermainkan keadaan".


Lantunan doa dan harap terus bergema di hati Ibu, menyaksikan putri cantik nya yang harus terbaring di ranjang ini dengan selang selang yang di aliri darah.


Mas Adam dan Lukas, sudah kembali ke tempat duduk nya di ujung ruangan dekat pintu masuk. Sebelum meninggalkan Dena,Mas Adam sudah berpesan untuk tidak sungkan memanggil nya jika butuh pertolongan. Ibu sendiri kagum melihat laki laki baik hati itu yang dengan lembut dan sopan berbicara padanya.


"Alarm mesin akan berbunyi bu jika ada masalah dengan proses cuci darah nya" begitu kata Mas Adam pada ibu.


Tidak lupa ia berpesan kepada Dena untuk makan dan minum yang manis manis selama cuci darah ini berlangsung agar tidak lemas karena cairan dan zat zat berguna bagi tubuh pun ikut tertarik saat cuci darah,begitu penjelasan Mas Adam


" Bagaimana bisa makan dan minum" ,fikir Dena.


Melihat darah nya berputar putar di mesin saja sudah membuat perut nya mual dan terasa seperti di aduk aduk.


Ibu membujuk Dena agar mau mengunyah roti yang ibu bawa dari rumah.Dena menolak menggeleng geleng kan kepalanya


" Dena mau muntah bu" , ucap Dena


Kak Anjani berinisiatif memanggil Mas Adam, memberitahu kepadanya perihal adik nya yang mau muntah. Mas Adam dan Lukas menghampiri Dena, membawakan kantong hitam berjaga jaga kalau sampai Dena benar benar muntah.


Ibu terlihat cemas,melihat Dena yang sudah semakin pucat dan gemetar .


"Tidak apa apa Bu,memang seperti ini reaksi awal pasien pasien yang cuci darah untuk pertama kalinya" Mas Adam mencoba menenangkan Ibu.


"Keluarkan,jangan ditahan" ucap Mas Adam kepada Dena sambil memegang kantong hitam yang di letakkan di sisi pipi Dena.


Dena menyemburkan muntahan dari mulut nya, Mas Adam tanpa rasa jijik sedikitpun tetap memegang kantong hitam itu seraya menepuk nepuk halus tengkuk Dena.


Setelah lega mengeluarkan isi perut nya yang terasa di aduk aduk, Dena lunglai memejamkan matanya. Semakin ia coba membuka matanya semakin buram penglihatan nya.

__ADS_1


Ibu membersihkan pipi dan bibir Dena yang terkena sedikit muntahan.


Mas Adam menepuk nepuk lembut pipi Dena,menyuruh nya bangun dan membuka mata. Dena merasakan suara lembut Mas Adam membangunkan nya, namun semakin Dena memaksa untuk membuka mata rasanya semakin ia kehilangan kekuatan. Bahkan untuk membuka mulut nya memanggil Ibu pun sudah tak mampu ia lakukan.


Sementara itu, Ibu terisak menangis melihat putrinya yang tiba tiba tidak ada reaksi sedikit pun. Dena bisa mendengar tangis ibu nya yang begitu takut hal hal yang tidak diinginkan terjadi pada nya,namun Dena tidak mampu untuk menggerakkan mulut dan membuka mata nya.


Lukas dengan sigap memeriksa tekanan darah Dena.


" Tekanan darah nya turun drastis Mas" , ucap Lukas kepada Mas Adam.


Mas Adam masih berusaha menyadarkan Dena,menggosok gosokkan minyak kayu putih di hidung Dena.


"Anak saya kenapa?" tanya ibu masih dalam keadaan panik.


"Tidak apa apa bu,ini biasa terjadi pada pasien hemodialisa jika tekanan darah nya mendadak turun" Mas Adam menenangkan Ibu.


Selang beberapa menit,Dena mulai membuka matanya. Ibu memeluk Dena dengan tangis yang sudah mereda. Mas Adam tersenyum lega, menyodorkan segelas teh hangat manis kepada Dena.


" Kan saya sudah bilang,kamu harus makan dan minum yang manis selama cuci darah" tegur Mas Adam.


" Romantis?" Ha ha ha, Dena menertawakan dirinya sendiri betapa bodoh nya bisa menyimpulkan hal seperti tadi adalah adegan romantis.


" Sadar Den,Mas Adam hanya melakukan tugas nya sebagai seorang perawat,tidak lebih" batin Dena.


Mas Adam juga pasti akan melakukan hal yang sama kepada pasien lain nya jika hal itu terjadi,begitu fikir Dena.


Seperti itulah manusia yang sedang jatuh cinta,sibuk menyimpulkan sendiri hal hal yang terjadi dengan pembenaran pembenaran yang terkadang tidak masuk akal.


Mas Adam kembali ke tempat duduk nya, diikuti Lukas yang sebenar nya enggan beranjak dari tempat tidur Dena. Ia mengumpat dalam hati nya, mengapa tidak ada aturan tertulis bahwa perawat harus mendampingi pasien hemodialisa di sisi sebelah nya dari awal sampai akhir proses cuci darah. Padahal Lukas akan senang hati dan suka rela berada di samping pasien cantik yang satu ini,fikir nya.


" Hhhmmm.. masih banyak waktu dan kesempatan" seringai Lukas dalam hati sambil mengatur strategi berikut nya seperti menyimpan nomor handphone nya yang tertera di Map pasien.


Mas Adam yang bisa membaca gerak gerik Lukas langsung menyenggol lengan rekan nya itu , " Dasar jomblo.... lihat pasien bening sedikit aja sudah mau atur strategi untuk di modusin" ,ledek Mas Adam

__ADS_1


"Ciihhh, Lukas mendengus kesal..


"Bukankah Mas Adam yang dari awal sudah melancarkan aksi mendekati perempuan itu" umpat Lukas di dalam hati.


Mas Adam seperti biasa,hanya menunjukkan wajah tenang nya karena memang yang ia lakukan kepada Dena murni antara seorang perawat dan pasien. Untuk janji nya di awal berkata akan menangani setiap tindakan kepada Dena,itu semata mata karena mereka sudah pernah bertemu sebelum nya dan sekedar agar Dena bersemangat jika di tangani orang yang pernah ia kenal. Tidak lebih....


" Apa belum cukup Laras dan Risma kau rayu dan kau gombali?" bisik Mas Adam sambil terkekeh menertawakan Lukas.


Lukas menyeringai,menjawab dengan santai


" Mereka kalah manis dengan pasien baru itu" dia terkekeh di ujung kalimat nya.


"Awas kalau kau sampai macam macam kepada Dena" ucap Mas Adam dengan nada mengancam. Ia hafal sekali sepak terjang Lukas yang terkenal dengan sifat play boy nya.


"Ciihh..dalam hati Lukas mengejek,Kau bukan siapa siapa nya gadis itu kan. berani nya kau mengancam ku"..


Lalu mereka berdua tertawa,menertawai diri mereka masing masing. Begitulah keakraban mereka setiap hari, Mas Adam sudah menganggap rekan rekan junior nya seperti Lukas, Laras dan Risma sebagai adik adik nya.


Sementara di sudut ruangan sana,Dena masih menikmati putaran putaran mesin dan aliran darah yang silih berganti di dalam selang selang itu. Mengingat ingat sentuhan kecil Mas Adam,ketika membangunkan nya tadi.


"Hhmmm.. kenapa aku ini?" Terlalu awal dan terlalu mudah rasanya aku memutuskan untuk jatuh hati pada lelaki itu" ucap Dena dalam hati


" Heyyy...aku melupakan sesuatu..Aku bahkan lupa memperhatikan jari jari nya tadi apakah ada cincin yang melingkar di jari nya"


"Apakah dia masih sendiri atau sudah memiliki tunangan?" tanya Dena lagi dalam hati.


Dena mengumpat kebodohan nya


" Bagaimana bisa aku melihat jari jari nya,sementara tangan nya tertutup sarung tangan".. Dena menepuk kening nya,membuat Kak Anjani dan Ibu bingung melihat tingkah nya yang aneh.


Ibu dan Kak Anjani membiarkan Dena yang masih asyik dengan lamunan lamunan nya. Biarkan saja kata ibu berbisik kepada Anjani, yang penting selama dua jam ke depan kondisi nya baik baik saja tanpa harus ada drama yang menegangkan seperti tadi.


Dena yang sedang asyik dengan fikiran nya tanpa sadar menelan beberapa potong roti yang Ibu suapi ke dalam mulutnya. Ternyata,orang yang sedang di penuhi bunga bunga cinta itu terkadang aneh. Ada yang tidak bisa makan dan minum hanya karena sedang jatuh cinta, ada juga yang makan dan minum tanpa sadar karena jatuh cinta pula.

__ADS_1


Seperti perempuan manis satu ini,yang tanpa sadar hampir menghabiskan dua buah roti manis yang dari awal ia tolak mentah mentah..


__ADS_2